Media komunikasi dan kolaborasi pembelajaran a'la virtual. Supplemen kuliah melalui e-class atau e-learning untuk Jurusan terkait dengan Sistem Informasi, Teknologi Informasi (IS/IT), Sistem Komputer dan Teknik Industri.
Monday, April 21, 2008
Masih Soal Perang Tarif
Cuplikan artikel Kompas dengan judul "Persaingan Tarif Murah Hanya Ilusi", mungkin untuk menyeimbangkan kadar berita selain dari luar negeri yang pernah dibahas sebelumnya. Tadinya saya mau cuplik sedikit bagian saja dari tulisan wartawan kawakan Hendrowijono yang menspesialisasikan di industri telematika, namun ternyata kontennya cukup menarik untuk dilewatkan. Alhasil cuplikan (90%) inilah jadinya.
Meski seharusnya bisa di acu ke situs Kompas yang memuat artikel tersebut, namun saya agak sreg kalau di muat di sini (mohon ijin mas Hendro). Konten lebih ke perang tariff dan sedikit isu peningkatan valuasi korporasi di bagian akhir, selamat menikmati.
Jorjoran tarif yang dikesankan murah membuat silau banyak calon pelanggan. Tarif murah jadi promosi bagi operator baru untuk memikat calon pelanggan, tetapi menjadi perang tarif kalau operator besar ikutan meski promosinya berjangka (IM3 mulai detik ke-90 hanya berlaku sampai 30 April 2008).
Kebijakan operator inkamben menurunkan tarif mengguncang pasar selain di internal juga ada jejasnya. Terlalu sering mengubah tarif memengaruhi keuangan karena setting dalam sistem dan pemasaran perlu biaya besar.
Di sisi lain, tarif turun merangsang optimalisasi perangkat operator membuat biaya per lalu lintas (traffic) percakapan jadi lebih rendah. Sejak Simpati PeDe Telkomsel diluncurkan, beban perangkat di atas normal, sama seperti saat Lebaran atau pergantian tahun yang rata-rata 3-4 kali traffic harian.
Operator yang ”pas-pasan” menjadi cercaan pelanggan ketika lonjakan traffic memanaskan jaringannya sehingga banyak percakapan terputus (drop call). Risiko ini yang harus diperhitungkan operator jika akan menurunkan tarif.
Biaya percakapan mustahil murni Rp 0,0000… 1 per detik karena perangkat tidak gratis meski tingkat efisiensi operator dan optimalisasi perangkat menekan biaya operasi, terutama untuk panggilan sesama pelanggan (on net). Panggilan ke operator lain (off net) tak bisa murah sebab ada biaya interkoneksi yang harus dibayar.
Menurut survei, rata-rata percakapan telepon 40 detik, dan yang paling lama dua menit per panggilan. Karena itu, tarif kurang dari satu sen per detik tak lain ilusi jika ada embel-embel berlaku setelah sekian menit atau sekian puluh detik, atau pada jam-jam tertentu.
Iklan-iklan yang gencar itu efeknya membodohkan masyarakat secara terstruktur. Masyarakat yang sangat peduli biaya disilaukan adonan tarif yang sepintas murah.
Dengan syarat on net, pelanggan operator besar yang diuntungkan dibanding operator (baru) yang pelanggannya sedikit. Pelanggan PeDe atau As punya lawan bicara 52 juta keluarga Telkomsel, pelanggan Indosat sekitar 25 juta, dan XL 16,5 juta.
XL Bebas tawarkan tarif murah Rp 0,00…1 setelah 3 menit, IM3 Indosat setelah 90 detik, atau Kartu As Telkomsel 3 menit gratis setelah dua menit. Padahal, dengan tarif Rp 0 pun operator untung asal berlaku setelah 2 menit sebab biaya operasi tertutup di menit pertama yang bertarif normal.
Pelanggan yang ingin murah, tetapi harus bicara panjang malah terjebak harus bayar mahal. Pelanggan harus lebih jeli dan tidak terperangkap pada ilusi yang ditebar operator sebab yang paling ”bersih” hanyalah tarif tanpa syarat dan berlaku sejak detik pertama.
Esia tanpa syarat apa pun Rp 50 per menit on net. Sayangnya, Esia baru ada di 34 kota—tahun ini di 100 kota—sehingga ke banyak kota percakapan tidak bisa on net karena masih no net.
Flexi Rp 49 per menit punya 6 jutaan pelanggan, Smart Rp 45, dan StarOne Rp 19, masing-masing di bawah 500.000 pelanggan, tetapi Esia kini 4,2 juta dan 7 juta pada akhir 2008. Sampai 3 menit Esia hanya memotong pulsa Rp 150, PeDe Rp 1.560, As Rp 2.400, XL Bebas Rp 1.800, Mentari Rp 4.500, IM3 Rp 1.350.
Tarif 10 menit percakapan off net, Mentari dan PeDe Rp 32.000, Hutchison Rp 20.000, dan Esia hanya Rp 8.000. Tetapi, IM3 bertahan pada Rp 1.350 dan pelanggan XL Bebas kena Rp 1.800.
Di tataran lain, perang tarif demi sebanyak mungkin pelanggan jadi bumerang karena hanya operator bermodal sangat besar yang bertahan. Mungkin 2 atau 4 tahun lagi ada operator bergelimpangan, dibeli operator besar atau merger, apalagi operator besar sudah mulai kekurangan frekuensi.
Kecuali operator baru yang didukung penuh operator dunia induknya karena setiap penambahan pelanggan meski hanya berupa aktivasi akan meningkatkan nilai perusahaan induk di bursa. Operator baru tadi mendapat insentif yang besarnya melebihi biaya modal per pelanggan sehingga mereka tak peduli apakah kartu perdana dibuang pelanggan setelah pulsanya habis.
Konsolidasi di China
Beda di Selandia Baru, beda lagi di China. Kalau berita di negara Kiwi tempo lalu membahas pemisahan bisnis dari incumbent nya. Kondisi industri telekomunikasi di China, mungkin malah berencana konsolidasi. Beberapa tahun lalu memang ada pemisahan misalnya China Mobile lepas dari China Telecom, namun sekarang kembali muncul restrukturisasi dalam artian merger.
Kondisi ini juga pernah di perkirakan para analis termasuk yang pernah kita bahas di posting lalu yang diambil dari jurnal PWC. Konsolidasi, selanjutnya bikin paket bundle dari konvergensi bisnis. Bagaimana di Indonesia ? Beberapa praktisi dan analist menyebutkan 2-3 tahun ke depan dari kondisi industri (khususnya) seluler yang semakin kompetitif, diperkirakan akan muncul konsolidasi. Selain konsolidasi diharapkan juga muncul ekspansi global biar gak cuman jadi jago kandang aja.
Berikut cuplikan dari artikel dengan judul : Are China's Carriers Looking At Consolidation?
China Telecom reportedly is reviewing plans to roll out service packages that bundle fixed-line and CDMA wireless services in anticipation of a possible restructuring of Chinese telecom operators.
In China today, there are six state-owned telecom carriers: China Mobile, China Unicom, China Telecom, China Netcom, China Tietong and China Satcom. Some analysts have been saying most of these carriers want such a "restructuring," which really means mergers, as soon as possible "because the market is highly unbalanced, with China Mobile being the strongest operator and the fixed-line operators losing customers."
A widely quoted rumor has China Tietong merging with China Mobile, China Netcom merging with China Unicom and China Telecom acquiring China Unicom's CDMA business. Some of this could happen before the Beijing Olympic Games begin in August.
China Telecom are making preparations to acquire China Unicom's CDMA network and they will offer service packages that bundle broadband, personal handy-phone system (PHS) services, fixed-line telephone and CDMA mobile services.
Tuesday, April 15, 2008
12th April 2008 Presentation Time : Internet; Class at a Glance : KM 29, 30, 35
Klas minggu ini sedikit mengecewakan. Semestinya jadwal paparan tugas klas minggu ini minimal ada dua bahasan yang dipaparkan. Sehingga dalam dua hari lagi masing-masing dapet 2-3 bab, nyatanya hanya ada satu bahasan. Pertemuan tinggal menghitung hari saja. Mungkin masih ada sisa waktu 2 (?) pertemuan lagi, sementara masih ada 7 bab yang belum dibahas.
Satu paparan pada klas minggu ini diambil dari kelompok 8 tentang Internet. Dibahas dari mulai sejarah Internet, layanan Internet, WWW, HTML, Hosting, Privasi, sampai alamat internet. Cukup lugas, meski beberapa bagian hilang, seperti Intranet & Extranet, atau markup language lain. Handout sudah bisa di unduh (download) dari sini, namun saya menyarankan pemirsa baca buku asli atau terjemahannya untuk lebih melengkapi cerita, dan ini juga berlaku untuk bab lainnya.
Sessi kedua, setelah menunggu paparan dari kelompok lainnya yang belum bisa ditampilkan, dibahas Kepmen 29 dan 30 Tahun 2004 tentang perubahan Kepmen 20 Tahun 2001 tentang penyelenggaraan telekomunikasi. KM 29 lebih menekankan pada penyelenggaran jaringan tetap (Jartap) yang dibagi menjadi Lokal, SLJJ, dan Internasional untuk menyelenggarakan jasa teleponi dasar. Sementara KM 30 dibahas penyelenggaraan jasa teleponi dasar dan multimedia selain dibahas pula penyelenggara jaringan bergerak (seluler, radio trunking, dan satelit) yang saya belum dapet KM yang membahas spesifik penyelenggaran jaringan bergerak.
Satu lagi bahan regulasi yang dibahas pada pertemuaan minggu ini. KM 35/2004 tentang Penyelenggaraan jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas. Regulasi ini yang memungkinkan produk Flexi, StarOne, atau Esia muncul di pasaran. Definisi mobilitas terbatas, bagaimana penyelenggaraanya, maupun tarif dan biaya dibahas dalam Kepmen tersebut. Meski sedikit tricky, fasilitas Combo pada Flexi maupun GoGo pada Esia masih dimungkinkan dan comply dengan regulasi fixed wireless ini.
Note: Kemungkinan dalam satu minggu ke depan saya masih berada di luar kota, sehingga klas minggu depan boleh jadi absen. Kalau kemungkinan tersebut terbukti, kita akan cari hari pengganti setelah minggu depan, paling tidak sebelum UAS.
Thursday, April 10, 2008
Deregulasi Telekomunikasi di Selandia Baru
Meski isu ini sudah muncul sejak tahun 2001 dan mandat pemisahan sudah bergulir sejak dua tahun lalu, nampaknya incumbent telekomunikasi di Selandia Baru cukup alot juga untuk bertahan (dan berdalih). Tekanan WTO apalagi IMF gak ada di sana, kecuali dorongan regulator saja untuk membuka pasar untuk peningkatan pelayanan public.
Peningkatan layanan pelanggan juga di tunjukkan dari target regulator ke TNZ untuk menggelar high speed broadband lebih agresif.
Di Indonesia, program mem”protoli” bisnis sudah terjadi beberapa (bahkan mungkin belasan) tahun lalu. Dimulai dari jaman PTT dipisah ke Pos&Giro, Bisnis Satelit ke Satelindo, Seluler, dan calon protolan lainnya bisnis Fixed Wireless & bisnis Multimedia.
Memang belum sejauh TNZ yang jadi Wholesale, Retail, dan Network. TLKM baru sebatas Direktorat atau group bisnis untuk portfolio itu, tapi siapa tahu bakalan ke sana. Semakin di potong-potong kecil semakin gesit, tapi juga semakin gampang di kerjain.
Berikut cuplikan berita : Telecom New Zealand Does the Splits
The New Zealand government this week approved a plan to carve Telecom New Zealand into three pieces, ending the once state-owned company's virtual telecoms monopoly and holding out a promise of high speed broadband for nearly 90 percent of the company. Telecom New Zealand has about an 80 percent share of the country's $6.3 billion telecommunications market.
The company will be split into wholesale, retail and network units. The plan includes government regulation to open its copper local loop network to rivals. Telecom also committed to rolling out broadband to all cities and towns with more than 500 lines by 2012 and that would bring broadband to 80 percent of the country, and cost about $1.1 billion. The government expects the company will actually do better than that and by 2012 offer 10 Mb/s service to 84 percent of the country and 5 Mb/s to 89.
Wednesday, April 09, 2008
5th April 2008 Presentation Time : Convergence & Wireless
Posting ini mungkin lebih cocok saya beri judul depan dengan category Presentation Time, sebagai pembeda dengan klas biasa. Minggu lalu telah dipaparkan dari kelompok 9 dengan thema / judul Convergence dan kelompok 10 : Wireless.
Kelompok – 9 dan 10 nampaknya mis-komunikasi dari penjelasan saya sebelumnya, bahwa rujukan tugas paparan ini harus mengacu pada buku AZ Dodd dari versi terjemahan dari Andi Publishing. Alasannya seperti yang pernah disampaikan sebelumnya tidak lain dari aspek equal playing field. Hanya saja sayangnya kelompok-9 merujuk pada buku asli versi tahun 2000, dimana bahasan Convergence bukan menjadi satu bagian besar (bab), hanya bagian dari judul bab lain.
Persoalan lain, menurut info dari salah satu saksi mata ;-), partisipan rada kesulitan juga untuk menemukan / mencari acuan vesi bahasa (Indonesia) di perpustakaan. Walhasil yang versi asli akhirnya yang dipakai.
Konvergensi menurut paparan kelompok-9 (materi presentasi sedikit saya edit agar file tidak terlalu besar) adalah kemampuan sebuah jaringan untuk memuat semua jenis lalu lintas seperti suara, data, dan video sebagai sebuah paket. Kemampuan jaringan ini didorong oleh : Advance Router, Digital Signal Processor, Optical & Programmed Switch, Compression & Protocol, DWDM
Sementara dalam sessi kedua, dipaparkan konten wireless mulai dari teknologi analog AMPS sampai berbasis digital seperti D-AMPS, GSM, CDMA, PCS, SMR, dan CDPD (3 terakhir ini mungkin agak asing di telinga kita). Selain aspek teknologi, paparan ini juga menyebutkan aspek pasar seluler yang terkait dengan antara lain: Efforts to Improve Service; Health Concerns; Safety on the Road; Privacy and Advertising Instructions on Cellular E911; Called Party Pays; Limited Mobility Wireless for Local Telephone Service; Wireless Number Portability; dan Limitations of Circuit-Switched Cellular for Data.
Konten lain terkait dengan wireless yang turut dipaparkan antara lain: spectrum allocation, 2G-3G Transition, Paging dan Satellite Service.
Tahniah untuk kelompok 9 dan 10 untuk kesempatan hari pertama. Pertemuan berikutnya kita tunggu paparannya, semoga bisa lebih matang persiapannya.
Monday, April 07, 2008
eTOM (enhanced Telecom Operations Map)
Definisi dari Wikipedia berikut ini tentang eTOM cukup banyak menjelaskan. Jadi ada baiknya saya posting saja di Klasmaya.
The eTOM (enhanced Telecom Operations Map) is a guidebook, the most widely used and accepted standard for business processes in the telecommunications industry. The eTOM model describes the full scope of business processes required by a service provider and defines key elements and how they interact.
eTOM is a common companion of ITIL, an analogous standard or framework for best practices in information technology.
Both of these frameworks are part of the larger context of Total Quality Management, in which many industries have since 1950 increasingly formalized their business processes and metrics in search of higher quality, fewer defects, and greater efficiency. ISO 9000 is probably the best-known of these "process and results improvement" standards, but it is far more generic than either eTOM or ITIL.
eTOM has been adopted as ITU-T International Recommendation, known in 2004 as M.3050.
The eTOM model consists of Level-0, Level-1, Level-2 and Level-3 processes. Each level drills down to the more specific processes.
The graphic representation of an eTOM model consists of rows and columns. The intersections of these rows and columns point out to specific processes as specified by eTOM. The topmost row denotes the customer facing activity i.e. marketing while the bottom most row indicates the supplier facing activity and the support activities.
In this manner the eTOM map indicates the whole value chain. The map thus also gives a good indication of the interaction between the processes.
29th March 2008 Class at a Glance : Business Process
Kelas di dua pertemuan lalu, telah dibahas materi Business Process dengan mengacu pada Best Practices dari Enhanced Telecom Operation Map (eTOM). Sebenarnya konten ini materi cadangan kalau-kalau partisipan belum siap buat paparan tugas A Z Dodd, dan ternyata benar adanya, belum satupun kelompok yang siap memaparkan tugas.
Materi Bisnis Proses ini juga menjadi konten yang diacu beberapa mata kuliah yang saya bawakan, jadi di Klasmaya ini pun sebenarnya pernah di submit materi serupa.
Pembahasan meliputi Sekilas Proses Bisnis (intro, tujuan), Trend Proses Bisnis di industri Telekomunikasi, Sekilas Tele Management Forum sebagai penggagas eTOM, Sejarah eTOM, serta framework eTOM dari level 1-2, dan khusus untuk modul Marketing & Offer Management dibahas sampai level 3 sebagai contoh.
Proses seperti pengelolaan pelanggan mulai dari sisi Customer Interface Management, selling, order handling, problem handling, service management, billing & collection, sampai ke program retensi dibahas dalam eTOM. Mungkin materinya bisa lebih dikupas di mata kuliah CRM. Minimal bagian ini menjadi rujukan suatu operator telekomunikasi dalam mengelola pelanggannya.
Modul lain silakan dikaji di handout berikut.
Monday, March 31, 2008
Polling penggunaan telepon rumah.
Do you use a fixed line telephone in your home?
The CommunicationsDirect latest poll results are in. The question posed was, ‘Do you use a fixed line telephone in your home?’ Responses show that 53% of our readers say ‘no’ and 47% replied ‘yes’, but added that they almost never use their fixed line telephone.
Polling ini sebenarnya bukan hal yang aneh, kalau kita bikin polling yang sama di kampus, mungkin dominan menjawab TIDAK, apalagi anak kost, orang yang lebih mementingkan privasi, atau paling tidak responden yang menggunakan media komunikasi dari operator yang memberikan harga yang relatif lebih murah dari telepon rumah.
Sekarang ini, telepon rumah tidak berarti murah.
Kalau anda di survey (polling) apa jawaban anda ?
Friday, March 28, 2008
Pembagian Tugas Kelompok Paparan buku Z Dodd
Kelompok A : Bab-2 Telephone System
Christian Pontoh
Mangappu Tua
Robby Komadi
Pirtom Lubis
Kelompok B : Bab-4 Network & Service Provider & Local Competition
Noverki
Faisal Syururi
Ferdian Dumara
Kelompok C : Bab-5 Public Network
Desoni Praptanta
Edfri Weureun Dauhan
Kelompok D : Bab-6 Advance Network
Risyad Ari Gunawan
Vito Andri Lukito
Adrian Reza
Kelompok E : Bab-7 Analog, CableTV, Modem
Reynard Augusta
Yones
Kelompok F : Bab-8 Internet
Jeremi Christie
M Nurdhani
Erwin Christman Hendry
Bryan Chrisaldeka
Kelompok G : Bab-9 Convergence
Toni Andrian Porayouw
M Irfan
Yunus Arie Wiratama
Kelompok H : Bab-10 Wireless
Benny Natanael
Yeremia
Reski Mapriharto
Pertemuan minggu ini, saya persilakan kelompok mana yang siap (ada credit point untuk yang pertama memberikan pemaparan).
Selamat berkelompok ...
22nd March 2008 Class at a Glance
Seingat saya minggu lalu kita telah bahas aspek regulasi, khususnya regulasi UU No 3 / 1989 dan UU No 36 / 1999 tentang Telekomunikasi. Sedikit diulas juga PP (Peraturan Pemerintah) No 8 / 1993 dan PP No 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Materi ini seharusnya ada di situs Dirjen Pos dan Telekomunikasi, yang menyediakan dengan lengkap segala undang-undang, peraturan dan kebijakan lain terkat dengan regulasi telekomunikasi (misalnya interkoneksi atau aspek lainnya). Tapi kalau pun belum sempat mampir ke situs tersebut, posting ini juga menyediakan UU dan PP tersebut.
Bahasan lebih menekankan perubahan dari UU No 3 / 1989 dan UU No 36 / 1999, sekira 10 tahun, terkait dengan deregulasi, perubahan dari monopoli menjadi pasar terbuka (kompetisi), meskipun untuk industri tertentu masih duopoli. Deregulasi dipengaruhi gelombang globalisasi, dan pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi yang mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan dan cara pandang terhadap telekomunikasi. Globalisasi semacam WTO, persayaratan IMF, maupun tekanan negara besar boleh jadi menjadi salah satu driver deregulasi. Aspek lain seharusnya terkait dengan tujuan untuk meningkatkan penetrasi dan densitas sarana telekomunikasi dalam rangka mempercepat pembangunan infrastruktur, peningkatan perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat.
Studi dari ITU menyebutkan bahwa peningkatan 1% densitas telekomunikasi suatu negara akan meningkatkan 3% pertumbuhan ekonomi. Apakah teorema tersebut berlaku di negara kita perlu dilihat lagi histori beberapa tahun lalu. Sementara, kajian beberapa analis tahun terakhir yang punya korelasi dengan studi ITU tersebut, menyebutkan bahwa pertumbuhan Developed Country bisa dipengaruhi oleh densitas broadband, meski mereka tidak menyebutkan angka matematis dari pertumbuhan tersebut.
Paska pembahasan, diadakan Quiz dadakan, untuk melihat berapa porsi yang bisa diserap dari pengajaran langsung, termasuk untuk menambah penilaian. Hasilnya cukup menarik juga, sebagai contoh perbedaan UU No 3 dan UU No 36, dengan santai dijawab UU No 3 dibuat pada jaman Soeharto, sementara UU No 36 ditandatangan oleh BJ Habibie bahkan tanpa menyebut kapan UU tersebut di release.
Untuk posting kali ini saya tidak menyajikan handout (kecuali dokumen UU), toh komparasi yang dipaparkan di kelas minggu lalu sebenarnya bisa kalian ambil dari kedua UU tersebut.
Pada pertemuan lalu, kita juga bahas tugas presentasi dari buku Annabel Z Dodd. Penetapan pembagian kelompok sudah dibahas dalam pertemuan lalu.
Tabik ...
Saturday, March 22, 2008
Quad Play
Cuplikan artikel berikut ini semoga bisa nambah wawasan dari terminologi Quad Play. Artikel di sadur dari media San Francisco Chronicle akhir Mei 2007 dengan judul ”Triple play not enough? Say hey to quad play”, dan sub judul ”Telecoms adding cell service to TV, Internet, landlines” yang ditulis oleh Ryan Kim.
Selamat menikmati, kalau mau cerita lengkap bisa langsung ngakses ke artikel asli.
In the fast-moving telecom industry, it's apparently not enough for a company to offer television, broadband Internet and home phone service, the so-called triple play. Today, operators are going for the quad play, with the addition of cell phone service in their quest to win and retain customers.
For consumers, the quad play means they can buy all four services from one provider and pay for it on one bill, increasingly at a reduced price. But the companies say it's not only about the convenience and savings from one-stop shopping.
They see the new mega-bundles as a collection of services that will increasingly work together, giving you a new level of access and interaction with your entertainment and communications services. The cell phone will play a pivotal role as a portal to receive television or personal content from home, access home voice mail and e-mail, and program digital video recorders.
The move to the quad play is the latest escalation of a battle that's been building between phone and cable companies, who, because of deregulation, are allowed to compete on each other's traditional turf. The two industries have cranked up the competition recently, with cable entering the phone market while telecom companies have started to provide television services.
Both sides see the quad play as a way to hold onto customers, who are even more prized and valuable if they can be made to pay for four services.
Analysts said customers will initially be drawn by the simplicity and value of ordering a set of services from one provider. But quad-play providers said the real draw will be providing an integrated, seamless experience for users wherever they go with their cell phones.
Subscribers can use their cell phones to check voice mail from their landline phone at home. They can also view a television program guide on their cell phone. Live television will be accessible on cell phones, which is incorporating local newscasts and content like music video channel and a video game station. The cell-phone television service, however, doesn't carry the same shows as the cable lineup at home.
Ultimately, both cable and telecom companies plan to offer a greater degree of remote control for users, allowing them to watch their own recorded content or their live home TV content on their handsets.
The IDC analyst said the quest for the quadruple play is a savvy move by companies, who see it as a way to cover all their bases and retain customers while wringing the most revenue from them. A IDC study in 2006 found that 41 percent of customers subscribed to a bundle of some sort. Sixty-six percent of the respondents said that once they bought a bundle they had no plans to switch providers, which suggests that the more customers buy, the less likely they are to go through the hassle and cost of switching.
But getting all users to sign up for all four services could be a challenge. Some analysts say the triple play will probably be the favored bundle, with wireless replacing wireline as the preferred voice service.
IDC predicts only 7.8 million households will use a quad play in 2010, or 7 percent of the 116 million households in the United States. Triple plays, by comparison, are expected to account for 39 percent of households by 2010.
A Forrester Research analyst found that consumers drawn to bundles primarily for the savings they offer, rather than for simplicity or advanced integration of services. Operators will find the going tough if they emphasize integration instead of delivering noticeable discounts for bundled service.
Critics said quad plays might lead to confusion for some customers, who have to wade through a number of services that they may or may not need. Operators might have less incentive to sell low-priced individual services or even advertise them to customers looking to buy a la carte. Consumers just need to be introduced to the benefits of a quad play to start understanding its overall appeal.
18th March 2008 Class at a Glance
Klas 18 Maret lalu sebenarnya kelas pengganti dari tanggal 8 Maret lalu yang berhalangan alias absen. Materi pembahasan diambil dari buku MOT Khalil khususnya bab 8 ”Business Strategy and Technology Strategy”. Isu Strategy Management, Misi, Visi, Objektif dan Core Competence menjadi salah satu aspek pembahasan. Isu lain, terkait dengan pengelolaan strategi teknologi termasuk klasifikasi dan integrasi antara strategi bisnis dan teknologi.
Sepertinya buku MOT kita fokuskan di bab 1,5, dan 8 saja. Bab lain cenderung terlalu luas untuk subjek industri telematika, meski bukan berarti tidak perlu di baca.
Sisa waktu klas dibahas bab 1 dari bukunya Annabel Z. Dodd. Dengan metode scanning dokumen pdf bab-1 dari versi tahun 2005. Scanning mungkin jadi alternatif tanpa harus memaparkannya dalam presentasi. Alasan lain, toh konten di bab 1 Dodd lebih ke pengenalan dasar-dasar konsep dari telekomunikasi, yang nota bene berupa cuplikan dari terminologi / istilah yang muncul di buku tersebut.
Dokumen pdf yang saya dapat dari Internet mungkin sedikit lebih anyar (2005), kalau kita bandingkan buku Dodd yang ada di perpustakaan kampus (2002), apalagi terjemahan dari Penerbit Andi (2000). Tapi untuk tugas kelompok mungkin kita pakai acuan dari Penerbit Andi, toh antara buku asli Dodd 2002 dan terjemahan 2000 relatif sama, kecuali satu bab konvergensi di 2000 dan Globalisasi di 2002. Pembagian kelompok mungkin akan dibahas posting berikutnya.
Monday, March 17, 2008
How to get the Handout
Setelah saya coba di lokasi terpisah, memang ada beberapa kali error. Tapi bukan berarti tidak bisa diakses. Gagal lebih banyak akibat jaringan yang kurang optimal saja. Pada saat jaringan internet tidak bermasalah, download juga lancar saja. Kalaupun ada message yang menyebutkan gagal akibat sudah pernah download, bisa dicoba lagi.
Kemungkinan kedua, akses berhasil namun tidak tahu mana yang harus di download. Gambar dibawah ini menunjukkan contoh file terakhir yang sudah di upload di situs 4shared.
Setelah kalian bisa masuk ke situs ini, langsung saja click di link dengan tulisan download file (lihat anak panah). Anak panah tidak ada di situs itu, hanya sebagai petunjuk posisi link yang harus di click saja (kanan bawah).
Setelah di klik dan muncul window ini, berarti sudah berhasil tinggal di save.
Selamat mencoba, kalau sudah berhasil, download juga file handout lain yang belum diambil. Kalau masih belum berhasil, masukkan komentar anda (ini gunanya comment) di klasmaya.
15th March 2008 Class at a Glance
Materi kedua, dibahas kondisi bisnis telematika di regional. Mulai dari aspek ekonomi makro, arah regulasi, sampai pasar telematika beberapa negara di regional. Khusus untuk kondisi dalam negeri, saya sengaja di ”kosong” kan untuk assessmen sendiri ke media yang ada, sebagai home work minggu ini.
Seperti biasa, meski beberapa masih menanyakan untuk copy materi, handout ke empat hanya bisa di download di sini.
Pengganti minggu lalu, saya sudah konfirmasi dengan pengelola gedung yang nota bene institusi HB, jadinya tanggal 18 Maret 2008 jam 13:00 s/d 15:00 di ruang 202 (?). Biar lebih yakin lihat saja di papan pengumuman hari senin ini. So be there or be behind...
Untuk komentar atau pertanyaan baik yang terkait maupun yang sedikit menyimpang, bisa di ajukan melalui media ini juga (comment). Please feel free to express your idea. Boleh jadi komentar yang relevan bisa menambah credit point.
Tuesday, March 11, 2008
8th March 2008 Apology
Sessi lalu saya juga tidak bisa menghindar dari tanggung jawab seorang kepala rumah tangga. Long weekend yang seharusnya punya peluang banyak untuk melakukan aktivitas di luar main job, termasuk pengelolaan klasmaya, ternyata harus disibukkan dengan munculnya virus belum dikenal (mungkin karena tidak terlalu berat) yang bercokol di hampir seluruh penghuni rumah, termasuk saya sendiri. Virus tersebut, seperti juga influenza, muncul entah dari mana, hinggap satu per satu dengan gejala yang hampir mirip meski dibedakan dengan seberapa fit tubuh kita bisa melawannya. Singkat cerita, pagi itu yang seharusnya saya bisa nagih tugas business model, ternyata harus membawa anak saya ke dokter. Alhamdulillah, hari ini beberapa personil sudah memperlihatkan kebugarannya, pagi tadi gejala bercak merah seperti bentol dan sedikit gatal mulai muncul di beberapa bagian tubuh saya (akibat dingin?) tapi sejak sore tadi sudah mulai menghilang.
Sorri... bukan maksud saya berpanjang lebar membahas KLB skala mikro keluarga di sini, kecuali kalau weblog ini lebih ke arah personal. Yang saya sadari, kejadian klas di batalkan, seharusnya bukan berarti tidak ada program selama 1 minggu ke depan, karena toh kita masih punya media klasmaya untuk menjembatani komunikasi langsung.
Tapi jangankan deal dengan next substitute program, ongoing program model class at a glance minggu lalu saja belum kelar.
(tulisan ini dibuat sebelum posting 1st March 2008 Class at a Glance ditulis)
1st March 2008 Class at a Glance
Langsung lompat ke Bab 5, terkait dengan siklus hidup teknologi, banyak diulas konsep tahapan, stages, atau phase yang relatif senada antara progress, siklus hidup, antara teknologi dan produk. Beberapa slide saya ambil dari materi Pengembangan Produk Telematika yang jelas berkorelasi dengan mata kuliah kita sekarang.
Ada sedikit bagian dari bab 5 yang belum diulas di handout ini. Sepertinya bagian itu saya serahkan ke pemirsa untuk dibaca langsung dari bukunya. Ini juga untuk menegaskan bahwa dengan handout ini, bukan berarti tugas pemirsa untuk membaca reference book sudah dapat digantikan.
Selamat mengingat ulang ....
Saturday, February 23, 2008
Task of this week (EL-102 Februari 2008)

Tugas berupa kajian perbandingan dari aspek bisnis (keuangan, pasar, pelanggan) termasuk aspek teknis (operasional). Selanjutnya dianalisa bagaimana prospek kedua bisnis yang memiliki tujuan yang sama tersebut. Buat satu pilihan manakah diantara dua perusahaan tersebut yang lebih mampu bertahan.
Tugas ini cukup di submit melalui email paling lambat tanggal 1 Maret 2008 termasuk pengumpulan tugas ”Indonesian Celuler Price War” yang seharusnya sudah bisa di submit minggu ini.
Selamat bekerja..
23th February 2008 Class at a Glance
5 Forces nya Porter dibahas satu persatu melalui determinant atau faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pagi tadi kita juga sudah coba implementasikan model Porter tadi melalui mekanisme dan proses membangun analisa industri, mulai dari assessment determinant, rating dan scoring termasuk pengukuran impact dari masing-masing forces. Model Porter juga sedikit di ”enhace” dengan menambahkan aspek regulatory dan technology sebagai forces tambahan yang cukup dominan untuk industri telekomunikasi.
Hari ini Handout kedua sudah bisa di akses lebih cepat dari sebelumnya.
Selamat menyimak ulang....
Thursday, February 21, 2008
2, 9, and 16th of February 2008 Class at a Glance
Issue industri yang diinjau dari aspek regulasi, pasar, teknologi, produk dan jasa yang dibahas moga-moga dapat membuka wawasan pemirsa tentang lingkup bahasan EL-102. Materi dari bahasan lalu lebih banyak diambil dari berita-berita di media, kajian dan analisa maupun pengetahuan lapangan yang belum banyak mengambil dari teori text book. Namun dari tiga pertemuan tersebut termasuk materi diskusi, relatif sudah memberikan porsi hampir separuh dari cakupan perkuliahan. Materi dari text book dapat melengkapi dari aspek bahasan teori yang bisa langsung dibaca. Materi lain yang tidak kalah penting adalah media.
Perkembangan industri telematika yang sangat cepaat menuntut pemirsa / mahasiswa untuk banyak memperhatikan update issue dan berita di media. Text book seringkali terlambat untuk mengejar perkembangan teknologi dan industri yang terjadi. Aspek lain adalah persoalan regional, seringkali buku-buku acuan lebih melihat perkembangan di negara asal penulis yang belum tentu fit dengan kondisi regional dan negara kita.
Seperti janji saya materi presentasi akan saya share di klasmaya. Sampai tulisan ini dibuat saya masih mencari file hosting gratisan untuk menyimpan file yang cukup besar ini (saya juga coba me’reduce untuk menghemat akses). Biasanya file-file seperti ini di simpan di geocities, namun jatah yang saya dapat sudah mendekati full, sehingga saya harus cari altenatif hosting.
Kalau address ini (HandOut-1) bisa di download berarti persoalan hosting sudah solved, dan anda bisa simpan untuk dibaca.
Pertemuan besok, jangan lupa tugas analisa pricing di industri seluler yang semakin memanas, termasuk juga fixed wireless. Tugas bisa dikumpul dalam bentuk file transfer atau melalui email dengan subjek depan diberi imbuhan ”[EL-102]”. Moga-moga pertemuan besok kita bisa bahas 5 Force nya Porter lebih intens.
Tabik ...
Monday, February 18, 2008
Welcome aboard EL-102
Selamat datang ..... khususnya bagi pemirsa EL-102.
Seharusnya sebelum klas (tiap hari Sabtu jam 07:00 WIB) dimulai, posting ini sudah memberikan pendahuluan awal tentang bagaimana dan apa dari lingkup, rencana, dan segala tetek bengek Industri Telematika. Namun sayang, saya baru bisa submit setelah minggu ke-3 dari klas offline/tradisionil/face2face atau tepatnya klas riil, mohon maaf.
EL-102 relatif baru buat saya, seperti juga awal dari mata kuliah lain yang hampir relatif baru dalam artian bukan mata kuliah yang harus saya berikan berulang-ulang di setiap semester. Namun dari judul dan lingkupnya seharusnya bukan hal yang baru, khususnya dari sisi pengalaman kerja yang tidak jauh berbeda dari industri telematika/infocom.
Sesuatu yang baru, yang bisa saya ambil adalah rujukan text book dari institusi yang relatif memberikan masukan dan wawasan khususnya untuk bahan kuliah. Referensi yang diacu adalah :
- Tarik M. Khalil, Management of Technology; Mc Graw Hill, 2000
- Annabel Z. Dodd, The Essential Guide to Telecommunication (3rd Edition), Prentice-Hall, 2001
Beberapa referensi lain (produk lokal) belum saya pastikan jadi acuan, alasan utama hanya karena saya belum dapat bukunya. Tapi ada tambahan referensi yang menurut saya cukup relevan yaitu :
- Porter, M.E., Competitive Strategy, The Free Press, New York, 1984
Dari informasi pemirsa, ketiga buku ini sudah tersedia di perpustakaan kampus, jadi minimal tidak ada alasan lagi buat pemirsa untuk berdalih belum baca.
Sisanya (bisa jadi 60%), referensi yang praktikal diberikan dari sumber-sumber luar, antara lain dokumen regulasi, best practice, berita dan artikel lepas, hasil kajian dan analisa atau report dari pelaku bisnis di industri telematika.
Jadi mulai sekarang, dicoba lebih concern dengan issue dan berita yang terkait dengan industri telematika. Kalau perlu, bisa diajukan sebagai bahan diskusi baik di klasmaya atau klas riil.
Selamat bergabung…
Wednesday, February 13, 2008
Thursday, December 13, 2007
Bahan presentasi dari buku Burlton
Ada beberapa bagian buku yang bisa di share di media ini, antara lain:
Bab-2
Bab-3
Bab-5
Bab-6
Bab-7
Bab-9&10
Bab-11
Bab-12
Bab-13
Bab-14
Bab-16
Materi presentasi masih original dari penyusun, jadi mungkin perlu sedikit cek ke bukunya langsung. Paling tidak ada sedikit rangkuman yang bisa didapat sebagai bahan UAS
Permintaan Maaf
Hari Rabu saya sudah masuk ke kantor, dan coba hubungi pihak institusi untuk penggantian, namun sampai jam 1500 belum bisa kontak lansung dengan pengelola, sampai saya putuskan untuk membatalkan penggantian, toh perlu waktu untuk informasi ke mahasiswa yang sangat pendek waktunya.
Jadi kita akan langsung masuk UAS di hari Sabtu besok, dengan materi yang sudah disampaikan sebelumnya. Ada beberapa materi yang belum di share, antara lain handout untuk materi Analysing Workflow dan bagian dari bukunya Aalst terkait dengan materi tersebut yang bisa di download di posting ini.
Semoga sukses ..
Saturday, November 24, 2007
Tambahan Nilai
Angka nilai tengah semester tempo hari mungkin masih belum memuaskan. Beberapa mungkin mendapat angka sementara yang below average meski dari sisi kapabilitas seharusnya bisa diatas rerata. Persoalannya ada beberapa partisipan yang belum men submit PR atau tugas yang dikerjakan di rumah.
Untuk memberi peluang perbaikan berikut ini disampaikan tambahan tugas sebagai berikut:
- Tugas dari soal latihan dari gabungan Bab 2, no 2.7 (hal 71) dan Bab 3, no 3.1 (hal 94) khusus untuk partisipan dengan nama Debut, Petrus, Ihsan, dan Adri.
Tugas bisa dikirim melalui email atau disampaikan pada saat pertemuan. - Tugas me resume kuliah dari Jack Shaw (Accelerating Innovation: People, Process, & Technology) yang bisa diakses di posting ”Kuliah terkait Process”, terutama untuk partisipan dengan nama Santi, Budiyanto, Petrus, Denny, Ihsan dan Mariany. Tugas ini bisa juga dipergunakan untuk partisipan lain yang berminat menambah nilai. Resume minimal 2 halaman dengan 1 spasi. Tugas berupa file yang dikirim melalui email atau ditransfer melalui flash disk pada saat pertemuan.
November 23, 2007 Class at a Glance
Tiga minggu ini, pekerjaan ”biasa” (bukan ”luar biasa” seperti klas) menuntut lebih banyak waktu dan konsentrasi dari biasanya, terkait dengan pekerjaan rutin per triwulan, perencanaan untuk tahun 2008, maupun persiapan mengikuti seminar. Semoga semua berjalan dengan lancar. Amiin.
Jadi saya mohon maaf, atas peristiwa dua kali berturut-turut ”mabal” tersebut (yang tidak tahu istilah ”mabal” bisa mencari di kamus). Moga-moga atmosphere lebaran masih belum hilang untuk bisa saling memaafkan.
Rencana men’disseminasi materi presentasi Burlton juga belum kelar. Awalnya saya mau ulas per bagian namun kalau waktunya tidak memungkinkan, minimal yang sudah disubmit harus sudah dishare. Lagi-lagi mohon maaf.
Klas minggu ini dimulai dengan pembahasan pekerjaan rumah untuk soal 4 lintasan KA. Sekilas meski tidak 100% tepat dan mungkin juga tidak 100% murni (karena lebih banyak yang sama ”salahnya”, kecuali kalau PR dikerjakan bareng) jawaban PR cukup bagus.. Dari analogi dua track yang ditampilkan di klasmaya, beberapa sudah mencoba untuk diduplikat sampai 4 track. Hanya saja penyelesaiannya kurang di analisa dan dikaji lebih mendalam, sehingga masih ada beberap kekurangan yang sulit untuk disebut minor.
Model kedua dari jawaban PR ada yang mencoba ”ngulik” dari logika dan aturan yang dipahami. Meski sekilas sedikit berbeda, namun orisinalitas karya dari pekerjaan rumah ini bisa lebih berharga dibanding fenomena ”^C - ^V”.
Bahasan selanjutnya adalah menyelesaikan sisa rencana program. Minggu ini dipilih bab-4 dari (masih) Aalst tentang Analisa Workflows (bahan handout bisa dikolek disini). Konten terkait dengan Teknik analisa dari aspek kualitatif dan kuantitatif, Situasi error yang biasa terjadi, Reachability, Soundness, dan Building Block untuk tahapan derive proses.
Pada pembahasan lampu Lalin (Lalu lintas), terdapan situasi (proses Lalin) yang sebenarnya tidak salah (error) dalam workflow namun menjadi pincang, unfair, dan tidak mencerminkan situasi Lalin yang sebenarnya. Perbaikan dari situasi ini menjadi PR yang disepakat untuk dikumpulkan di pertemuan kedepan.
Clue: tempatkan satu tambahan place. Selanjutnya pikirkan jalur/arrow mana yang perlu diberikan dan perubahan jalur yang ada.
Pengganti klas pertama, dijadwalkan Senin tanggal 26 November 2007 Jam 17:00 WIB, kemungkinan di ruang yang sama. Pengganti klas kedua masih belum disepakati, sementara tanggal 7 Des mendatang diperkirakan saya tidak bisa hadir karena dari tanggal 2-8 Desember saya harus mengikuti seminar di Hongkong. 30 November kemungkinan masih bisa, namun masih ada dua klas yang belum terbayar. Jadi waktu tersisa tinggal sekitar tanggal 1 Des, dan 10-12 Des. Kalau masih ada waktu dari tanggal 27-30 Nov, mungkin bisa menambah kekurangan klas.
Ciao
Tuesday, November 06, 2007
Bahasan latihan soal dan pekerjaan rumah untuk jalur/lintasan kereta api.
Soal ini diambil dari buku Aalst di bagian 2. Digambarkan tentang suatu lintasan sepur, spoor, atau kereta api dimana setiap satu track/lintasan memiliki 3 state/status/kondisi, dalam hal ini :
- Busy : Sibuk, artinya lintasan ini sedang dipergunakan oleh satu unit kereta api.
- Claimed : Dipesan, artinya satu unit kereta (yang berada di track persis sebelumnya) telah berhasil memesan untuk mempergunakannya. Dalam state ini, tidak ada kereta yang berada diatas track ini.
- Free: Bebas, artinya tidak ada kereta yang sedang berada diatas track ini, dan tidak ada pesanan untuk mempergunakan track ini.
Satu lintasan hanya bisa dipergunakan oleh satu kereta. Pada saat track atau bagian lintasan tersebut dilalui/didiami, status track dalam kondisi Busy. Untuk pindah ke bagian/lintasan berikutnya kereta harus memesan (claim) terlebih dahulu, dan hanya lintasan yang bebas (Free) yang bisa dipesan. Begitu kereta tersebut pindah ke track berikutnya (setelah di pesan) lintasan sebelumnya langsung melepas kondisi sibuk (Busy) menjadi Free (bebas/kosong).
Gambar dibawah ini menunjukkan model Petri Net untuk satu lintasan dengan 3 states. 3 states digambarkan dalam 3 Place (yang digambarkan dalam bulatan) dengan label b1 untuk state ”busy” di track 1, label c1 untuk state ”claimed” di track 1, dan label f1 yang menunjukkan state ”free” di lintasan 1. Token dalam gambar diatas berada di state busy, artinya lintasan satu sedang dipergunakan oleh satu unit kereta. Model sederhana ini juga menunjukkan 3 buah transisi yaitu: clear_track untuk berpindah dari state busy (b1) ke free (f1), claim_track untuk berpindah dari state free (f1) ke claim (c1), dan use_track untuk merubah state claim (c1) ke busy (b1).
Agar tidak bingung, dalam perpindahan dari state busy ke free, kereta seharusnya sudah memesan (claim) track berikunya, yang dalam model satu railnet ini belum digambarkan.
Untuk menggambarkan model dua lintasan, secara sederhana dapat dilakukan dengan menggabungkan dua model sebelumnya dengan penambahan satu input claim_track di lintasan 2 dari b1 dan penambahan satu output dari claim_track di lintasan 2 ke b1. Penambahan input dan output ini memberi arti bahwa claim_track hanya bisa di enable jika dan hanya jika ada token di f2 dan b1. Jika memenuhi syarat tersebut dan transisi claim_track 2 tersebut di trigger/fire atau di eksekusi, token akan mengisi di place c2 dan satu token akan mengisi kembali di b1. Model ini menunjukkan bahwa lintasan hanya bisa di pesan jika lintasan tersebut bebas dan ada satu kereta di lintasan sebelumnya. Namun pemesanan track 2 yang merubah state dari f2 ke c2 tidak merubah state di track 1 yang tetap berada di b1. Dengan kata lain, kereta yang memesan track 2 masih tetap menduduki track 1.
Transisi clear_track 1 dan use_track 2 selanjutnya bergabung menjadi satu transisi dengan nama transfer. Pada saat transisi ini dieksekusi, dengan syarat ada token di c2 dan b1, states di track-1 langsung berubah menjadi bebas (dari output ke f1) dan state di track 2 menjadi busy (dari output ke b2).
Jika kita kaji states yang bisa dilalui yang diwakili oleh notasi (state1, state2), kemungkinan perpindahan states di dua track tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Dapat dilihat disini, bahwa pada saat perpindahan dari b2 ke f2, yang dapat ditunjukkan dalam transisi (b,b) ke (b,f), kereta yang sebelumnya berada di track 2 tidak menuju ke track 1 namun berada di satu lokasi diluar track1 dan track 2 yang bisa dibayangkan dalam suatu stasiun (langsir). Sedangkan kereta yang sebelumnya berada di track 1, setelah track2 dalam kondisi sudah di claim (b,c) maka akan pindah ke track 2 dengan perubahan state menjadi (f,b) dimana track 1 menjadi bebas.
Gambaran fisik lintasan tersebut diatas dapat ditunjukkan pada gambar dibawah ini dimana terdapat dua track/lintasan dan satu stasiun yang bisa menampung 2 kereta, dengan satu arah lintasan dari track 1 ke track 2 ke stasiun dan kembali ke track 1.
Berikut soal pekerjaan rumah yang harus dikumpul di pertemuan mendatang :
- Gambarkan model lintasan kereta dengan 4 track sirkular (tanpa ada stasiun) yang dilalui oleh dua unit kereta dalam kerangka Petri Net. Ingat bahwa satu track hanya dapat ditempati oleh satu kereta.
- Ada berapa state yang mungkin terjadi, gambarkan kemungkinan perpindahan states tersebut.
Selamat bekerja...
Saturday, November 03, 2007
November 2, 2007 Class at a Glance
Posting berikutnya kita akan coba mulai bahas bagian per bagian, minimal sekedar sharing dari tulisan yang sudah dibuat. Beberapa materi dari bahasan Burlton sebagian sudah pernah di posting di klasmaya, misalnya Buil to Flip, Konsep BPM, Strategi Manajemen dari posting untuk mata kuliah sebelumnya.
Monday, October 29, 2007
October 26, 2007 Class at a Glance
Kalo dipikir-pikir model ini mungkin jauh lebih efektif, dibandingkan bahasan saya yang dalam waktu dua sks cuman ngebahas satu bab Burlton. Efektif karena saya melihat relatif semua terlibat minimal membaca bagian buku yang menjadi haknya untuk dipresentsaikan. Dari natural bukunya Burlton, memang jauh lebih efektif kalau siswa membaca langsung, merasakan langsung, dan men’sari’kannya untuk dibahas bersama.
Minggu depan kita lanjutkan bahasan Burlton tentunya dengan sajian yang bisa lebih menarik. Pembagian kerjaan membaca dan sharing melalui bahasan di depan kelas sebagian sudah, sharing materi juga sedang dipersiapkan sehingga diharapkan seluruh elemen SI-454 bisa mendapatkan gambaran yang komprehensif dari BPM nya Burlton.
Materi presentasi rencanya akan di share disini, saya mohon ijin dari pengulas/pembahas, hanya saja lebih bagus kalau sesuai urutan bab dalam buku, walhasil kita tunggu minggu depan untuk menuntaskan bagian yang belum ditampilkan.
Thursday, October 25, 2007
Perlunya Standard Bisnis Proses
Throughout the history of business, most firms have built their own processes for almost everything that needed to be done. Whether the processes involved were critical to the organization's strategy or incidental to it, they were generally performed by people within the organization. Sometimes they were done well, sometimes they were done badly—but since a company had no way of determining how well an outside business might perform these processes, they were kept in-house.
Most companies have remained in do-it-yourself mode for most processes. Because of a scarcity of process standards, it would be risky to do otherwise. With the exception of IT system development, there is generally no clear basis by which companies can compare the capabilities provided by external organizations with those offered in-house, or to compare services among multiple outside providers. As a result, firms that choose to outsource their capabilities have to proceed on two criteria: faith that the external provider will do a good job and cost.
Three types of process standards
A business process is simply how an organization does its work—the set of activities it pursues to accomplish a particular objective for a particular customer, either internal or external. Processes may be large and cross-functional, such as order management, or relatively narrow, like order entry (which could be considered a process in itself or a sub-process of order management). The variability in how organizations define processes makes it more difficult to contract for and communicate about them across companies.
Firms seek to standardize processes for several important reasons. Within a company, standardization can facilitate communications about how the business operates, enable smooth handoffs across process boundaries, and make possible comparative measures of performance. Across companies, standard processes can make commerce easier for the same reasons—better communications, more efficient handoffs, and performance benchmarking.
Since information systems support processes, standardization allows uniform information systems within companies as well as standard systems interfaces among different firms. Standard processes also allow easier outsourcing of process capabilities.
In order to effectively outsource processes, organizations need a means of evaluating three things in addition to cost.
First is the external provider's set of activities and how they flow. Since companies have not reached consensus it remains ambiguous what services should be performed between buyers and providers. Therefore, organizations need a set of standards for process activities so that they can communicate easily and efficiently when discussing outsourced processes. These process activity and flow standards are beginning to emerge in a variety of businesses and industries.
A second set of needed process evaluation approaches are process performance standards. Once companies in a particular industry achieve consensus about which activities and flows constitute a given process, they can begin to measure their own processes and compare their results with those of external providers.
Finally, organizations need a set of process management standards that indicate how well their processes are managed and measured and whether they're on course for continuous improvement. Because this third type of process standard doesn't require consensus on process activities and flows, it is the easiest to create and the most widely available today. Process management standards are based on the assumption that good process management will eventually result in good process flows and performance.
If your organization provides process services, you may have mixed feelings about the development of process standards. Standards will lead to commoditization, more competitors, and lower prices for the services you offer. However, the move to process standards makes so much economic sense that it is probably inexorable—whether or not your company gets involved. It's better to help shape a standard than to be put out of business by it.
Wednesday, October 24, 2007
Tampilan baru Klasmaya
Namun untuk memasang fasilitas dan fitur baru (yang saya sendiri belum explore) perlu dilakukan upgrade template, walhasil sekalian saja diubah tampilannya. Konsekuensinya beberapa fitur yang sebelumnya ditambahkan jadi hilang.
Ada komentar untuk tampilan ini?
Saya coba melirik situs weblog gratisan selain blogspot (myspace?) tapi rasanya sudah banyak konten yang diisi disini. Mungkin ada usulan untuk situs weblog yang lebih bagus dari blogspot. Tapi yang jelas saya perlu informasi untuk hosting file pdf untuk dishare, masalahnya kuota geocities sudah menipis, ada usulan?
Untuk percobaan, mohon vote di bagian survey, buat asyik-asyik saja.
Ciao....
Monday, October 22, 2007
October 19, 2007 Class at a Glance
Akhirnya minggu lalu, dibahas contoh-contoh soal terkait dengan workflow petri net. Paska liburan mungkin lebih enak refreshing dengan contoh kasus, dari pada dijejali materi baru yang jangankan bisa diterima, materi sebelumnya pun mungkin masih separuh dipahami.
Dua contoh yang saya ambil dari exercise nya Aalst terkait dengan German Traffic Light dan Insurance Company. Materi pembahasan mungkin akan lebih bagus dishare setelah ditambahkan dengan beberapa kasus latihan yang lain.
Hari ini saya terima pemberitahuan melalui email bahwa batas akhir pengumpulan NilaiTengah Semester (NTS) Ganjil 2007/2008 adalah hari Jumat, tanggal 02 November. Karena kita nggak bikin UTS, dan pertemuan kita sebelum tenggat hanya tersisa 1 kali lagi, minggu depan, tidak boleh lagi excuse untuk delay 15 minutes presentation. Otherwise, mungkin ada sessi quiz sebagai pengganti sekaligus bahan NTS.
So be there and be ready.
Artikel BPM dari Paul Allen
IT organizations continue to find themselves under increased reassures to do more with less. In many cases, the development and integration efforts of the 1990s were designed to heighten organizational efficiency by automating departmental functions. Nowadays, with the Internet, e-mail, and the Web, companies can collaborate and share information far more easily than they could just a decade ago.
These developments have been paralleled by an expanded role for businesspeople in IT. Business users increasingly perform tasks that were previously only for the technically initiated. Business executives who were once scared of spreadsheets now use them for planning. E-mail has become ubiquitous. The Web is being used by businesspeople to boost knowledge, watch what competitors are doing, and check for stock information. The result is that the profile of IT looms large on a business agenda that demands heightened organizational efficiency in what are currently difficult economic times. And from an IT viewpoint, increased productivity -- especially in a slowdown -- depends on linking distributed systems together. It is against this background that business process management (BPM) is gaining momentum, receiving serious attention from many vendors, and appearing on the radar screens of senior end-user management.
Of course, there are those in our industry that take a slightly cynical view that BPM is simply the cosmetic re-branding of previous generations of workflow software. The efforts of the IT to reinvent different waves of technology that BPM is a lot more than a re-branding exercise.
Two trends are coming together that are creating enormous opportunities and challenges for the management of business processes across organizational boundaries. The first is a business trend toward the truly networked business that crosses organizational boundaries in an ever more adaptive fashion. The other is an IT trend that concerns development of enabling technology that has grown naturally out of distributed computingand component-based development. This mainly involves Web service protocols, description and discovery mechanisms, BPM languages, and standards. Each trend fuels the other: business pressure to realize the full potential of the Internet. Conversely, as the technology "opens up," business is awakened to increasingly imaginative ventures involving hitherto undreamt-of partnerships.
BPM sits at the confluence of these two trends and as such needs to be taken seriously. It must be understood in both IT and business terms. The business element involves developing an ability to explore, understand, and define cross-enterprise business processes. This, in turn, raises the bar for business process modeling and design techniques that are still largely wedded to the concept of an organization as a production line. That world is changing at a rapid pace. Today's unremitting technological innovation and change is mirrored by unpredictable and discontinuous changes in the marketplace. Businesses are responding by becoming more adaptive. The only strategy that makes sense is to become adaptive -- to sense early and respond quickly to abrupt changes in individual customer needs. Agility is needed both in rapid adoption of new technologies and in timely response to business change.
The IT element in actually making cross-enterprise business process automation happen rests partly in the ability to describe the contractual aspects of business protocols in a standard form that can be consumed by tools for process implementation and monitoring. At the same time, tools must provide much more innovative techniques that bring diagrams to life in a way that maximizes the involvement of businesspeople at the business process modeling and design level.
Thursday, October 11, 2007
October 5, 2007 Class at a Glance
Materi pembahasan mencakup konsep maupun aspek pengelolaan sumber daya (resources). Aalst menyebutkan klasifikasi sumber daya dari aspek fungsional dan aspek organisasi. Prinsip alokasi sumber daya juga dibahas dalam materi tersebut antara lain menyebutkan tentang penerapan prinsip antrian. Alokasi work item dari sumber daya menyebutkan pula terminology Push Driven, Pull Driven atau Campuran keduanya.
Meski sekilas, aspek indikator kinerja (internal dan external) juga dibicarakan yang selanjutnya akan lebih banyak dibahas pada bagian Analisa Workflow. Terakhir materi pembahasan dari bab-3 nya Aalst mengulas aspek petunjuk perancangan workflow.
Minggu kedua Oktober dijadwalkan untuk libur bersama, sayangnya minggu ke tiga sudah harus masuk. Karena saya masih status cuti bersama, jadwal tanggal 19 Oktober untuk sementara masih seperti bulan puasa, dengan kata lain mulai jam 16:00 – 18:00. Kuliah berikutnya kita kembali ke jadwal semula di 17:00 – 19:00.
Jangan lupa tugas resume and present sudah bisa disampaikan mulai tanggal 19 Oktober mendatang. Selamat ber libur panjang ... buat yang merayakan hari Raya Lebaran selamat makan ketupat, Minal Aidin wal Faidzin.
Wednesday, October 10, 2007
A Closer Look at Business Processes
Dicuplik dari artikel dengan judul An Introduction to BPM, September 2003, Ultimus
What is a Business Process
“A sequence of structured or semi-structured tasks performed in series or in parallel by two or more individuals to reach a common goal.”
The five essential points in this definition are:
- A business process consists of a “sequence” of tasks. One task alone performed by one person is not a business process.
- A business process is “structured or semi-structured.” This means that there is some logic or rules that dictate the sequence in which the tasks are performed. They are not performed on an ad hoc basis.
- The tasks can be performed in “series or in parallel”.
- There must be at least “two or more” individuals or applications involved as players performing different tasks in workflow.
- The sequence of tasks must have the purpose of reaching a common goal or outcome.
The Benefits of BPM
BPM offers numerous tangible and intangible benefits to organizations:
- Improving the Speed of Business
- Increased Customer Satisfaction
- Process Integrity and Accountability
- Process Optimization and Elimination of Unnecessary Tasks
- Include Customers and Partners in Business Processes
- Organizational Agility
Buat yang pingin lihat dokumen lengkapnya bisa di download di SINI
Monday, October 08, 2007
Cek Kebugaran lewat HP
It can take your pulse, check your body fat, time your jogs and tell you if you have bad breath. It even assesses stress levels and inspires you with a pep talk. Meet your new personal trainer: your cell phone.
The prototype Wellness mobile phone from Japan's NTT DoCoMo Inc. targets users with busy lives who want a hassle-free way of keeping track of their health.
The phone, unveiled this week at the CEATEC electronics show outside Tokyo, has an inbuilt motion sensor that detects body movement and calculates how many calories you burn. The sensor can tell whether you're walking, running, climbing stairs, or resting, and counts the calories accordingly to tally daily totals. Hold the phone with outstretched arms, and it turns into a mini body fat calculator. A sensor at the top of the phone takes your pulse from your fingertip.
Worried about bad breath? Use the phone's breathalyzer. After blew on a tiny hole on the side of the handset for about three seconds, the screen flashed, "Not too bad."
The Wellness phone, developed by NTT DoCoMo and Mitsubishi Electric Corp., also asks questions to assesses stress levels and offers advice. When the busy spokesman answered "Yes" to a series of questions - including "Do you feel lethargic?" and "Do you go to bed after midnight?" - a message appeared on the screen warning he was under a lot of stress. "Don't worry, tomorrow's a fresh new day," the phone then flashed. "Keep your chin up!"
NTT DoCoMo is still testing some of the phone's other technology, including a function to keep track of meals and calculate calorific intake, as well as a networking capacity to let users share data. Japan has some of the world's most advanced cell phones, enabling users to surf the Web, check in at airports and play motion games. DoCoMo has not set a release date or price for the Wellness phone. The Tokyo-based company's phones are not sold overseas.
Tuesday, October 02, 2007
September 28, 2007 Class at a Glance
Pembahasan Business Driver, terkait dengan 4 penggerak utama perubahan bisnis (kompetisi, perusahaan yang tumbuh semakin kompleks dan global, meningkatnya peran stakeholder luar, dan e-business). Perubahan bisnis untuk perbaikan di masing-masing penggerak tadi dibahas melalui pemodelan RoI.
Sebelum klasklar, ada informasi tugas paska lebaran membuat resume dan presentasi yang dibagi menjadi 7 kelompok, sebagai berikut:
Bab 2 : Debut Medio Okta Mustari; Mariany Elisa
Bab 3 : Adri P Manik Sihotang; Budiyanto
Bab 5 : Lim Chen Chen; Robet Alfonsin Lontoh; Sugiri; Petrus C Hidayat
Bab 6-7 : Vera Yanthi Samosir; Rudianto Tampubolon;
Bab 9-10 : Pargom Gom; Santi Junita Dewi
Bab 11-13 : Ihsan Cases Raharjo; Edgar Yangky Depthios; David H Sinaga
Bab 14-16 : Denny Kusuma; Putra Edlin Alamjaya; Nehemia K Suherman
Handout ke empat sudah bisa di download disini.
Saturday, September 22, 2007
September 21, 2007 Class at a Glance
Pembahasan mapping juga menyebutkan metode notasi yang ditawarkan pak Aalst, termasuk satu model yang cukup complicated AND/OR-SPLIT karena merupakan gabungan AND SPLIT dan OR SPLIT (pernyataan ini juga cukup membingungkan apalagi kalau ga baca buku aslinya). Yang saya belum lihat gimana notasi buat AND/OR-JOIN ada yang mau coba usulkan?
Sesuai janji posting sebelumnya, hand out ketiga yang sudah dibahas minggu lalu dan sebelumnya sudah bisa di download. Tapi bukan berarti hand out ini bikin pemirsa nggak perlu lagi baca bagian dari buku Aalst nya yang asli.
Saya lupa ngasih home-work [atau kost’an-work] buat minggu depan, tapi kalau ada yang mau kirim notasi dan logic work buat AND/OR-JOIN bisa buat nambah-nambah nilai.
Perbedaan Workflow dan BPM
Nathaniel Palmer, Vice President & Chief Analyst, Delphi Group, Boston
While often treated synonymously, BPM and workflow are, in fact, two distinct and separate entities whose differences are more than academic.
Workflow is concerned with the application-specific sequencing of activities via predefined instruction sets, involving either or both automated procedures (software-based) and manual activities (people work).
BPM is concerned with the definition, execution and management of business processes defined independently of any single application. BPM is a superset of workflow, further differentiated by the ability to coordinate activities across multiple applications with fine grain control.
Integration between workflow systems and externalities are comparatively limited, often only allowing the retrieval of documents or data variables, and only as a pass-through with no awareness of content.
BPM systems allow both the capture and introspection of external documents and data, presenting a closed-loop process for validating the integrity of transactions, data and content, as well as the initiation of compensating activities when necessary. BPM processes separate execution instructions from process flows; thus, routing can be tied to process outcomes and milestones. As workflow processes are tied to single applications, process flow is hardwired and does accommodate alternative means for reaching the same task or goal.
Distilled into single-word definitions, workflow is about repetition and BPM is about coordination (also automation and orchestration, respectively).
Thursday, September 20, 2007
September 14, 2007 Class at a Glance
Konten pembahasan mulai fokus di frame work formal Petri Net, dari versi traditional maupun extended nya. Beberapa terminologi didefinisikan ulang dengan lebih spesifik.
Untuk pembahasan materi dari referensi Burlton, saya berencana untuk mendistribusikan tugas untuk dibahas (kalau bukan dipresentasikan) ke beberapa kelompok. Moga-moga pada pertemuan berikutnya kita bisa tetapkan alokasi tugasnya.
Hand out minggu lalu karena bab-2 belum tuntas dibahas, kemungkinan akan menyusul di share. Minggu depan kemungkinan akan kita lanjutkan dengan sisa di bab-2 yang belum selesai dibahas.
Minggu lalu kita sempat membahas tentang “Business Model”. Ada contoh yang cukup menarik dari kasus Akamai dan Inktomi yang pernah di posting di Klasmaya bulan September 2006. Mungkin bisa dibaca-baca siapa tahu sempet dibahas di pertemuan mendatang.
Kuliah terkait Process
Cukup menarik buat dianggap kuliah jarak jauh.
Monday, September 10, 2007
September 7, 2007 Class at a Glance
Konten pembahasan mengulas tentang BPM, BPR, WFM, serta Petri Net sebagai acuan framework yang digunakan Aalst, termasuk terminologi Case, Process, Task serta mekanisme struktur proses (sequence, selection, synchronization, dan iteration). Sessi minggu lalu juga membahas case bisnis proses perusahaan asuransi sebagai quiz, kategori proses dan hubungan antar proses.
Hand-out sessi ke dua dan bahan minggu depan dari bukunya Aalst bab -2 bisa di akses disini.
Selama bulan puasa kita sepakat untuk menggeser kelas satu jam lebih awal. Tadinya khusus minggu ini (saja), saya berencana menggeser juga ke hari Kamis, namun informasi dari BAAK jadwal tersebut bentrok dengan mata kuliah lain. Jadi minggu ini, kita mulai jam 16:00 di hari Jum’at.
Sarbanes-Oxley Compliance
Enron and WorldCom, at one time these companies dominated their respective industries. Lately, however, they are known more for accounting scandals than for the products and services that they produced.
As a result of this malfeasance, the federal government decided to step in and try to restore investor confidence while protecting the general public from further corporate mismanagement. Spearheaded by the co-chairs of the House-Senate conference committee on corporate accounting reform, Senator Paul Sarbanes and Representative Michael Oxley, the Public Company Accounting Reform and Investor Protection Act was signed into law by President George W. Bush in July 2003. The act is better known as Sarbanes-Oxley, or by the acronym SOX.
The Sarbanes-Oxley Act emphasizes accountability for corporate officers, requires independent boards of directors for public companies, and mandates a wide-sweeping accounting framework for all public companies doing business in the United States. This includes requiring disclosures on internal controls, ethics codes and the makeup of their annual reporting audit committees. In addition, all wholly-owned subsidiaries and all publicly traded non-US based companies face Sarbanes-Oxley compliance. Finally, private companies that are preparing for their Initial Public Offering (IPO) must also comply with certain SOX provisions.
Public companies with a market capitalization of $75 million or more were required to be in compliance with Section 404 for the fiscal year ending on, or after, June 15, 2004. Smaller companies had to be incompliance for the fiscal year ending on, or after, April 15, 2005.
Business processes form the foundation for all organizations, and as such, are impacted by Sarbanes-Oxley compliance requirements. Solid business processes allow an organization to maximize profitability by providing employees with streamlined and efficient processes that allow them to excel in their jobs. This is especially true in organizations that have not kept up with the Joneses and scrapped their manual processes for more efficient electronic ones.
Sarbanes-Oxley compliance forces all organizations to review their business processes and ensure that they meet the compliance standards set forth in the Act. This can include, but is not limited to, data acquisition and archival, document management, data security, financial accounting practices, and shareholder reporting functions.
As you can see, nearly all business processes in the organization are touched when determining Sarbanes-Oxley compliance. This can be a good thing, however. By reviewing the organization’s business processes, you can not only ensure Sarbanes-Oxley compliance, but you can also improve these processes to increase efficiency and maximize profitability.
Although reviewing all of these processes may seem overwhelming, the end result will prove worth the effort.
Thursday, September 06, 2007
August 31, 2007 Class at a Glance
Konten, selain yang tersurat dalam reference book, juga akan diperkaya dengan konten praktikal yang muncul dilapangan, selaras dengan diskusi pendek minggu lalu yang cenderung menyiratkan ekspektasi yang menjurus ke aspek manajerial. Meski demikian, beberapa materi yang berbau matematis dan nalar, meski tidak programming murni bisa muncul pada pembahasan kedepan.
Sebagai sessi perdana, berikut disampaikan sharing hand-out pertama yang dibahas minggu lalu.
Untuk bahan minggu depan, saya cuplik dari bukunya Aalst bab -1 yang bisa dibaca sebelum kelas offline. Bocoran minggu depan, kemungkinan saya harus berada di Bogor, tapi saya upayakan untuk sampai di Bandung Jum’at sore, semoga.
Welcome aboard SI454
Mungkin sekira 7 bulan webblog ini tidak ter’update untuk urusan komunikasi virtual kelas. Submit terakhir awal bulan lalu, sebenarnya mencoba untuk memaksakan menulis, meski beberapa hanya sebatas cuplikan yang buat saya cukup menarik. Akhir tahun lalu, menjadi posting terakhir Class at Glance, bagian yang membahas secara sekilas klas offline untuk pengingat pemirsa ataupun sekedar info bagi yang tidak bisa hadir.
Sessi ini, selama satu semester, kita akan bahas Pengelolaan Bisnis Proses, sebuah materi yang cukup menarik, meski ulasannya sudah lumayan kadaluarsa, namun konsep dan implementasinya bukan persoalan yang mudah untuk di ”jabanin”. Ada banyak persepsi, konsep, dan pendekatan yang meskipun diatas kertas masuk nalar tapi implementasinya perlu sentuhan manajerial dan pendekatan kepegawaian selain aspek struktural dan keilmuan.
Seperti biasa untuk formal reference, saya akan mengacu pada arahan institusi. Alhamdulillah dua dari tiga buku sudah saya dapatkankan dengan format digital, sehingga bisa saya share e-book nya di media ini. Hanya untuk acuan Burlton, mohon untuk pemirsa mendapatkannya di toko buku atau toko sejenis yang menjual buku tersebut. Syukur-syukur kalo ada yang punya e-booknya untuk di pakai bersama..
Seperti yang sudah-sudah, klasmaya diharapkan bisa dipergunakan juga sebagai ”two way communication”. Meski sebatas komentar, atau cetusan ide dan opini yang bisa di submit dalam media ini. Beberapa clue, reminder, atau bocoran untuk klas offline berikutnya bisa muncul di klasmaya (boleh jadi soal ujian.....). So stay tune, don’t miss any single posting or even words from here ….
Friday, August 03, 2007
Built to Last
“Built to Last” appeared in 1994, and became both widely read and highly influential.
“Built to Last” gave people three perspectives that they desperately craved.
First, it said, “Yes, there are some timeless fundamentals. They apply today, and we need them now more than ever.”
Second, the book affirmed that the essence of greatness does not lie in cost cutting, restructuring, or the pure profit motive. It lies in people’s dedication to building companies around a sense of purpose — around core values that infuse work with the kind of meaning that goes beyond just making money.
Third, the book tapped into powerful, albeit latent, human emotions: Readers were inspired by the notion of building something bigger and more lasting than themselves. In quiet moments, we all wonder what our lives will amount to, what we’re going to leave behind when we die. “Built to Last” pointed people toward a path that they could follow if they wanted to leave behind a legacy.
There is one other reason why “Built to Last” struck a chord, and it is the most important reason of all: The book spoke not only of success but also of greatness. Despite its title, “Built to Last” was not about building something that would simply last. It was about building something worthy of lasting — about building a company of such intrinsic excellence that the world would lose something important if that organization ceased to exist.
Implicit on every page of “Built to Last” was a simple question: Why on Earth would you settle for creating something mediocre that does little more than make money, when you could create something outstanding that makes a lasting contribution as well? And the clincher, of course, lay in evidence showing that those who opt to make a lasting contribution also make more money in the end.
That was the state of play in 1994, when the book hit the market market and captured the public’s imagination. Then, on August 9, 1995, Netscape Communications went public and captured the market’s imagination. Netscape stock more than doubled in price within less than 24 hours. This was the first of a wave of Internet-related IPOs that saw the value of shares double, triple, quadruple — or increase by an even greater margin — during the first days of trading. The gold rush had begun. The Netscape IPO was followed by IPOs for such high-profile enterprises as eBay, E*Trade, and priceline.com. Companies with no significant products, profits, or prospects scrambled to position themselves in the “Internet space.” The point of this new game was impermanence: Startups flip their stock to underwriters, who flip the stock to individual buyers, who flip the stock to other individual buyers — with everyone looking for a quick, huge financial gain.
In some cases, the results were mind-boggling. When the financial Web site MarketWatch.com went public, on January 15, 1999 ( with a quarterly net profit margin of -168% ), its basket of public shares flipped over not once, not twice, but three times within the first 24 hours, driving the opening-day price up nearly 475%. The flipping continued to escalate, creating a slew of stunning debuts: From November 1998 to November 1999, 10 companies had first-day price increases that exceeded 300%, despite minimal or no profitability. As Anthony B. Perkins and Michael C. Perkins calculate in their superb book, “The Internet Bubble” ( HarperBusiness, 1999 ), less than 20% of the top 133 “flip” IPOs showed any profits as of mid-1999. In fact, their current market valuations would be justified only if revenues for the entire portfolio of companies grew by 80% per year for the next five years — a rate considerably faster than that achieved by either Microsoft or Dell within the first five years of their IPOs.
Fueling the built-to-flip model has been a nearly unprecedented rise in venture-capital investment: From a steady state of about $6 billion per year for the 10-year period from the mid-1980s to the mid-1990s, venture-capital investment exploded, reaching more than $17 billion in 1998. Simultaneously, a flight of angel investors began looking for a piece of the next big flip. As my former student found out, if you have a flappable idea, you won’t have much trouble finding capital. It doesn’t matter whether the idea is a good one — whether the idea can be built into a profitable business, or a sustainable organization, or indeed a great company. All that matters is that the idea be flippable: Get in, get out, and get on to the next idea before the bubble bursts.
Built to Flip. An intriguing idea: No need to build a company, much less one with enduring value. Today, it’s enough to pull together a good story, to implement the rough draft of an idea, and — presto! — instant wealth. No need to bother with the time-honored method of most self-made millionaires: to create substantial value by working diligently over an extended period. In the built-to-flip world, the notion of investing persistent effort in order to build a great company seems, well, quaint, unnecessary — even stupid.





