Wednesday, May 30, 2007

Apa Hubungan Singtel dengan Buy Back Indosat

Berita di situs Telegeography mengingatkan saya akan ribut-ribut di parlemen tentang usulan Buy Back Indosat di awal tahun (sekitar bulan Januari 2007) dari pemegang saham Singapura (Temasek Holdings). Usulan buy back buat saya rada bingung juga, mau apalagi, dulu kita bersikukuh industri telekomunikasi perlu di buka untuk investasi dari luar dengan maksud meningkatkan densitas dan penetrasi telepon. Walhasil Indosat, sebagai salah satu pemain, khususnya di bisnis sambungan langsung dan satelit, jadi korban untuk di jual ke Singapura. Meski sebelumnya ada proposal untuk di merger dengan Telkom, namun pemerintah lebih memilih pola duopoly sebelum masuk benar-benar ke pasar terbuka.

Ribut buy back, berbeda dengan corporate action Telkom untuk membeli kembali saham di pasar (atau mungkin ini government action to create issues for leveraging market). Bedanya yang diuntungkan yaa pemilik sahamnya sekarang. Toh kita juga tidak bisa memaksa investor untuk jual kembali, apalagi jual murah, terlebih lagi maksa diambil alih, emang jaman revolusi.

Issue yang dilontarkan parlemen kita, juga beberapa pejabat, termasuk serikat pekerja terkait dengan dugaan monopoli dari Singapura sebagai pemegang saham Indosat dan Telkomsel. Sementara kepemilikan anak perusahaan Telkom dan Indosat di pisah (cross ownership) dalam rangka duopoly, Singapura dengan santainya, secara tidak langsung memiliki saham di dua perusahaan tersebut melalui Indosat dan Telkomsel. Serikat pekerja juga menuduh harga seluler Indosat yang cukup tinggi dibanding Telkomsel disengaja Temasek untuk menggenjot Telkomsel.

Ide Buy back menjadi ribut setelah Temasek terkesan jual mahal dan seakan-akan bikin gemes DPR, meskipun dalam bisnis hal ini wajar-wajar saja bahkan benar dalam artian investasi. Kesannya parlemen kita cukup nasionalis, dalam rangka mengembalikan asset negara. Tapi mungkinkah ada semacam scenario, yang sengaja di hembuskan Singapura untuk menjual Indosat. Bener-bener menjual terkait dengan kinerja Indosat yang boleh jadi tidak terlalu memuaskan Singapura, atau strategi focus di Telkomsel, atau masih banyak persoalan di Indosat terkait dengan hutang sebelumnya. Kalau toh Singapura dianggap monopoli lah kenapa nggak dari dulu-dulu diributin sebelum di jual.

Saya cuman khawatir, jangan-jangan ada yang diuntungkan (secara pribadi) seandainya transaksi buy back itu terjadi. Buat Singapura juga untung dapat harga bagus, minimal sebanding lah dengan investasi yang sudah dikucurkan termasuk pembelian modal Capex dan ini itu, sementara boleh jadi “penggagas” (padahal di setir) transaksi ini juga kecipratan. Toh Negara lagi-lagi nggak akan komplain, apalagi atas nama pengembaliasn asset Negara, sehingga selain duit masuk reputasi pahlawan juga dapet. Moga-moga cuman mimpi buruk saja.

Friday, May 25, 2007

SingTel reports 124 million regional customers

www.telegeography.com Tuesday, 8 May 2007

Singapore Telecommunications (SingTel) says its had more than 124 million regional mobile subscribers in Asia-Pacific at the end of March 2007, up 46%, or 39 million, year-on-year. Much of the growth was attributed to regional associates such as Bharti in India and Telkomsel Indonesia which posted the strongest subscriber growth rates. Bharti ended March with 37 million customers, thanks to the addition of 5.2 million net new mobile subscribers in the quarter, while Telkomsel added 3.3 million net new users in Q1 to lift its total to 38.9 million customers. Elsewhere, SingTel Optus added 60,000 customers, boosting it base to 6.74 million (including 445,000 3G subscribers), while in its home market SingTel added 56,000 subscribers in the quarter, to end March with 1.82 million users. SingTel also reported a tripling in the number of people subscribing to its 3G service by 1 April, to 466,000.

SingTel profits drop 41% in Q1, revenues up

www.telegeography.com Wednesday, 9 May 2007

Singapore Telecommunications (SingTel) reported a 2% rise in operating revenue to SGD3.33 billion (USD2.19 billion) for the three months to 31 March 2007, but said that net profit slumped 41.2% to SGD989 million, largely the result of lower earnings from its operations in Indonesia and the absence of a one-time gain. For the full year, revenues increased marginally by 0.1% to SGD13.15 billion, and net profits were down 9.2% at SGD3.78 billion.

The group’s mobile businesses fared best reporting Q12007 revenues of SGD238 million, up 8.7% year-on-year, as its total aggregate regional mobile base swelled by twelve million to more than 124 million users, and post-paid ARPU stabilised at SGD71 (USD46.8) per month. SingTel has forecast ‘double-digit’ growth in underlying profit over the next five years, which it says will be boosted by new acquisitions and increased stakes in affiliates such as Telkomsel in Indonesia. The mobile operator contributed pre-tax profit of SGD258 million in the fourth quarter, up 5.2% quarter-on-quarter, but down from the 73% growth seen a year ago. The lower than expected rise was attributed to heavy floods in Jakarta in February and the effects of currency depreciations in the rupiah against the Singapore dollar.

Wednesday, April 18, 2007

Serat Optik dari Perusahaan Gas

Berita di DetikINet awal april lalu menyebutkan PGN salah satu BUMN yang bergerak dibidang bisnis gas mulai melebarkan sayapnya di bisnis telekomunikasi melalui penyediaan jaringan serat optik. Jaringan optik tersebut terpasang di jaringan pipa gas yang terbentang dari Sumsel ke Batam dan berakhir di Singapura. Dari 100 core yang terpasang, untuk keperluan internalnya hanya memerlukan 4 core, sehingga ada excess capacity sebesar 96 core. Berita terakhir dari Kontan (09/04/07) juga menyebutkan rencana PGN untuk pembangunan jalur Sumsel menuju Jawa Barat.

Bukti keseriusan PGN di bisnis telekomunikasi ditunjukkan melalui pembentukan anak perusahaan patungan PGAS Telekomunikasi Nusantara dengan operator telekomunikasi Indosat.

Potensi infrastruktur yang dimiliki melalui jaringan distribusi pipa gas dapat dengan mudah di'tempel' serat optik dengan kapasitas besar untuk dijual kembali. Model ini mirip dengan jaringan listrik dan kabel laut PLN melalui anak perusahaan iCon yang terbentang dari Jawa ke Bali juga disewakan sebagai bisnis. Model bisnis lain yang mirip adalah penyewaan lahan Jaringan rel KA untuk penanaman serat optik.

Indosat saat ini sudah menyewa 2 core, sementara Telkom meski mempunyai intensi menyewa dalam kerangka sinergi BUMN masih belum menunjukkan tahapan lebih lanjut. Boleh jadi kerangka sinergi sedikit terganggu oleh masuknya Indosat dalam anak perusahaan PGN tersebut, sehingga aspek bisnis ke kompetitor lebih terasa dibanding sinergi di lingkungan perusahaan nasional. Indosat saat ini dominan sudah dikuasai modal asing sehingga bukan lagi anggota BUMN. Kalau toh ditekan pemerintah dalam kerangka sinergi seharusnya sejak semula bersinergi melalui pembentukan anak perusahaan bukan dalam penyewaan infrastruktur yang sudah berbau bisnis apalagi dengan kompetitor.

Kembali ke model bisnis, induk perusahaan PGN yang bermain di industri minyak dan gas, termasuk distribusinya, mulai merengsek ke industri telekomunikasi yang di persepsi menggiurkan oleh pasar. Dengan kekuatan (strength) kapasitas infrastruktur yang dimilikinya, peluang merebut pasar wholesale terbuka lebar melalui anak perusahaan disamping untuk mengeliminir kelemahan kapabilitas pengelolaan di industri baru tersebut. Rencana penggelaran distribusi pipa gas yang menjadi salah satu prospectus PGN dalam melakukan IPO ke investor semakin manis dengan issue tambahan pendapatan dari sektor telekomunikasi.

Pertanyaan untuk bahan diskusi, perlukah Telkom menerima tawaran PGN untuk menyewa kabel optik tersebut, ketika pada saat yang sama ada proyek serupa yang dikenal dengan nama Jasuka, Jawa Sumatra Kalimantan. Bagaimana perusahaan pelat merah ini memandang anak perusahaan PGN?, apakah sebagai mitra dan partner sesama BUMN, atau sebagai kompetitor pada saat melihat ISAT bergabung didalamnya, ataukah sekedar penyedia infrastruktur semata.

Tuesday, April 10, 2007

Back2Write

Hari ini (setelah saya tengok posting klasmaya terakhir) berarti sudah kurang lebih 119 hari tidak ada proses maintain atau update blog ini. Sedih juga, ternyata pengelolaan mandiri untuk membiasakan diri menulis dan berkomentar sendiri bukan persoalan yang mudah. Berbeda pada saat blog ini memang berfungsi sebagai salah satu media komunikasi antara saya dengan mahasiswa atau pemirsa. Sebagai informasi, semester ini saya mengajukan istirahat mengajar dengan alasan kesibukan di tempat kerja baru yang relatif lebih operasional dan memerlukan mobiiltas lebih dibandingkan job sebelumnya.

Meski demikian, rencana awal, menempatkan klasmaya sebagai weblog, tidak sekedar media komunikasi, memerlukan budaya atau kultur spesifik untuk membiasakan diri menulis. Selalu ada perbedaan antara menulis dan berbicara lepas, apalagi berpikir lepas. Pencatatan pikiran yang direpresentasikan dengan tulisan akan memberikan banyak aspek yang seharusnya memiliki nilai lebih.


Saya tidak berjanji untuk secara kontinyu menulis di weblog ini, biarlah janji itu saya pegang sendiri. Namun posting kali ini (setelah ini lebih tepatnya) karena tidak terkait dengan komunikasi pembelajaran offline, lebih mengarah pada ulasan pikiran yang boleh jadi bisa dijadikan materi diskusi. Topik tidak jauh dari subjek telematika maupun manajemen.

Semoga bisa konsisten.

Tuesday, December 12, 2006

251106 & 021206 Class at a Glance

Frankly speaking, saya ragu dengan judul tanggal diatas. Seingat saya, sessi terakhir dirangkap dari 0700-0900 dengan 1200-1300 sebagai ganti minggu pertama Desember yang saya berhalangan hadir karena minggu tersebut harus berada di negeri Jiran (oleh-oleh cerita insya Allah menyusul).

Anyway, posting kali ini sekedar memberikan link ke materi hand-out dua minggu lalu. Hand-out pertama berisi Marketing bagian kedua yang terkait dengan Marketing System, Research, Demand, Market segments, dan yang lainnya. Hand-out ini bisa di download di SINI.

Hand-out kedua terkait dengan materi packaging dan labeling, yang bisa di akses di SINI.

Satu lagi materi yang telah dibahas dua minggu lalu terkait dengan industri telematika, sesuai dengan judul mata kuliahnya, bisa di akses di SINI (zipped file).

Mungkin sedikit mepet, tapi paling tidak materi ini bisa jadi bahan ujian besok atau minimal sekedar baca-baca saja.

Last but not least, selamat ber UAS, semoga sukses…..

Friday, November 24, 2006

111106 & 221106 Class at a Glance

Ada satu yang terlewat, offline klas 111106 rada terlambat untuk ditayangkan, mohon maaf. “Class at a Glance” kali ini saya gabung saja untuk dua sessi kemarin.

Seperti direncanakan semula, sessi 111106 dominan dipergunakan untuk open book quiz yang sekali lagi maaf, belum bisa saya report kan. Sisa waktu sempat disisipkan sebagian kecil materi (kalau nggak salah) dari Dahan & Hauser.

Untuk sessi 221106, sebagai pengganti 181106 lebih banyak dipergunakan untuk membahas bagian dari bab 13 nya Dieter tentang Economic Decision Making. Meski rada kikuk dengan istilah keuangan yang rada-rada un-familiar, namun materi ini cukup relevan dengan Pengembangan Produk, meski tidak semua bab diulas. Sebagai tambahan untuk materi yang pernah saya upload sebelumnya, di SINI dapat di download bagian kedua dari bab 13 Dieter tersebut.

Materi kedua di sessi 221106, sedikit diulas tentang pendahuluan Marketing, yang hand-outnya bisa di download di SINI.

Sessi besok pagi, masih saya pikirkan (saat ini saya sedang di Jakarta), moga-moga ada sesuatu yang menarik untuk disajikan.

Monday, November 20, 2006

Kuliah Pengganti

Berikut saya informasikan mengenai kuliah pengganti hari Sabtu tanggal 18 November 2006 untuk mata kuliah SK-425 Pengembangan Produk Industri Digital dan EL-419 Pengembangan Produk Telematika pada :

Hari, tanggal : Rabu, 22 November 2006
Waktu : pk. 18.00-20.00
Ruang : R-202 (Lantai 2)

terima kasih atas perhatiannya.

Wednesday, November 15, 2006

Stop Press !!

Diberitakan untuk kuliah minggu ini, tanggal 18 November 2006, ditiadakan.

Penggantian akan dijadwalkan setelah ada keputusan dari Institusi.

Demikian, Terima kasih

Apakah Zune bakalan menggantikan iPod?

Setelah Microsoft menggoyang Playstation Sony lewat XBox, sekarang iPod nya Apple mulai direcoki lewat produk baru Microsoft yang serupa bernama Zune. CEO Steve Ballmer sendiri yakin bisa mendobrak dominasi iPod meski saat ini iPod sudah menguasai 75% pangsa pasar di US. Sementara sejak dipasarkan tahun 2001, iPod sudah terjual hampir 70 juta unit di seluruh dunia.

Dengan harga yang relatif sama ditambah fitur radio FM dan kemampuan pemindahan lagu antara piranti, Zune yang direlease September lalu mulai dipasarkan minggu ini. Penjualan ini cukup meningkatkan harga saham Microsoft di Nasdaq (+ 11%)

Video dibawah ini mungkin bisa menggambarkan product Zune yang belum masuk ke Indonesia.

Tuesday, November 14, 2006

Trafik Klasmaya November 2006

Di tahun 2005, saya pernah ulas trafik Klasmaya bulan Oktober 2005. Sekarang sudah lebih dari satu tahun, saya coba update untuk melihat kira-kira perubahan apa yang terjadi.

Distribution of visits during a week

Dibanding setahun lalu, relatif perubahan terjadi pada hari Senin sampai Rabu. Jika tahun lalu trafik tinggi hanya terjadi pada hari Kamis dan Jum'at sebagai persiapan kelas di hari Sabtu, untuk tahun ini, ada kecenderungan visit terjadi cukup merata dengan kisaran angka dari 18,1% di hari Senin sampai 14,9% di hari Kamis. Seperti biasa, hari Jum'at selalu menjadi hari favorit yang merepresentasikan "last check out".

Yang menarik, hari Sabtu yang setahun lalu tidak significant, tahun ini turut berkontribusi sebesar 7,8% disusul oleh hari Minggu di angka 5,2% yang sebelumnya 0%.

Page Views and Visits Chart


Meski demikian, trafik tahun 2006 yang diukur bulan ini sebagai sampling, relatif di drive oleh peningkatan pada minggu kedua November 2006 yang kemungkinan dipengaruhi issue Quiz semi UTS, seperti yang tampak pada tabel kedua.

Product Development on YouTube

Embedded Video dari YouTube

Monday, November 06, 2006

041106 Class at a Glance (+ e-book of Dahan & Hauser)

Perkiraan kelar libur panjang akan dibahas tugas terkait “suara pelanggan” ternyata hasilnya mengecewakan, walhasil sessi minggu lalu “just an ordinary class” membahas materi dari bab-5 nya Dieter tentang “Concept Generation and Evaluation”.

Materi kuliah bisa di download di SINI.

Seperti yang sudah diinformasikan kemarin, minggu depan mohon dipersiapkan sessi Quiz yang mirip UTS. Bahan semua yang sudah di beri dari awal termasuk artikel di klasmaya ini.

Satu lagi terkait dengan materi Dahan and Hauser yang belum ngopy. Akhirnya alamat situsnya sempet ketemu (itu juga ga’ sengaja) di CIPD.

Ciao

Friday, November 03, 2006

Upload e-Book, part-1 Dieter Chap-13

Tadinya mau saya kasih judul Notes for next session 041006, tapi saya ragu untuk bisa dibahas besok, mungkin seperti rencana semula, pembahasan masih di materi Dahan Hauser yang sudah di share melalui salah satu flash disk partisipan.

Materi ini mungkin akan dibahas sekilas, toh menurut informasi, ada mata kuliah yang membahas konten ini secara khusus. Tapi karena terkait dengan evaluasi bisnis dalam Pengembangan Produk saya sengaja menyertakan file ini untuk disimak bersama. Aslinya satu file bab-13 ini berbobot kurang lebih 2 MB, untuk mempercepat akses saya bagi dua saja file tersebut. Bagian pertama bisa disimak di SINI.

Camp Samsung

Artikel Business Week ini cukup punya kaitan dengan materi Pengembangan Produk, khususnya untuk membayangkan bagaimana proses NPD di suatu perusahaan elektronik dunia.

To develop winning products, the Korean giant isolates artists and techies for months on end

By Moon Ihlwan

Business Week Online
JULY 3, 2006


Last June a group of 11 Samsung Electronics Co. employees pledged to do the last thing. most people desire just as spring bursts into summer: stay inside a drab room with small, curtained windows for the bulk of the next six weeks. The product planners, designers, programmers, and engineers had recently entered Samsung's so-called Value Innovation Program (VIP) Center, just south of Seoul. They were asked to outline the features and design of the company's mainstay flat-screen TV, code-named Bordeaux. And their bosses had vowed to keep them posted there until they had completed the assignment.

After an introductory ceremony attended by senior executives of Samsung's video division, the team joined a dozen or so similar groups at the VIP Center and got down to work. The facility is a sort of boiler room where people from across the company brainstorm day after day -- and often through the night. Guided by one of 50 "value innovation specialists," they study what rivals are offering, examine endless data on suppliers, components, and costs, and argue over designs and technologies. The Bordeaux team hammered out the basic look, feel, and features of the model by mid-August. Then over the next five months designers and engineers worked out the details, and by February the sets were rolling off Samsung assembly lines. They hit stores in the U.S. and South Korea this April, starting at about $1,300 for a 26-inch set. "For the first time in our company, we developed a TV appealing to customers' lifestyles," says Kim Min Suk, an official at Samsung's LCD TV Product Planning Group.

It's all part of a new mantra at Samsung: "market-driven change." In the past decade Samsung has radically improved the quality and design of its products. Yun Jong Yong, Samsung's 62-year-old chief executive, now wants the company to rival the likes of Microsoft Corp. (MSFT ) and IBM (IBM ) as a key shaper of information technology. By 2010 he aims to double sales, from $85 billion last year to $170 billion. The Korean giant, however, still isn't an innovation leader on the order of Apple Computer Inc. (AAPL ) or Sony Corp. (SNE ) in its heyday. Yun says Samsung has become "a good company," but "we still have a lot of things to do before we're a great company."

Yun insists that when it comes to manufacturing, his company is second to none. Yet in the Digital Age, when mechanical parts are replaced by chips, Samsung's well-run factories are no longer enough to make it stand out. He points to MP3 players as an example. Samsung rolled out its first players two years before Apple did. But Apple gave consumers the ultimate player -- the iPod -- and, with the iTunes software and Web site, an easy way to fill it with music. It's time for Samsung to start developing similar products, Yun says, that better serve customers. So far, "we don't have the power to deliver total solutions."

INCUBATION STAGE

How to make Samsung more innovative? One key initiative is the VIP Center. Yun set up the program in 1998 after concluding that as much as 80% of cost and quality is determined in the initial stages of product development. By bringing together everyone at the very beginning to thrash out differences, he believed, the company could streamline its operations and make better gadgets. In the past two years, though, the center's primary aim has shifted to "creating new value for customers," says Vice-President Lee Dong Jin, who heads the facility. Translation: Find that perfect balance of cost, innovation, and technology that makes a product great.

If it weren't such hard work, it might almost be fun. The center, at Suwon, Samsung's main manufacturing site, 20 miles from Seoul, is open 24 hours a day. Housed in a five-story former dormitory, it has 20 project rooms, 38 bedrooms for those who need to spend the night, a kitchen, a gym, traditional baths, and Ping-Pong and pool tables. Last year some 2,000 employees cycled through, completing 90 projects with names such as Rainbow, Rapido, and Rocky. Other products that have come out of the center include a notebook computer that doubles as a mobile TV, yet is thin and light enough to be carried in a handbag, and the CLP-500, a color laser printer that was built at the same cost as a black-and-white model. While some teams wrap up their work within weeks, other projects drag on for months, and all division leaders sign a pledge that participants won't return to their regular jobs until they have finished the project.

The Bordeaux team shows how the VIP Center works. The goal was to create a flat-screen TV that would sell at least 1 million units. But the team members quickly discovered that they had strongly differing opinions about what consumers want in a TV. The designers proposed a sleek, heavily sculpted model. Engineers wanted to pack in plenty of functions and the best picture and sound quality. Product planners were concerned primarily with creating something that would beat the offerings of Sharp Corp. (SHCAY ), then the leader in LCD TVs.

Every step of the way, team members drew what Samsung calls "value curves." These are graphs that rank various attributes such as picture quality and design on a scale of 1 to 5, from outright bad to excellent. The graphs compared the proposed model with those of rival products and Samsung's existing TVs. The VIP Center specialists also guided the team in discussions exploring ideas and concepts from entirely different industries, picking up hints about the importance of the emotional appeal in the offerings of furniture makers and Hollywood. "We wanted a curve resembling a wine glass, and a glossy back to make the TV fit in with other furniture," says designer Lee Seung Ho, who worked on the Bordeaux project.

One challenge the team faced: Surveys showed that shoppers buy a flat-screen TV as much for its look as a piece of furniture as for its technological muscle. Some members went to furniture stores to figure out what made buyers tick, and discovered that the design of the set trumps most other considerations. So the group started shedding function in favor of form, cutting corners on high-tech features to spend more to make a TV that looks good even when it's turned off. The control buttons were placed out of sight on the side, while the speakers were tucked under the screen to create a sleek, minimalist front underlined by a flat, curving V in blue or burgundy. The back and stand got the same high-gloss coating as the front. To keep costs down (part of that quest for value), Samsung removed a sensor that automatically adjusts the brightness to the light in the room and decided not to boost resolution to accommodate the latest high-definition standards. And with the speakers under the screen, the sound quality was lowered even as the TV's silhouette improved. "We tried to make sure consumers get maximum value for an affordable price," says Kim Dong Joon, one of several senior managers at the VIP center.

The initial response is encouraging. In the last week of May, Samsung inched ahead of Sony to become the No. 1 LCD TV brand in the U.S., garnering market share (in terms of value) of 26.4%, compared with Sony's 24.6% and Sharp's 8.2%, according to researcher NPD Group. In January, Samsung was No. 3, with just 12.1%. Yun now says he wants to become the top maker of digital TVs, including those using plasma and rear-projection technologies, in the U.S. this year.

Pretty grand ambitions. But Yun has a strong record of setting stretch goals and achieving them. Under hisstewardship, Samsung has transformed itself from an industry also-ran into the richest electronics maker in Asia. Now it could also become the coolest if Yun can reinvent Samsung one more time and get his engineers, designers, and marketers to dream up products such as the Bordeaux and really fire consumers' imaginations. It just might mean spending the summer inside.

Wednesday, November 01, 2006

WiFi Gadget-nya Sony, sebuah perbandingan

Selepas presentation day sessi-1 saya pernah mengulas tentang gadget assignment dengan apa yang sedang di develop oleh perusahaan elektronik raksasa Sony. Untung artikel ini masih kesimpan di HD saya yang ada bagusnya disajikan disini sebagai perbandingan dengan apa yang sudah dipaparkan tempo hari lalu.

Sekilas tidak banyak berbeda dengan apa yang kalian bayangkan, ada fitur Instant Messaging Internet browser, atau media player dan storage-nya, meski fitur VoIP yang jadi salah satu andalan malah kelewat. Tapi yang menarik, fitur game yang dominan dibenak partisipan justru malah tidak muncul dalam produk ini.

Sony To Launch a New Kind of Wireless Handheld for IM, Other Internet-Based Communications
By Associated Press

SAN FRANCISCO (AP) -- Hoping to tap into the growth of wireless networks across college campuses, other public spaces and within homes, Sony Corp. will announce Tuesday a new pocket-sized gadget for instant messaging and other Internet-based communications.

The Sony mylo, slated for availability in September at a retail price of about $350 (euro270), is a first-of-its-kind product that uses Wi-Fi networks, analysts say. It is not a cellular phone and thus does not carry monthly service fees. And though it could handle Web-based e-mail services, it does not support corporate e-mail programs.

Instead, the slim, oblong-shaped gizmo that has a 2.4-inch (6-centimeter) display and slides open to expose a thumb keyboard is specifically geared toward young, mainstream consumers for messaging and Internet-based calls, commonly known as VoIP (Voice over Internet Protocol) calls.

As long as a Wi-Fi network is accessible, a mylo user could chat away or browse the Web.

The mylo -- which stands for ''my life online,'' -- will be marketed toward 18- to 24-year-olds, the multitasking generation that relies heavily on instant messaging and is already viewing e-mail as passe, Sony said.

The consumer electronics giant has partnered with Yahoo Inc. and Google Inc. to integrate their instant-messaging services, and is looking to expand mylo's support to other services as well, most notably the leading messaging provider, Time Warner Inc.'s America Online.

Sony has also teamed with eBay Inc.'s Skype VoIP service, which offers free voice chats for its registered users.

The so-called personal communicator doubles as a portable media player. It can play music, photos and videos that are stored on its internal 1 gigabyte of flash memory or optional Memory Stick card. It also can stream songs between mylo users within the same network, as long as the users grant permission to share their music files.

Sony is betting that mylo will draw great interest not just among college students but also among households where youngsters might be fighting over the use of a computer just for chatting or Web surfing.

''Our mylo personal communicator lets you have the fun parts of a computer in the palm of your hand,'' said John Kodera, a director of product marketing at Sony.

Klasmaya mengucapkan

Wednesday, October 25, 2006

Concept Generation and Evaluation

(Dieter: Chapter 5)

A design concept is an idea that is sufficiently developed that it can be evaluated in terms of physical realizability.

Creativity Methods
The most common method for creating idea is brainstorming. Others techniques for creative thinking is Synectics which draws on analogical thinking; Force-fitting method; and Mind Map that draw factors, idea or concepts directly related to the problem.


Conceptual Decomposition
In solving any complex problem, a common tactic is to decompose the problem into smaller parts that are easier to manage (Decomposition in the physical domain and Functional Decomposition).

Generating Design Concept
Design Concepts are the means for providing function (The Hows). The exploration for idea for concepts can take from external resources and within the design team. The subject also describe about Concept Development, Morphological Chart, and Combining Concept.

Evaluation Methods
To choose which concept to develop into finished designs, we need evaluation methods that can be applied during relatively unstructured process of concept development. Evaluation involves comparison (absolute and relative), followed by decision making. The Pugh concept selection process compares each concept relative to a reference or datum concept and for each criterion. Another evaluation method is Analytical Hierarchy Process (AHP) that well suited for evaluating problems whose objectives have hierarchical structure.

Monday, October 23, 2006

List of new innovator (WiFi Gadget Assignment)

Sesuai janji sebelumnya, posting kali ini mengulas tentang resume dari paparan lomba kreatifitas terkait dengan tugas “WiFi Gadget”. Materi disarikan dari tugas yang sudah di submit minimal dari presentasi di kelas.

Di posting ini, kita juga akan lakukan polling untuk penentuan “best idea” untuk tambahan nilai. Polling dilakukan melalui fasilitas comment di klasmaya ini dengan menyebutkan pilihan partisipan. Maybe it’s unlikely fair, but this has something to do with marketing stuff, so check them out.

Chat++ (Ditya)
Fungsi: Chatting, game, game download with accelerator. Dengan melihat kebutuhan pengguna untuk : Koneksi ke internet yang tidak mudah terputus; Kemudahan dalam mengakses jaringan; Download yang cepat; Tampilan grafis yang tidak terlalu jelek; Interface alat yang menarik; Harga terjangkau
Segmen: Mahasiswa, ABG.
Spesifikasi Teknis :
Dimensi : P x L x T = 12cm x 13cm x 1.25cm (kondisi flip terbuka)
Processor Ekivalen PIV 2 Ghz
Memory 512 MB
HD 20 GB
VGA Setara GF4 MX 440 64 MB
Modem Up to 2 Mbp
.
.
Mini DM (Nathanael)


Fungsi: Mendengarkan music, videao clip/trailer (streaming) melalui koneksi langsung dari website khusus (direct subscription); game online&offline
Segmen: Anak muda yang cenderung / maniak dengan update lagu, trailer dan game baru.
Spesifikasi:
Seukuran N-Gage, no I/O (propriatery format) unless headphone

.
.
Digital Cart (Johannes)

Fungsi: mencatat daftar barang yang akan dibeli oleh pelanggan toko dengan menginput ke database sever, sehingga pelanggan tinggal menunjukkan gadget untuk mengambil belanjaan yang telah dipesan.
Segmen Pengguna: No specific segment.
Device specification
Dimension : 150 x 80 x 20 mm
LCD display : 200 x220 Pixel, white LCD backlight
Power : 5V Li-Ion Battery
Battery Life : 6 – 10 hours
Langguage support : English, Indonesian, Simplified Chiinese
Built in memory : 32MB
Data Transfer rate : 100Mbps
Operating system : Built-in OS
.
.
G-Mob (Devandy)

Fungsi: Online Game; download game untuk online dan register; MP3 dengan input dari flash disk; Radio FM;
segmen: remaja dan kaum muda yang sangat mobile
Spesifikasi :
Touch screen
Processor 1GHz
VGA card 128MB
High Speed USB Port 2.0
WiFi Access
Dimensi alat (20 cm X 15 cm X 5 cm) Dimension layar (15 cm X 12 cm)
.
.
No tittle (Eric)

Fungsi: Download siaran (streaming) TV, kamera, dan Internet browser.
Segmen: Executive muda (he really mentioned it).
Spesifikasi:
Resolusi layar 640x480, 65K color TFT LCD
Memory 1 Gb
Prosessor 2 GHZ
Wi-Fi 802.11b/g
Bluetooth
Kamera 6.0 M PixelBattery lithium Ion 1500 mAh
.
.
Mini WiFi (Sanny)

Fungsi: Fungsi utama internet akses dengan ukuran mini (browsing internet, chatting, dan download game & program kecil)
Segmen: Anak kuliah dan perkantoran.
Dimensi : P x L x T = 15cm x 5cm x 5cm (kondisi alat terbuka); 15cm x 5cm x 2cm(kondisi terlipat)
spesifikasi dari alat :
Processor Ekivalen 2,2 Ghz
Memory 512 MB
HD 40 GB
VGA GF4 MX 128 MB
Modem Up to 2 Mbps
Resolusi layar 600-800 pixel
Kualitas warna highest 32bit
.
.
RT/RW-Net (Derly)

Fungsi : Internet akses (browser internet, download) .
Segmen: all
Peralatan:
1. PC yang akan difungsikan sebagai router/gateway
2. Card Wireless LAN (WiFi)
3. Kabel Coax
4. Antenna Luar
5. Hub UTP untuk LAN

(*red: No picture available and unfortunately this is not a gadget design)


X-Lock (Andi)

Fungsi: Media penyimpanan data (koneksi ke internet); Internet browsing; Player movie & MP3
Segmen: Anak kuliah dan orang bisnis
Dimensi: 15x12 with headphone

(*red: no picture available, only a sketch on the whiteboard; no formal & submitted information)

141006 Class at a Glance

Ekspekstasi di klas 141006 sebenarnya akan banyak mendengarkan paparan dari peserta “lomba inovasi” yang di minggu sebelumnya belum tampil. Bahkan sampai optimist-nya (melihat suasana sebelumnya) saya tidak mempersiapkan bahan untuk disampaikan.

Nyatanya dari 7 kandidat yang belum tampil, minggu lalu hanya tampil 2 peserta saja. Walhasil dari 13 kandidat, baru 6(071006) + 2(141006) yang tampil sebelum dead line, atau baru sedikit dibawah 2/3 saja yang lolos.

Lepas “presentation session”, sisa slot klas diisi dengan pembahasan per kelompok untuk tugas yang masih terkait dengan “idea & concept generation” namun dilakukan secara berkelompok. Karena partisipan klas minggu lalu tidak semuanya hadir, sehingga hanya dibagi 2 kelompok saja yang merupakan kelompok campur sari dari EL&SK.

Tugas terkait dengan pengembangan produk seluler / HandPhone yang dikaitkan dengan fitur inovatif untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Berbeda dengan tugas sebelumnya (WiFi Gadget), disini partisipan diharapkan melakukan brainstorming untuk penetapan ide dan konsep tersebut. Tugas kedua yang juga masih terkait, adalah penetapan segmen pengguna yang menggabungkan aspek gender, marital status, edukasi, dan pekerjaan. Pengelompokkan akan menjadi reference untuk survey (nah looh).

Jadi buat partisipan yang minggu lalu absen di klas offline, ada tugas survey dari dua kelompok tersebut. Caranya tinggal gabung dengan salah satu dari dua kelompok tersebut, bahas ulang untuk kesepakatan final, selanjutnya lakukan survey. Survey bisa dilakukan waktu liburan (menyebar ke segala penjuru) atau week-end, sekalian jalan-jalan di mall atau tempat khusus lainnya.

“No excuse” buat yang merasa tidak tahu, karena posting klasmaya ini seharusnya sudah menginformasikan tugas tersebut. So enjoy it.