Saturday, November 24, 2007

Tambahan Nilai

Angka nilai tengah semester tempo hari mungkin masih belum memuaskan. Beberapa mungkin mendapat angka sementara yang below average meski dari sisi kapabilitas seharusnya bisa diatas rerata. Persoalannya ada beberapa partisipan yang belum men submit PR atau tugas yang dikerjakan di rumah.

Untuk memberi peluang perbaikan berikut ini disampaikan tambahan tugas sebagai berikut:

  • Tugas dari soal latihan dari gabungan Bab 2, no 2.7 (hal 71) dan Bab 3, no 3.1 (hal 94) khusus untuk partisipan dengan nama Debut, Petrus, Ihsan, dan Adri.
    Tugas bisa dikirim melalui email atau disampaikan pada saat pertemuan.
  • Tugas me resume kuliah dari Jack Shaw (Accelerating Innovation: People, Process, & Technology) yang bisa diakses di posting ”Kuliah terkait Process”, terutama untuk partisipan dengan nama Santi, Budiyanto, Petrus, Denny, Ihsan dan Mariany. Tugas ini bisa juga dipergunakan untuk partisipan lain yang berminat menambah nilai. Resume minimal 2 halaman dengan 1 spasi. Tugas berupa file yang dikirim melalui email atau ditransfer melalui flash disk pada saat pertemuan.

November 23, 2007 Class at a Glance

Apa kabar..... lama tak jumpa. Praktis selama tiga minggu, akibat dua kali pertemuan terakhir ”mabal”, klas ini sempat terputus. Seharusnya putus di offline, klasmaya tetap jalan seperti biasa. Namun rupanya tidak mudah juga untuk konsisten updating info di media ini.

Tiga minggu ini, pekerjaan ”biasa” (bukan ”luar biasa” seperti klas) menuntut lebih banyak waktu dan konsentrasi dari biasanya, terkait dengan pekerjaan rutin per triwulan, perencanaan untuk tahun 2008, maupun persiapan mengikuti seminar. Semoga semua berjalan dengan lancar. Amiin.

Jadi saya mohon maaf, atas peristiwa dua kali berturut-turut ”mabal” tersebut (yang tidak tahu istilah ”mabal” bisa mencari di kamus). Moga-moga atmosphere lebaran masih belum hilang untuk bisa saling memaafkan.

Rencana men’disseminasi materi presentasi Burlton juga belum kelar. Awalnya saya mau ulas per bagian namun kalau waktunya tidak memungkinkan, minimal yang sudah disubmit harus sudah dishare. Lagi-lagi mohon maaf.

Klas minggu ini dimulai dengan pembahasan pekerjaan rumah untuk soal 4 lintasan KA. Sekilas meski tidak 100% tepat dan mungkin juga tidak 100% murni (karena lebih banyak yang sama ”salahnya”, kecuali kalau PR dikerjakan bareng) jawaban PR cukup bagus.. Dari analogi dua track yang ditampilkan di klasmaya, beberapa sudah mencoba untuk diduplikat sampai 4 track. Hanya saja penyelesaiannya kurang di analisa dan dikaji lebih mendalam, sehingga masih ada beberap kekurangan yang sulit untuk disebut minor.

Model kedua dari jawaban PR ada yang mencoba ”ngulik” dari logika dan aturan yang dipahami. Meski sekilas sedikit berbeda, namun orisinalitas karya dari pekerjaan rumah ini bisa lebih berharga dibanding fenomena ”^C - ^V”.

Bahasan selanjutnya adalah menyelesaikan sisa rencana program. Minggu ini dipilih bab-4 dari (masih) Aalst tentang Analisa Workflows (bahan handout bisa dikolek disini). Konten terkait dengan Teknik analisa dari aspek kualitatif dan kuantitatif, Situasi error yang biasa terjadi, Reachability, Soundness, dan Building Block untuk tahapan derive proses.

Pada pembahasan lampu Lalin (Lalu lintas), terdapan situasi (proses Lalin) yang sebenarnya tidak salah (error) dalam workflow namun menjadi pincang, unfair, dan tidak mencerminkan situasi Lalin yang sebenarnya. Perbaikan dari situasi ini menjadi PR yang disepakat untuk dikumpulkan di pertemuan kedepan.

Clue: tempatkan satu tambahan place. Selanjutnya pikirkan jalur/arrow mana yang perlu diberikan dan perubahan jalur yang ada.

Pengganti klas pertama, dijadwalkan Senin tanggal 26 November 2007 Jam 17:00 WIB, kemungkinan di ruang yang sama. Pengganti klas kedua masih belum disepakati, sementara tanggal 7 Des mendatang diperkirakan saya tidak bisa hadir karena dari tanggal 2-8 Desember saya harus mengikuti seminar di Hongkong. 30 November kemungkinan masih bisa, namun masih ada dua klas yang belum terbayar. Jadi waktu tersisa tinggal sekitar tanggal 1 Des, dan 10-12 Des. Kalau masih ada waktu dari tanggal 27-30 Nov, mungkin bisa menambah kekurangan klas.

Ciao

Tuesday, November 06, 2007

Bahasan latihan soal dan pekerjaan rumah untuk jalur/lintasan kereta api.

Soal ini diambil dari buku Aalst di bagian 2. Digambarkan tentang suatu lintasan sepur, spoor, atau kereta api dimana setiap satu track/lintasan memiliki 3 state/status/kondisi, dalam hal ini :

  • Busy : Sibuk, artinya lintasan ini sedang dipergunakan oleh satu unit kereta api.
  • Claimed : Dipesan, artinya satu unit kereta (yang berada di track persis sebelumnya) telah berhasil memesan untuk mempergunakannya. Dalam state ini, tidak ada kereta yang berada diatas track ini.
  • Free: Bebas, artinya tidak ada kereta yang sedang berada diatas track ini, dan tidak ada pesanan untuk mempergunakan track ini.

Satu lintasan hanya bisa dipergunakan oleh satu kereta. Pada saat track atau bagian lintasan tersebut dilalui/didiami, status track dalam kondisi Busy. Untuk pindah ke bagian/lintasan berikutnya kereta harus memesan (claim) terlebih dahulu, dan hanya lintasan yang bebas (Free) yang bisa dipesan. Begitu kereta tersebut pindah ke track berikutnya (setelah di pesan) lintasan sebelumnya langsung melepas kondisi sibuk (Busy) menjadi Free (bebas/kosong).

Gambar dibawah ini menunjukkan model Petri Net untuk satu lintasan dengan 3 states.
3 states digambarkan dalam 3 Place (yang digambarkan dalam bulatan) dengan label b1 untuk state ”busy” di track 1, label c1 untuk state ”claimed” di track 1, dan label f1 yang menunjukkan state ”free” di lintasan 1. Token dalam gambar diatas berada di state busy, artinya lintasan satu sedang dipergunakan oleh satu unit kereta. Model sederhana ini juga menunjukkan 3 buah transisi yaitu: clear_track untuk berpindah dari state busy (b1) ke free (f1), claim_track untuk berpindah dari state free (f1) ke claim (c1), dan use_track untuk merubah state claim (c1) ke busy (b1).

Agar tidak bingung, dalam perpindahan dari state busy ke free, kereta seharusnya sudah memesan (claim) track berikunya, yang dalam model satu railnet ini belum digambarkan.

Untuk menggambarkan model dua lintasan, secara sederhana dapat dilakukan dengan menggabungkan dua model sebelumnya dengan penambahan satu input claim_track di lintasan 2 dari b1 dan penambahan satu output dari claim_track di lintasan 2 ke b1.

Penambahan input dan output ini memberi arti bahwa claim_track hanya bisa di enable jika dan hanya jika ada token di f2 dan b1. Jika memenuhi syarat tersebut dan transisi claim_track 2 tersebut di trigger/fire atau di eksekusi, token akan mengisi di place c2 dan satu token akan mengisi kembali di b1. Model ini menunjukkan bahwa lintasan hanya bisa di pesan jika lintasan tersebut bebas dan ada satu kereta di lintasan sebelumnya. Namun pemesanan track 2 yang merubah state dari f2 ke c2 tidak merubah state di track 1 yang tetap berada di b1. Dengan kata lain, kereta yang memesan track 2 masih tetap menduduki track 1.

Transisi clear_track 1 dan use_track 2 selanjutnya bergabung menjadi satu transisi dengan nama transfer. Pada saat transisi ini dieksekusi, dengan syarat ada token di c2 dan b1, states di track-1 langsung berubah menjadi bebas (dari output ke f1) dan state di track 2 menjadi busy (dari output ke b2).

Jika kita kaji states yang bisa dilalui yang diwakili oleh notasi (state1, state2), kemungkinan perpindahan states di dua track tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.


Dapat dilihat disini, bahwa pada saat perpindahan dari b2 ke f2, yang dapat ditunjukkan dalam transisi (b,b) ke (b,f), kereta yang sebelumnya berada di track 2 tidak menuju ke track 1 namun berada di satu lokasi diluar track1 dan track 2 yang bisa dibayangkan dalam suatu stasiun (langsir). Sedangkan kereta yang sebelumnya berada di track 1, setelah track2 dalam kondisi sudah di claim (b,c) maka akan pindah ke track 2 dengan perubahan state menjadi (f,b) dimana track 1 menjadi bebas.

Gambaran fisik lintasan tersebut diatas dapat ditunjukkan pada gambar dibawah ini dimana terdapat dua track/lintasan dan satu stasiun yang bisa menampung 2 kereta, dengan satu arah lintasan dari track 1 ke track 2 ke stasiun dan kembali ke track 1.

Berikut soal pekerjaan rumah yang harus dikumpul di pertemuan mendatang :

  1. Gambarkan model lintasan kereta dengan 4 track sirkular (tanpa ada stasiun) yang dilalui oleh dua unit kereta dalam kerangka Petri Net. Ingat bahwa satu track hanya dapat ditempati oleh satu kereta.
  2. Ada berapa state yang mungkin terjadi, gambarkan kemungkinan perpindahan states tersebut.

Selamat bekerja...

Saturday, November 03, 2007

November 2, 2007 Class at a Glance

Tuntas juga bahasan buku Burlton lewat dua kali pertemuan. Secara keseluruhan, dari sisi penyajian cukup memuaskan, yang menyiratkan peserta tidak sekedar membaca namun juga mengartikan dan mencoba memahami. Saduran dari bagian per bagian meski buat saya pribadi bukan hal yang mudah, terlebih buat siswa yang belum bergulat banyak di aspek menajemen kecuali sedikit teori, cukup baik. Hanya saja saya masih melihat bahasan masih berkutat di aspek wording dan hanya sedikit yang membahas gambaran atau picture yang banyak disajikan dalam buku Burlton.

Posting berikutnya kita akan coba mulai bahas bagian per bagian, minimal sekedar sharing dari tulisan yang sudah dibuat. Beberapa materi dari bahasan Burlton sebagian sudah pernah di posting di klasmaya, misalnya Buil to Flip, Konsep BPM, Strategi Manajemen dari posting untuk mata kuliah sebelumnya.

Monday, October 29, 2007

October 26, 2007 Class at a Glance

Akhirnya jadi juga klas tanpa harus bener-bener ngajar (he he he he….). Setelah beberapa kali tertunda, dan kemarin juga diawal-awal pertemuan hampir tertunda dengan alasan yang sama akibat persoalan disiplin masuk klas (Ulasan disiplin mungkin nggak akan dibahas sekarang disini). Saya cuman mau komentar satu kata ”Luar Biasa”. Bener-bener amazing, kebayang gak tuh hampir separuh dari buku tebelnya Burlton bisa dilalap dalam satu kali petemuan dengan bahasan yang cukup bagus (buktinya gak ada yang nanya karena gak ngerti).

Kalo dipikir-pikir model ini mungkin jauh lebih efektif, dibandingkan bahasan saya yang dalam waktu dua sks cuman ngebahas satu bab Burlton. Efektif karena saya melihat relatif semua terlibat minimal membaca bagian buku yang menjadi haknya untuk dipresentsaikan. Dari natural bukunya Burlton, memang jauh lebih efektif kalau siswa membaca langsung, merasakan langsung, dan men’sari’kannya untuk dibahas bersama.

Minggu depan kita lanjutkan bahasan Burlton tentunya dengan sajian yang bisa lebih menarik. Pembagian kerjaan membaca dan sharing melalui bahasan di depan kelas sebagian sudah, sharing materi juga sedang dipersiapkan sehingga diharapkan seluruh elemen SI-454 bisa mendapatkan gambaran yang komprehensif dari BPM nya Burlton.

Materi presentasi rencanya akan di share disini, saya mohon ijin dari pengulas/pembahas, hanya saja lebih bagus kalau sesuai urutan bab dalam buku, walhasil kita tunggu minggu depan untuk menuntaskan bagian yang belum ditampilkan.

Presentasi


Thursday, October 25, 2007

Perlunya Standard Bisnis Proses

Artikel ini dicuplik dari situsnya HBR (Harvard Business Review) dari tulisan aslinya dengan judul “The Coming Commoditization of Processes” oleh Thomas Davenport. Isinya terkait dengan kebutuhan standard bisnis proses terkait dengan komunikasi antar unit, antar perusahaan, maupun pola outsourcing. Meski demikian, standarisasi bisa mengarah pada komoditisasi proses yang akhirnya mudah ditiru kompetitor.


Throughout the history of business, most firms have built their own processes for almost everything that needed to be done. Whether the processes involved were critical to the organization's strategy or incidental to it, they were generally performed by people within the organization. Sometimes they were done well, sometimes they were done badly—but since a company had no way of determining how well an outside business might perform these processes, they were kept in-house.

Most companies have remained in do-it-yourself mode for most processes. Because of a scarcity of process standards, it would be risky to do otherwise. With the exception of IT system development, there is generally no clear basis by which companies can compare the capabilities provided by external organizations with those offered in-house, or to compare services among multiple outside providers. As a result, firms that choose to outsource their capabilities have to proceed on two criteria: faith that the external provider will do a good job and cost.

Three types of process standards
A business process is simply how an organization does its work—the set of activities it pursues to accomplish a particular objective for a particular customer, either internal or external. Processes may be large and cross-functional, such as order management, or relatively narrow, like order entry (which could be considered a process in itself or a sub-process of order management). The variability in how organizations define processes makes it more difficult to contract for and communicate about them across companies.

Firms seek to standardize processes for several important reasons. Within a company, standardization can facilitate communications about how the business operates, enable smooth handoffs across process boundaries, and make possible comparative measures of performance. Across companies, standard processes can make commerce easier for the same reasons—better communications, more efficient handoffs, and performance benchmarking.

Since information systems support processes, standardization allows uniform information systems within companies as well as standard systems interfaces among different firms. Standard processes also allow easier outsourcing of process capabilities.

In order to effectively outsource processes, organizations need a means of evaluating three things in addition to cost.

First is the external provider's set of activities and how they flow. Since companies have not reached consensus it remains ambiguous what services should be performed between buyers and providers. Therefore, organizations need a set of standards for process activities so that they can communicate easily and efficiently when discussing outsourced processes. These process activity and flow standards are beginning to emerge in a variety of businesses and industries.

A second set of needed process evaluation approaches are process performance standards. Once companies in a particular industry achieve consensus about which activities and flows constitute a given process, they can begin to measure their own processes and compare their results with those of external providers.

Finally, organizations need a set of process management standards that indicate how well their processes are managed and measured and whether they're on course for continuous improvement. Because this third type of process standard doesn't require consensus on process activities and flows, it is the easiest to create and the most widely available today. Process management standards are based on the assumption that good process management will eventually result in good process flows and performance.

If your organization provides process services, you may have mixed feelings about the development of process standards. Standards will lead to commoditization, more competitors, and lower prices for the services you offer. However, the move to process standards makes so much economic sense that it is probably inexorable—whether or not your company gets involved. It's better to help shape a standard than to be put out of business by it.

Wednesday, October 24, 2007

Tampilan baru Klasmaya

Weblog Klasmaya sedikit dirubah tampilannya, pertama agar tidak bosan, yang kedua terkait dengan pemanfaatkan fitur-fitur baru yang tersedia di blogspot.

Namun untuk memasang fasilitas dan fitur baru (yang saya sendiri belum explore) perlu dilakukan upgrade template, walhasil sekalian saja diubah tampilannya. Konsekuensinya beberapa fitur yang sebelumnya ditambahkan jadi hilang.

Ada komentar untuk tampilan ini?
Saya coba melirik situs weblog gratisan selain blogspot (myspace?) tapi rasanya sudah banyak konten yang diisi disini. Mungkin ada usulan untuk situs weblog yang lebih bagus dari blogspot. Tapi yang jelas saya perlu informasi untuk hosting file pdf untuk dishare, masalahnya kuota geocities sudah menipis, ada usulan?

Untuk percobaan, mohon vote di bagian survey, buat asyik-asyik saja.

Ciao....

Monday, October 22, 2007

October 19, 2007 Class at a Glance

Pertemuan minggu lalu paska libur ”cukup panjang” (soalnya bukan versi pegawai negeri yang sampai tanggal 21 Oktober), seharusnya sudah dibuka sessi presentasi (tugas) dari bahan buku Burlton, hanya saja dengan beberapa alasan, antara lain team-mate nya tidak lengkap, belum ada satu tim pun yang maju.

Akhirnya minggu lalu, dibahas contoh-contoh soal terkait dengan workflow petri net. Paska liburan mungkin lebih enak refreshing dengan contoh kasus, dari pada dijejali materi baru yang jangankan bisa diterima, materi sebelumnya pun mungkin masih separuh dipahami.

Dua contoh yang saya ambil dari exercise nya Aalst terkait dengan German Traffic Light dan Insurance Company. Materi pembahasan mungkin akan lebih bagus dishare setelah ditambahkan dengan beberapa kasus latihan yang lain.

Hari ini saya terima pemberitahuan melalui email bahwa batas akhir pengumpulan NilaiTengah Semester (NTS) Ganjil 2007/2008 adalah hari Jumat, tanggal 02 November. Karena kita nggak bikin UTS, dan pertemuan kita sebelum tenggat hanya tersisa 1 kali lagi, minggu depan, tidak boleh lagi excuse untuk delay 15 minutes presentation. Otherwise, mungkin ada sessi quiz sebagai pengganti sekaligus bahan NTS.

So be there and be ready.

Artikel BPM dari Paul Allen

Artikel ini saya temukan di Internet (lupa dari situs apa) yang cukup relevan dengan SI-454.

IT organizations continue to find themselves under increased reassures to do more with less. In many cases, the development and integration efforts of the 1990s were designed to heighten organizational efficiency by automating departmental functions. Nowadays, with the Internet, e-mail, and the Web, companies can collaborate and share information far more easily than they could just a decade ago.

These developments have been paralleled by an expanded role for businesspeople in IT. Business users increasingly perform tasks that were previously only for the technically initiated. Business executives who were once scared of spreadsheets now use them for planning. E-mail has become ubiquitous. The Web is being used by businesspeople to boost knowledge, watch what competitors are doing, and check for stock information. The result is that the profile of IT looms large on a business agenda that demands heightened organizational efficiency in what are currently difficult economic times. And from an IT viewpoint, increased productivity -- especially in a slowdown -- depends on linking distributed systems together. It is against this background that business process management (BPM) is gaining momentum, receiving serious attention from many vendors, and appearing on the radar screens of senior end-user management.

Of course, there are those in our industry that take a slightly cynical view that BPM is simply the cosmetic re-branding of previous generations of workflow software. The efforts of the IT to reinvent different waves of technology that BPM is a lot more than a re-branding exercise.

Two trends are coming together that are creating enormous opportunities and challenges for the management of business processes across organizational boundaries. The first is a business trend toward the truly networked business that crosses organizational boundaries in an ever more adaptive fashion. The other is an IT trend that concerns development of enabling technology that has grown naturally out of distributed computingand component-based development. This mainly involves Web service protocols, description and discovery mechanisms, BPM languages, and standards. Each trend fuels the other: business pressure to realize the full potential of the Internet. Conversely, as the technology "opens up," business is awakened to increasingly imaginative ventures involving hitherto undreamt-of partnerships.

BPM sits at the confluence of these two trends and as such needs to be taken seriously. It must be understood in both IT and business terms. The business element involves developing an ability to explore, understand, and define cross-enterprise business processes. This, in turn, raises the bar for business process modeling and design techniques that are still largely wedded to the concept of an organization as a production line. That world is changing at a rapid pace. Today's unremitting technological innovation and change is mirrored by unpredictable and discontinuous changes in the marketplace. Businesses are responding by becoming more adaptive. The only strategy that makes sense is to become adaptive -- to sense early and respond quickly to abrupt changes in individual customer needs. Agility is needed both in rapid adoption of new technologies and in timely response to business change.

The IT element in actually making cross-enterprise business process automation happen rests partly in the ability to describe the contractual aspects of business protocols in a standard form that can be consumed by tools for process implementation and monitoring. At the same time, tools must provide much more innovative techniques that bring diagrams to life in a way that maximizes the involvement of businesspeople at the business process modeling and design level.

Thursday, October 11, 2007

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H




October 5, 2007 Class at a Glance

Pertemuan minggu pertama Oktober kembali dibahas materi dari Bab-3 Aalst, yang sekarang sudah bisa di download termasuk materi handout kelima.

Materi pembahasan mencakup konsep maupun aspek pengelolaan sumber daya (resources). Aalst menyebutkan klasifikasi sumber daya dari aspek fungsional dan aspek organisasi. Prinsip alokasi sumber daya juga dibahas dalam materi tersebut antara lain menyebutkan tentang penerapan prinsip antrian. Alokasi work item dari sumber daya menyebutkan pula terminology Push Driven, Pull Driven atau Campuran keduanya.

Meski sekilas, aspek indikator kinerja (internal dan external) juga dibicarakan yang selanjutnya akan lebih banyak dibahas pada bagian Analisa Workflow. Terakhir materi pembahasan dari bab-3 nya Aalst mengulas aspek petunjuk perancangan workflow.

Minggu kedua Oktober dijadwalkan untuk libur bersama, sayangnya minggu ke tiga sudah harus masuk. Karena saya masih status cuti bersama, jadwal tanggal 19 Oktober untuk sementara masih seperti bulan puasa, dengan kata lain mulai jam 16:00 – 18:00. Kuliah berikutnya kita kembali ke jadwal semula di 17:00 – 19:00.

Jangan lupa tugas resume and present sudah bisa disampaikan mulai tanggal 19 Oktober mendatang. Selamat ber libur panjang ... buat yang merayakan hari Raya Lebaran selamat makan ketupat, Minal Aidin wal Faidzin.

Wednesday, October 10, 2007

A Closer Look at Business Processes

Dicuplik dari artikel dengan judul An Introduction to BPM, September 2003, Ultimus

What is a Business Process
“A sequence of structured or semi-structured tasks performed in series or in parallel by two or more individuals to reach a common goal.”

The five essential points in this definition are:

  1. A business process consists of a “sequence” of tasks. One task alone performed by one person is not a business process.
  2. A business process is “structured or semi-structured.” This means that there is some logic or rules that dictate the sequence in which the tasks are performed. They are not performed on an ad hoc basis.
  3. The tasks can be performed in “series or in parallel”.
  4. There must be at least “two or more” individuals or applications involved as players performing different tasks in workflow.
  5. The sequence of tasks must have the purpose of reaching a common goal or outcome.

The Benefits of BPM
BPM offers numerous tangible and intangible benefits to organizations:

  • Improving the Speed of Business
  • Increased Customer Satisfaction
  • Process Integrity and Accountability
  • Process Optimization and Elimination of Unnecessary Tasks
  • Include Customers and Partners in Business Processes
  • Organizational Agility

Buat yang pingin lihat dokumen lengkapnya bisa di download di SINI

Monday, October 08, 2007

Cek Kebugaran lewat HP

Artikel ini saya sadur dari Associated Press, 6 Oktober 2007 dengan judul New Prototype Phone Gives Fitness Check ditulis oleh HIROKO TABUCHI. Aspek Inovasi yang terkait dengan materi kuliah Pengembangan Produk Telematika.


It can take your pulse, check your body fat, time your jogs and tell you if you have bad breath. It even assesses stress levels and inspires you with a pep talk. Meet your new personal trainer: your cell phone.

The prototype Wellness mobile phone from Japan's NTT DoCoMo Inc. targets users with busy lives who want a hassle-free way of keeping track of their health.

The phone, unveiled this week at the CEATEC electronics show outside Tokyo, has an inbuilt motion sensor that detects body movement and calculates how many calories you burn. The sensor can tell whether you're walking, running, climbing stairs, or resting, and counts the calories accordingly to tally daily totals. Hold the phone with outstretched arms, and it turns into a mini body fat calculator. A sensor at the top of the phone takes your pulse from your fingertip.

Worried about bad breath? Use the phone's breathalyzer. After blew on a tiny hole on the side of the handset for about three seconds, the screen flashed, "Not too bad."

The Wellness phone, developed by NTT DoCoMo and Mitsubishi Electric Corp., also asks questions to assesses stress levels and offers advice. When the busy spokesman answered "Yes" to a series of questions - including "Do you feel lethargic?" and "Do you go to bed after midnight?" - a message appeared on the screen warning he was under a lot of stress. "Don't worry, tomorrow's a fresh new day," the phone then flashed. "Keep your chin up!"

NTT DoCoMo is still testing some of the phone's other technology, including a function to keep track of meals and calculate calorific intake, as well as a networking capacity to let users share data. Japan has some of the world's most advanced cell phones, enabling users to surf the Web, check in at airports and play motion games. DoCoMo has not set a release date or price for the Wellness phone. The Tokyo-based company's phones are not sold overseas.

Tuesday, October 02, 2007

September 28, 2007 Class at a Glance

Pertemuan minggu lalu sebenarnya direncanakan untuk membahas bab-1 dari bukunya Burlton tentang Business Driver untuk berubah. Tapi sebelumnya sedikit diulas tentang materi dari Aalst untuk Travel Agent khususnya menyangkut enacment atau trigger. Statement “OR-join tasks should be avoided as much as possible” sempet terpengaruh untuk proses change saja, padahal yang dimaksud dihindari adalah pemakaian OR-Join untuk c2 yang bisa saja dipasang, namun sebaiknya dihindari (itu menurut bukunya Aalst). Buat lebih jelas, bisa dicek dibagian Aalst ke dua yang sudah di upload di klasmaya in.

Pembahasan Business Driver, terkait dengan 4 penggerak utama perubahan bisnis (kompetisi, perusahaan yang tumbuh semakin kompleks dan global, meningkatnya peran stakeholder luar, dan e-business). Perubahan bisnis untuk perbaikan di masing-masing penggerak tadi dibahas melalui pemodelan RoI.

Sebelum klasklar, ada informasi tugas paska lebaran membuat resume dan presentasi yang dibagi menjadi 7 kelompok, sebagai berikut:

Bab 2 : Debut Medio Okta Mustari; Mariany Elisa
Bab 3 : Adri P Manik Sihotang; Budiyanto
Bab 5 : Lim Chen Chen; Robet Alfonsin Lontoh; Sugiri; Petrus C Hidayat
Bab 6-7 : Vera Yanthi Samosir; Rudianto Tampubolon;
Bab 9-10 : Pargom Gom; Santi Junita Dewi
Bab 11-13 : Ihsan Cases Raharjo; Edgar Yangky Depthios; David H Sinaga
Bab 14-16 : Denny Kusuma; Putra Edlin Alamjaya; Nehemia K Suherman

Handout ke empat sudah bisa di download disini.

Saturday, September 22, 2007

September 21, 2007 Class at a Glance

Pertemuan keempat masih melanjutkan bahasan bab-2 dari buku referensi Aalst. Diawali dengan quiz menyempurnakan proses claim handling dengan menggunakan transisi (kotak) dan place (bulat) ”a’la” petri net. Statement a’la ini mungkin perlu diperjelas, karena sempat membingungkan pemirsa akibat pada saat melanjutkan pembahasan mapping proses ke Petri Net a bit confuse tentang mana yang transisi terkait dengan mana yang aktif digabung dengan artificial task management untuk AND/OR SPLIT/JOIN.

Pembahasan mapping juga menyebutkan metode notasi yang ditawarkan pak Aalst, termasuk satu model yang cukup complicated AND/OR-SPLIT karena merupakan gabungan AND SPLIT dan OR SPLIT (pernyataan ini juga cukup membingungkan apalagi kalau ga baca buku aslinya). Yang saya belum lihat gimana notasi buat AND/OR-JOIN ada yang mau coba usulkan?

Sesuai janji posting sebelumnya, hand out ketiga yang sudah dibahas minggu lalu dan sebelumnya sudah bisa di download. Tapi bukan berarti hand out ini bikin pemirsa nggak perlu lagi baca bagian dari buku Aalst nya yang asli.

Saya lupa ngasih home-work [atau kost’an-work] buat minggu depan, tapi kalau ada yang mau kirim notasi dan logic work buat AND/OR-JOIN bisa buat nambah-nambah nilai.

Perbedaan Workflow dan BPM

Tulisan ini dicuplik dari salah satu kumpulan artikel lama yang pernah disimpan dari situs majalah Transform (transformmag.com) yang dirilis pada bulan Desember tahun 2003. Menurut artikel tersebut, secara umum Workflow lebih mengarah pada urutan aktivitas yang didefinisikan dalam sekumpulan instruksi pada suatu aplikasi tertentu. Sementara BPM berkenaan dengan eksekusi dan pengelolaan proses yang secara mandiri didefinisikan oleh suatu aplikasi. Dalam atikel tersebut pakar Delphi menyebutkan perbedaan itu sebagaimana ditulis dibawah ini.

Nathaniel Palmer, Vice President & Chief Analyst, Delphi Group, Boston

While often treated synonymously, BPM and workflow are, in fact, two distinct and separate entities whose differences are more than academic.

Workflow is concerned with the application-specific sequencing of activities via predefined instruction sets, involving either or both automated procedures (software-based) and manual activities (people work).

BPM is concerned with the definition, execution and management of business processes defined independently of any single application. BPM is a superset of workflow, further differentiated by the ability to coordinate activities across multiple applications with fine grain control.

Integration between workflow systems and externalities are comparatively limited, often only allowing the retrieval of documents or data variables, and only as a pass-through with no awareness of content.

BPM systems allow both the capture and introspection of external documents and data, presenting a closed-loop process for validating the integrity of transactions, data and content, as well as the initiation of compensating activities when necessary. BPM processes separate execution instructions from process flows; thus, routing can be tied to process outcomes and milestones. As workflow processes are tied to single applications, process flow is hardwired and does accommodate alternative means for reaching the same task or goal.

Distilled into single-word definitions, workflow is about repetition and BPM is about coordination (also automation and orchestration, respectively).

Thursday, September 20, 2007

September 14, 2007 Class at a Glance

Pertemuan ketiga minggu lalu, fokus membahas bab-2 dari buku referensi Aalst, lagi-lagi pemirsa belum semuanya bisa akses (download) bagian dari e-book tersebut di klasmaya.

Konten pembahasan mulai fokus di frame work formal Petri Net, dari versi traditional maupun extended nya. Beberapa terminologi didefinisikan ulang dengan lebih spesifik.

Untuk pembahasan materi dari referensi Burlton, saya berencana untuk mendistribusikan tugas untuk dibahas (kalau bukan dipresentasikan) ke beberapa kelompok. Moga-moga pada pertemuan berikutnya kita bisa tetapkan alokasi tugasnya.

Hand out minggu lalu karena bab-2 belum tuntas dibahas, kemungkinan akan menyusul di share. Minggu depan kemungkinan akan kita lanjutkan dengan sisa di bab-2 yang belum selesai dibahas.

Minggu lalu kita sempat membahas tentang “Business Model”. Ada contoh yang cukup menarik dari kasus Akamai dan Inktomi yang pernah di posting di Klasmaya bulan September 2006. Mungkin bisa dibaca-baca siapa tahu sempet dibahas di pertemuan mendatang.

Kuliah terkait Process

Video clip dengan judul asli Accelerating Innovation: People, Process, & Technology dari Jack Shaw (http://www.e-com.com/) ini cukup terkait dengan bahasan BPM. Disampaikan pada saat beliau menjadi keynote speaker untuk forum SAP di Sao Paulo Brazil di bulan Maret 2006.

Cukup menarik buat dianggap kuliah jarak jauh.

Monday, September 10, 2007

September 7, 2007 Class at a Glance

Pertemuan kedua di minggu lalu, fokus membahas bab-1 dari buku referensi Workflow Management dari Aalst. Sayangnya pemirsa belum bisa akses (download) bagian dari e-book Aalst di klasmaya.

Konten pembahasan mengulas tentang BPM, BPR, WFM, serta Petri Net sebagai acuan framework yang digunakan Aalst, termasuk terminologi Case, Process, Task serta mekanisme struktur proses (sequence, selection, synchronization, dan iteration). Sessi minggu lalu juga membahas case bisnis proses perusahaan asuransi sebagai quiz, kategori proses dan hubungan antar proses.

Hand-out sessi ke dua dan bahan minggu depan dari bukunya Aalst bab -2 bisa di akses disini.

Selama bulan puasa kita sepakat untuk menggeser kelas satu jam lebih awal. Tadinya khusus minggu ini (saja), saya berencana menggeser juga ke hari Kamis, namun informasi dari BAAK jadwal tersebut bentrok dengan mata kuliah lain. Jadi minggu ini, kita mulai jam 16:00 di hari Jum’at.