Tuesday, September 26, 2006

230906 Class at a Glance

Minggu lalu sesuai rencana sebelumnya, kita telah bahas dan diskusikan materi Product vs Service dari kasus Inktomi dan Akamai. Kasusnya cukup menarik, meski relative out-of-date. Dari jawaban tugas yang masuk beberapa dilengkapi dengan opini tentang model bisnis yang lebih disukai. Sebagian memilih Akamai, sebagian lagi Inktomi, namun sebagian besar abstain alias ga’ pilih yang manapun (boleh jadi punya model bisnis lain). Issue terakhir, Inktomi akhirnya di akuisisi Yahoo, sementara Akamai masih tetap dominant di industri layanan infrastruktur dibanding competitor sejenis lainnya. Jadi siapa yang menang? In my opinion, it is still arguable.

Materi QFD sayangnya tidak bisa dituntaskan, baik itu bahan dari Dieter apalagi dari artikel. Namun artikel QFD sudah diupload di tulisan sebelumnya (Notes for next session 230906). Jadi sebenarnya bisa dibaca-baca sendiri, minimal untuk pembekalan kuliah minggu ini. Bagi yang menunggu edisi HO minggu lalu, bisa di download di SINI.

Marhabban Yaa Ramadhan


Friday, September 22, 2006

Notes for next session 230906

Sessi off-line besok semoga kita bisa ngebahas tugas Akamai & Inktomi. Hanya saja dari total 12 (?) siswa, baru sekitar tiga perempatnya saja yang ter’collect itupun hanya separuhnya yang menjawab dengan cukup memuaskan.

Materi lain saya akan coba membahas materi dari Bukunya Customer Centric Product Definition dari Sheila Mello (AMACOM) ditambah kalau sempat materi Quality Function Deployment dari salah satu artikel InformIT yang dapat di download di SINI. Artikel ini sebenarnya bagian dari buku dengan judul yang saya sendiri nggak tahu dari penerbit Addison-Wesley.

Sekali lagi maaf, dadakan, tapi better late than nothing.

Thursday, September 21, 2006

Profile kelas dari "5 faces of genius"

Seperti yang pernah dijanjikan sebelumnya, hasil quiz wajah jenius beberapa minggu lalu dapat disajikan disini.

Dari 11 peserta yang mengikuti quiz dilihat dari kaca mata 5 muka jenius, ternyata separuhnya memiliki kemampuan sebagai Observer, disusul Sage sekira sepertiganya dan Seer dimiliki oleh 2 peserta. Muka jenius lain seperti Fool dan Alchemist hanya diwakili oleh masing-masing 1 peserta. Cukup wajar, meski Alchemist biasanya cukup populer, namun dalam kasus ini hanya mendapat porsi 10%. Fool yang umumnya jarang dimiliki, ternyata di kelas kita ada satu peserta yang ber muka Fool.

Dilihat dari multi-faces, separuh dari peserta quiz hanya memiliki satu wajah jenius, sementara 20% berwajah dua dimana salah satu wajahnya adalah Observer, hanya satu peserta yang memiliki 3 wajah jenius sekaligus. Sisanya tidak terlihat salah satupun wajah jenius alias tidak dominant.

Untuk pemirsa Klasmaya yang belum ‘ngeuh’ tentang 5 faces of genius, dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:

Seer: The power to image
Seers see pictures in their mind's eye, and these pictures become the impetus for ingenious ideas. In the same way that someone can imagine how his living room would look with a new color of paint, highly creative people use the skill of the seer to imagine new ideas. Seers are guided by the images in their mind's eye, visualize in great detail, and are able to manipulate these images along the way to maximize their impact and expand their ideas.

Observers: The power to notice detail
Observers notice the details of the world around them and collect [those details] to construct a new idea. They scan their environment for interesting information and use this data to create breakthroughs. Observers stand in awe of the world around them, and its beauty is a source of inspiration. They cherish the details and are driven by their unrelenting curiosity.

Alchemists: The power to connect domains
Alchemists bring together separate domains - different ideas, disciplines, or systems of thought - and connect them in a unique way to develop breakthrough ideas. The Alchemist's insights come from borrowing or even stealing ideas. They are motivated to invent by a broad range of interests, and they lead lives that connect work and play.

Fool: The power to celebrate weakness
The most complex Face, the Fool, celebrates weakness. Fools practice three related skills: excelling at inversion, seeing the sense in absurdity, and having unending perseverance

Sage: The power to simplify
Sages use the power of simplification as the primary means to inspiration. They reduce problems to their essence and, in the process, create an ingenious idea. Simplicity is their credo. Also, Sages look to history as a resource for creative insight. They honor the past and find insights in what has happened before.

160906 Class at a Glance (actually no class at all)

Sejak Kamis minggu lalu sebenarnya saya sudah info kan ke BAAK tentang perubahan jadwal minggu lalu untuk dapat diumumkan jauh hari sebelumnya. Namun sesuai prosedur kampus, saya perlu mengisi formulir perubahan jadwal. Jum’at pagi formulir baru bisa saya isi dengan harapan pengumuman bisa dipasang sebelum hari Sabtu kemaren.

Jadwal Sabtu terpaksa di ‘delay’ ke hari Senin 160906 karena satu dan lain hal, terutama terkait dengan kegiatan di kantor. Namun entah karena miss-information atau alasan lain (bisa jadi protes) Senin jam 1810 tidak ada seorangpun yang tampak batang hidungnya. Untungnya kedatangan saya tidak terlalu sia-sia karena ada satu mahasiswa yang mengambil kesempatan untuk bimbingan TA.
Mungkin kejadiannya tidak separah kemaren kalau saja saya sempat meng’info’kan perubahan jadwal lewat email atau klasmaya. Tapi lagi-lagi time constraint selalu jadi excuse yang paling populer. Moga-moga kedepan, urusan time management bisa diperbaiki, untuk memberi kepuasan ke seluruh stakeholder.

Monday, September 11, 2006

090906 Class at a Glance

Kelas minggu dibahas materi PLC, Proses NPD dan Proses Disain, moga-moga akronim tadi sudah bukan hal yang asing di telinga pemirsa klasmaya. Satu lagi materi terkait dengan definisi, istilah, terminologi dan contohnya untuk produk telematika dan digital.

Materi Proses Disain seperti yang telah disajikan di Notes for Next Session (N4NS) 090906 lebih membahas sebagian dari bab-1 dari buku Dieter.

Satu yang menarik pada saat kita bahas type product baru ada matriks yang mungkin bisa menggambarkan dan menambah penjelasan tersebut. Pendekatan matriks, item-item dan atributnya boleh jadi arguable, tapi dibawah ini saya tampilkan untuk bahan pemikiran untuk dikomentari.


Materi hand-out minggu lalu dapat di download di SINI.

Untuk tugas minggu depan, sekilas saya lihat jawaban tugas kasus Inktomi dan Akamai masih belum komprehensif, sebaiknya ada komparasi dari model bisnis product dan service, kelebihan dan kekurangan, plus dan minusnya. Jadi tugas minggu lalu masih harus diperbaiki untuk dikumpulkan sebelum perkuliahan nanti.

Tugas kedua, terkait dengan stages di PLC. Cobalah mencari contoh produk (lebih bagus kalau produk telematika dan digital) untuk masing-masing stages di PLC tersebut. Bahan bisa di explore dari Internet, atau sekedar melihat kondisi di tanah air.

Friday, September 08, 2006

Notes for next session 090906

The Product Design Process (Dieter: Chapter 1)

To design is to create something that has never been, it is frequently said that design is the essence of engineering. Design establishes and defines solutions to and pertinent structures for problems not solved before, or new solutions to problems which have previously been solved in a different way.

Importance of Product Design
The real key to world-competitive products lies in high-quality product design. Decisions made in the design process cost very little in terms of the overall product cost but have a major effect on the cost of the product. Quality cannot be built into a product unless it is designed into it. The design process should be conducted so as to develop quality cost-competitive products in the shortest time possible.

The Design Process
Design is a sequential process consisting of many design operations. The design method starts with knowledge of the states of the art; identification of need; then conceptualized as some kind of model; doing feasibility analysis; and production phases.

A Problem solving methodology consists of: Definition of the problem; Gathering of information; Generation of alternative solutions; Evaluation of alternatives; and Communication of the result.

The morphology of design that represents a complete design process consist of: 1. Conceptual Design; 2. Embodiment Design; 3. Detail Design; 4. Planning for manufacture; 5. Planning for Distribution; 6. Planning for Use; 7. Planning for Retirement of the Product.

020906 Class at Glance

Kelas minggu lalu sengaja dibuat tidak terlalu serius, lebih banyak acara perkenalan, diskusi bahkan game. Ternyata seperti kelas-kelas di mata kuliah yang saya bawakan sebelumnya, jumlah pemirsa tidak lebih dari 15 orang. Saat ini, meski merupakan gabungan dua kelas dari dua jurusan, tetap saja pemirsa nya juga bisa dihitung dengan jari.

Materi yang dibawakan minggu lalu relatif lebih ke ke arah lingkup perbincangan yang akan dibahas selama 14 kali pertemuan, meski tidak semua dapat ditampilkan pada sessi tersebut. Selebihnya hampir 1/3 sisa waktu dipakai untuk Quiz (the other meaning of quiz, bukan quiz terkait dengan nilai) yang mengetengahkan issue 5 faces of genius. Kali waktu, saya akan tulis materi itu di klasmaya, semoga..

Materi hand-out minggu lalu dapat di download di SINI.

Maaf tulisan ini terlambat....tapi mungkin juga belum ada yang peduli.

Tuesday, September 05, 2006

Task of This Week


Tugas minggu ini cuman membaca satu artikel yang membahas Product dan Service dari case Inktomi dan Akamai yang selanjutnya di summary kan dan ditambah opini atau pendapat orisinil anda.

Saya sudah kirim lewat email, namun dari beberapa email dengan nama yang peculiar, ada yang mental jadi ada baiknya saya informasikan lewat media ini. Mungkin untuk selanjutnya saya akan pergunakan media ini untuk sharing file.

Artikel bisa di akses di SINI

Selamat bekerja....

Selamat Datang di Klasmaya (khusus buat pemirsa baru)



Selamat datang ... Welcome... Sugeng Rawuh... Wilujeng Sumping...

Mungkin sekira 3,5 bulan webblog ini tidak terupdate. Musim liburan disertai kesibukan di kerjaan ditambah ada satu cobaan yang cukup berat dalam keluarga menambah kesibukan aktivitas sehari-hari. Lokasi kerja baru juga memberi kontribusi dalam tidak terupdatenya webblog ini. Semoga mulai hari ini, sebagai konsekuensi pemanfaatan media blog sebagai alternatif (tambahan) perkuliahan, klasmaya bisa aktif seperti sedia kala. Semoga..

Di kelas sebelumnya biasa ada topik Class at Glance, semacam overview dari kuliah sebelumnya. Saya berharap di kelas SK-425 dan EL-419 juga tetap dipertahankan. Selain itu beberapa artikel yang menarik semoga bisa muncul di klasmaya.

Akhirnya, selamat bergabung di klasmaya, semoga partisipasi anda bisa bermanfaat buat kita semua.

Monday, May 22, 2006

Penerapan ITSM

Artikel ini diambil dari saduran artikel majalah eBizzAsia edisi Juni 2005 (setelah dikurangi konten yang berbau komersial). Sedikit memberikan penjelasan terkait dengan issue ITIL yang pernah diposting sebelumnya (mungkin masih dianggap konten berbau SARA).

Penerapan ITSM: Strategi Meningkatkan Kualitas Layanan

Dewasa ini, ketika keberhasilan bisnis tergantung pada infrastruktur teknologi informasi (TI) yang dijalankan dengan baik, maka kemampuan perusahaan untuk mengelola layanan TI ( IT services ) harus menjadi prioritas utama.

Tuntutannya adalah bagaimana memaksimalkan nilai yang bisa diperoleh bisnis, sehingga mampu memberikan layanan yang optimal kepada konsumen atau pelanggan, namun pada saat yang sama mengendalikan biaya seminimal mungkin.

Upaya memaksimalkan nilai itu menempatkan penerapan IT Service Management (ITSM) tidak lagi merupakan suatu opsi, melainkan telah menjadi suatu keharusan bagi perusahaan, terutama jika ingin mempertahankan eksistensi bisnisnya di tengah persaingan yang sangat kompetitif saat ini.

ITSM, sebagai suatu solusi manajemen, jelas tidak hanya terkait dengan ketersediaan infrastruktur TI, melainkan bagaimana infrastruktur tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan TI di lingkungan perusahaan, sehingga menjadi lebih efisien dan efektif, yang berujung pada kemampuan mengoptimalkan layanan kepada pelanggan, sambil menghemat biaya. Lanjutannya, perusahaan pun dapat dengan mudah membuat perencanaan ( forecasting ) ke depan, termasuk juga mengambil berbagai keputusan bisnis yang lebih dinamis.

Mengapa ITSM
Di masa lalu, banyak perusahaan yang membangun infrastruktur TI dan sekaligus menempatkannya sebagai technology backbone bagi pengembangan bisnisnya. Namun, ketika perusahaan mengalami perkembangan, menjadi lebih maju, lebih banyak pelanggannya, maka kebutuhan infrastruktur TI- nya juga ikut berkembang. Dampaknya, bukan saja infrastruktur TI-nya semakin luas, perangkat, sumber data dan aplikasi yang digunakannya pun semakin berjibun. Hal itu, tentu akan sangat mengganggu, karena jika tidak mampu dikelola dengan baik, dalam arti mengoptimalkan layanan TI, maka hal itu sekaligus akan menjadi beban. Sementara, mengelolanya pun bukan hal yang mudah, apalagi kalau tanpa menggunakan tools atau solusi yang tepat.

Padahal, perusahaan, dalam upayanya untuk bertahan dalam persaingan yang semakin hari semakin ketat, tentu membutuhkan, bukan saja kelincahan dalam menangani bisnis, melainkan juga meningkatkan pelayanannya kepada pelanggan, yang berarti secara internal harus terus-menerus meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya.

Tantangannya menjadi bagaimana menyediakan layanan TI yang kompetitif di perusahaan secara menyeluruh, yang semakin memungkinkan setiap bagian di dalam perusahaan, baik bagian penjualan, inventori, administrasi, keuangan dan lainnya, mampu bekerja secara lebih efisien dan produktif, yang akhirnya mendorong peningkatkan pelayanannya kepada pelanggan.

Artinya, para CIO ( chief information officer ) dengan segenap jajarannya di lingkungan perusahaan harus mampu memberikan pelayanan TI secara efisien dan efektif, yang benar- benar dapat memenuhi kebutuhan bagian- bagian lainnya. Hal itu, bukan saja semakin menuntut dengan pemahaman bagian TI terhadap tujuan- tujuan bisnis, melainkan bagaimana orang- orang TI memiliki ukuran- ukuran kualitas layanan TI yang jelas, yang juga bisa menjadi ukuran bersama dalam meningkatkan daya saing perusahaan dan bisnisnya.

IT People tak bisa lagi hanya sekedar menyediakan infrastruktur dan aplikasi, melainkan bagaimana semua itu benar-benar tersedia, dengan kualitas layanan yang disepakati, sehingga secara nyata memberikan dukungan layanan yang optimal, sehingga setiap bagian lainnya juga mampu meningkatkan layanannya untuk pelanggan.

Pengelolaan infrastruktur TI saja, kini tak lagi memadai, diperlukan pengelolaan layanan TI dengan kualitas terukur, yang selanjutnya beranjak ke pengelolaan layanan bisnis ( business service management , BSM) dengan konsisten selain mempertimbangkan biaya. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai infrastruktur menjadi nilai layanan bisnis.

Dengan kata lain, ketersediaan infrastruktur tidak lagi berhenti sampai pada ketersediaan layanan TI, melainkan bagaimana layanan itu memiliki kualitas, kapabilitas dan ukuran – apakah sesuai dengan kebutuhan bisnis atau tidak. Bagaimana pengelolaan infrastruktur yang baik, yang didukung penerapan ITSM, mampu memberikan suatu layanan yang bermutu tinggi dan konsisten, yang mencakup semua bagian di dalam perusahaan, seperti inventori, pasokan dan lain sebagainya, namun dengan biaya yang lebih hemat.

Sasaran lanjutannya adalah bagaimana semua itu mampu meningkatkan volume bisnis, melalui peningkatan kualitas proses bisnis di perusahaan secara menyeluruh. Hal itu sangat menuntut terjadinya perubahan yang mendasar di lingkungan perusahaan, dari sekedar menyediakan infrastruktur dan layanan TI menjadi nilai bisnis.

Penerapan ITSM untuk menyelaraskan antara TI dan bisnis, salah satunya memanfaatkan framework IT Infrastructure Library (ITIL). ITIL merupakan kumpulan praktik terbaik (best practices) dalam manajemen layanan yang membantu menurunkan biaya TI dan secara kontinyu meningkatkan kualitas layanan yang bertujuan untuk mengoptimalkan nilai bisnis.

Suatu penerapan ITSM yang efektif dilakukan dengan memadukan tiga unsur utama, yakni orang, proses dan teknologi, ke dalam suatu sistem yang dirancang dengan baik, yang didasarkan pada praktik industri yang terbaik. Keterpaduan tiga unsur ini dalam suatu sistem, semakin memastikan bahwa ketiganya mampu membangun sinergi, sehingga masing- masing dapat memberikan sesuatu yang terbaik.

ITIL menjadi pendekatan manajemen layanan TI yang sangat luas diterima di lingkungan industri guna memberikan suatu pengelolaan layanan TI yang komprehensif, sehingga mampu mendorong efisiensi dan efektivitas penggunaan sistem informasi dalam pencapaian bisnis.

Pembahasan UAS

Setelah beberapa hari vakum, dan mungkin untuk beberapa minggu ke depan (kecuali kalau mau bahas sesuatu atau posting saduran artikel yang lumayan), hari ini saya coba bahas materi UAS kemarin.

Dari awal sudah saya sebutkan bahwa materi UAS sebagian besar diambil dari buku reference. Kalau sebagian ngga’ denger, atau ngga’ mengindahkan mungkin rada repot juga, minimal buat yang ngga’ copy buku Ward bisa siap-siap.

Pembahasan kali ini bukan untuk soal yang ada jawabannya di buku. Tapi kita akan bahas kasus Pengembangan Perpustakaan Kampus yang jadi salah satu soal (buat SI dan SK perbaikan). Untuk kasus ini, mahasiswa sudah pasti tahu, baik itu model bisnis atau prosesnya. Jawaban bisa bervariasi, beragam dan melebar jadi tidak bisa menyebutkan jawaban paling benar (penilaian diambil dari analisa kebutuhan, informasi yang bisa di generate, maupun wawasan pemanfaatan teknologi yang tersedia).

Rata-rata untuk ulasan kebutuhan sudah cukup mendalam terutama untuk item-item jawaban seperti akses secara online, pencarian buku, limit peminjaman, pinalti / denda, sampai ke notifikasi order peminjaman / booking, atau peminjaman yang mendekati tenggat waktu (sangat wajar mengingat semua memiliki pengalaman terkait dengan mekanisme perpustakaan). Beberapa point menyangkut informasi yang bisa dipergunakan sebagai analisa juga sudah dijawab, seperti buku yang sering dipinjam mulai dari judul, topic ataupun authornya; analisa kebutuhan pembelian buku; keseringan mahasiswa meminjam; penetapan limit peminjaman untuk spesifik buku termasuk dendanya, dan beberapa informasi lain.

Ada satu pertanyaan mengenai analisa korelasi buku yang seharusnya bisa dikaitkan dengan kecenderungan peminjaman buku dengan informasi mahasiswa dari jurusan atau mata kuliah yang diambil. Boleh jadi suatu perpustakaan memiliki informasi keterkaitan suatu buku dengan mata kuliah dari referensi pengajar, namun kalau toh informasi itu tidak ada, bisa dibuat suatu analisa antara korelasi peminjaman buku dan mahasiswa dengan mata kuliah tertentu. Sehingga pada saat seorang mahasiswa mencoba meminjam buku yang tidak tersedia, pustakawan bisa memberikan saran buku pengganti dari informasi buku yang memiliki korelasi yang sama dengan mata kuliah tersebut.

Jawaban untuk aspek teknologi didominasi on-line library, beberapa menyebutka e-library dengan fasilitas e-book download. Selain web based yang jadi killer application, alternative pemanfaatan SMS sebagai fungsi pencarian, notifikasi ataupun reminder juga diulas oleh satu dua jawaban. Hanya saja saya tidak menemukan jawaban lain seperti misalnya RFID yang sebelumnya dibahas di off-line class (mungkinkah diterapkan di perpustakaan?).

Wednesday, April 26, 2006

220406 – BSC & Business Excellence Model

Di buku acuan kita (Ward&Peppard) bab-4, dibahas tentang analisa bisnis melalui tools manajemen antara lain Balanced Score Card (BSC) dan Critical Success Factor (CSF). Ward&Peppard bahkan membahas penggabungan BSC dan CSF dalam mekanisme untuk membantu menetapkan kebutuhan sistem dan teknologi informasi.


Balanced Scored Card Framework

Kelas minggu lalu, dibahas mengenai framework BSC termasuk konsolidasinya dengan CSF mengacu referensi kita. Pembahasan mendalam mengenai BSC ada di SI-516 (Pengelolaan Strategi dan Perubahan) meski muncul juga di mata kuliah lain yang terkait..

Sessi selanjutnya ditambahkan salah satu approach Business Excellence Model (BEM) dari Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE). Model ini menjadi acuan BEM di negaranya paman Sam (meski bukan Sam yang kita kenal) yang mirip dengan model di negara-negara Eropa (EFQM ) yang pernah dibahas dalam bedah buku bab-8. Pembahasan lebih difokuskan pada perspektif ke-4 tentang Measurement, Analysis, and Knowledge Management (ini yang di EFQM kurang dibahas mendalam).

Baldrige Criteria for Performance Excellence

Analisa pada kriteria di perspektif ke-4 dapat menjadi masukan dalam menentukan IS/IT requirement, atau prasyarat dalam IS/IT support untuk mendukung kinerja ekselen dari suatu perusahaan.

Today's quote


Efforts and courage are not enough

without purpose and direction

(John F. Kennedy)

180406 – Free Discussion

Sebenarnya sebagai kelas pengganti di jam 17:00, sore itu cukup merubah suasana, asyik juga ada kelas malam, mirip pegawai kantoran yang “nyambi” kuliah. Tapi mungkin karena suasana agak lain, model kelas minggu lalu juga agak berbeda, tanpa materi kecuali diskusi bebas, lugas dan bertanggung jawab.

Diskusi mengulas mengenai informasi strategis di industri yang mungkin bisa kita bayangkan. Setelah sebelumnya beberapa pembahasan menyajikan informasi dari model bisnis salah industri (telco dan retail), sore itu kita bahas a’la brain storming untuk industri atau model bisnis lain seperti rumah sakit dan pabrikan dengan bengkel sebagai distribution channelnya.

Informasi strategis rumah sakit misalnya, dari beberapa diskusi partisipan, dibahas tentang informasi ketersediaan kamar rumah sakit, inventory/stock obat, data dokter, pasien, sampai ke medical record. Pertanyaannya mungkin, data medical record yang digunakan sebagai tracking history pasien, apakah dianggap sebagai informasi strategis atau informasi operasional saja karena ada kewajiban untuk membagi dengan rumah sakit lain sebagai tanggung jawab sosial.

Topik yang lain, menyangkut informasi strategis untuk pabrikan otomotif yang memanfaatkan data transaksi operasional dari dealer dan bengkel sebagai distribution channelnya. Data spare part yang harus/layak diganti terkait dengan umur kendaraan bisa menjadi informasi operasional untuk memberikan layanan pada pelanggan, tanpa harus menunggu rusak. Data transaksi perbaikan atau penggantian suku cadang juga menjadi informasi yang berguna untuk principal/pabrik dalam menganalisa kualitas produknya yang akhirnya menjadi informasi strategis untuk quality improvement.

Analisa informasi strategis tidak lepas dari analisa bisnis model industri atau perusahaan. Pengetahuan tentang value-chain, bisnis proses maupun bisnis arsitektur menjadi landasan dalam menentukan data apa yang bisa menjadi informasi strategis dan competitive advantage suatu perusahaan.

Tuesday, April 25, 2006

Bintang Timur di atas langit biru bukit Patuha

JVC DX77, Sunday 16/04/2006 5:32

Gartner: Top Priority for CIOs Is Process Improvement

By Robin Arnfield January 24, 2006 11:45AM

"I.T. security is still very important," said Mark McDonald, group vice president and head of research for Gartner's Executive Programs. "Security is now part of the CIO's standard portfolio of responsibilities and has to be part of everything he or she does, from business processes to I.T. systems."

Business-process improvement -- streamlining corporate operations and making the company easier to do business with -- tops the CIO to-do list for 2006, according to new research from Stamford, Connecticut-based consulting firm Gartner Group.

The finding is especially notable in that business-process improvement ranked only 18th in Gartner's CIO priority list in 2004, before moving up to the number one position.

"The number one business priority this year, as in 2006, is business-process improvement," said Mark McDonald, group vice president and head of research for Gartner's Executive Programs.

Costs and Security

To create the report, Gartner carried out a worldwide survey of 1,400 CIOs on their I.T. priorities for 2006. The CIOs surveyed managed centralized I.T. organizations, employing an average of 300 I.T. professionals with an average I.T. budget of $71 million.

The CIOs represented $90 billion in I.T. spending altogether.

"The I.T. department has done a good job of bringing costs under control and installing core systems; now businesses expect to get future competitive advantage through improving business processes," McDonald said.

"I.T. security is still very important," McDonald pointed out. "Security is now part of the CIO's standard portfolio of responsibilities and has to be part of everything he or she does, from business processes to I.T. systems."

According to McDonald, security spending has continued to grow. "The business no longer has to pound on the table to demand I.T. security," he said. "It now expects the CIO to protect the enterprise and is willing to fund this."

In aggregate, the survey results suggest that business expectations of I.T. have changed and executives now are expecting their CIOs to move beyond concerns about cost, security, and quality to help grow the business.

Business and Technology

The top four business priorities identified in the report are business-process improvement, controlling enterprise operating costs, attracting customers and growing customer relationships, and improving competitive advantage. Security breaches and disruptions occupy the number seven position in the top 10 business priorities.

The top four technology priorities for 2006 are business-intelligence applications, security technologies, mobile-workforce enablement, and collaboration technologies, according to the report.

The Gartner survey also found that worldwide I.T. budgets are expected to increase by an average of 2.7 percent in 2006. This compares to an increase of 2.5 percent in 2005 and represents a modest budget increase for the third consecutive year.

However, the I.T. budgets at companies planning to grow more quickly than the market are increasing by an average of 4.8 percent, Gartner said.

Morning at Ciwidey

JVC DX77, Sunday 16/04/2006 5:56

Thursday, April 13, 2006

Announcement

Berhubung satu dan lain hal, maka hari Sabtu tanggal 15 April 2006, klas didelay ke hari Selasa tanggal 18 April 2006 di ruang 201.

Wednesday, April 12, 2006

IGOS masuk fase pemasaran

JAKARTA (Bisnis): Setelah sekian lama berkutat dengan pengembangan produk, gerakan pemanfaatan peranti lunak open source nasional mulai tahun ini akan menggencarkan kegiatan pemasaran.

PT Inti sebagai pusat kegiatan pemasaran dan bisnis Konsorsium IGOS (Indonesia Goes Open Source) menyiapkan berbagai program untuk Sistem Desktop Nasional (SDN) "disebut juga IGOS Desktop- dengan target instansi pendidikan dan lembaga komersial".

"Tahun ini akan banyak program pemasaran dan sosialisasi yang belum bisa kami berikan rinciannya saat ini", kata Tikno Sutisna, Marketing IGOS Desktop sekaligus Kepala Jaringan Telekomunikasi Privat PT Inti, kepada Bisnis kemarin.

Dia mengatakan Konsorsium IGOS yang juga terdiri dari IPTEKnet dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tidak akan menunggu dukungan dari pemerintah untuk terus menggulirkan program pemanfaatan peranti lunak open source nasional itu.

Memang sejak pemerintah mencanangkan IGOS 30 Juni 2004 lalu, program itu belum terdengar gaungnya dan hampir tidak ada kegiatan pemasaran termasuk promosi dan sosialisasi kepada publik secara luas.

"Itu kelemahan kami selama ini yang hanya menonjolkan produk dan kemampuannya. Setelah evaluasi kami menyadari harus lebih banyak mengenalkan kepada masyarakat", ujar Tikno.
Selama dua tahun ini, aktivitas IGOS lebih banyak berlangsung di bidang pengembangan produk, persiapan infrastruktur dukungan, pemberdayaan komunitas pengembang dan pendirian pusat repository nasional.