Friday, October 10, 2008

Tugas Web 2.0

.

Terkait dengan tugas minggu ini, yang salah satunya mengenai Web 2.0, posting kali ini diambil dari salah satu tugas mata kuliah IT Strategic Planning, Sessi Tahun 2006 tentang Technology Assessment, dengan judul Web 2.0, dibuat oleh Gregorius W (1302001) dari Sistem Komputer.

Setelah maraknya berbagai jasa web/dot-com di dunia, web kini menjadi teknologi yang harus ada di setiap perusahaan. Tetapi akhir-akhir ini jasa bisnis dot-com standar mulai rontok, hal ini menjadi titik balik dari teknologi web. Dan pada konferensi antara perusahaan O’Reilly dan MediaLive Internasional muncul konsep web 2.0, berdasarkan munculnya berbagai aplikasi baru dan situs yang selalu ramai. Jadi apa itu Web 2.0?

Beberapa prinsip dasar Web 2.0

1. The Web As Platform (Web sebagai platform)
2. Harnessing Collective intelligence (Memanfaatkan Kecerdasan Kolektif)
3. Data is the Next Intel Inside (Data adalah ‘Intel Inside’ generasi berikutnya)
4. End of the Software Release Cycle (Akhir dari siklus rilis software)
5. Lightweight Programming Models (Model pemrograman ringan)
6. Software Above the Level of a Single Device (Software dengan tingkatan diatas perangkat single)
7. Rich User Experience (Kaya akan pengalaman dari penggunanya)

Prinsip-prinsip ini akan dibahas satu per satu secara singkat.

1. The Web As Platform
Tidak seperti konsep lainya yang memiliki batas yang jelas, konsep web 2.0 berpusat pada satu set prinsip-prinsip dan penggunaan yang mengikat sebuah ‘solar system’ dari situs yang menggunakan prinsip tersebut.
Agar lebih jelas ada tiga kasus yang dibahas untuk mengeluarkan elemen-elemen esensial yang berbaeda dari konsep Web 2.0
Netscape VS Google
Netscape merupakan pengguna konsep standar Web 1.0, mereka memproduksi browser yang merupakan aplikasi desktop untuk menguasai market browser dan menggapai market untuk produk server yang mahal. Ini merupakan penggunaan prinsip ‘Web as platform’ dengan paradigma klasik.
Pada akhirnya, web browser dan web server menjadi komoditi, dan meningkatkan nilai servis melalui platform web.
Sebaliknya Google dimulai dengan aplikasi web tanpa penjualan maupun paket, tetapi murni servis, dengan keuntungan secara langsung dan tidak langsung dengan penggunaan layanannya.
Tidak ada jebakan dari industri dengan paradigma seperti Netscape. Tidak ada rilis software bersiklus hanya pengembangan terus-menerus.
Dan pada intinya Google memerlukan kompetensi yang tidak diperlukan Netscape: Database Management. Tanpa data, tools tidak berguna; tanpa software data tidak dapat dimanajemen. Maka nilai dari suatu softwre proporsional dengan besar scala dan kedinamisan data yang dimanajemennya.
Servis Google bukan server meskipun melalui sekumpulan internet server, bukan juga browser meskipun digunakan melalui browser. Google ada diantara browser, search engine dan server tujuan sebagai enabler atau penengah antara pengguna dan pengalaman berselancar di internet
DoubleClick VS AdSense & Overture
DoubleClick mempergunakan software buatanya untuk layanan dan merupakan salah satu pioneer web service. Tapi ia hanya terbatas pada publishing bukan partisipasi. Ukuran menjadi penting baginya dan membuat internet hanya dikuasai websita top saja.
Sebagai hasilnya DoubleClick hanya menyatakan “lebih dari 2000 implentasi sukses”. Sedangkan Google AdSense dan Yahoo! Search Marketing (sebelumnya adalah Overture) melayani ratusan ribu advertiser.
Hal ini disebut sebagai ‘The long tail’ yaitu konsep dimana sekumpulan situs-situs kecil yang berkumpul menjadi setumpuk web content, oleh Chris Anderson. Sementara DoubleClick hanya menawarkan jasa kontrak pada situs-situs raksasa dan membatasi market mereka, Google dan Overture mencetuskan cara untuk menempatkan iklan secara virtual ke berbagai situs.
Akamai VS BitTorrent
Seperti DoubleClick, Akamai juga berbisnis hanya dengan ‘the head’ pasar besar dan memperlancar akses ke situs dengan high-demand, dan mengambil keuntungan darinya.
BitTorrent, seperti layaknya aplikasi P2P lainya, merupakan pendekatan radikal dari desentralisasi internet. Setiap klien adalah server; file dipecah menjadi fragmen yang dapat dilayani dari berbagi lokasi, dan mempergunakan secara transparan jaringan dari para pendownload untuk menyediakan bandwidth dan data bagi pengguna lainya.
Hal ini adalah salah satu prinsip Web 2.0 dimana semakin banyak penggunanya semakin baik servisnya.

2. Harnessing Collective intelligence
Kekutan web sendiri ada dari jumlah penggunanya yang besar, yang memiliki potensi sebagai kecerdasan kolektif. Beberapa prinsip utama dibawah ini yang memungkinkan mereka memanfaatkan kecerdasan kolektif:

  • Hyperlinking sebagai fondasi web. Bertambahnya content dan situs baru akan dibatasi dari bagaimana orang menemukan dan ‘menghubungkan’ (linking to it). Maka semakin meningkat pula intensitas assosiasi antara web yang content-nya berhubungan secara organis sebagai output dari aktivitas kolektif dari pengguna web.
  • Yahoo!, terlahir sebagai katalog, direktori link, sebuah agregasi dari jutaan pengguna web. Meskipun Yahoo! berpindah ke bisnis yang menciptakan berbagi content, perannya sebagai portal pada informasi kolektif tetap menjadi core value Yahoo!.
  • Google melakukan suatu terobosan dalam melakukan search, yang tanpa diragukan lagi menjadikanya market leader di bidangnya, adalah PageRank. PageRank adalah sebuah metoda menggunakan struktur link dari suatu web bukan hanya dari content document itu sendiri untuk menyediakan hasil search yang lebih baik.
  • Produk eBay sendiri adalah aktivitas kolektif dari penggunanya; seperti web itu sendiri, eBay bertumbuh sesuai dengan response aktifitas user, dan peran perusahaan yang memungkinkan adanya sebuah konteks dimana aktifitas pengguna bisa terjadi. Apalagi kelebihan kompetitif dari eBay adalah dari jumlah penggunanya yang sangat besar.
  • Amazon menjual produk yang sama seperti Barnes & Noble, dan menerima deskripsi produk, gambar cover dan dan isi editorial yang sama dari vendor buku. Tapi Amazon lebih baik dalam berelasi dengan penggunanya: lebih banyak review pengguna, dan undangan untuk berpartisipasi dengan berbagai cara – di hampir semua web page, dan yang terpenting mereka menggunakan aktifitas user untuk menghasilkan pencarian yang lebih baik.

Sekarang ada beberapa perusahaan inovatif yang mempergunakan prinsip di atas dan mengembangkannya lebih lanjut:

  • Wikipedia
  • Del.icio.us dan Flickr : adalah pioneer dari ‘folksonomy’, sebuah cara pengkategorisasian kolaboratif dari situs dengan kata kunci bebas, atau biasa disebut tags. Tagging memungkinkan assosiasi secara secara berganda dan overlap seperti yang dilakukan otak kita. Contohnya sebuah foto ‘puppy’ (anak anjing) bisa dipasangi tag sebagi “puppy” dan “cute” – memungkinkan pengambilan data secara natural yang dihasilkan dari pengguna.
  • Produk filter spam kolaboratif seperti Cloudmark.
  • Adalah suatu kebenaran bahwa setiap kesuksesan di internet tidak mengiklankan produknya. Mereka berjalan diatas apa yang disebut “viral marketing” atau rekomendasi dari pengguna lain. Jadi jika sebuah situs bergantung dari iklan, mereka bukan termasuk Web 2.0.
  • Bahkan web-infrastructure (web-based application) bergantung dari metode peer-production open source, yang merupakan hal kolektif. Tercatat lebih dari 100,000 proyek software open source terdaftar di sourceforge.net.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah: Efek pada jaringan dari kontribusi pengguna adalah kunci dominansi pasar pada era Web 2.0.
Bloging dan Wisdom of Crowds
Salah satu fitur era Web 2.0 yang paling menarik adalah kebangkitan blogging, berkat teknologi RSS yang bisa membuat suatu web ”bertumbuh”. Tapi bukan hanya sebagai amplifier blogging juga menggunakan blog sebagai filter, hal ini seperti apa yang disebutkan James Suriowecki “the Wisdom of Crowds”, seperti PageRank akan akan menghasilkan pencarian yang lebih baik dari dokumen individual, perhatian kolektif dari dari dunia blog akan menentukan nilai content tersebut.
Blog juga dianggap pesaing oleh perusahaan media mainstream, kompetisi ini bukan hanya antar situs tapi antara model bisnis. Maka dunia Web 2.0 menjadikan kita sebagi penentu media bukan oleh sekumpulan orang tertentu yang menentukan apa yang akan menjadi berita.

3. Data is the Next Intel Inside
Setiap layanan internet dibackup oleh database dengan spesialiasi tertentu (ex. Database produk Amazon dll). Pertanyaanya adalah siapa yang memiliki data tersebut?
Untuk mendapatkanya setiap perusahaan bersaing untuk mendapatkan kelas-kelas tertentu dari sumber data: lokasi, identitas, penanggalan event publik, identifikasi produk dan nama.
Maka data dan cara amemperolehnya menjadi hal yang vital bagi perusahaan web 2.0 untuk menarik minat penggunanya.

4. End of the Software Release Cycle
Seperti pada kasus Google VS Netscape maka karakteristik software era internet adalah dhantarkan sebagi layana bukan produk. Fakta ini membuat perubahan fundamental pada model bisnis perusahaan:
• Pengoperasian menjadi core competency, bukan produk lepas. (layanan bukan produk)
• Pengguna dianggap sebagai co-developer

5. Lightweight Programming Models
Menggunakan model pemrograman yang ringan dan simpel seperti RSS. Seperti juga Amazon yang menggunakan SOAP (Simple Object Access Protocol) dan XML.

6. Software Above the Level of a Single Device
Software tidak hanya dirancang untuk satu platform saja seperti PC tapi juga perangkat lainya seperti mobile phone atau PDA.

7. Rich User Experience
Dengan teknologi lightweight programming kita dapat menghasilkan software yang lebih ringan dan menarik. Salah satu contoh revolusioner adalah G-mail yang berbasis web tapi tapi dengan interface yang mendekati PC.

Diambil dari What is Web 2.0 oleh Tim O'Reilly

Monday, September 29, 2008

27th September 2008 Class at a Glance : Product Definition & QFD

Sessi pra long holiday dibahas materi dari bukunya Sheila Mello tentang market driven product definition dan bahasan Quality Function Deployment (QFD) dari Dieter dan artikel InformIT.

Bab-1 dari Buku Customer Centric Product Definition nya Mello mengulas proses pendefinisian produk yang harus dimulai sejak awal untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Meski demikian produk juga harus membuat pelanggan delight (senang) dan kompetitif.

Bahasan juga mengulas case produk Ford yang cukup melegenda yaitu Edsel dan Mustang. Antara produk berbasis internal driven meski inovatif dibandingkan dengan kebutuhan pelanggan itu sendiri. Yang menarik pernyataan “The Company doesn’t always know best, and the Customer is not always right” mensiratkan perusahaan harus menyeimbangkan antara kebutuhan pelanggan dan inovasi perusahaan yang bisa bikin surprise pelanggan.

Serupa dengan Mello, Bab-2 Dieter membahas pula aspek problem definition dan identifikasinya melalui survey, wawancara, atau focuk group pelanggan. Mekanisme QFD diulas dengan contoh kasus pengembangan tempat CD. Step by step proses penyusunan QFD dibahas dalam sessi ini, meski dipastikan tulisan dalam gambar “rumah kualitas” nampaknya sulit untuk dibaca. Maksudnya mungkin agar partisipan mencari ari buku aslinya.


Penerapan QFD dengan sedikit improvisasi melalui Use Case dari artikel InformIT menambah wawasan terminologi QFD. Aspek ini mencoba menerjemahkan business driver ke kebutuhan teknis suatu produk. Business Driver melalui segmen pelanggan prioritas, mengarah pada penggunaan produk yang paling dominan, yang akhirnya menentukan spesifikasi suatu produk.

Untuk memperoleh materi presentasi, bisa langsung diunduh di link gambar sebelah ini.


Setengah jam sisa waktu klas, dibahas tugas untuk libur panjang dengan 2 alternatif tugas (perseorangan).
  1. Tugas ini terkait dengan konsep Web2.0 atau Social Network semacam Facebook, Hi5, Flickr, YouTube, Wikipedia dsb. Pilihan tugas ini membuat prototyping produk berbasis Web2.0 dalam bentuk simulasi, animasi atau situs itu sendiri. Akan lebih baik jika sebelum merancang ide dan usulan, melakukan riset, evaluasi, dan analisa tentang produk atau situs eksisting. Penilaian akan melihat seberapa menarik ide yang diusulkan dilihat dari perspektif pengguna internet. Meski bntuknya prototype atau simulasi, namun report dengan keterangan didalamnya harus juga disertakan sebagai bagian dari tugas.
  2. Alternatif kedua, melanjutkan atau menyempurkan, atau bisa juga merubah tugas sebelumnya tentang fitur baru yang bisa dipasang di handphone. Deliverable dalam bentuk fisik tapi dengan spesifikasi tertulis plus gambar dalam bentuk proposal.

Jadi buat yang kemarin mabal / bolos informasi ini sangat membantu untuk persiapan pertemuan berikutnya.

Selamat berkarya.

Saturday, September 27, 2008

20th September 2008 Class at a Glance : Discussion on Product for Home Broadband Environment.

.
Sessi minggu lalu kita lakukan 100% diskusi, gak ada text-book theory yang bertele-tele, gak ada PR yang harus di kumpulkan, atau daily quiz yang bisa ngabisin lembar notes buat catatan. Just Discussion, dan yang menyenangkan bahan sudah disubmit minggu sebelumnya sebagai quiz kelompok, jadi enteng banget ....Ups.. satu lagi, sessi kemaren cuman setengah jam pelajaran, what a ligth day...

Materi yang kita bahas adalah kira-kira produk inovatif apa yang bisa propose untuk dipergunakan di rumah dengan fasilitas akses broadband. Akses broadband ini bener-bener Broad, diperkirakan sampai 25 MBps sehingga streaming video sekelas DVD ga persoalan lagi, always on, flat price, sehingga tidak perlu harap-harap cemas lagi lihat kuota.

Grocery Online
Salah satu ide muncul dari kelompoknya Edbert, Pristia dan Naomi. Kelompok ini mengusulkan Grocery Online, keterangan dari Quiz yang disubmit sekedar menyebutkan belanja lewat internet yang dideliver langsung ke rumah, tapi begitu di bahas dalam diskusi keluar produknya berupa kulkas yang terhubung internet. Model bisnis, feature, case penggunaan dibahas dalam diskusi yang sepertinya menarik juga. Misalnya pengguna berlangganan dengan beberapa toko yang menyediakan database produk retail yang dijualnya, sampai pemanfaatan RFID untuk scanning barang kadaluarsa. Ada banyak scenario, kemungkinan, dan imajinasi untuk penggunaan produk ini. Satu hal yang saya lupa bahas adalah model bisnis yang bisa meniru iPod untuk konten, coba ingatkan saya di sessi offline besok.

Saya coba browse di internet apa ada produk yang serupa dengan yang diusulkan, seingat saya memang pernah ada gambaran seperti itu. Gambar dibawah ini produk dari Samsung, yang kalau dari gambarnya rada sesuai dengan gambaran yang didiskusikan, tapi coba lihat deskripsinya, lebih imajinatif mana dengan diskusi kita kemarin.


Hard to say whether this is more of a kitchen advance or a home entertainment innovation. The Multimedia Refrigerator lets you watch TV, listen to music or surf the internet with, yes, your fridge. Along with the built-in MP3 player, camera and microphone, it does a bang-up job of storing food with its fully electronic temperature control system and chilled water and ice dispenser. It also reports minor faults on-screen and has a contents page for entering and monitoring food content and expiration dates.

This is Samsung’s latest
hi-tech refrigerator model pimping the built-in ‘ICE Pad’ tablet PC for your computing pleasure. The detachable tablet, with 10.4-inch TFT touchscreen display, features food management software, a calendar, scheduler, and memo board making it easy for you to organize your kitchen life. The tablet runs Microsoft Windows CE.net 4.2 and also has Digital Wireless TV/Radio.

Transaksi internet dari kartu kredit
Kelompok kedua dari tim Sydney, Haryanto, Nurlela & Mahardiawan mengusulkan pemanfaatan kartu kredit untuk transaksi berbasis akses internet, mulai dari pembayaran billing utility seperti telepon, PDAM, Listrik, dll. Ide ini mungkin sedikit meleset dari pertanyaan dalam quiz, karena meski ini juga produk dalam hal service, namun konsep dan proses sudah exist, disamping itu issue “broad”band access jadi kurang bunyi.

Multifunction Video Conference
Kelompok ketiga dengan peserta Dikdik, Andi, Diah & David mengusulkan produk dengan judul video electronic for multifunction conference. Judulnya sepertinya keren tapi sebenernya apa maksudnya ? apa itu multifunction conference?. Tim penggagas menyebutkan fitur e-learning, medicine, meeting, shopping dan ... yang saya artikan dll. Dari diskusi dengan penggagas, ternyata boleh jadi produknya mirip produk IPTV.Bahasan diskusi menjelaskan perbedaan TV, CableTV, dan IPTV terkait dengan konten dan advertising.

Produk IPTV sebenarnya memang menjadi primadona untuk lingkungan dengan akses internet dengan pita sangat lebar. Dengan basis komputer, sebuah layar lebar bisa menjadi media interface untuk kepentingan apapun di rumah. Kalau kita berimajinasi, mungkin ada banyak pilihan dari produk ini, karena fisik produk yang disediakan sebenarnya kotak hitam sebagai prosesornya dan layar lebar plus camera sebagai media input/output. Namun aplikasi / program bisa beragam dan tergantung seberapa inovatif kita berkhayal dengan keperluan dari yang akan dikembangkan. Gambar dibawah ini contoh IPTV dari berita yang dicuplik pada pertengahan Oktober 2007, jadi ada kemungkinan sudah di deploy. Isunya perangkat tersebut terhubung dengan PS3, kayaknya kemaren luput dari materi diskusi kita.


Korea Telecom will next month connect its IPTV service that will feed shows to Sony’s PlayStation 3 games console. Tony Smith of Reg Hardware reports, “Mega TV launched in June - the same month the PS3 officially went on sale in Korea - this year as a HD-capable revamp of KT’s earlier, standard-definition only Megapass internet TV offering. Last month, KT rolled the service out to all of its broadband customers - 5.5m of them - having previously offered the service only to those in Seoul.
Not all of these subscribers also pay for Mega TV - last month, KT said it hopes to grow the IPTV service’s subscriber base to 300,000 users by the end of the year, and the deal with Sony should go some way to helping it achieve that target.
Neither Sony nor KT said how much PS3 owners will have to pay for Mega TV. However, it’s believed the player software will be made available through a download direct to the games console… er… set-top box.”




Online Shopping System
Online Shopping System diusulkan kelompok keempat (Afit, Edi, Yudha, Yudhi). Layanan ini sebenarnya secara konsep sudah dibahas di produk sebelumnya, mulai dari kulkas untuk shopping, dan juga kartu kredit meski jawaban quiz menyebutkan juga pembayaran digital yang belum ditanyakan dalam diskusi.


Home Controlling
Gagasan Home Controlling disampaikan oleh kelompok terakhir yang dibidani oleh Pace, Evi, Sabam dan Yusuf. Ide ini memang terkait dengan “always on” nya internet access, meski dalam aksesnya menggunakan handphone, tapi jelas terminal di rumah terhubung dengan akses rumah yang musti konek selalu. Ada banyak perpheral, peralatan rumah yang bisa disambungkan dengan prosesor rumah dan selanjutnya dikontrol remotely dari luar. Mulai dari perangkat di dapur coba cari aja future kitchen di google, di kamar mandi yang diskusi minggu lalu di sentil sci-fic filmnya Bruce Willis (ada yang bisa komentar judulnya?), jadi sambil buang air dapet informasi tentang kondisi kesehatan melalui check urine, datanya pun bisa disimpan harian ke database kesehatan untuk di monitor lembaga kesehatan yang mengelolanya, atau di alaman dengan web cam nya buat security, dan masih banyak lainnya. Saya coba imbuhkan gambar monitor rumah, tapi yang ini melalui TV/Internet, buat perbandingan.


Home automation though the TVHAI Home Control for Windows Media Center. "HAI OmniPro home control via Windows Media Center Edition: lighting control, security, temperature control, macros, event log, and more."







Catatan : Nama kelompok sudah dilakukan reset oleh redaksi

Ups panjang juga posting klasmaya yang ini, yaa itung-itung kompensasi setengah hari kuliah. Minggu depan, ada yang mau setengah hari lagi? Silakan komentar. Atau jangan-jangan ada ide untuk kuliah online saja ...

Wednesday, September 17, 2008

Artikel NPD nya Google



Minggu lalu, selain sedikit diulas case Samsung, sempat juga dibahas environment Google dalam Pengembangan Produk Baru. Meski ceritanya sudah 3 tahun silam namun cerita mbak Marissa menarik juga buat disimak semenarik orangnya.

Artikelnya (ringkasan dari artikel asli) pernah dimuat di Klasmaya sessi 2006, jadi bagi yang berminat bisa langsung akses ke posting dengan judul “The Beauty of Simplicity” sekitar Oktober 2006 lalu. So check it out

Monday, September 15, 2008

13th September 2008 Class at a Glance : New Product Development & Design Process

.
Klas minggu ketiga pada dasarnya melanjutkan materi bahasan minggu sebelumnya yang dominan mengacu ke bukunya Dieter bab-1. Aspek NPD yang lebih banyak terkait dengan proses dibahas disini. Seperti pada umumnya proses bisnis lainnya, proses ini juga meliputi tahapan-tahapan yang “secara umum” ada di pengelolaan NPD. Secara umum disini artinya, proses yang disampaikan relative praktikal di industri meski bukan berarti urutan proses tersebut mutlak persis seperti itu. Dalam pembahasan juga disampaikan bahwa beberapa perusahaan melakukan parallel proses, penggabungan atau penghilangan proses seandainya diperlukan.



Sessi kedua membahas aspek disain proses lebih detil. Mulai dari definisi, morphology, dan methode yang boleh dibilang cenderung lebih teoritis mengacu ke text book. Untuk menyeimbangkan wawasan NPD terkait dengan industry best practice, saya lampirkan artikel dari Business Week dengan judul “Camp Samsung” yang dibahas di klas minggu lalu melengkapi artikel sebelumnya.

Biar nggak jenuh dengan pendekatan teoritis, minggu lalu disimulasikan juga tahapan idea generation untuk usulan produk di terkait dengan fasilitas akses broadband di rumah. Beberapa usulan sudah disampaikan, mungkin lebih bagus kalau dibahas minggu depan. Sembari menunggu itu boleh lah baca-baca handout minggu lalu plus tambahan artikel dari Samsung. Kalaupun ada homework, saya akan sampaikan di klamasya minggu ini.

Thursday, September 11, 2008

Great Expectation

.
Saya coba meng’kompulir daftar harapan partisipan dari klas Pengembangan Produk Digital & Telematika (PPD&T ) yang dikolek di hari pertama. Ada beberapa poin yang boleh jadi berbeda antara harapan dengan deliverable klas ini, entah karena salah sasaran atau mencoba mengira-ngira atau sekedar menerjemahkan secara bebas dari judul mata kuliah ini.

Overall, dominant expectation sudah menuju ke arah yang benar. Dua kelompok besar memberikan pengertian yang cukup berbeda, antara memiliki pengetahuan tentang “pengembangan” produk dan “perkembangan” produk. Kira-kira mana yang lebih tepat?
  • (13) Mengetahui / mampu membuat / mendesain / merancang, mengembangkan, berperan aktif, mengolah, menjual, dan bersaing dalam memproduksi produk digital & telematika dari aspek proses / metode, dengan tujuan bisa lebih kreatif dalam berinovasi / mencipta dan sebagai pegangan sebelum kerja.
  • (11) Mengetahui bagaimana produk digital & telematika berkembang, seberapa jauh berkembang, apa saja yang sangat bermanfaat, dan dipakai di dunia kerja, untuk menganalisa jenis-jenis produk, mengembangkan wawasan.
  • (4) Memenuhi kewajiban kelulusan
  • (2) Mendapat nilai A
  • (2) Membantu tugas akhir, bahan penelitian industri telematika
  • (2) Mengetahaui seberapa besar kesempatan untuk kerja di bidang produk digital & telematika, mampu melihat peluang bisnis di telematika
  • (2) Mendapat sesuatu di luar dari yang diharapkan (?) bikin hidup lebih hidup
  • (1) Memaksimalkan kegunaan teknologi yang sudah ada sesusai keperluan dan memperbaharui sesuai perkembangan teknologi.

Monday, September 08, 2008

Layar Tancep Sejarah YouTube

Seperti yang sebelumnya pernah dijanjikan, berikut ini klasmaya menyajikan clip video yang pernah jadi konten layer tancap di klas hari pertama.



Kalau rada susah ngedenger ceritanya, boleh diputar berulang-ulang sampai “Ngngeuh (Sundanese) atau Dhong (Jogjanese)”. Tapi kalau pun masih gak jelas juga, karena mungkin sambungan langsung internasional ;-), berikut dicuplik beberapa key statement yang cukup menggambarkan ceritanya.

  • Feb 15 2005 : registered domain youtube.com, user can upload and shares video
  • April 23 2005 : the first upload video. 30.000 viewer/day promote by iPod Nano to get notice by venture capital
  • Program on television can be viewed from youtube, and people prefer to watch on youtube than on television.
  • YoutTube received 3.5 million US on funding from Sequoia Capital on November 2005. 200.000 register user and showing over 2 millions videos per day.
  • Dec 15 2005 : YouTube has staff 20, at that time it has serving more than 3 millions videos per day and adding 8 terra bytes of data since open to public May 2005.
  • Jan 2006 YouTube user watching 25 millions video per day. On March 2006 total clips available reach 25 millions, user uploading 20.000 new video per day.
  • April, bandwidth cost 1 million per month youtube gain additional 8 million funding from Sequoia Capital.
  • May Youtube surpass the CNN.com 42% market share video on internet.
  • July 13 Youtube announce that user currently viewing 100 million videos per day with over 30 member staff with over 50.000 uploaded new video per day.
  • Oct 2006 announce that YouTube being purchased by Google 1.6 billion US (16 Trilyun) , the biggest purchase Google have ever been made. The deal finalise at Nov 13.
  • Time magazine: Best Invention 2006 (invention of the year 2006).
  • 2007 YouTube has become more popular than ever, legal problem Viacom sue google 1 billion $ for copyright onYouTube.
  • YouTube 4th dotcom most visited in the world after Yahoo, MSN, and Google.YouTube is about people. Google was not investing 1.6 billion on technology of YouTube, but the user from around the world that shares video. Google wasn't buy a company it was buying a community, potentially milions of the new users.

6th September 2008 Class at a Glance : Telematics & Product Life Cycle

.
Sessi di awal September mulai dibahas materi inti dari kisi-kisi yang disampaikan pertemuan sebelumnya. Sessi ini dibahas pengertian dari terminologi telematika dan aspek utama dari Product Life Cycle (PLC). Sebagai bagian dari pengelolaan produk, Pengembangan Produk harus pula melihat secara luas tahapan siklus poduk tersebut. Ada dua kuis yang dilaksanakan pada sessi kali ini, yaitu yang terkait dengan contoh evolusi produk mengacu pada PLC, dan kuis kedua terkait dengan korelasi PLC dengan strategi pemasaran.



Seperti biasa, klasmaya sebagai satu-satunya media untuk sharing resources, telah menyediakan handout sessi lalu yang bisa langsung didownload.


Untuk sessi berikutnya saya submit artikel dengan judul “How to Design the Perfect Product” yang saya ambil dari situs majalah fastcompany . Artikel silakan dibaca (bukan cuman di download) untuk kita bahas bersama sessi depan. Selamat (gemar) membaca.

Thursday, September 04, 2008

30th August 2008 Class at a Glance : Introduction

Klas hari pertama. Seperti biasa gak jauh dari perkenalan, meskipun bukan berarti gak ada materi perkuliahan. Sessi hari itu lebih banyak melihat kelas secara besar (a big picture), sehingga partisipan yang salah ambil mata kuliah atau punya ekspektasi yang berbeda bisa buru-buru mengkoreksi sama BAAK. Tapi moga-moga even yang punya harapan sedikit meleset pun, setelah klas minggu lalu, gak rame-rame batalin kuliah.

Issue yang muncul di klas kemaren yang bakalan (moga-moga) dibahas detil, antara lain:
- Produk vs Service
- Terminologi
- Business Model
- Product Life Cycle
- Marketing Stuff
- Product Development Strategic Orientation & Process

Sekilas, sessi lalu lumayan lancar, dinamis, dengan diskusi yang cukup berisi. Sebelum klas berakhir, seperti yang dijanjikan diawal pertemuan, ada pemutaran film tentang sejarah YouTube. Saya mau taruh di sini tapi karena saat ini saya akses dari kantor, saya gak bisa nyaman akses karena di blok. Moga-moga kalau bisa akses, clip bisa muncul disini. Seperti biasa klasmaya menyediakan handsout minggu lalu yang bisa langsung diunduh disini.



Klas besok, kalian siapin saja materi sesuai jadwal.

Tuesday, September 02, 2008

Selamat Datang Partisipan Baru

Anggap saja posting ini sebagai pembuka dari perkuliahan di Semester Genap 2008 untuk Pengembangan Produk Digital dan Telematika. Cuman maaf sampai hari ini saya belum bisa submit handout sessi minggu lalu, moga-moga minggu ini bisa selesai di submit.

Selamat bergabung untuk partisipan baru, semoga session ini bisa lebih semarak, gayeng, dan bermakna melalui kontribusi interaktif antara pengelola klasmaya dan anda sebagai partisipan sudah tentu.

Ciao

Monday, June 09, 2008

The Six Hats method

.
Early in the 1980s Dr. de Bono invented the Six Thinking Hats method, a framework for thinking and incorporate lateral thinking. Valuable judgmental thinking has its place in the system but is not allowed to dominate as in normal thinking.

The six hats represent six modes of thinking and are directions to think rather than labels for thinking. That is, the hats are used proactively rather than reactively.
The six hats system encourages performance rather than ego defense. People can contribute under any hat even though they initially support the opposite view. The key point is that a hat is a direction to think rather than a label for thinking. The key theoretical reasons to use the Six Thinking Hats are to:
• encourage Parallel Thinking
• encourage full-spectrum thinking
• separate ego from performance

Argument versus Parallel Thinking in a Changing World
The basic idea behind Western thinking was designed by the Greek "Gang of Three" and is based on argument. Socrates put a high emphasis on dialectic and argument. He wanted to clarify the correct use of concepts like justice and love by pointing out incorrect usage. Plato believed that the "ultimate" truth was hidden below appearances. Aristotle systematized inclusion / exclusion logic.

As a result, Western thinking is concerned with "what is," which is determined by analysis, judgement and argument. That is a fine and useful system, but there is another whole aspect of thinking that is concerned with "what can be," which involves constructive thinking, creative thinking, and "designing a way forward."

From the past we create standard situations and we judge into which "standard situation box" a new situation falls. Once we have made this judgement, our course of action is clear. Such a system works very well in a stable world in which the standard situations of the past still apply. But in a changing world the standard situations may no longer apply. We need to be thinking about "what can be," not just about "what is."

Unlike traditional thinking in which each tries to prove the other party wrong, in parallel thinking, both views, no matter how contradictory, are put down in parallel. If, later on, it is essential to choose between the differing positions, then an attempt to choose is made at that point. If a choice cannot be made, then the design has to cover both possibilities. At all times the emphasis is on designing a way forward.

Directions (Not Descriptions) and Hats
The essence of parallel thinking is that at any moment everyone is looking in the same direction — but the direction can be changed..The hats used to indicates some direction labels for thinking and a role symbol. People are said to be wearing a certain hat, it can be put on or taken off with ease, it is also visible to everyone around. There are six colored hats corresponding to the six directions of thinking: white, red, black, yellow, green, blue.

The hats are directions and not descriptions of what has happened. It is not a matter of everyone saying what they like and then the hats being used to describe what has been said. It is a matter of setting out to think in that direction. A description is concerned with what has happened. A direction is concerned with what is about to happen.

White hat thinking means a deliberate focus on information that is available and needed, questions to be asked, other ways of getting information, and so on. This covers facts, figures, information needs and gaps.

Red hat is a specific request for feelings, intuition and emotions on a particular issue. The red hat allows the thinker to put forward an intuition without any need to justify it. Usually feelings and intuition can only be introduced into a discussion if they are supported by logic. The red hat gives full permission to a thinker to put forward his or her feelings on the subject at the moment.

Black hat describes thinking that seems to be cautious, danger and seems to point out possible difficulties. The black hat is used to point out why a suggestion does not fit the facts, the available experience, the system in use, or the policy that is being followed. The black hat must always be logical.

This is the logical positive. Why something will work and why it will offer possible benefits and values. It can be used in looking forward to the results of some proposed action, but can also be used to find something of value in what has already happened.

This is the hat of creativity; new ideas, alternatives, proposals, what is interesting, provocations and changes.

This is the overview or process control hat. It looks not at the subject itself but at the 'thinking' about the subject. "Putting on my blue hat, I feel we should do some more green hat thinking at this point." In technical terms, the blue hat is concerned with meta-cognition.

Not Categories of People
It is possible to create tests to determine whether a person is type A or type B, or any similar descriptive discriminations. The difficulty is that once people have been put into "boxes" they tend to stay there. Again, that is an example of "what is" instead of "what can be."

There is a huge temptation to use the hats to describe and categorize people. The hats are not descriptions of people but modes of behavior. People may prefer one mode to another and might be better at one mode than another. Nevertheless, the hats are not categories of people. Every person must be able and skilled, to look in all the directions. The whole point of parallel thinking is that the experience and intelligence of everyone should be used in each direction.

Playing the Game
Ever since Freud, the emphasis has been on analysis: find out the deep truths and motivations for action. Instead of focusing on personality he chose to focus directly on behavior, the Six Hats method follows the Confucian approach that urged you to use the right behavior with your colleagues, your subordinates, your superiors and your family. Getting people to "play the game" is a very powerful form of changing behavior.

Power and Time Saving
With the Six Hats method, the intelligence, experience and knowledge of all the members of the group are fully used. Everyone is looking and working in the same direction. The focusing of the mental ability of many people on a problem can more easily solve that problem.

With parallel thinking, every thinker at every moment is looking in the same direction. The thoughts are laid out in parallel. You do not respond to what the last person has said. You simply add another idea in parallel. In the end, the subject is fully explored quickly.

Removal of Ego
Confrontational and adversarial thinking exacerbate the ego problem. Six Hats thinking removes it, you exert your ego by performing well as a thinker under each of the hats.

One Thing at a Time
With the Six Hats method, we try to do only one thing at a time. Underneath all this is the absolute physiological need to separate out the types of thinking. You cannot be sensitized in different directions at the same time, so when we set out to do all aspects of thinking at the same moment, we are going to be suboptimal on all of them.

Friday, May 30, 2008

Nilai Akhir EL-102 sessi 2008

.
Daftar Nilai Akhir EL-102 sudah saya kirim ke BAAK lewat email beberapa hari lalu. Sesuai janji saya di posting sebelumnya, analisa aspek lain akan disampaikan pada kesempatan ini.

Ada tiga aspek lain yang masuk dalam penilaian akhir, antara lain Quiz, Homework dan Assignment. Untuk mempermudah kajian, ketiganya digabung dalam satu gambar dibawah ini.
Penilaian Quiz relatif memberikan pencapaian yang sangat baik, dengan rerata di angka 84.88 jika tanpa memperhitungkan dua partisipan yang tidak memiliki nilai. Aspek ini berkontribusi sebesar 20% dari total penilain.

Sementara Homework relatif kurang memberikan pencapaian yang cukup bagus dengan rerata di angka 78.30. Namun angka tersebut belum termasuk persisnya sepertiga dari partisipan yang tidak mengirimkan PR nya. Kalau partisipan masih ingat, ada dua PR yang pernah diberikan yaitu kasus Akamai&Inktomi dan Celullar Price War di Indonesia. Porsi Homework memberikan pengaruh 15% ke penilaian total.

Aspek ketiga adalah Tugas yang diambil dari presentasi & bedah bab buku dan tugas terkait portal dan/atau tulisan mengenai Wimax. Meski reratanya di angka 68.35, namun tidak ada partisipan yang tidak memiliki nilai pada aspek ini. Wajar saja karena paparan bab buku merupakan tugas kelompok. Tugas portal meskipun masih belum 100% sesuai dengan requirement yang diberikan namun setidaknya mendekati tiga perempat partisipan yang menyampaikan tugasnya. Portal tersebut antara lain cellular-invasion, learnclass, dan betahita.

Secara keseluruhan dari ketiga aspek ini, terdapat lebih dari separuh total pencapaian dengan nilai diatas 70. Sementara nilai dibawah 50 diberikan oleh sekira 15% dari populasi.
Jika digambarkan result share dari total penilaian akhir, sekira 38% mendapat nilai Baik (A, B+, dan B) dengan 12% sendiri sangat memuaskan. Nilai Cukup (C+ dan C) juga memberikan porsi 38%, sedangkan sisanya D kebawah. Perhitungan Result Share ini dihitung dari jumlah partisipan yang secara formal dan legal diakui Institusi. Dari pengamatan saya, ada satu partisipan yang di exclude dalam daftar nilai yang dikirim.

Akhirnya, selamat & sukses.

Thursday, May 29, 2008

Editing di Klasmaya eh maksudnya di blogspot

.
Seminggu ini saya a bit frustated dengan layanan blogspot. Submit terakhir saya tentang Final Result seharusnya sudah bisa saya imbuhkan dua gambar grafik yang bisa lebih menjelaskan gambaran besarnya. Namun beberapa kali saya edit, feature imbuhan image dan tombol editing lainnya tidak muncul di layar. Ada kemungkinan server di blogspot sangat sibuk sehingga beberapa fasilitas tidak bisa di terlayani. Kemungkinan lain, internet di kantor membatasi akses featur di situs semacam blogspot. Pernah suatu hari agak larut malam akses blogspot di kantor, feature editting nya muncul. Saya tidak tahu pasti, yang pasti kondisi ini bikin kesal.

Sempat terlintas dalam pikiran untuk churn ke penyedia layanan lain, multiply misalnya atau ada yang bisa kasih masukan situs mana yang relatif bagus.

Namun ngomong-ngomong tentang blogspot, tugas terkait bikin portal untuk industri telematika relatif semuanya (sebenarnya cuman 3) milih layanan blogspot. Entah tahunya situs itu atau ada kaitannya dengan klasmaya.

Ngomong-ngomong tentang tugas portal, meski ada 3 projek yang di submit, sebenarnya juga belum tepat dengan apa yang dimaksud. Tugasnya sebenarnya adalah membangun portal informasi terkait industri telematika. Portal yang dimaksud tidak mutlak harus dibangun dengan blog apalagi pake blogspot. Mungkin situs dengan menggunakan plain html juga bisa, asalkan menyediakan data dan informasi terkait industri telematika.

Sebagai contoh, portal dapat menyediakan data market share dari industri seluler, dengan menyajikan data jumlah pelanggan dari operator-operator seluler yang beroperasi di Indonesia. Data nya bisa diacu ke news yang disubmit atau beri link ke alamat situs operator atau situs lain (tapi persis di address yang spesifik).

Contoh lain, portal juga bisa menyediakan data finansial provider telematika di Indonesia. Bisa dalam bentuk tabel, syukur dengan analisanya. Sumber datanya bisa dari laporan keuangan provider yang di link kan dalam portal atau sumber berita lain.

Memang terkait dengan news feeder dari berita lain dan pengelolaan tulisan, lebih mudah dilakukan melalui web blog. Tapi saya melihat tugas yang disubmit malah jadi salah kaprah, bikin blog dengan tema telematika thok!. Padahal seingat saya, framework 5 Forces pernah saya sampaikan waktu ngejelasin tugas ini.

Tapi yaa udah, minimal ini jadi pelajaran berharga, lain waktu kalau bikin tugas ini musti dari awal sehingga bisa dimonitor, dievaluasi, improve, dan dikoreksi kalau belum tepat dengan soalnya.

Thursday, May 22, 2008

Final Result EL-102 Session 2008

.
Penilaian UAS kemarin pagi sudah saya kirim ke institusi, anda yang merasa partisipan klas ini dan mengikuti test bisa periksa di institusi.

Ada sedikit analisis dari final result tersebut. Jika kita bandingkan antara pengikut mahzab SK dan EL ternyata rerata (tanpa melihat partisipan yang absent) dari EL sedikit diatas SK dengan selisih poin 5.01 (58.92 & 53.91). Namun jika melihat per-partisipan, tim SK memiliki partisipan yang menyandang nilai tertinggi (84). Secara keseluruhan rerata perolehan di angka 56.52, namun jika partisipan yang absen diperhitungkan hanya memperoleh angka 48.15. Sekilas angkanya cukup memprihatinkan, kita berharap poin dari materi lain bisa banyak membantu.

Jika kita gambarkan dalam grafik dibawah ini, hasilnya relatif cukup menggambarkan distribusi normal. Dengan sekira 52.17% berada di kisaran 50-70.
Dilihat dari aspek kontribusi dan keaktifan di klas offline, lagi-lagi pengikut sekte EL masih diatas SK, bahkan dengan angka yang lebih tinggi di 17.22 poin (65.56 & 48.33). Kali ini the most active participant berada di sekte EL. Secara keseluruhan rerata perolehan di angka 56.28, hampir mirip dengan rerata di final test.

Grafik berikut menunjukkaan distribusi populasi pencapaian dari total partisipan. Jika kita kelompokkan dalam tiga bagian, relatif cukup merata dengan angka berturut-turut 34.6%, 38.5%, dan 26.9% yang menggambarkan below, average, dan above.
Bagaimana dengan aspek lain, kita tunggu hasil pengukurannya.

Friday, May 09, 2008

8th May 2008 Class at a Glance : KM 20/2001; Telco Challenge; Class Review

.
Klas hari terakhir, yang seharusnya di tanggal 3 Mei 2008, dibahas KM 20/2001 (http://www.4shared.com/file/46949509/66f07b78/km20thn2001_Peny_Jar_Telko.html) tentang Penyelenggaraan Jaringan telekomunikasi. Regulasi ini sebenarnya menjadi dokumen yang menjelaskan UU 36/1999 meskipun beberapa again di revisi khususnya melalui KM 29/ 2004 dan KM 30/2004 yang penah kita bahas di posting sebelumnya. Sengaja saya bahas konten regulasi ini karena kemungkinan besar ada kaitannya dengan soal UAS besok. Tapi meskipun posting ini belum di submit seharusnya pemirsa sudah bisa download langsung di situs resmi Dirjen Postel.

Bahasan kedua, diisi dengan Class Review yang mengulas semua handout yang pernah ditayangkan. Beberapa slide di high light untuk penegasan terutama jika terkait dengan soal UAS besok, he he he lagi-lagi bocoran soal.

Sisa waktu dibahas aspek regulasi yang saya dapat dari kolega di “institusi” lainnya. Issue regulasi ini menjadi salah satu pressure dominant di Telco challenge selain, Competition, Technology dan Life Style. Ada yang masih ingat kenapa Technology menjadi pressure juga ? padahal seharusnya menjadi business enabler dan peluang new revenue generator ?. Handout juga memaparkan masa depan bisnis telekomunikasi yang mulai beralih ke mainstream mobile dan IP. Sementara di sisi regulator, interest dari pemerintah yang cenderung ke aspek Increasing Teledensity, National Efficiency and Competitiveness, Fair Competition, dan Customer Protection diwujudkan dalam banyak aturan, keputusan, dan regulasi yang cenderung “unbundled to permit new entrants to be viable”. Handout belum bisa saya share disini karena belum minta ijin sama nara sumber, toh beok juga nggak akan muncul di UAS.

Beberapa partisipan di klas terakhir ini sudah mensubmit tugas terkait dengan teknologi Wimax. Saya memberi kesempatan seandainya tulisan tersebut bersedia di share dalam klasmaya, dapat langsung email ke alamat saya yang asli, he he.

Dalam kesempatan ini saya mohon maaf jika dalam penyelenggaraan kegiatan klas ini ada yang tidak berkenan atau menyinggung, termasuk belum memuaskan banyak pihak. Semoga kesempatan lain dapat lebih ditingkatkan.

Terakhir, selamat mempersiapkan final test, semoga sukses.

Tuesday, May 06, 2008

3rd May 2008 Apology

.
Kalau tidak salah, ini posting Apology yang kedua dalam season klasmaya EL-102 2008. Di awal memang sempat terbersit buat bikin long week end dari libur hari Kamis lalu, meski sedikit ragu buat acaranya. Sampai hari Jum’at sore keputusan itu baru bulat itupun saya baru coba kontak (meski susah) ke Institusi menjelang malam.

Punteun....... Emang nggak fair, main ganti jadwal seenaknya, tapi itulah hidup, kalian akan temui banyak hal yang sepertinya gak adil tapi ”it happens”, so hitung-hitung berlatih menghadapi hidup lah.

Klas pengganti, saya sudah koordinasi dengan bagian BAAK untuk jadwalnya. Seingat saya ini klas terakhir sebelum UAS yang saya pun belum dapat jadwalnya. Saya sudah minta dialokasikan jam 07:00 di hari Kamis s/d Sabtu.

Konfirmasi dari ”The Institute”, klas pengganti jadinya hari Kamis tanggal 8 Mei 2008 Jam 07:00 di ruang Basement (bukan di Underground). Jadi see you there.

Tuesday, April 29, 2008

Quote of this Month (05/08)

.
“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change.”
Charles Darwin (12 Februari 1809 – 19 April 1882)

26th April 2008 Presentation Time : Public Network; Analog&CableTV Modem

.
Sebelumnya saya pikir masih kurang 3 topik lagi yang belum dipaparkan, ternyata hanya tinggal 2 kelompok yang minggu lalu memaparkan bahasannya. Namun karena beberapa partisipan khususnya anggota kelompok tersebut terlambat hadir, klas dimulai dengan diskusi (brain storming) tentang pricing di industri telekomunikasi.

Dari hasil diskusi tersebut, ada dua model penetapan pricing. Model pertama terkait dengan tarrif cap yang ditetapkan regulator, Cost of Good Sold (COGS) dari operational business, harga di pasar dan target revenue perusahaan yang berdampak pada margin dan price yang ditatapkan. Model kedua mengacu pada ARPU (Average Revenue per User) yang secara sederhana merupakan turunan dari angka Revenue (Sales) dengan total jumlah pelanggan. Namun bahasan ARPU belum sampai ke price, diskusi harus dihentikan untuk mulai sessi presentasi dari kelompok 5 dan 7.

Topik Public Network jika kita acu ke bab-5, pada dasarnya membahas perbedaan antara layanan terhubung dan layanan dedicated (jalur privat).Atribut layanan terhubung antara lain : Pengalamatan; Bayar sejauh anda pergi; Tarif pos; Sesuai tuntutan; Segera; Layanan Terhubung untuk Data; dan Penghubung rangkaian-ketidak efisienan jaringan; dipaparkan dalam bahasan tersebut. Sementara untuk atribut layanan Dedicated : Biaya bulanan tetap; Rute tetap; Penggunaan eksklusif; Ketersediaan 24jam sehari; Suara,video dan data; serta Kapasitas tetap. Bahasan lain terkait dengan topologi jalur dedicated, meski konten pensinyalan (SS7) tidak diulas pada paparan.

Kelompok 7 memaparkan tentang Modem dan Peralatan Akses. Bahasan meliputi Data Circuit-terminating Equipment (DCE), antara lain : Modem; NT1s; CSU / DSU (Data Service Unit); Modem PCMCIA, Modem kabel, Set-top boxes.

Pertemuan offline (tatap muka) tinggal satu kali lagi. Mungkin klas berikut akan lebih banyak me’review seluruh pertemuan sebelumnya, sekalian bahasan kisi-kisi UAS. So be there or be behind.

Monday, April 28, 2008

Telecosm

.
Posting ini lagi-lagi merefer dari artikel di Internet. Kali ini diambil dari satu artikel di situs Technology Review yang mengulas sedikit tentang Telecosm, istilah yang di”karang” oleh George Gilder. Artikel yang ditulis oleh Mark Williams ini khusus meliput state / status / tingkatan / level dari kondisi Telecosm di tahun ini.

Tulisan lengkapnya bisa diacu langsung ke artikel aslinya, syukur-syukur kalau mau browsing tentang terminologi telecosm dari pak Gilder. Ada satu artikel di Kompas minggu lalu yang saya lihat cukup mirip dengan artikel ini yang ditulis oleh Ninok Leksono, hanya beliau lebih fokus pada Internet Crash.

The State of the Global Telecosm
By Mark Williams

This past February, 12,000 members of what is perhaps the most important technology industry converged on San Diego's for their annual conference. Since 2005 this event has been called the Optical Fiber Communication Conference and Exposition and the National Fiber Optic Engineers Conference.

Nearly one terameter (1,000 million kilometers) of fiber-optic cable encircling the earth effectively makes up our global civilization's central nervous system, since it carries Internet traffic and all international telecommunications. The world's data traffic, moreover, is doubling in volume every two years and People have been predicting that the Internet would crash.

What's a telecosm?. In 2000--the year communications carriers and technology suppliers saw their stock begin to collapse-- George Gilder had published a book called Telecosm (whose original subtitle was How Infinite Bandwidth Will Revolutionize Our World). In those days, any company endorsed by Gilder's monthly newsletter--which by the late 1990s mainly endorsed companies involved in the global build-out of optical networks--immediately experienced the "Gilder effect": its stock value surged.

In 1989 Gilder established himself as a technology pundit: after published Microcosm, which assessed the microchip revolution. In 1990 he published Life after Television, which predicted that "teleputers" connected by fiber-optic cable would make broadcast television obsolete.

Gilder argued that just as the microprocessor had introduced previously unimaginable processing power, so the fiber-optic construction boom would usher in a world of instantaneous communication and infinite bandwidth: the telecosm. He predicted that it would make "the CPU ... peripheral, the network central," and that it would enable anyone to launch a product, company, or political movement. But every boom must go bust, and the crash of the telecommunications industry, when it came, proved worse than the bursting of the dot-com bubble. More than $500 billion was lost in just a few years. Between 2001 and 2004, 216 telecommunications companies went bankrupt--most notably Worldcom ($104 billion in assets), whose CEO, Bernie Ebbers, received a 25-year jail sentence for what remains the largest accounting fraud in U.S. history. Meanwhile, hitherto stable industry giants like AT&T staggered.

Ethernet coinventor Bob Metcalfe had told his audience that 1,000-gigabyte-per-second Ethernet (terabit Ethernet) would emerge around 2015. He pointed to video, new mobile, and embedded systems as the factors driving this rising data flood: "Video is becoming the Internet's dominant traffic, and that's before high definition comes fully online. Mobile Internet just passed a billion new cell phones per year. Then totally new sources of traffic exist, like the 10 billion embedded microcontrollers now shipped annually."

Did Metcalfe believe that the existing infrastructure-- built in the boom years, when great excesses of fiber-optic cable were laid down--could support terabit Ethernet? "That dark fiber laid down then is being lit up, and some routes are now full," he said. "That's the principal pressure to go to 40 and 100 gigabits per second. It seems we can reach those speeds with basically the same fibers, lasers, photodetectors, and 1,500-nanometer wavelengths we have, mostly by means of modulation improvement. But it's doubtful we'll wring another factor of 10 beyond that." Thus, the backbone networks would need to be overhauled and new technologies implemented.

Likewise, on the trade-show floor, a global network with infinite bandwidth and
instantaneous transmission--were becoming available in 2008. Companies exhibited products that made use of silicon photonics: Lightwire, for instance, offered a lightweight transceiver designed to greatly improve upon the SFP+ modules currently used to connect servers and network equipment. Since photons move much faster and scatter much less heat than electrons, it promises to reduce power dissipation by more than half.

However, the economy was sinking and the industry needed to undergo consolidation. And who would pay the up-front costs for these next-generation networks?
Jag Bolaria, a Linley Group analyst : "In Europe and even parts of Asia, they're getting significantly more--maybe 10 megs. But in America, carriers own the pipes, and we don't really see much competition. If they don't want to give you much bandwidth--and AT&T and other carriers are selling T1 lines and charging seriously for them--you don't get much bandwidth.

Bolaria was guardedly optimistic about the future. "We're slowly moving toward more than 25 megs of bandwidth in a fiber-optic pipe into the house," he said. "I think as you start getting two- to five-meg uplinks, then you'll reach the point where users can put their own content in high definition." That, he speculated, might change Hollywood as radically as the Internet had already changed newspapers. "Overall," he said, "I'm
looking forward to the time when you can truly choose or create your own content, as opposed to 'This is what you get and how much you pay for it."

Tuesday, April 22, 2008

19th April 2008 Presentation Time : Telephony & Cabling System; Network Service Provider & Local Competition; Specialized Network Service

.
Klas minggu lalu, meski sebelumnya ada rumor kalau saya kemungkinan bakal gak masuk, tapi jumlah yang hadir lebih dari rata-rata. Itu berita positif, berita negatifnya masih terlihat juga, satu dua partisipan yang terlambat 10-20 menit bahkan ada juga yang baru nongol setelah hampir separuh waktu klas.

Posting kali ini, seperti posting sebelumnya, saya coba bahas materi yang tempo hari di paparkan sebagai tugas kelompok. Bahasan pertama dari materi dengan konten Telephony & Cabling System, yang diambil dari bab-2 buku A.Zodd. Topik meliputi Sistem Telepon (PBX, Centrx, Key System), Aspek Penjualan dari Telepon Mandiri, dan Media koneksi / pengkabelan.(Fiber & UTP)

Paparan kedua membahas topik terkait dengan Network Service Provider & Local Competition. Kalau saya lihat di buku asli edisi 2000, materi ini ada di bab-4, namun mengacu ke buku terjemahan, konten ini ditulis di bab-3 dengan bab-4 membahas regulasi di US. Konten antara lain mengulas faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri telekomunikasi, antara lain Globalisasi Ekonomi, Peraturan Pemerintah (khususnya aturan divestitur 1984 dan regulasi 1996 di AS), dan Perkembangan Teknologi (khususnya CaTV, FO, dan Wireless).

Disisi kompetisi lokal, diulas strategi memasuki pasar panggilan lokal antara lain melalui Resale, CableTV, dan Wireless. Dibagian lain dijelaskan 3 jenis reseller (Resseller, Switchless Reseller, dan Agents) lebih spesifik. Masih di kelompok yang sama, diulas pula terminologi dan penjelasan CLEC dan IEX termasuk case AT&T.

Paparan dari tim ke-3 membahas bab-6 dengan thema terkait dengan Layanan Jaringan Terspesialiasasi. Meski ada beberapa layanan yang termuat di buku, namun tim memfokuskan pada layanan ATM, SONET dan DSL. Tim sudah mengacu pula arsitektur jaringan terspesialisasi dari materi di Internet, namun sayang gambar tidak dijelaskan lebih jauh,. Paska paparan didikusikan pula perbedaan istilah asynchronous di ATM dan ADSL.

So far, masih kurang 3 kelompok lagi yang belum memaparkan bahasannya. Kita tunggu pertemuan depan, semoga bisa lebih ”gayeng” lagi.

Monday, April 21, 2008

Masih Soal Perang Tarif

.
Cuplikan artikel Kompas dengan judul "Persaingan Tarif Murah Hanya Ilusi", mungkin untuk menyeimbangkan kadar berita selain dari luar negeri yang pernah dibahas sebelumnya. Tadinya saya mau cuplik sedikit bagian saja dari tulisan wartawan kawakan Hendrowijono yang menspesialisasikan di industri telematika, namun ternyata kontennya cukup menarik untuk dilewatkan. Alhasil cuplikan (90%) inilah jadinya.

Meski seharusnya bisa di acu ke situs Kompas yang memuat artikel tersebut, namun saya agak sreg kalau di muat di sini (mohon ijin mas Hendro). Konten lebih ke perang tariff dan sedikit isu peningkatan valuasi korporasi di bagian akhir, selamat menikmati.

Jorjoran tarif yang dikesankan murah membuat silau banyak calon pelanggan. Tarif murah jadi promosi bagi operator baru untuk memikat calon pelanggan, tetapi menjadi perang tarif kalau operator besar ikutan meski promosinya berjangka (IM3 mulai detik ke-90 hanya berlaku sampai 30 April 2008).

Kebijakan operator inkamben menurunkan tarif mengguncang pasar selain di internal juga ada jejasnya. Terlalu sering mengubah tarif memengaruhi keuangan karena setting dalam sistem dan pemasaran perlu biaya besar.

Di sisi lain, tarif turun merangsang optimalisasi perangkat operator membuat biaya per lalu lintas (traffic) percakapan jadi lebih rendah. Sejak Simpati PeDe Telkomsel diluncurkan, beban perangkat di atas normal, sama seperti saat Lebaran atau pergantian tahun yang rata-rata 3-4 kali traffic harian.

Operator yang ”pas-pasan” menjadi cercaan pelanggan ketika lonjakan traffic memanaskan jaringannya sehingga banyak percakapan terputus (drop call). Risiko ini yang harus diperhitungkan operator jika akan menurunkan tarif.

Biaya percakapan mustahil murni Rp 0,0000… 1 per detik karena perangkat tidak gratis meski tingkat efisiensi operator dan optimalisasi perangkat menekan biaya operasi, terutama untuk panggilan sesama pelanggan (on net). Panggilan ke operator lain (off net) tak bisa murah sebab ada biaya interkoneksi yang harus dibayar.
Menurut survei, rata-rata percakapan telepon 40 detik, dan yang paling lama dua menit per panggilan. Karena itu, tarif kurang dari satu sen per detik tak lain ilusi jika ada embel-embel berlaku setelah sekian menit atau sekian puluh detik, atau pada jam-jam tertentu.


Iklan-iklan yang gencar itu efeknya membodohkan masyarakat secara terstruktur. Masyarakat yang sangat peduli biaya disilaukan adonan tarif yang sepintas murah.

Dengan syarat on net, pelanggan operator besar yang diuntungkan dibanding operator (baru) yang pelanggannya sedikit. Pelanggan PeDe atau As punya lawan bicara 52 juta keluarga Telkomsel, pelanggan Indosat sekitar 25 juta, dan XL 16,5 juta.

XL Bebas tawarkan tarif murah Rp 0,00…1 setelah 3 menit, IM3 Indosat setelah 90 detik, atau Kartu As Telkomsel 3 menit gratis setelah dua menit. Padahal, dengan tarif Rp 0 pun operator untung asal berlaku setelah 2 menit sebab biaya operasi tertutup di menit pertama yang bertarif normal.

Pelanggan yang ingin murah, tetapi harus bicara panjang malah terjebak harus bayar mahal. Pelanggan harus lebih jeli dan tidak terperangkap pada ilusi yang ditebar operator sebab yang paling ”bersih” hanyalah tarif tanpa syarat dan berlaku sejak detik pertama.

Esia tanpa syarat apa pun Rp 50 per menit on net. Sayangnya, Esia baru ada di 34 kota—tahun ini di 100 kota—sehingga ke banyak kota percakapan tidak bisa on net karena masih no net.

Flexi Rp 49 per menit punya 6 jutaan pelanggan, Smart Rp 45, dan StarOne Rp 19, masing-masing di bawah 500.000 pelanggan, tetapi Esia kini 4,2 juta dan 7 juta pada akhir 2008. Sampai 3 menit Esia hanya memotong pulsa Rp 150, PeDe Rp 1.560, As Rp 2.400, XL Bebas Rp 1.800, Mentari Rp 4.500, IM3 Rp 1.350.
Tarif 10 menit percakapan off net, Mentari dan PeDe Rp 32.000, Hutchison Rp 20.000, dan Esia hanya Rp 8.000. Tetapi, IM3 bertahan pada Rp 1.350 dan pelanggan XL Bebas kena Rp 1.800.


Di tataran lain, perang tarif demi sebanyak mungkin pelanggan jadi bumerang karena hanya operator bermodal sangat besar yang bertahan. Mungkin 2 atau 4 tahun lagi ada operator bergelimpangan, dibeli operator besar atau merger, apalagi operator besar sudah mulai kekurangan frekuensi.

Kecuali operator baru yang didukung penuh operator dunia induknya karena setiap penambahan pelanggan meski hanya berupa aktivasi akan meningkatkan nilai perusahaan induk di bursa. Operator baru tadi mendapat insentif yang besarnya melebihi biaya modal per pelanggan sehingga mereka tak peduli apakah kartu perdana dibuang pelanggan setelah pulsanya habis.

Konsolidasi di China

.
Beda di Selandia Baru, beda lagi di China. Kalau berita di negara Kiwi tempo lalu membahas pemisahan bisnis dari incumbent nya. Kondisi industri telekomunikasi di China, mungkin malah berencana konsolidasi. Beberapa tahun lalu memang ada pemisahan misalnya China Mobile lepas dari China Telecom, namun sekarang kembali muncul restrukturisasi dalam artian merger.

Kondisi ini juga pernah di perkirakan para analis termasuk yang pernah kita bahas di posting lalu yang diambil dari jurnal PWC. Konsolidasi, selanjutnya bikin paket bundle dari konvergensi bisnis. Bagaimana di Indonesia ? Beberapa praktisi dan analist menyebutkan 2-3 tahun ke depan dari kondisi industri (khususnya) seluler yang semakin kompetitif, diperkirakan akan muncul konsolidasi. Selain konsolidasi diharapkan juga muncul ekspansi global biar gak cuman jadi jago kandang aja.

Berikut cuplikan dari artikel dengan judul : Are China's Carriers Looking At Consolidation?

China Telecom reportedly is reviewing plans to roll out service packages that bundle fixed-line and CDMA wireless services in anticipation of a possible restructuring of Chinese telecom operators.

In China today, there are six state-owned telecom carriers: China Mobile, China Unicom, China Telecom, China Netcom, China Tietong and China Satcom. Some analysts have been saying most of these carriers want such a "restructuring," which really means mergers, as soon as possible "because the market is highly unbalanced, with China Mobile being the strongest operator and the fixed-line operators losing customers."

A widely quoted rumor has China Tietong merging with China Mobile, China Netcom merging with China Unicom and China Telecom acquiring China Unicom's CDMA business. Some of this could happen before the Beijing Olympic Games begin in August.


China Telecom are making preparations to acquire China Unicom's CDMA network and they will offer service packages that bundle broadband, personal handy-phone system (PHS) services, fixed-line telephone and CDMA mobile services.

Tuesday, April 15, 2008

12th April 2008 Presentation Time : Internet; Class at a Glance : KM 29, 30, 35

.
Klas minggu ini sedikit mengecewakan. Semestinya jadwal paparan tugas klas minggu ini minimal ada dua bahasan yang dipaparkan. Sehingga dalam dua hari lagi masing-masing dapet 2-3 bab, nyatanya hanya ada satu bahasan. Pertemuan tinggal menghitung hari saja. Mungkin masih ada sisa waktu 2 (?) pertemuan lagi, sementara masih ada 7 bab yang belum dibahas.

Satu paparan pada klas minggu ini diambil dari kelompok 8 tentang Internet. Dibahas dari mulai sejarah Internet, layanan Internet, WWW, HTML, Hosting, Privasi, sampai alamat internet. Cukup lugas, meski beberapa bagian hilang, seperti Intranet & Extranet, atau markup language lain. Handout sudah bisa di unduh (download) dari sini, namun saya menyarankan pemirsa baca buku asli atau terjemahannya untuk lebih melengkapi cerita, dan ini juga berlaku untuk bab lainnya.

Sessi kedua, setelah menunggu paparan dari kelompok lainnya yang belum bisa ditampilkan, dibahas Kepmen 29 dan 30 Tahun 2004 tentang perubahan Kepmen 20 Tahun 2001 tentang penyelenggaraan telekomunikasi. KM 29 lebih menekankan pada penyelenggaran jaringan tetap (Jartap) yang dibagi menjadi Lokal, SLJJ, dan Internasional untuk menyelenggarakan jasa teleponi dasar. Sementara KM 30 dibahas penyelenggaraan jasa teleponi dasar dan multimedia selain dibahas pula penyelenggara jaringan bergerak (seluler, radio trunking, dan satelit) yang saya belum dapet KM yang membahas spesifik penyelenggaran jaringan bergerak.

Satu lagi bahan regulasi yang dibahas pada pertemuaan minggu ini. KM 35/2004 tentang Penyelenggaraan jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas. Regulasi ini yang memungkinkan produk Flexi, StarOne, atau Esia muncul di pasaran. Definisi mobilitas terbatas, bagaimana penyelenggaraanya, maupun tarif dan biaya dibahas dalam Kepmen tersebut. Meski sedikit tricky, fasilitas Combo pada Flexi maupun GoGo pada Esia masih dimungkinkan dan comply dengan regulasi fixed wireless ini.

Note: Kemungkinan dalam satu minggu ke depan saya masih berada di luar kota, sehingga klas minggu depan boleh jadi absen. Kalau kemungkinan tersebut terbukti, kita akan cari hari pengganti setelah minggu depan, paling tidak sebelum UAS.

Thursday, April 10, 2008

Deregulasi Telekomunikasi di Selandia Baru

.
Meski isu ini sudah muncul sejak tahun 2001 dan mandat pemisahan sudah bergulir sejak dua tahun lalu, nampaknya incumbent telekomunikasi di Selandia Baru cukup alot juga untuk bertahan (dan berdalih). Tekanan WTO apalagi IMF gak ada di sana, kecuali dorongan regulator saja untuk membuka pasar untuk peningkatan pelayanan public.

Peningkatan layanan pelanggan juga di tunjukkan dari target regulator ke TNZ untuk menggelar high speed broadband lebih agresif.

Di Indonesia, program mem”protoli” bisnis sudah terjadi beberapa (bahkan mungkin belasan) tahun lalu. Dimulai dari jaman PTT dipisah ke Pos&Giro, Bisnis Satelit ke Satelindo, Seluler, dan calon protolan lainnya bisnis Fixed Wireless & bisnis Multimedia.

Memang belum sejauh TNZ yang jadi Wholesale, Retail, dan Network. TLKM baru sebatas Direktorat atau group bisnis untuk portfolio itu, tapi siapa tahu bakalan ke sana. Semakin di potong-potong kecil semakin gesit, tapi juga semakin gampang di kerjain.


Berikut cuplikan berita : Telecom New Zealand Does the Splits

The New Zealand government this week approved a plan to carve Telecom New Zealand into three pieces, ending the once state-owned company's virtual telecoms monopoly and holding out a promise of high speed broadband for nearly 90 percent of the company. Telecom New Zealand has about an 80 percent share of the country's $6.3 billion telecommunications market.

The company will be split into wholesale, retail and network units. The plan includes government regulation to open its copper local loop network to rivals. Telecom also committed to rolling out broadband to all cities and towns with more than 500 lines by 2012 and that would bring broadband to 80 percent of the country, and cost about $1.1 billion. The government expects the company will actually do better than that and by 2012 offer 10 Mb/s service to 84 percent of the country and 5 Mb/s to 89.

Wednesday, April 09, 2008

Quote of this Month (04/08)


5th April 2008 Presentation Time : Convergence & Wireless

.
Posting ini mungkin lebih cocok saya beri judul depan dengan category Presentation Time, sebagai pembeda dengan klas biasa. Minggu lalu telah dipaparkan dari kelompok 9 dengan thema / judul Convergence dan kelompok 10 : Wireless.

Kelompok – 9 dan 10 nampaknya mis-komunikasi dari penjelasan saya sebelumnya, bahwa rujukan tugas paparan ini harus mengacu pada buku AZ Dodd dari versi terjemahan dari Andi Publishing. Alasannya seperti yang pernah disampaikan sebelumnya tidak lain dari aspek equal playing field. Hanya saja sayangnya kelompok-9 merujuk pada buku asli versi tahun 2000, dimana bahasan Convergence bukan menjadi satu bagian besar (bab), hanya bagian dari judul bab lain.

Persoalan lain, menurut info dari salah satu saksi mata ;-), partisipan rada kesulitan juga untuk menemukan / mencari acuan vesi bahasa (Indonesia) di perpustakaan. Walhasil yang versi asli akhirnya yang dipakai.

Konvergensi menurut paparan kelompok-9 (materi presentasi sedikit saya edit agar file tidak terlalu besar) adalah kemampuan sebuah jaringan untuk memuat semua jenis lalu lintas seperti suara, data, dan video sebagai sebuah paket. Kemampuan jaringan ini didorong oleh : Advance Router, Digital Signal Processor, Optical & Programmed Switch, Compression & Protocol, DWDM

Sementara dalam sessi kedua, dipaparkan konten wireless mulai dari teknologi analog AMPS sampai berbasis digital seperti D-AMPS, GSM, CDMA, PCS, SMR, dan CDPD (3 terakhir ini mungkin agak asing di telinga kita). Selain aspek teknologi, paparan ini juga menyebutkan aspek pasar seluler yang terkait dengan antara lain: Efforts to Improve Service; Health Concerns; Safety on the Road; Privacy and Advertising Instructions on Cellular E911; Called Party Pays; Limited Mobility Wireless for Local Telephone Service; Wireless Number Portability; dan Limitations of Circuit-Switched Cellular for Data.

Konten lain terkait dengan wireless yang turut dipaparkan antara lain: spectrum allocation, 2G-3G Transition, Paging dan Satellite Service.

Tahniah untuk kelompok 9 dan 10 untuk kesempatan hari pertama. Pertemuan berikutnya kita tunggu paparannya, semoga bisa lebih matang persiapannya.

Monday, April 07, 2008

eTOM (enhanced Telecom Operations Map)

.
Definisi dari Wikipedia berikut ini tentang eTOM cukup banyak menjelaskan. Jadi ada baiknya saya posting saja di Klasmaya.

The eTOM (enhanced Telecom Operations Map) is a guidebook, the most widely used and accepted standard for business processes in the telecommunications industry. The eTOM model describes the full scope of business processes required by a service provider and defines key elements and how they interact.

eTOM is a common companion of ITIL, an analogous standard or framework for best practices in information technology.

Both of these frameworks are part of the larger context of Total Quality Management, in which many industries have since 1950 increasingly formalized their business processes and metrics in search of higher quality, fewer defects, and greater efficiency. ISO 9000 is probably the best-known of these "process and results improvement" standards, but it is far more generic than either eTOM or ITIL.

eTOM has been adopted as ITU-T International Recommendation, known in 2004 as M.3050.

The eTOM model consists of Level-0, Level-1, Level-2 and Level-3 processes. Each level drills down to the more specific processes.

The graphic representation of an eTOM model consists of rows and columns. The intersections of these rows and columns point out to specific processes as specified by eTOM. The topmost row denotes the customer facing activity i.e. marketing while the bottom most row indicates the supplier facing activity and the support activities.

In this manner the eTOM map indicates the whole value chain. The map thus also gives a good indication of the interaction between the processes.

29th March 2008 Class at a Glance : Business Process

For the sake of document management, mulai saat ini posting CAAG perlu di imbuhi dengan judul materi pembahasan.

Kelas di dua pertemuan lalu, telah dibahas materi Business Process dengan mengacu pada Best Practices dari Enhanced Telecom Operation Map (eTOM). Sebenarnya konten ini materi cadangan kalau-kalau partisipan belum siap buat paparan tugas A Z Dodd, dan ternyata benar adanya, belum satupun kelompok yang siap memaparkan tugas.

Materi Bisnis Proses ini juga menjadi konten yang diacu beberapa mata kuliah yang saya bawakan, jadi di Klasmaya ini pun sebenarnya pernah di submit materi serupa.

Pembahasan meliputi Sekilas Proses Bisnis (intro, tujuan), Trend Proses Bisnis di industri Telekomunikasi, Sekilas Tele Management Forum sebagai penggagas eTOM, Sejarah eTOM, serta framework eTOM dari level 1-2, dan khusus untuk modul Marketing & Offer Management dibahas sampai level 3 sebagai contoh.


Materi ini sebenarnya untuk memberikan wawasan lingkup proses bisnis di industri telekomunikasi. Sehingga pemahaman tentang hubungan dengan supplier dan pelanggan yang menjadi value chain suatu perusahaan menjadi jelas.

Proses seperti pengelolaan pelanggan mulai dari sisi Customer Interface Management, selling, order handling, problem handling, service management, billing & collection, sampai ke program retensi dibahas dalam eTOM. Mungkin materinya bisa lebih dikupas di mata kuliah CRM. Minimal bagian ini menjadi rujukan suatu operator telekomunikasi dalam mengelola pelanggannya.

Modul lain silakan dikaji di handout berikut.

Senggigi


Monday, March 31, 2008

Polling penggunaan telepon rumah.

Polling yang diadakan jurnal The CommunicationsDirect (afiliasi PWC) akhir triwulan ini menunjukkan bahwa pemakaian fixed line telepon tidak lebih dari separuhnya. Polling dilakukan melalui web sites yang diakses global. Berikut berita pendeknya.

Do you use a fixed line telephone in your home?

The CommunicationsDirect latest poll results are in. The question posed was, ‘Do you use a fixed line telephone in your home?’ Responses show that 53% of our readers say ‘no’ and 47% replied ‘yes’, but added that they almost never use their fixed line telephone.

Polling ini sebenarnya bukan hal yang aneh, kalau kita bikin polling yang sama di kampus, mungkin dominan menjawab TIDAK, apalagi anak kost, orang yang lebih mementingkan privasi, atau paling tidak responden yang menggunakan media komunikasi dari operator yang memberikan harga yang relatif lebih murah dari telepon rumah.

Sekarang ini, telepon rumah tidak berarti murah.

Kalau anda di survey (polling) apa jawaban anda ?

Friday, March 28, 2008

Pembagian Tugas Kelompok Paparan buku Z Dodd

Sesuai penetapan pada pertemuan terakhir, pembagian kelompok untuk tugas paparan Z Dodd adalah sebagai berikut:

Kelompok A : Bab-2 Telephone System
Christian Pontoh
Mangappu Tua
Robby Komadi
Pirtom Lubis

Kelompok B : Bab-4 Network & Service Provider & Local Competition
Noverki
Faisal Syururi
Ferdian Dumara

Kelompok C : Bab-5 Public Network
Desoni Praptanta
Edfri Weureun Dauhan

Kelompok D : Bab-6 Advance Network
Risyad Ari Gunawan
Vito Andri Lukito
Adrian Reza

Kelompok E : Bab-7 Analog, CableTV, Modem
Reynard Augusta
Yones

Kelompok F : Bab-8 Internet
Jeremi Christie
M Nurdhani
Erwin Christman Hendry
Bryan Chrisaldeka

Kelompok G : Bab-9 Convergence
Toni Andrian Porayouw
M Irfan
Yunus Arie Wiratama

Kelompok H : Bab-10 Wireless
Benny Natanael
Yeremia
Reski Mapriharto


Awalnya saya mau acu dari text book Annabel Z Dodd langsung, tapi ternyata di perpustakaan kita sudah ada terjemahannya dari edisi Dodd tahun 2000. Kalau dibandingkan dengan edisi 2002 yang belum di terjemahkan, bedanya cuman satu bab antara Convergence di terjemahan Andi Publishing dan bab Globalization di edisi 2002. Biar adil dan equal treatment, akhirnya untuk kelompok G dipilih bab Convergence, toh kelompok lain juga cenderung lebih memilih acuan buku terjemahannya Z Dodd.
Pertemuan minggu ini, saya persilakan kelompok mana yang siap (ada credit point untuk yang pertama memberikan pemaparan).

Selamat berkelompok ...

22nd March 2008 Class at a Glance

Lagi-lagi telat posting, padahal dua hari lagi sudah masuk klas. Minggu ini saya ada undangan ke Mataram-Lombok, so a little bit late to submit this report, punteun lah.

Seingat saya minggu lalu kita telah bahas aspek regulasi, khususnya regulasi UU No 3 / 1989 dan UU No 36 / 1999 tentang Telekomunikasi. Sedikit diulas juga PP (Peraturan Pemerintah) No 8 / 1993 dan PP No 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Materi ini seharusnya ada di situs Dirjen Pos dan Telekomunikasi, yang menyediakan dengan lengkap segala undang-undang, peraturan dan kebijakan lain terkat dengan regulasi telekomunikasi (misalnya interkoneksi atau aspek lainnya). Tapi kalau pun belum sempat mampir ke situs tersebut, posting ini juga menyediakan UU dan PP tersebut.

Bahasan lebih menekankan perubahan dari UU No 3 / 1989 dan UU No 36 / 1999, sekira 10 tahun, terkait dengan deregulasi, perubahan dari monopoli menjadi pasar terbuka (kompetisi), meskipun untuk industri tertentu masih duopoli. Deregulasi dipengaruhi gelombang globalisasi, dan pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi yang mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan dan cara pandang terhadap telekomunikasi. Globalisasi semacam WTO, persayaratan IMF, maupun tekanan negara besar boleh jadi menjadi salah satu driver deregulasi. Aspek lain seharusnya terkait dengan tujuan untuk meningkatkan penetrasi dan densitas sarana telekomunikasi dalam rangka mempercepat pembangunan infrastruktur, peningkatan perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat.

Studi dari ITU menyebutkan bahwa peningkatan 1% densitas telekomunikasi suatu negara akan meningkatkan 3% pertumbuhan ekonomi. Apakah teorema tersebut berlaku di negara kita perlu dilihat lagi histori beberapa tahun lalu. Sementara, kajian beberapa analis tahun terakhir yang punya korelasi dengan studi ITU tersebut, menyebutkan bahwa pertumbuhan Developed Country bisa dipengaruhi oleh densitas broadband, meski mereka tidak menyebutkan angka matematis dari pertumbuhan tersebut.

Paska pembahasan, diadakan Quiz dadakan, untuk melihat berapa porsi yang bisa diserap dari pengajaran langsung, termasuk untuk menambah penilaian. Hasilnya cukup menarik juga, sebagai contoh perbedaan UU No 3 dan UU No 36, dengan santai dijawab UU No 3 dibuat pada jaman Soeharto, sementara UU No 36 ditandatangan oleh BJ Habibie bahkan tanpa menyebut kapan UU tersebut di release.

Untuk posting kali ini saya tidak menyajikan handout (kecuali dokumen UU), toh komparasi yang dipaparkan di kelas minggu lalu sebenarnya bisa kalian ambil dari kedua UU tersebut.

Pada pertemuan lalu, kita juga bahas tugas presentasi dari buku Annabel Z Dodd. Penetapan pembagian kelompok sudah dibahas dalam pertemuan lalu.
Tabik ...

Saturday, March 22, 2008

Quad Play

Dua minggu lalu, ada terminologi yang menggelitik waktu membahas trend transaksi global. Terminologi Quad Play .... apa itu ?. Kalau Triple Play mungkin bukan hal yang asing, salah satu operator di Indonesia pun sudah menerapkan layanan itu. Triple Play pada dasarnya layanan bundle yang ditawarkan operator untuk gabungan jasa Telephoni (voice), Internet, dan TV Cable. Lalu kalau ada Quad Play, kira-kira jasa ke empatnya apa dong ? Terus terang saya juga sempet terbengong-bengong dan mengira-ngira apa kira-kira jasa ke empat itu. Sampai akhirnya saya ketemu term itu di Internet (meski Wikipedia punya istilah yang berbeda). Boleh setuju atau tidak, namun istilah Quad play di industri telekomunikasi memang menambah jasa wireless sebagai paket ke empat untuk di integrasikan. Kalau nggak setuju, coba aja usulin, jasa apa yang lebih cocok untuk paket quad play.

Cuplikan artikel berikut ini semoga bisa nambah wawasan dari terminologi Quad Play. Artikel di sadur dari media San Francisco Chronicle akhir Mei 2007 dengan judul ”Triple play not enough? Say hey to quad play”, dan sub judul ”Telecoms adding cell service to TV, Internet, landlines” yang ditulis oleh Ryan Kim.

Selamat menikmati, kalau mau cerita lengkap bisa langsung ngakses ke artikel asli.

In the fast-moving telecom industry, it's apparently not enough for a company to offer television, broadband Internet and home phone service, the so-called triple play. Today, operators are going for the quad play, with the addition of cell phone service in their quest to win and retain customers.

For consumers, the quad play means they can buy all four services from one provider and pay for it on one bill, increasingly at a reduced price. But the companies say it's not only about the convenience and savings from one-stop shopping.

They see the new mega-bundles as a collection of services that will increasingly work together, giving you a new level of access and interaction with your entertainment and communications services. The cell phone will play a pivotal role as a portal to receive television or personal content from home, access home voice mail and e-mail, and program digital video recorders.

The move to the quad play is the latest escalation of a battle that's been building between phone and cable companies, who, because of deregulation, are allowed to compete on each other's traditional turf. The two industries have cranked up the competition recently, with cable entering the phone market while telecom companies have started to provide television services.

Both sides see the quad play as a way to hold onto customers, who are even more prized and valuable if they can be made to pay for four services.

Analysts said customers will initially be drawn by the simplicity and value of ordering a set of services from one provider. But quad-play providers said the real draw will be providing an integrated, seamless experience for users wherever they go with their cell phones.

Subscribers can use their cell phones to check voice mail from their landline phone at home. They can also view a television program guide on their cell phone. Live television will be accessible on cell phones, which is incorporating local newscasts and content like music video channel and a video game station. The cell-phone television service, however, doesn't carry the same shows as the cable lineup at home.

Ultimately, both cable and telecom companies plan to offer a greater degree of remote control for users, allowing them to watch their own recorded content or their live home TV content on their handsets.

The IDC analyst said the quest for the quadruple play is a savvy move by companies, who see it as a way to cover all their bases and retain customers while wringing the most revenue from them. A IDC study in 2006 found that 41 percent of customers subscribed to a bundle of some sort. Sixty-six percent of the respondents said that once they bought a bundle they had no plans to switch providers, which suggests that the more customers buy, the less likely they are to go through the hassle and cost of switching.

But getting all users to sign up for all four services could be a challenge. Some analysts say the triple play will probably be the favored bundle, with wireless replacing wireline as the preferred voice service.

IDC predicts only 7.8 million households will use a quad play in 2010, or 7 percent of the 116 million households in the United States. Triple plays, by comparison, are expected to account for 39 percent of households by 2010.

A Forrester Research analyst found that consumers drawn to bundles primarily for the savings they offer, rather than for simplicity or advanced integration of services. Operators will find the going tough if they emphasize integration instead of delivering noticeable discounts for bundled service.

Critics said quad plays might lead to confusion for some customers, who have to wade through a number of services that they may or may not need. Operators might have less incentive to sell low-priced individual services or even advertise them to customers looking to buy a la carte. Consumers just need to be introduced to the benefits of a quad play to start understanding its overall appeal.

18th March 2008 Class at a Glance

Seharusnya posting ini muncul beberapa hari lalu, namun lagi-lagi ketabrak jadwal lain. Dengan dalih ”better late than never” yang selalu jadi mantra yang ampuh buat cari alasan, posting ini pun dipaksain harus muncul.

Klas 18 Maret lalu sebenarnya kelas pengganti dari tanggal 8 Maret lalu yang berhalangan alias absen. Materi pembahasan diambil dari buku MOT Khalil khususnya bab 8 ”Business Strategy and Technology Strategy”. Isu Strategy Management, Misi, Visi, Objektif dan Core Competence menjadi salah satu aspek pembahasan. Isu lain, terkait dengan pengelolaan strategi teknologi termasuk klasifikasi dan integrasi antara strategi bisnis dan teknologi.

Sepertinya buku MOT kita fokuskan di bab 1,5, dan 8 saja. Bab lain cenderung terlalu luas untuk subjek industri telematika, meski bukan berarti tidak perlu di baca.

Sisa waktu klas dibahas bab 1 dari bukunya Annabel Z. Dodd. Dengan metode scanning dokumen pdf bab-1 dari versi tahun 2005. Scanning mungkin jadi alternatif tanpa harus memaparkannya dalam presentasi. Alasan lain, toh konten di bab 1 Dodd lebih ke pengenalan dasar-dasar konsep dari telekomunikasi, yang nota bene berupa cuplikan dari terminologi / istilah yang muncul di buku tersebut.

Dokumen pdf yang saya dapat dari Internet mungkin sedikit lebih anyar (2005), kalau kita bandingkan buku Dodd yang ada di perpustakaan kampus (2002), apalagi terjemahan dari Penerbit Andi (2000). Tapi untuk tugas kelompok mungkin kita pakai acuan dari Penerbit Andi, toh antara buku asli Dodd 2002 dan terjemahan 2000 relatif sama, kecuali satu bab konvergensi di 2000 dan Globalisasi di 2002. Pembagian kelompok mungkin akan dibahas posting berikutnya.

Monday, March 17, 2008

How to get the Handout

Informasi dari salah seorang partisipan EL-102, handout tidak bisa di akses, cukup mengagetkan juga. Padahal materi bahasan kita selama perkuliahan ada di handout itu. Persoalannya gimana bisa mereview jika download saja tidak bisa.

Setelah saya coba di lokasi terpisah, memang ada beberapa kali error. Tapi bukan berarti tidak bisa diakses. Gagal lebih banyak akibat jaringan yang kurang optimal saja. Pada saat jaringan internet tidak bermasalah, download juga lancar saja. Kalaupun ada message yang menyebutkan gagal akibat sudah pernah download, bisa dicoba lagi.

Kemungkinan kedua, akses berhasil namun tidak tahu mana yang harus di download. Gambar dibawah ini menunjukkan contoh file terakhir yang sudah di upload di situs 4shared.




Setelah kalian bisa masuk ke situs ini, langsung saja click di link dengan tulisan download file (lihat anak panah). Anak panah tidak ada di situs itu, hanya sebagai petunjuk posisi link yang harus di click saja (kanan bawah).


Setelah di klik dan muncul window ini, berarti sudah berhasil tinggal di save.



Selamat mencoba, kalau sudah berhasil, download juga file handout lain yang belum diambil. Kalau masih belum berhasil, masukkan komentar anda (ini gunanya comment) di klasmaya.

15th March 2008 Class at a Glance

Pertemuan minggu lalu paska minggu sebelumnya off dibahas dua materi terkait analisa industri. Materi pertama dibahas kecenderungan transaksi di perusahaan komunikasi global. Materi ini diambil dari artikel di jurnal PWC yang membahas konvergensi bisnis. Ada tiga karakteristik yang ditengarai, konvergensi bisnis, konsolidasi domestik dan ekspansi internasional. Kecenderungan itu diperlihatkan dalam beberapa transaksi bisnis atau deal bisnis yang terjadi selama 2 tahun kebelakang.

Materi kedua, dibahas kondisi bisnis telematika di regional. Mulai dari aspek ekonomi makro, arah regulasi, sampai pasar telematika beberapa negara di regional. Khusus untuk kondisi dalam negeri, saya sengaja di ”kosong” kan untuk assessmen sendiri ke media yang ada, sebagai home work minggu ini.

Seperti biasa, meski beberapa masih menanyakan untuk copy materi, handout ke empat hanya bisa di download di sini.

Pengganti minggu lalu, saya sudah konfirmasi dengan pengelola gedung yang nota bene institusi HB, jadinya tanggal 18 Maret 2008 jam 13:00 s/d 15:00 di ruang 202 (?). Biar lebih yakin lihat saja di papan pengumuman hari senin ini. So be there or be behind...

Untuk komentar atau pertanyaan baik yang terkait maupun yang sedikit menyimpang, bisa di ajukan melalui media ini juga (comment). Please feel free to express your idea. Boleh jadi komentar yang relevan bisa menambah credit point.

Tuesday, March 11, 2008

8th March 2008 Apology

Mungkin perlu ada satu posting reguler setara dengan Class at a Glance, yang bisa menyampaikan permohonan MAAF karena klas di cancel. Meski begitu bukan berarti posting apology harus sering-sering muncul. Hanya saja, saya melihat kejadian seperti ini terkadang tidak bisa dihindari, entah konflik dengan urusan the other main job atau bentrok dengan kegiatan keluarga.

Sessi lalu saya juga tidak bisa menghindar dari tanggung jawab seorang kepala rumah tangga. Long weekend yang seharusnya punya peluang banyak untuk melakukan aktivitas di luar main job, termasuk pengelolaan klasmaya, ternyata harus disibukkan dengan munculnya virus belum dikenal (mungkin karena tidak terlalu berat) yang bercokol di hampir seluruh penghuni rumah, termasuk saya sendiri. Virus tersebut, seperti juga influenza, muncul entah dari mana, hinggap satu per satu dengan gejala yang hampir mirip meski dibedakan dengan seberapa fit tubuh kita bisa melawannya. Singkat cerita, pagi itu yang seharusnya saya bisa nagih tugas business model, ternyata harus membawa anak saya ke dokter. Alhamdulillah, hari ini beberapa personil sudah memperlihatkan kebugarannya, pagi tadi gejala bercak merah seperti bentol dan sedikit gatal mulai muncul di beberapa bagian tubuh saya (akibat dingin?) tapi sejak sore tadi sudah mulai menghilang.

Sorri... bukan maksud saya berpanjang lebar membahas KLB skala mikro keluarga di sini, kecuali kalau weblog ini lebih ke arah personal. Yang saya sadari, kejadian klas di batalkan, seharusnya bukan berarti tidak ada program selama 1 minggu ke depan, karena toh kita masih punya media klasmaya untuk menjembatani komunikasi langsung.

Tapi jangankan deal dengan next substitute program, ongoing program model class at a glance minggu lalu saja belum kelar.

(tulisan ini dibuat sebelum posting 1st March 2008 Class at a Glance ditulis)

1st March 2008 Class at a Glance

Pertemuan di awal bulan Maret tempo hari, dibahas materi dari buku referensinya Khalil, Management Of Technology, khususnya di bab 1 dan 5. Bagian pertama lebih membawa kearah introduksi secara global tentang kandungan buku tersebut. Definisi teknologi dan manajemen yang saya tambahkan dengan acuan Encarta dictionary, dilanjut kearah hubungan teknologi dengan aspek bisnis dan pengetahuan, mengerucut di konsep Management of Technology sebagai inti pembahasan dan judul buku.

Langsung lompat ke Bab 5, terkait dengan siklus hidup teknologi, banyak diulas konsep tahapan, stages, atau phase yang relatif senada antara progress, siklus hidup, antara teknologi dan produk. Beberapa slide saya ambil dari materi Pengembangan Produk Telematika yang jelas berkorelasi dengan mata kuliah kita sekarang.

Ada sedikit bagian dari bab 5 yang belum diulas di handout ini. Sepertinya bagian itu saya serahkan ke pemirsa untuk dibaca langsung dari bukunya. Ini juga untuk menegaskan bahwa dengan handout ini, bukan berarti tugas pemirsa untuk membaca reference book sudah dapat digantikan.

Selamat mengingat ulang ....