Tuesday, August 31, 2010

Welcome abroad and Class at a Glance August 31, 2101

Selamat datang pemirsa SK-425 dan EL-419 tahun ajaran 2010. Di pertemuan pertama ini sebagai klas pengganti dari hari Sabtu kemarin, sayabertemu kembali beberapa partisipan yang sebelumnya pernah mengambil subject lain yang biasa saya bawakan. Sehingga media klasmaya seharusnya bukan menjadi hal yang baru lagi.

Tujuan dari media ini adalah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar dan mengajar melalui komunikasi dan kolaborasi untuk model belajar mengajar a'la virtual. Tanpa perlu menyebutkan institusi pendidikan formalnya, kecuali beberapa kode-kode yang hanya pemirsa atau formal audiens yang tahu, KlasMaya bukan media eksklusif, sehingga selain anggota tetap dari "brick 'n mortar class" kami juga menerima penggembira dan pemirsa lain.

Klas di hari pertama, digeser ke hari Selasa 0700, karena Sabtu lalu saya ada appoinment dengan seorang dokter di Jakarta. Sessi hari itu lebih banyak melihat materi kuliah in a big picture even beyond specific course objective.


Seperti biasa Klasmaya menyediakan handsout yang bisa langsung diunduh disini.

Monday, July 12, 2010

Menunda konsolidasi Flexsia

Setelah beberapa bulan lalu sempat mencuat kepermukaan, issue konsolidasi FWA Telkom-BTEL nampaknya mulai mereda. Apakah ini sinyal bakalan pergantian Direksi? boleh jadi, tapi issue ini jadi semakin membuka pemahaman adanya konsolidasi politik dan bisnis yang menekan perusahaan plat merah.

Posting kali ini diambil dari artikel Koran-Jakarta dengan judul “Strategi Bisnis : Konsolidasi Flexi dengan BTEL Tidak Mendesak” hari Jumat, 09 Juli 2010.

Berikut cuplikannya.


Telkom siap menghentikan sementara pembahasan konsolidasi unit usaha FWA, Flexi dengan BTEL. Telkom akan tetap fokus membesarkan Flexi, sedangkan soal konsolidasi adalah masalah diskusi bisnis yang bisa dilakukan kapan saja.

Sebelumnya, Menteri BUMN meminta Telkom menunda sementara rencana merger layanan Flexi dengan BTEL hingga manajemen baru Telkom terbentuk. Mustafa beralasan bahwa manajemen baru yang akan terbentuk belum tentu punya strategi yang sama dengan manajemen saat ini.

Beberapa pengamat keuangan menyebutkan Telkom sebaiknya fokus mengembangkan Flexi karena konsolidasi dengan BTEL tidak ada untungnya, bahkan Telkom akan menanggung utang BTEL. Bakrie dalam mencari modal itu biasanya melakukan Repo (gadai saham), seandainya pembelian terjadi, berarti semua beban akan ditanggung Telkom. Tidak ada hal mendesak bagi Telkom untuk mengonsolidasikan Flexi karena pangsa pasar telepon tetap masih dikuasai, dan Telkomsel yang mengusung teknologi GSM tetap berjaya. Manajemen dan pemegang saham Telkom agar berhati- hati dalam mengambil aksi korporasi karena bisa saja ada somasi akibat masyarakat dirugikan.

Analis Sekuritas, juga mengomentari bahwa TelkomFlexi tidak menderita kerugian apa pun dengan adanya penundaan rencana konsolidasi bisnis tersebut. Karena secara infrastruktur, jumlah pelanggan, maupun teknologi, TelkomFlexi lebih unggul dibandingkan BTEL. Namun potensi BTEL untuk mendongkrak pendapatan menjadi terhambat dengan tertundanya rencana konsolidasi bisnis tersebut.

Thursday, June 24, 2010

Indonesia is about to explode !!!

Artikel ini diambil dari totaltele.com tanggal 24 Juni 2010 dengan judul "Google eyes Indonesia for expansion", tapi judul disini saya ambil saja ekspresinya Sauquet, biar lebih bombastis..... kan ada explode nya. Berikut cuplikannya:

Internet company executive describes Indonesia as 'the right place for us'.

Google Inc. said Thursday that Internet use in Indonesia was expanding at a fast pace and was the leading emerging economy in terms of growth.

"Users are growing very, very fast. Indonesia is about to explode," Google Asia Business Development director Emmanuel Sauquet said of Southeast Asia's biggest economy.

"It has very diverse and very active online communities. It's the right place for us to come now," he said. "Compared to other emerging countries, Indonesia is the fastest growing country."

Google is collaborating with a local wireless broadband Internet company Bakrie Connectivity, whose new modem will come with Google Chrome web browser as a standard feature.

Indonesia's population of more than 230 million people and low market penetration have made the Indonesia attractive for Internet companies.

The country has about 40 million Internet users, while it is also ranked third with the most registered Facebook users, after the U.S. and U.K., with more than 22 million users.

A study by Yahoo! in Southeast Asia found that Indonesia is the largest and fastest growing online market in Southeast Asia. It marked a growth of 48% in 2010 of online usage compared to 22% last year.

Yahoo! Inc. recently bought local social networking website Koprol.

Wednesday, June 23, 2010

CoGS iPhone 4G Rp 1,6 Juta

Info ini mungkin sudah sebulan lalu muncul di detik.com, tapi saya baru baca ulasan dari portal yang lain, dan saya pikir relevan juga untuk Klasmaya. Berikut cuplikannya:

Biaya yang harus dikeluarkan Apple untuk membuat iPhone 4G diprediksi cuma sebesar US$ 175 atau sekitar Rp 1,6 juta untuk satu unitnya.

Menurut penafsiran Jeffrey Brown, VP Business Intel, ketika merakit iPhone 3GS, Apple hanya merogoh koceknya sebesar US$ 157. Dengan kata lain, biaya pembuatan iPhone 4G lebih mahal US$ 18 ketimbang 3GS.
Namun sampai sekarang harga iPhone 3GS di pasaran masih berada di kisaran harga premium.

Total biaya iPhone 4G tanpa NAND: US$ 150. Sementara jika dengan NAND maka biaya pembuatannya akan menjadi:
· 16GB: $175
· 32GB: $200
· 64GB: $250

Memang jika dilihat sekilas dari biaya pembelian komponen yang digunakan untuk meracik iPhone 4G, biayanya terkesan 'murah'. Namun sebelum meramu komponen-komponen di atas, Apple harus mengeluarkan dana untuk melakukan riset dan pengembangan. Nah, di bagian inilah biasanya anggaran sebuah perusahaan tersedot untuk menghadirkan produk baru. Selain itu ada pula biaya-biaya lain seperti untuk menggaji sumber daya manusia, biaya distribusi dan lainnya yang tentu saja akan dibebankan ke harga jual produk tersebut.

Makanya ketika dilepas ke pasaran, biaya pembuatan dan harga jual terbentang cukup jauh.

Saturday, June 19, 2010

Tips for Making Small Talk with the Big Boss


Tips berikut ini diacu dari Harvard Business Review: Management Tip.

HBR sendiri mengacu dari bukunya John Baldoni dengan judul "Tips for Making Small Talk With Bigwigs". Saya pikir ngga cuman dengan Big Boss, siapapun yang harus kita hormati bisa diterapkan tips ini, termasuk dengan dosen tentunya (hehe hehe).

Having the chance to talk with someone high up in your organization can be a great opportunity to share your ideas and gain exposure. But it can also be nerve wracking — what if you say the wrong thing? Here are three tips for preparing for your next chat with a head honcho:

  1. Do your homework. Find out what the senior team's priorities are. Work out a few key points about your projects or career as they relate to what senior leaders care about now.
  2. Be brief. Once in front of the senior leader, make your key points succinctly.
  3. Read the situation. If the senior leader is not interested, thank her for her time and move on. How you behave is more important than what you say. Yammering on signals a lack of self-awareness.

Friday, June 18, 2010

An urgent need to develop an appropriate response and support for IPv6


Tulisan tentang transisi IPv4 ke IPv6 ini dikutip dari milist dwi mingguan dari the Ministry of Internal Affairs and Communications (MIC) Japan, Vol. 21 No. 3, June 18, 2010


The Internet is the basis of social economic activities, and it has become an indispensable instrument.

However, due to the accelerating global adoption of the Internet, the inventory of Internet Protocol Version 4 (IPv4) addresses is expected to run out. As we know that this communication system is utilized as the main basic technology behind the Internet today. Approximately 4.3 billion IP addresses can be allocated using IPv4, with numeric IP addresses used to identify computers connected to networks, etc.

IP addresses could be thought of as telephone numbers that identify individual devices
connected to the Internet, so the depletion of this inventory would mean that no new machines would be able to be connected to the Internet. Moreover, as it would become difficult to provide new services, the depletion of the inventory would be an obstacle to the development of the Internet, which has so far supported the development of society. Consequently, there is an urgent need to develop an appropriate response and support for the successor of IPv4, which is IPv6 with a practically infinite number of IP addresses (3.4 x 10 38). Compared with IPv4, its features include enhanced security and the simplification of all options, for example.

It is important to conduct appropriate public relations with the wide range of stakeholders, including telecommunications carriers, ISPs, Application Service Providers (ASPs), Contents Service Providers (CSPs), communications equipment manufacturers, software developers, and system integrators (Siers). Moreover, the Internet users' environment will undergo changes; the users may have to bear a burden (not limited to a financial one). Considering all this information, it becomes obvious that the role of public relations and internet-related businesses and users is very large.

As ISPs are the point of contact with the Internet for all users, individual and corporate alike, how ISPs deal with the depletion of IPv4 addresses is the crucial factor that will determine exactly what kind of impact users will face. In other words, how the impact will be dealt with will differ completely according to which ISP a user subscribes to.

Therefore, it would be appropriate to form a basis for relations with users by giving ISPs the role of the "Gateway to the Internet." However, regarding IPv6 corporate users, Siers, etc. are the main cases that have to be considered. In such cases, Siers are required to cooperate with ISPs in properly publicizing the results of analyses on the impact on corporate users.

It is very likely that customers will have many questions regarding, for example, whether they can continue to play existing online games, or what features to look for when buying a TV that will be connected to the Internet. For this reason, it is necessary for other Internet-related businesses to conduct appropriate public relations in line with ISPs' public relatios activities.

Sunday, June 13, 2010

Konsolidasi Industri dipengaruhi Konsolidasi Politik

Meski tidak disebutkan dalam 5 Forces Porter, issue regulasi (disamping teknologi) menjadi salah satu forces yang menjadi konsideran, khususnya dalam industri telematika. Materi pembelajaran di mata kuliah industri telematika juga sudah mengulas bahasan itu. Bahkan untuk perusahaan yang sebagian besar dimiliki oleh negara melalui pemerintah yang berkuasa, issue regulasi perlu di bumbui lagi dengan aspek politik.

Mungkin hanya coincidence, namun beberapa pekan terakhir, berita-berita terkait konsolidasi Flexi dan Esia yang sebelumnya pernah dibantah, ternyata muncul lagi di saat-saat pergantian direksi BUMN Telekomunikasi.

Konsolidasi industri FWA ternyata bisa dipengaruhi oleh konsolidasi politik. Konsolidasi politik dari koalisi 6 partai (PD, PAN, PKB, PPP, PKS dan PG) dengan ketua harian AB yang nota bene pemilik salah satu perusahaan yang bermain di industri FWA ternyata melancarkan issue konsolidasi industri yang sempat menjadi topik hangat beberapa bulan lalu.

Terlepas dari skema apa yang akan diambil, apakah merger atau akuisisi, apakah Telkom Flexi akan melebur ke BTEL ataukah Esia akan masuk dalam perusahaan baru, kementerian BUMN yang mewakili pemerintah mendukung perkawinan usaha ini dan berharap proses bisa terlaksana secepatnya. Direksi Telkom pun menyebutkan proses peleburan ini bakal selesai paling lambat pada awal 2011, menunggu perubahan dari unit bisnis menjadi unit terpisah (PT).

Saat ini, Flexi menguasai 15 juta pelanggan, sedangkan Esia menguasai 10 juta pelanggan, sehingga gabungan dua operator ini akan menciptakan perusahaan dengan pelanggan sebanyak 25 juta pelanggan. Hasil merger ini akan menengahi persaingan yang selama ini terjadi, meski Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bisa melihat dari kacamata yang berbeda karena berpeluang menciptakan monopoli usaha dalam bisnis operator CDMA.

Issue ini menjadi semakin menarik terkait dengan rencana pergantian Dewan Komisaris dan Dewan Direksi yang akhirnya diperpanjang. Tim Penilai Akhir (TPA) yang saat ini menyeleksi paket calon Direksi Telkom, Mandiri, dan Pusri belum memberikan hasil keputusannya. Apakah perpanjangan waktu ini sekedar proses dari rencana rolling BoD (Board of Directors) di lingkungan BUMN atau terkait tawar menawar serta keseriusan rencana konsolidasi, saat ini menjadi materi diskusi warung kopi, meskipun direksi Telkom membantah ada tekanan politik.

Bagaimana kelanjutannya kita lihat saja .....

Friday, June 11, 2010

Web + TV = WebTV; IP + TV = IPTV

TV meets web or Web meets TV : Combines the TV with the freedom and power of the Internet.



Some says it is stupid and dumb idea.
Why not just plugs the laptop with LCD TV via an HDMI cable, then stream any web content ?. Or is it really difference by Video Search?

But Sony, Logitech and Intel support this idea.

What is the difference between Web TV and IPTV?

Web TV deliver originally online via broadband and mobile networks. Television programming produced for original distribution through the internet.

Internet Protocol television (IPTV) is a system through which internet television services are delivered using the architecture and networking methods of the IP Suite over a packet-switched network infrastructure, e.g., the Internet and broadband Internet access networks, instead of being delivered through traditional radio frequency broadcast, satellitesignal, and cable television (CATV) formats.



IPTV services may be classified into three main groups: live television, time-shifted programming, and video on demand. It is distinguished from general Internet-based or web-based multimedia services by its on-going standardization process and preferential deployment scenarios in subscriber-based telecommunications networks with high-speed access channels into end-user premises via set-top boxes or other customer-premises equipment.

Thursday, June 10, 2010

Traffik klasmaya periode 22 April – 23 Mei 2010 : Total Visit per Day

Posting sebelumnya (EL-102 Blog Produktivity Rate) di ulas tentang produktivitas blog khususnya periode semester-1 2010 terkait EL-102 session. Produktivitas diukur dari jumlah posting yang nota bene hanya menunjukkan aspek kuantitas saja.

Pengukuran dari sisi kualitas selalu menjadi persoalan yang tidak mudah, karena melibatkan aspek persepsi dan kepuasan pemerhati klasmaya yang hanya bisa diukur dari assessment (bukan measurement) melalui survey, polling, atau questionaire.

Salah satu metode lain yang mencerminkan perspektif Customer (kalau dalam Balance ScoreCard) atau perpspektif pemerhati klasmaya, adalah dari pengukuran traffik. Traffik bisa menunjukkan seberapa besar ketertarikan pemerhati atau pengelana internet untuk mengunjungi situs klasmaya.

Seingat saya beberapa tahun lalu pernah pula diukur traffik klasmaya, namun pengukuran kali ini memanfaatkan fasilitas gratisan yang berbatas waktu dari layanan web-stat.com. Layanannya cukup mudah dengan menyediakan beragam format laporan (report) dalam bentuk grafik maupun raw data yang bisa di akses melalui spreadsheet.

Periode pengukuran dilakukan dari tanggal 22 April 2010 sampai 23 Mei 2010. Berikut disampaikan beberapa penyajian report dalam bentuk grafik.

Total Visit per Day
Sesuai judulnya grafik ini menyajikan jumlah kunjungan klasmaya dalam periode pengukuran. Obviously dari beberapa kunjungan tersebut beberapa kali yang masuk adalah penulis sendiri. Namun dari grafik tersebut terlihat trafik tertinggi terjadi di tanggal 10 Mei 2010 dengan jumlah 17 kunjungan. Dalam hal ini saya mengasumsikan jumlah kunjungan (Visit) ekivalen dengan jumlah pengunjung. Saya tidak tahu pasti, event apa yang menyebabkan tanggal tersebut menjadi puncak (relatively) kunjungan. Namun dari data detil yang disediakan penyedia statistik, konten yang dijelajah hanya sedikit (5 dari 17) yang terkait dengan current posting, selebihnya adalah penggalian archive klasmaya sebagai Entrance Page. Jika dilihat dari Referrer hanya ada 4 dari 17 yang mengakses melalui direct access (klasmaya.blogspot.com) selebihnya adalah acuan dari Google untuk beberapa keyword terkait dengan RFID, QFD, eTOM, atau IT secara umum.

Jumlah kunjungan terkecil di tanggal 22 April 2010, boleh saya katakan less valid, karena bisa jadi tanggal tersebut dimulai perekaman yang belum satu hari penuh. Secara umum, traffic mengalami trend penurunan khususnya di akhir periode pengukuran. Jika grafik diatas dimampatkan dalam mingguan, traffik perminggu menjadi grafik sebagai berikut :

Grafik diatas semakin jelas menunjukkan kecenderungan traffik yang menurun, terutama sejak minggu yang dimulai 9 Mei 2010 (meskipun minggu tersebut sudah dikontribusi oleh puncak kunjungan di tanggal 10 Mei 2010) dengan rata-rata kunjungan per hari di angka 9.xx.



Jika dilihat dari rata-rata kunjungan per minggu, terlihat hari Sabtu menjadi waktu yang paling diminati untuk berkelana atau mengunjungi klasmaya. Kemungkinan besar, melihat jadwal offline class di hari Sabtu siang, ada waktu di pagi hari untuk mengecek issue atau last posting sebelum pertemuan (Cek waktu). Sedangkan hari minggu menjadi waktu yang tidak populer untuk mengakses blog ini, boleh jadi klasmaya mungkin terlalu serius untuk dikunjungi di hari minggu. Namun secara umum, kecuali hari minggu, traffik kunjungan relatif merata dari Senin sampai Sabtu, hal ini menyiratkan pemerhati klasmaya tidak hanya partisipan klas saja.

Ulasan lain bisa di bahas di posting berikutnya.

Tuesday, June 08, 2010

Customer Capitalism

The idea that corporations must focus
first and foremost
on maximizing value for shareholders
is inherently, and tragically, flawed.
.
It’s impossible to continually increase
shareholder value (i.e. stock prices)
which are driven by future expectations.
.
The focus on shareholder value
hasn’t done shareholders any favors.
.
Make customer value the top priority.
.
.

EL-102 Blog Produktivity Rate

Kalau saya bandingkan produktivitas posting di klasmaya, patut bersyukur, tahun ini ada peningkatan dari sisi kuantitas dibandingkan dua tahun sebelumnya. Jika diukur dari rerata, terjadi peningkatan sekitar 85% dari sebelumnya di kisaran 5.3-5.5 menjadi 10 point, kalaupun bulan Januari diabaikan, peningkatan juga masih cukup signifikan dari rerata 6.4 dan 6.6 di tahun 2009 dan 2008 menjadi 10.6 di tahun ini, atau setara dengan 63% growth.


Namun demikian, terlihat pada grafik bahwa aktivitas posting cenderung seasonal, dengan puncak di tengah periode belajar mengajar, artinya belum ada konsistensi produksi yang merata.

Data diatas baru dilihat dari aspek kuantitas, sedangkan aspek kualitas perlu dilakukan kajian mendalam melalui jumlah posting komentar, survey, persepsi pemerhati klasmaya atau mungkin pergukuran dari sisi traffic. Diperlukan cara-cara yang mudah dan murah untuk mengukur satisfaction index atau indicator lain yang setara serta memperlihatkan persepsi pemerhati, ada usulan ?

Saturday, June 05, 2010

Nilai Akhir EL-102 session 2010

Seperti biasa dan sesuai janji sebelumnya, meski pemerhati klasmaya ex EL-102 2010 boleh jadi mulai berkurang, review perolehan nilai akhir disampaikan pada posting Klasmaya kali ini.

Tahun ini, dari total 20 partisipan resmi dari EL-102 sessi 2010, sangat mengagetkan dengan sekira lebih dari separuhnya tidak mengikuti UAS. Tahun lalu saja, sudah sangat mencengangkan dengan lebih dari seperempat tidak mengikuti UAS. Mungkin angka 20 yang mengacu ke daftar absen tidak terlalu tepat mengingat ada beberapa partisipan yang belum pernah menampakkan batang hidung dan tenggorokannya. Kalau toh ada yang berhalangan mengikuti final test, nyatanya tidak ada satupun yang mengajukan permohonan ujian susulan. Namun sampai posting ini diturunkan, saya belum mendapat data resmi dari institusi perihal angka jumlah partisipan yang tepat.

Dari aspek keaktivan diskusi di klas offline, tugas-tugas, quiz, pekerjaan rumah dan UAS yang menjadi faktor penilaian, diperoleh angka jangkauan perolehan sebagai berikut:


Grafik ini dibaca nilai jangkauan pada sumbu x dengan jumlah pemirsa yang dibaca pada sumbu Y. Berbeda dengan tahun sebelumnya jangkauan (range) cluster kali ini dibuat lebih sederhana dengan hanya dibagi menjadi 4 kelompok.

Dari grafik diatas, terlihat bahwa hampir separuh dari partisipan mendapat score “less than 50”. Seperti telah disampaikan sebelumnya, score ini bukan murni penilaian, namun lebih akibat separuh dari daftar absen tidak pernah mengikuti program offline perkuliahan. Sehingga kita akan konsentrasikan pada separuh sisanya.

Dari aspek Diskusi yang diassess berdasarkan keaktifan di klas, terlihat 40% atau hampir separuhnya dinilai kurang dan dengan angka yang sama juga mendapat penilaian baik, sisanya di posisi cukup.

Aspek Quiz menunjukkan angka yang lebih menggembirakan dengan separuh dinilai baik dan hanya 20% yang dianggap kurang. Dari sisi Homework terlihat pada grafik, 60% dinilai cukup meski ada 20% sangat kurang. Demikian pula pada aspek Tugas / Assignement, sekitar 90% dari partisipan aktif memperoleh penilaian cukup dengan sisanya di kategori baik. UTS didominasi penilaian baik dari 60% partisipan. Berbeda dengan UTS, penilaian UAS tidak ada satupun yang masuk dalam kategori baik, sekira 70% berada di kategori cukup.


Grafik kedua menunjukkan “pacman”, sorry komposisi porsi jumlah pemirsa yang memperoleh nilai standard institusi. Slice terbesar “E” dikontribusi oleh hampir separuh (45%) partisipan yang nampaknya belum serius mengambil mata kuliah ini, atau mungkin berubah keputusan. Kontribusi terbesar kedua berada di posisi B dengan angka precisely seperempat dari total populasi. Segmen A sebagai penilaian terbaik diberikan pada 10% partisipan, kalau perhitungannya hanya melibatkan serius partisipan saja, nilai A dikontribusi oleh 20% populasi (not bad at all).

Jika dibanding tahun lalu, porsi A (“Excellence”) relative menurun dari 21% ke 10%. Kalaupun perbandingan ini meng’exclude partisipan yang unserious, masih terjadi juga penurunan dari 28% ke 20%.

Anyway, congatulation bagi yang telah mencapai nilai terbaik, dan tetap semangat dan terus berusaha jika masih belum mencapai hasil maksimal.

Keep in touch ..



Tuesday, June 01, 2010

Laba Bakrie melonjak akibat keuntungan selisih kurs


Diambil dari artikel Bisnis Indonesia dengan judul “Laba bersih Bakrie Telecom naik 407%” tanggal 01/06/2010

Judulnya cukup mengagetkan dengan pencapaian laba bersih lebih dari 4 kali lipat di industri yang relatif sudah berdarah-darah dengan bombardir tarif murah dan mengarah marginal. Meski pencapaian laba tersebut di dorong oleh keuntungan selisih kurs, namun peningkatan pendapatan lebih dari 7% perlu diacungi jempol, sementara beberapa operator malah minus.

Berikut cuplikannya:

Laba bersih PT Bakrie Telecom Tbk pada kuartal I/2010 melonjak 406,81% menjadi Rp29,04 miliar dari Rp5,73 miliar pada periode sama tahun lalu. Sedangkan pendapatan usaha sebesar Rp708,46 miliar hingga 31 Maret 2010, naik 7,63% dari periode sama tahun sebelumnya Rp658,24 miliar. Bakrie mampu menekan beban usaha 3,40% menjadi Rp585,22 miliar dari Rp605,12 miliar. Sebagai dampaknya, laba usaha naik 41,54% dari Rp73,01 miliar jadi Rp103,34 miliar.

Namun, di sisi lain, beban keuangan melambung 86,90% dari Rp45,27 miliar menjadi Rp84,61 miliar. Perseroan mencatat keuntungan selisih kurs Rp28,21 miliar dari sebelumnya merugi Rp14,19 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami perseroan pada kuartal pertama tahun lalu. Saat itu perseroan menderita rugi kurs Rp14,19 miliar.

Pertumbuhan pendapatan sebesar 7,63% merupakan capaian yang positif mengingat persaingan di sektor telekomunikasi yang kini semakin sengit.

Pendapatan ditopang terutama oleh produk prabayar Esia yang menyumbang hingga 95,27% terhadap total pendapatan jasa telekomunikasi sebesar Rp813,01 miliar. Kontribusi Esia tumbuh 11,70% dari Rp693,40 miliar pada kuartal I/2009 menjadi Rp774,56 miliar. Produk pascabayar menurun 15,57% dari Rp20,92 miliar menjadi Rp17,66 miliar dan hanya memberikan kontribusi sebesar 2,17%. Adapun, pendapatan dari produk prabayar lain yaitu Wifone dan Wimode pada kuartal I/2010 mencapai Rp11,28 miliar, sedangkan Esiatel Rp296,76 juta.

Final Test Result 2010


Dengan sangat menyesal, penilaian UAS 2010 baru dapat diselesaikan 1 hari lebih lambat dari deadline, walhasil pada saat akan di upload ke modul akademik online, ditolak oleh sistem. Mungkin seminggu sepulang dari Makati, ada banyak pekerjaan kantor menumpuk, juga dengan tenggat waktu yang bersamaan. Namun demikian, hasil penilaian total sudah di submit melalui email ke BAAK Institusi.

Secara umum, perolehan nilai UAS tidak jauh berbeda dengan pencapaian tahun sebelumnya, a.k.a “dissatisfied”. Dari 40 soal multi-choice pilihan tidak ada satupun yang menjawab lebih dari separuh pertanyaan dengan benar. Perolehan tertinggi hanya dicapai pada angka 16 soal benar (yang menarik, dicapai oleh 3 siswa). Rata-rata jumlah yang dijawab dengan benar adalah 13.1 sementara minimal di angka 7 jawaban benar (ga ada 1/5 nya). Jika nilai perolehan dilakukan clustering, hanya ada 2 kelompok besar yaitu kelompok >10 benar (70%) dan <10 benar (30%).
Boleh jadi soalnya terlalu sulit, banyak jebakan, atau membingungkan. Meskipun jumlah soal sudah banyak berkurang dari tahun sebelumnya (60 soal), namun ternyata tidak banyak terjadi peningkatan nilai.

Meski demikian pada penilaian akhir, angka real perhitungan UAS termasuk soal essay dilakukan adjustment untuk distribusi normal rating. Adjustment dari faktor koreksi metode pembelajaran yang mungkin belum efektif atau dari faktor kesulitan soal. Nilai akhir moga-moga sudah bisa disampaikan oleh institusi, kalaupun belum, saya coba buat review sekilas dari total partisipan.

Wednesday, May 26, 2010

Bisnis Konten Perusahaan Telco

Dicuplik dari artikel Koran Jakarta Desk (Senin, 24 Mei 2010) dengan judul "Telkom – SK Telecom Garap Bisnis Konten Digital"

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk menggandeng South Korea (SK) Telecom untuk menggarap bisnis konten digital. Melalui bisnis tersebut nantinya akan terjadi pusat pertukaran data untuk musik, permainan, dan klip video.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengungkapkan bidang usaha dari perusahaan patungan itu untuk tahap pertama adalah fulltrack music download. Alasannya, SK Telecom punya bentuk digital musik dengan bisnis model yang sudah terbukti di dunia. Selain itu, juga punya master license bank hampir dua juta lagu, sementara label lokal baru sekitar 10 – 15 ribu lagu.

Di perusahaan patungan tersebut, Telkom 51 % dan SK Telecom 49 %, diharapkan dapat menggarap jaringan dan layanan telekomunikasi yang canggih sehingga memperbaiki bisnis telekomunikasi yang saat ini pasarnya sudah mulai mengalami kejenuhan.

Perseroan mengubah fokus untuk layanan data dan mencari pertumbuhan konten. Strategi pertumbuhan pada pendapatan data, Internet, dan teknologi informasi itu mencerminkan strategi perusahaan dalam menumbuhkan bisnis baru (new wave) semakin menunjukkan hasil yang terus meningkat.

Analis Capital Price menilai walaupun Telkom masih mendominasi pasar dengan pangsa sekitar 50 %, kinerjanya akan berbahaya jika tidak melakukan inovasi.

Tuesday, May 18, 2010

Magandang gabi from Makati

Magandang gabi itu artinya selamat malam dalam bahasa Tagalog.

Jadi buat informasi saja, malam ini lagi posting Klasmaya, langsung (live) dari Makati City tepatnya di AIM (Asian Institute Management). Mungkin ini mirip update status yang mustinya cuman cocok di Facebook atau jejaring sosial lainnya, tapi terkait dengan soal kuliah dan menguliahi, masih ada korelasinya.

Sayang saya posting di library jadi gak bisa update foto sendiri, jadi saya cari aja lewat google biar bisa dibayangin. Pake HP meski ada wifi yang bisa online ternyata saya lebih banyak ambil gambar lewat kamera. Mustinya udah beli iPhone biar beres.

Gambar ini juga saya belum tahu di sebelah mana, tapi yang jelas, kampus AIM (terutama buat yang mau ngambil kuliah di sana) lokasinya tepat di business area, plus kalo malam deket Mall Greenbelt yang sebenarnya merupakan kompleks mall, soalnya ada lima mall mulai dari Greenbelt 1 s/d 5. Belum lagi di sebelahnya masih ada mall Landmark atau Glorietta yang lebih terjangkau barang-barangnya (dari sisi harga maksudnya, bukan dari sisi jarak ngambil).

Kembali tentang perkuliahan, short course 5 hari yang saya ambil judulnya "Measuring and Managing Corporate Performance" yang sebenarnya terkait dengan kerjaan. Hanya saja berbeda dengan training performance di tempat lain khususnya yang terkait dengan Balanced Scorecard, materi dari AIM bener-bener heavy di Financial. Jadi yang punya label Non-Fin model saya, meski beberapa tahun sedikit nyerempet bergelut di aspek keuangan tetep aja rada melongo. Meski masih bisa diskusi karena tahu-tahu sedikit, atau sedikit sok tahu mungkin ini yang rada tepat), tapi begit dikasih soal per group (group Can) mati kutu juga.

Training BSC di BSC Institute tahun 2008 di Charlotte lebih banyak step by step how to implement BSC a'la Kaplan. Meski cukup comprehensive, namun lingkup pembahasan sangat Kaplan Norton banget, meskipun yang ngajar bukan mereka berdua. Enaknya training di hotel ber bintang, makan enak meski akomodasinya sih bukan di hotel yang sama, karena ngirit jadi milih hotel melati (perasaan di sana nggak ada melati deh).

Seperti biasa AIM lebih banyak menggunakan metode kasus eh Case. Jadi enak banget yang ngajar disini, partisipan dikasih materi sedikit, bahkan malam sebelumnya sudah harus baca kasus, besoknya diulas pendahuluan, terus diskusi, baru diterangin.

Ada beberapa materi yang bagus juga buat disampaikan di klas Offline, kalau ada kesempatan.

Paalam (artinya bye bye)

Tuesday, May 11, 2010

24th April 2010 Class at a Glance: Digital Content and Future LifeStyle

Nampaknya saya kelewatan belum memPosting edisi CaaG tanggal (kalau nggak salah) 24 April 2010. Sebelumnya file nya sendiri sudah di share namun sepertinya posting di Klasmaya belum di rilis keburu keduluan posting CaaG tanggal 2 Mei 2010.

Sessi 240410 kalo tidak salah ingat, disediakan slot waktu untuk pemirsa yang belum menyampaikan materi presentasi ataupun tugas lainnya. Selanjutnya dibahas materi yang bermuatan dominasi konten Digital, Gaya Hidup, dan beberapa issue lainnya yang dicuplik dari beberapa materi seminar yang cukup relevan dengan Industri Telematika meski beberapa lebih fokus pada telco industry.

Trends dari konvergensi dan perubahan model komunikasi yang mengarah pada All-IP dan Web 2.0 menjadi tantangan bagi penyedia layanan telekomunikasi melalui strategi ”stretched T” (ada yang ingat apa maksudnya?”). Kedepan, fokus area kompetisi juga mengalami transformasi melalui value chain usaha yang dibedakan dalam 3 layers (coba sebutkan ketiganya).

Di era Web 2.0 User Generated Content menjadi evolusi dari komunikasi personal dengan Jejaring sosial sebagai media interaktif nya.

Lebih lengkap bisa disimak dalam handout berikut.

Situs Video Google Masih Tetap Mendominasi

Artikel ini diambil dari TotalTele dengan judul "Google sites' video views total 13bn in March" yang ditulis oleh John Kell tanggal Friday 30 April 2010

Statistic yang lagi-lagi dirilis oleh comScore (masih ingat di materi apa?) menyebutkan Google dengan YouTube nya memperoleh sekira 13 milyar penonton atau sekitar 42% dari pemirsa video lewat internet. Situs yang dibeli beberapa tahun lalu dengan harga 1.6 milyar dolar ini rupanya tidak mengecewakan. Kabarnya YouTube juga sudah mulai menyajikan video berbayar selain konten gratisan.

Meski jauh, situs Hulu yang masih hanya bisa di nikmati oleh beberapa negara saja menempati tingkat kedua dengan 1.1 milyar pemirsa atau sekitar 3.4% dari market share. Rata-rata pemirsa Hulu menonton 26.7 video dalam sebulannya. Hulu is a joint venture of General Electric Co.'s NBC Universal and News Corp.

Sementara situs milik Microsoft dan Yahoo hanya memperoleh masing-masing 655.1 juta (2.1%) dan 477.9 juta (1.5%). Secara total 85% pengguna internet di US menonton 31.2 milyar video di bulan Maret saja rata-rata berdurasi 4.3 menit.

Monday, May 10, 2010

2nd May 2010 Class at a Glance: Gartner’s Magic & eTOM

Posting ini mungkin jadi hutang yang harus dipenuhi meskipun beberapa materi nya sudah tersedia di atikel dari posting sebelumnya tentang M4NS: Gartner’s Magic Quadrants Tapi mungkin kalil ini saya pingin generous untuk menyampaikan resume dalam bentuk handout yang bisa di download di media ini.

Materi Gartner’s Magic Quadrants dibahas sebagai materi tambahan yang menurut saya cukup relevan dengan bahasan Industri Telematika, meskipun tidak disebutkan di formal requirement. Saya berencana untuk membahas beberapa materi tambahan di institusi untuk meng’update wawasan pembahasan disamping text book.

Paparan Magic Quadrants, seperti halnya matrix dua dimensi lainnya (BCG misalnya) membahas 4 kuadran dengan ciri khas dan karakteristiknya masing-masing. Dimensi yang disajikan dalam model ini adalah sumbu “ability to execute” dan “completeness of vision”. Dengan memahami aksis atau sumbu tersebut bisa dikira-kira bagaimana karakteristik dari kuadran Challenger, Niche Player, Visionaries, dan Leaders.

Secara berkala Gartner sebagai institusi konsultan memberikan laporan untuk positioning dari pemain di sub industri yang untungya Gartner lebih fokus di industri telematika. Beberapa contoh disajikan dalam handout ini untuk memberikan gambaran, khususnya bagi pengguna yang akan menetapkan keputusana pemilihan solusi.

Sessi kedua disampaikan materi dari Tele Management Forum (TMF) dengan judul materi Enhanced Telecom Operation Map (eTOM). Sebagaimana Gartner’s Magic Quadrants, materi ini juga materi tambahan yang cukup valid berkaitan dengan industri telematika pada umumnya dan telekomunikasi pada khususnya. Untuk lebih jelas pemirsa bisa membaca langsung modul proses yang diurai dalam materi presentasi.

Sunday, May 02, 2010

Fixed Wireline : Diehard or gonna Disappear?


Milist di kantor akhir-akhir ini masih rame ngebahas FWL (Fixed Wire Line) apakah mending ditutup saja bak KA Parahyangan atau memang jadi infrastructure untuk service lain (mis. Fixed Broadband), at least back-up untuk Fixed Wireless Access, Seluler atau Wireless Broadband.

Cuplikan artikel dibawah ini, yang mengacu pada hasil survey yang dilakukan IBM, diambil dari situs thehill.com dengan judul “IBM survey: land lines to disappear, mobile broadband to explode over next decade” yang ditulis oleh Kim Hart tanggal 02/26/10

IBM surveyed 8,000 consumers and 60 telecom company executives to get a sense of Internet-related trends over the next decade, showing that broadband will continue to evolve and expand while traditional communications infrastructure--those copper lines we've used to make phone calls for decades--will rapidly disappear.

IBM predicts that the use of land lines will decrease by 95 percent in the next five to 10 years. Conversely, usage of mobile and wireless broadband will increase by 98 percent during the same period.

The company also found that consumers will demand open platforms, where they can access content on all types of devices. In fact, 70 percent of those surveyed said they want to access content on any device-- a computer, TV, phone or netbook--from any provider.

Interestingly, IBM found that 65 percent of consumers expect their telecom provider to maintain their role as simply providing Internet and wireless services. Only one in five consumers expect telecom providers to have a role in the retail and delivery of online content services.