Sunday, September 26, 2010

Task of this week (1): Recap the video of Lead User

Seperti yang sudah disampaikan dalam pertemuan sebelumnya, untuk tugas minggu ini, cukup mudah, kalian hanya diminta mendengarkan kuliah yang disampaikan oleh Prof. Eric von Hippel dari MIT Sloan (punteun, di klas saya salah menyebutkan dari Harvard) tentang metode Lead User.

Konsep yang disampaikan Prof Hippel adalah pengembangan produk melalui kolaborasi dengan Lead User. Apa itu Lead User, bagaimana metodenya, dan apa yang harus dipersiapkan, kalian bisa dengarkan kuliahnya di situs Lead User. Ada 6 kuliah dengan format video yang mengulas konsep tersebut. Sebagai sharing proses, saya coba membagi tugas menjadi 6 kelompok untuk me’rekap kuliah tersebut untuk selanjutnya di bahas di depan kelas pada minggu depan.


Berikut daftar kelompok dan tugasnya:

1 : Overview of the lead user process
Oleh: Aldi Rinaldi; Bobby Hexanda; Risyad

2 : Launching your lead user study
Oleh: Anas Norhidayat; Benny Natanael; Yunus Arie Wiratama

3 : Interviewing methods for lead user project teams
Oleh: Syafran Eko Putra; Mangapu Tua; Yeremia

4 : Identifying emerging market needs
Oleh: Praptanta Rikintokoadi; Reski Mapriharto

5 : Identifying lead users
Oleh: Robby Komadi; Pirtom Lubis

6 : Developing solution concepts
Oleh: Faisal Syururi; Adrian Reza

Selamat mengunduh, menyimak, menyimpulkan, dan menyiapkan materi paparan.

25th September 2009 Class at a Glance: (2) Terminology of Telematics & Product Life Cycle

Jika dilihat dari sisi pertemuan, sessi ini sebenarnya pertemuan ke-3 setelah pertemuan sebelumnya yang mis-komunikasi. Namun jika melihat dari sisi konten, sessi ini sebenarnya menjadi sessi ke-2.

Setelah sekian lama vacuum (sekira 3 minggu) akibat libur lebaran dan klas yang ke”lewat”, klas dimulai lagi lewat sessi pembahasan pengertian dan terminologi telematika serta materi Product Life Cycle (PLC).

Materi terkait terminology dan definisi, sengaja saya “shrinking” karena issue nya hanya sekedar definisi dan terminology yang kalian bisa baca di rumah. Seperti yang telah saya sampaikan, pengertian telematika atau digital dalam klas kita, akan lebih luas dibandingkan dengan pengertian dari salah satunya definisi yang sekedar mengartikan dalam vehicles telematics,

Pengembangan Produk, sebagai bagian dari pengelolaan produk harus pula melihat secara luas tahapan dari siklus poduk. Sedikitnya dilakukan 3 kali Quiz-like untuk materi PLC, antara lain perbedaan model grafik PLC, korelasi PLC dengan strategi pemasaran serta korelasi antara PLC dengan type pelanggan, aspek industri dan perusahaan (kompetisi, Resiko, dan lainnya).

Model ini meski sudah berumur 45 tahun sejak dicetuskan dalam jurnal HBR oleh Theodore Levitt, namun masih cukup relevan dalam menganalisa pengelolaan produk. Issue aliran pemasukan yang berkelanjutan dan diharapkan stabil menjadi kunci dalam pemilihan dan pengelolaan produk dari investasi berjangka panjang suatu perusahaan. Konsep PLC juga memiliki dampak yang significant pada strategi bisnis dan kinerja perusahaan.

Ada beberapa model penggambaran PLC yang pada dasarnya tidak jauh berbeda, namun perbedaan akibat penekanan pembahasan semata. Sebagai contoh model 4 tahap PLC dan 5 tahap PLC, atau contoh sumbu Sales dan Profit yang sedikit mendiferensiasi model penggambaran PLC.

Seperti biasa, materi pembahasan di sessi ke-2, termasuk didalamnya jawaban Quiz dapat kalian unduh dalam posting ini.

Thursday, September 23, 2010

Perubahan Jadwal Kuliah Sept, 25 2010

Minggu lalu, hari Sabtu tanggal 18 September 2010, saya lagi-lagi “kecele” (kalau ada yang ga tahu artinya bias dicari di google), informasi yang saya terima liburan lebaran tahun ini masuk lagi hari Kamis tanggal 16 September 2010, ternyata tanggal itu adalah mulai masuknya pegawai institusi bukan dimulainya lagi perkuliahan yang ternyata hari Senin tanggal 20 September 2010.

OK, no problem, meski perhitungan saya masih ada kalau ga salah satu sessi yang tertinggal, yang kita harus cari penggantinya. Minggu ini yang seharusnya kembali masuk di hari Sabtu tanggal 25 September 2010, ternyata saya musti ke kota Malang untuk kegiatan dinas.

Hasil pembahasan dengan unit BAAK institusi, disepakati jadwal di geser ke jam 13:00 di hari yang sama di ruang 202 lantai 2. Rencana saya kembali, insya Allah hari Sabtu pagi sudah sampai di Bandung.

Sebagai persiapan, partisipan Klasmaya sessi sekarang, adalah mencoba mencari materi terkait Product Life Cycle yang sebenarnya sudah diulas sedikit di sessi pendahuluan.

Materi bisa di cari saja di Wikipedia atau di cari melalui Google, toh issuenya gak akan jauh dari apa yang akan di bahas besok. Kalau toh ada yang berbeda, kita bisa bahas bersama.

So, see you this Saturday…

Sunday, September 19, 2010

iPad meng’kanibal’ NoteBook?

Awal tahun ini klasmaya mem’posting “launching iPad”, issue saat itu apakah iPad menjadi produk kompetitor dari eBook reader, laptop, atau masuk dalam genre produk baru dengan fitur multimedia nya?.

Saya belum dapat informasi bagaimana iPad mengambil market share dari eBook reader seperti Kindle Amazon, Nook B&N, atau Reader Sony. Tapi data dari riset Morgan Stanley yang di lansir situs Fast Company , tampaknya menunjukkan iPad di pertengahan tahun ini menggerus penjualan NoteBook, khususnya di US.


Meski data tersebut bisa dipengaruhi juga dari dampak ekonomi, atau lambatnya produk kompetitor lain untuk muncul sebagai produk pembanding, ataupun data yang kurang lengkap terkait informasi lonjakan di paruh kedua tahun lalu, atau boleh jadi penjualan notebook mulai berkurang akibat beralih ke piranti smartphone, namun data pertumbuhan dari hasil riset tersebut menunjukkan pertama kalinya angka growth negative di bulan Agustus 2010.

Data penjualan 3 juta unit iPad dengan harga 5 ratus dollar per unitnya sudah cukup membuktikan pengalihan pembelian laptop ke model tablet, dalam hal ini diwakili oleh iPad.

Pertengahan bulan ini Apple juga merelease ulang produk AppleTV, namun saya cari video clipnya di YouTube belum ketemu yang representative, boleh di komen kalau ada yang nemu. Komentar juga saya tunggu untuk data pengaruh iPad ke pasar eBook Reader.

Monday, September 06, 2010

Class at a Glance, September 04, 2010 : Miscommunication

Salah pengertian mungkin menjadi thema CAAG edisi kali ini. Bermula dari pembahasan di sessi sebelumnya tentang kemungkinan penggantian ke hari kerja dan disepakati Kamis pagi jam 0700, hari ini saya masih masuk di hari Sabtu dengan hanya dua partisipan, itupun tidak berniat untuk masuk klas. Tidak ada yang bisa disalahkan, toh ini masih bulan puasa.

Mungkin saya masih bisa berdalih, issue pembahasan penggantian hari belum dibahas dengan BAAK dan lagi Kamis kemarin saya juga ngga hadir, seharusnya kalau kemarin tidak ada dan tidak ada pengumuman tentang perubahan jadwal maka masih tetap seperti semula.

Tapi saya yakin partipan pun punya dalih yang lebih komprehensif dengan seribu scenario dan alasan. Yaa sudah saja…..

Jadi posting kali ini … untuk menghindari kejadian serupa, saya sampaikan dalam forum terhormat ini, bahwa berhubung satu dan lain hal, perubahan jadwal belum dapat dilaksanakan, dan jadwal tetap seperti biasa di hari Sabtu jam 0800, demikian disampaikan.

Tuesday, August 31, 2010

Welcome abroad and Class at a Glance August 31, 2101

Selamat datang pemirsa SK-425 dan EL-419 tahun ajaran 2010. Di pertemuan pertama ini sebagai klas pengganti dari hari Sabtu kemarin, sayabertemu kembali beberapa partisipan yang sebelumnya pernah mengambil subject lain yang biasa saya bawakan. Sehingga media klasmaya seharusnya bukan menjadi hal yang baru lagi.

Tujuan dari media ini adalah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar dan mengajar melalui komunikasi dan kolaborasi untuk model belajar mengajar a'la virtual. Tanpa perlu menyebutkan institusi pendidikan formalnya, kecuali beberapa kode-kode yang hanya pemirsa atau formal audiens yang tahu, KlasMaya bukan media eksklusif, sehingga selain anggota tetap dari "brick 'n mortar class" kami juga menerima penggembira dan pemirsa lain.

Klas di hari pertama, digeser ke hari Selasa 0700, karena Sabtu lalu saya ada appoinment dengan seorang dokter di Jakarta. Sessi hari itu lebih banyak melihat materi kuliah in a big picture even beyond specific course objective.


Seperti biasa Klasmaya menyediakan handsout yang bisa langsung diunduh disini.

Monday, July 12, 2010

Menunda konsolidasi Flexsia

Setelah beberapa bulan lalu sempat mencuat kepermukaan, issue konsolidasi FWA Telkom-BTEL nampaknya mulai mereda. Apakah ini sinyal bakalan pergantian Direksi? boleh jadi, tapi issue ini jadi semakin membuka pemahaman adanya konsolidasi politik dan bisnis yang menekan perusahaan plat merah.

Posting kali ini diambil dari artikel Koran-Jakarta dengan judul “Strategi Bisnis : Konsolidasi Flexi dengan BTEL Tidak Mendesak” hari Jumat, 09 Juli 2010.

Berikut cuplikannya.


Telkom siap menghentikan sementara pembahasan konsolidasi unit usaha FWA, Flexi dengan BTEL. Telkom akan tetap fokus membesarkan Flexi, sedangkan soal konsolidasi adalah masalah diskusi bisnis yang bisa dilakukan kapan saja.

Sebelumnya, Menteri BUMN meminta Telkom menunda sementara rencana merger layanan Flexi dengan BTEL hingga manajemen baru Telkom terbentuk. Mustafa beralasan bahwa manajemen baru yang akan terbentuk belum tentu punya strategi yang sama dengan manajemen saat ini.

Beberapa pengamat keuangan menyebutkan Telkom sebaiknya fokus mengembangkan Flexi karena konsolidasi dengan BTEL tidak ada untungnya, bahkan Telkom akan menanggung utang BTEL. Bakrie dalam mencari modal itu biasanya melakukan Repo (gadai saham), seandainya pembelian terjadi, berarti semua beban akan ditanggung Telkom. Tidak ada hal mendesak bagi Telkom untuk mengonsolidasikan Flexi karena pangsa pasar telepon tetap masih dikuasai, dan Telkomsel yang mengusung teknologi GSM tetap berjaya. Manajemen dan pemegang saham Telkom agar berhati- hati dalam mengambil aksi korporasi karena bisa saja ada somasi akibat masyarakat dirugikan.

Analis Sekuritas, juga mengomentari bahwa TelkomFlexi tidak menderita kerugian apa pun dengan adanya penundaan rencana konsolidasi bisnis tersebut. Karena secara infrastruktur, jumlah pelanggan, maupun teknologi, TelkomFlexi lebih unggul dibandingkan BTEL. Namun potensi BTEL untuk mendongkrak pendapatan menjadi terhambat dengan tertundanya rencana konsolidasi bisnis tersebut.

Thursday, June 24, 2010

Indonesia is about to explode !!!

Artikel ini diambil dari totaltele.com tanggal 24 Juni 2010 dengan judul "Google eyes Indonesia for expansion", tapi judul disini saya ambil saja ekspresinya Sauquet, biar lebih bombastis..... kan ada explode nya. Berikut cuplikannya:

Internet company executive describes Indonesia as 'the right place for us'.

Google Inc. said Thursday that Internet use in Indonesia was expanding at a fast pace and was the leading emerging economy in terms of growth.

"Users are growing very, very fast. Indonesia is about to explode," Google Asia Business Development director Emmanuel Sauquet said of Southeast Asia's biggest economy.

"It has very diverse and very active online communities. It's the right place for us to come now," he said. "Compared to other emerging countries, Indonesia is the fastest growing country."

Google is collaborating with a local wireless broadband Internet company Bakrie Connectivity, whose new modem will come with Google Chrome web browser as a standard feature.

Indonesia's population of more than 230 million people and low market penetration have made the Indonesia attractive for Internet companies.

The country has about 40 million Internet users, while it is also ranked third with the most registered Facebook users, after the U.S. and U.K., with more than 22 million users.

A study by Yahoo! in Southeast Asia found that Indonesia is the largest and fastest growing online market in Southeast Asia. It marked a growth of 48% in 2010 of online usage compared to 22% last year.

Yahoo! Inc. recently bought local social networking website Koprol.

Wednesday, June 23, 2010

CoGS iPhone 4G Rp 1,6 Juta

Info ini mungkin sudah sebulan lalu muncul di detik.com, tapi saya baru baca ulasan dari portal yang lain, dan saya pikir relevan juga untuk Klasmaya. Berikut cuplikannya:

Biaya yang harus dikeluarkan Apple untuk membuat iPhone 4G diprediksi cuma sebesar US$ 175 atau sekitar Rp 1,6 juta untuk satu unitnya.

Menurut penafsiran Jeffrey Brown, VP Business Intel, ketika merakit iPhone 3GS, Apple hanya merogoh koceknya sebesar US$ 157. Dengan kata lain, biaya pembuatan iPhone 4G lebih mahal US$ 18 ketimbang 3GS.
Namun sampai sekarang harga iPhone 3GS di pasaran masih berada di kisaran harga premium.

Total biaya iPhone 4G tanpa NAND: US$ 150. Sementara jika dengan NAND maka biaya pembuatannya akan menjadi:
· 16GB: $175
· 32GB: $200
· 64GB: $250

Memang jika dilihat sekilas dari biaya pembelian komponen yang digunakan untuk meracik iPhone 4G, biayanya terkesan 'murah'. Namun sebelum meramu komponen-komponen di atas, Apple harus mengeluarkan dana untuk melakukan riset dan pengembangan. Nah, di bagian inilah biasanya anggaran sebuah perusahaan tersedot untuk menghadirkan produk baru. Selain itu ada pula biaya-biaya lain seperti untuk menggaji sumber daya manusia, biaya distribusi dan lainnya yang tentu saja akan dibebankan ke harga jual produk tersebut.

Makanya ketika dilepas ke pasaran, biaya pembuatan dan harga jual terbentang cukup jauh.

Saturday, June 19, 2010

Tips for Making Small Talk with the Big Boss


Tips berikut ini diacu dari Harvard Business Review: Management Tip.

HBR sendiri mengacu dari bukunya John Baldoni dengan judul "Tips for Making Small Talk With Bigwigs". Saya pikir ngga cuman dengan Big Boss, siapapun yang harus kita hormati bisa diterapkan tips ini, termasuk dengan dosen tentunya (hehe hehe).

Having the chance to talk with someone high up in your organization can be a great opportunity to share your ideas and gain exposure. But it can also be nerve wracking — what if you say the wrong thing? Here are three tips for preparing for your next chat with a head honcho:

  1. Do your homework. Find out what the senior team's priorities are. Work out a few key points about your projects or career as they relate to what senior leaders care about now.
  2. Be brief. Once in front of the senior leader, make your key points succinctly.
  3. Read the situation. If the senior leader is not interested, thank her for her time and move on. How you behave is more important than what you say. Yammering on signals a lack of self-awareness.

Friday, June 18, 2010

An urgent need to develop an appropriate response and support for IPv6


Tulisan tentang transisi IPv4 ke IPv6 ini dikutip dari milist dwi mingguan dari the Ministry of Internal Affairs and Communications (MIC) Japan, Vol. 21 No. 3, June 18, 2010


The Internet is the basis of social economic activities, and it has become an indispensable instrument.

However, due to the accelerating global adoption of the Internet, the inventory of Internet Protocol Version 4 (IPv4) addresses is expected to run out. As we know that this communication system is utilized as the main basic technology behind the Internet today. Approximately 4.3 billion IP addresses can be allocated using IPv4, with numeric IP addresses used to identify computers connected to networks, etc.

IP addresses could be thought of as telephone numbers that identify individual devices
connected to the Internet, so the depletion of this inventory would mean that no new machines would be able to be connected to the Internet. Moreover, as it would become difficult to provide new services, the depletion of the inventory would be an obstacle to the development of the Internet, which has so far supported the development of society. Consequently, there is an urgent need to develop an appropriate response and support for the successor of IPv4, which is IPv6 with a practically infinite number of IP addresses (3.4 x 10 38). Compared with IPv4, its features include enhanced security and the simplification of all options, for example.

It is important to conduct appropriate public relations with the wide range of stakeholders, including telecommunications carriers, ISPs, Application Service Providers (ASPs), Contents Service Providers (CSPs), communications equipment manufacturers, software developers, and system integrators (Siers). Moreover, the Internet users' environment will undergo changes; the users may have to bear a burden (not limited to a financial one). Considering all this information, it becomes obvious that the role of public relations and internet-related businesses and users is very large.

As ISPs are the point of contact with the Internet for all users, individual and corporate alike, how ISPs deal with the depletion of IPv4 addresses is the crucial factor that will determine exactly what kind of impact users will face. In other words, how the impact will be dealt with will differ completely according to which ISP a user subscribes to.

Therefore, it would be appropriate to form a basis for relations with users by giving ISPs the role of the "Gateway to the Internet." However, regarding IPv6 corporate users, Siers, etc. are the main cases that have to be considered. In such cases, Siers are required to cooperate with ISPs in properly publicizing the results of analyses on the impact on corporate users.

It is very likely that customers will have many questions regarding, for example, whether they can continue to play existing online games, or what features to look for when buying a TV that will be connected to the Internet. For this reason, it is necessary for other Internet-related businesses to conduct appropriate public relations in line with ISPs' public relatios activities.

Sunday, June 13, 2010

Konsolidasi Industri dipengaruhi Konsolidasi Politik

Meski tidak disebutkan dalam 5 Forces Porter, issue regulasi (disamping teknologi) menjadi salah satu forces yang menjadi konsideran, khususnya dalam industri telematika. Materi pembelajaran di mata kuliah industri telematika juga sudah mengulas bahasan itu. Bahkan untuk perusahaan yang sebagian besar dimiliki oleh negara melalui pemerintah yang berkuasa, issue regulasi perlu di bumbui lagi dengan aspek politik.

Mungkin hanya coincidence, namun beberapa pekan terakhir, berita-berita terkait konsolidasi Flexi dan Esia yang sebelumnya pernah dibantah, ternyata muncul lagi di saat-saat pergantian direksi BUMN Telekomunikasi.

Konsolidasi industri FWA ternyata bisa dipengaruhi oleh konsolidasi politik. Konsolidasi politik dari koalisi 6 partai (PD, PAN, PKB, PPP, PKS dan PG) dengan ketua harian AB yang nota bene pemilik salah satu perusahaan yang bermain di industri FWA ternyata melancarkan issue konsolidasi industri yang sempat menjadi topik hangat beberapa bulan lalu.

Terlepas dari skema apa yang akan diambil, apakah merger atau akuisisi, apakah Telkom Flexi akan melebur ke BTEL ataukah Esia akan masuk dalam perusahaan baru, kementerian BUMN yang mewakili pemerintah mendukung perkawinan usaha ini dan berharap proses bisa terlaksana secepatnya. Direksi Telkom pun menyebutkan proses peleburan ini bakal selesai paling lambat pada awal 2011, menunggu perubahan dari unit bisnis menjadi unit terpisah (PT).

Saat ini, Flexi menguasai 15 juta pelanggan, sedangkan Esia menguasai 10 juta pelanggan, sehingga gabungan dua operator ini akan menciptakan perusahaan dengan pelanggan sebanyak 25 juta pelanggan. Hasil merger ini akan menengahi persaingan yang selama ini terjadi, meski Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bisa melihat dari kacamata yang berbeda karena berpeluang menciptakan monopoli usaha dalam bisnis operator CDMA.

Issue ini menjadi semakin menarik terkait dengan rencana pergantian Dewan Komisaris dan Dewan Direksi yang akhirnya diperpanjang. Tim Penilai Akhir (TPA) yang saat ini menyeleksi paket calon Direksi Telkom, Mandiri, dan Pusri belum memberikan hasil keputusannya. Apakah perpanjangan waktu ini sekedar proses dari rencana rolling BoD (Board of Directors) di lingkungan BUMN atau terkait tawar menawar serta keseriusan rencana konsolidasi, saat ini menjadi materi diskusi warung kopi, meskipun direksi Telkom membantah ada tekanan politik.

Bagaimana kelanjutannya kita lihat saja .....

Friday, June 11, 2010

Web + TV = WebTV; IP + TV = IPTV

TV meets web or Web meets TV : Combines the TV with the freedom and power of the Internet.



Some says it is stupid and dumb idea.
Why not just plugs the laptop with LCD TV via an HDMI cable, then stream any web content ?. Or is it really difference by Video Search?

But Sony, Logitech and Intel support this idea.

What is the difference between Web TV and IPTV?

Web TV deliver originally online via broadband and mobile networks. Television programming produced for original distribution through the internet.

Internet Protocol television (IPTV) is a system through which internet television services are delivered using the architecture and networking methods of the IP Suite over a packet-switched network infrastructure, e.g., the Internet and broadband Internet access networks, instead of being delivered through traditional radio frequency broadcast, satellitesignal, and cable television (CATV) formats.



IPTV services may be classified into three main groups: live television, time-shifted programming, and video on demand. It is distinguished from general Internet-based or web-based multimedia services by its on-going standardization process and preferential deployment scenarios in subscriber-based telecommunications networks with high-speed access channels into end-user premises via set-top boxes or other customer-premises equipment.

Thursday, June 10, 2010

Traffik klasmaya periode 22 April – 23 Mei 2010 : Total Visit per Day

Posting sebelumnya (EL-102 Blog Produktivity Rate) di ulas tentang produktivitas blog khususnya periode semester-1 2010 terkait EL-102 session. Produktivitas diukur dari jumlah posting yang nota bene hanya menunjukkan aspek kuantitas saja.

Pengukuran dari sisi kualitas selalu menjadi persoalan yang tidak mudah, karena melibatkan aspek persepsi dan kepuasan pemerhati klasmaya yang hanya bisa diukur dari assessment (bukan measurement) melalui survey, polling, atau questionaire.

Salah satu metode lain yang mencerminkan perspektif Customer (kalau dalam Balance ScoreCard) atau perpspektif pemerhati klasmaya, adalah dari pengukuran traffik. Traffik bisa menunjukkan seberapa besar ketertarikan pemerhati atau pengelana internet untuk mengunjungi situs klasmaya.

Seingat saya beberapa tahun lalu pernah pula diukur traffik klasmaya, namun pengukuran kali ini memanfaatkan fasilitas gratisan yang berbatas waktu dari layanan web-stat.com. Layanannya cukup mudah dengan menyediakan beragam format laporan (report) dalam bentuk grafik maupun raw data yang bisa di akses melalui spreadsheet.

Periode pengukuran dilakukan dari tanggal 22 April 2010 sampai 23 Mei 2010. Berikut disampaikan beberapa penyajian report dalam bentuk grafik.

Total Visit per Day
Sesuai judulnya grafik ini menyajikan jumlah kunjungan klasmaya dalam periode pengukuran. Obviously dari beberapa kunjungan tersebut beberapa kali yang masuk adalah penulis sendiri. Namun dari grafik tersebut terlihat trafik tertinggi terjadi di tanggal 10 Mei 2010 dengan jumlah 17 kunjungan. Dalam hal ini saya mengasumsikan jumlah kunjungan (Visit) ekivalen dengan jumlah pengunjung. Saya tidak tahu pasti, event apa yang menyebabkan tanggal tersebut menjadi puncak (relatively) kunjungan. Namun dari data detil yang disediakan penyedia statistik, konten yang dijelajah hanya sedikit (5 dari 17) yang terkait dengan current posting, selebihnya adalah penggalian archive klasmaya sebagai Entrance Page. Jika dilihat dari Referrer hanya ada 4 dari 17 yang mengakses melalui direct access (klasmaya.blogspot.com) selebihnya adalah acuan dari Google untuk beberapa keyword terkait dengan RFID, QFD, eTOM, atau IT secara umum.

Jumlah kunjungan terkecil di tanggal 22 April 2010, boleh saya katakan less valid, karena bisa jadi tanggal tersebut dimulai perekaman yang belum satu hari penuh. Secara umum, traffic mengalami trend penurunan khususnya di akhir periode pengukuran. Jika grafik diatas dimampatkan dalam mingguan, traffik perminggu menjadi grafik sebagai berikut :

Grafik diatas semakin jelas menunjukkan kecenderungan traffik yang menurun, terutama sejak minggu yang dimulai 9 Mei 2010 (meskipun minggu tersebut sudah dikontribusi oleh puncak kunjungan di tanggal 10 Mei 2010) dengan rata-rata kunjungan per hari di angka 9.xx.



Jika dilihat dari rata-rata kunjungan per minggu, terlihat hari Sabtu menjadi waktu yang paling diminati untuk berkelana atau mengunjungi klasmaya. Kemungkinan besar, melihat jadwal offline class di hari Sabtu siang, ada waktu di pagi hari untuk mengecek issue atau last posting sebelum pertemuan (Cek waktu). Sedangkan hari minggu menjadi waktu yang tidak populer untuk mengakses blog ini, boleh jadi klasmaya mungkin terlalu serius untuk dikunjungi di hari minggu. Namun secara umum, kecuali hari minggu, traffik kunjungan relatif merata dari Senin sampai Sabtu, hal ini menyiratkan pemerhati klasmaya tidak hanya partisipan klas saja.

Ulasan lain bisa di bahas di posting berikutnya.

Tuesday, June 08, 2010

Customer Capitalism

The idea that corporations must focus
first and foremost
on maximizing value for shareholders
is inherently, and tragically, flawed.
.
It’s impossible to continually increase
shareholder value (i.e. stock prices)
which are driven by future expectations.
.
The focus on shareholder value
hasn’t done shareholders any favors.
.
Make customer value the top priority.
.
.

EL-102 Blog Produktivity Rate

Kalau saya bandingkan produktivitas posting di klasmaya, patut bersyukur, tahun ini ada peningkatan dari sisi kuantitas dibandingkan dua tahun sebelumnya. Jika diukur dari rerata, terjadi peningkatan sekitar 85% dari sebelumnya di kisaran 5.3-5.5 menjadi 10 point, kalaupun bulan Januari diabaikan, peningkatan juga masih cukup signifikan dari rerata 6.4 dan 6.6 di tahun 2009 dan 2008 menjadi 10.6 di tahun ini, atau setara dengan 63% growth.


Namun demikian, terlihat pada grafik bahwa aktivitas posting cenderung seasonal, dengan puncak di tengah periode belajar mengajar, artinya belum ada konsistensi produksi yang merata.

Data diatas baru dilihat dari aspek kuantitas, sedangkan aspek kualitas perlu dilakukan kajian mendalam melalui jumlah posting komentar, survey, persepsi pemerhati klasmaya atau mungkin pergukuran dari sisi traffic. Diperlukan cara-cara yang mudah dan murah untuk mengukur satisfaction index atau indicator lain yang setara serta memperlihatkan persepsi pemerhati, ada usulan ?

Saturday, June 05, 2010

Nilai Akhir EL-102 session 2010

Seperti biasa dan sesuai janji sebelumnya, meski pemerhati klasmaya ex EL-102 2010 boleh jadi mulai berkurang, review perolehan nilai akhir disampaikan pada posting Klasmaya kali ini.

Tahun ini, dari total 20 partisipan resmi dari EL-102 sessi 2010, sangat mengagetkan dengan sekira lebih dari separuhnya tidak mengikuti UAS. Tahun lalu saja, sudah sangat mencengangkan dengan lebih dari seperempat tidak mengikuti UAS. Mungkin angka 20 yang mengacu ke daftar absen tidak terlalu tepat mengingat ada beberapa partisipan yang belum pernah menampakkan batang hidung dan tenggorokannya. Kalau toh ada yang berhalangan mengikuti final test, nyatanya tidak ada satupun yang mengajukan permohonan ujian susulan. Namun sampai posting ini diturunkan, saya belum mendapat data resmi dari institusi perihal angka jumlah partisipan yang tepat.

Dari aspek keaktivan diskusi di klas offline, tugas-tugas, quiz, pekerjaan rumah dan UAS yang menjadi faktor penilaian, diperoleh angka jangkauan perolehan sebagai berikut:


Grafik ini dibaca nilai jangkauan pada sumbu x dengan jumlah pemirsa yang dibaca pada sumbu Y. Berbeda dengan tahun sebelumnya jangkauan (range) cluster kali ini dibuat lebih sederhana dengan hanya dibagi menjadi 4 kelompok.

Dari grafik diatas, terlihat bahwa hampir separuh dari partisipan mendapat score “less than 50”. Seperti telah disampaikan sebelumnya, score ini bukan murni penilaian, namun lebih akibat separuh dari daftar absen tidak pernah mengikuti program offline perkuliahan. Sehingga kita akan konsentrasikan pada separuh sisanya.

Dari aspek Diskusi yang diassess berdasarkan keaktifan di klas, terlihat 40% atau hampir separuhnya dinilai kurang dan dengan angka yang sama juga mendapat penilaian baik, sisanya di posisi cukup.

Aspek Quiz menunjukkan angka yang lebih menggembirakan dengan separuh dinilai baik dan hanya 20% yang dianggap kurang. Dari sisi Homework terlihat pada grafik, 60% dinilai cukup meski ada 20% sangat kurang. Demikian pula pada aspek Tugas / Assignement, sekitar 90% dari partisipan aktif memperoleh penilaian cukup dengan sisanya di kategori baik. UTS didominasi penilaian baik dari 60% partisipan. Berbeda dengan UTS, penilaian UAS tidak ada satupun yang masuk dalam kategori baik, sekira 70% berada di kategori cukup.


Grafik kedua menunjukkan “pacman”, sorry komposisi porsi jumlah pemirsa yang memperoleh nilai standard institusi. Slice terbesar “E” dikontribusi oleh hampir separuh (45%) partisipan yang nampaknya belum serius mengambil mata kuliah ini, atau mungkin berubah keputusan. Kontribusi terbesar kedua berada di posisi B dengan angka precisely seperempat dari total populasi. Segmen A sebagai penilaian terbaik diberikan pada 10% partisipan, kalau perhitungannya hanya melibatkan serius partisipan saja, nilai A dikontribusi oleh 20% populasi (not bad at all).

Jika dibanding tahun lalu, porsi A (“Excellence”) relative menurun dari 21% ke 10%. Kalaupun perbandingan ini meng’exclude partisipan yang unserious, masih terjadi juga penurunan dari 28% ke 20%.

Anyway, congatulation bagi yang telah mencapai nilai terbaik, dan tetap semangat dan terus berusaha jika masih belum mencapai hasil maksimal.

Keep in touch ..



Tuesday, June 01, 2010

Laba Bakrie melonjak akibat keuntungan selisih kurs


Diambil dari artikel Bisnis Indonesia dengan judul “Laba bersih Bakrie Telecom naik 407%” tanggal 01/06/2010

Judulnya cukup mengagetkan dengan pencapaian laba bersih lebih dari 4 kali lipat di industri yang relatif sudah berdarah-darah dengan bombardir tarif murah dan mengarah marginal. Meski pencapaian laba tersebut di dorong oleh keuntungan selisih kurs, namun peningkatan pendapatan lebih dari 7% perlu diacungi jempol, sementara beberapa operator malah minus.

Berikut cuplikannya:

Laba bersih PT Bakrie Telecom Tbk pada kuartal I/2010 melonjak 406,81% menjadi Rp29,04 miliar dari Rp5,73 miliar pada periode sama tahun lalu. Sedangkan pendapatan usaha sebesar Rp708,46 miliar hingga 31 Maret 2010, naik 7,63% dari periode sama tahun sebelumnya Rp658,24 miliar. Bakrie mampu menekan beban usaha 3,40% menjadi Rp585,22 miliar dari Rp605,12 miliar. Sebagai dampaknya, laba usaha naik 41,54% dari Rp73,01 miliar jadi Rp103,34 miliar.

Namun, di sisi lain, beban keuangan melambung 86,90% dari Rp45,27 miliar menjadi Rp84,61 miliar. Perseroan mencatat keuntungan selisih kurs Rp28,21 miliar dari sebelumnya merugi Rp14,19 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami perseroan pada kuartal pertama tahun lalu. Saat itu perseroan menderita rugi kurs Rp14,19 miliar.

Pertumbuhan pendapatan sebesar 7,63% merupakan capaian yang positif mengingat persaingan di sektor telekomunikasi yang kini semakin sengit.

Pendapatan ditopang terutama oleh produk prabayar Esia yang menyumbang hingga 95,27% terhadap total pendapatan jasa telekomunikasi sebesar Rp813,01 miliar. Kontribusi Esia tumbuh 11,70% dari Rp693,40 miliar pada kuartal I/2009 menjadi Rp774,56 miliar. Produk pascabayar menurun 15,57% dari Rp20,92 miliar menjadi Rp17,66 miliar dan hanya memberikan kontribusi sebesar 2,17%. Adapun, pendapatan dari produk prabayar lain yaitu Wifone dan Wimode pada kuartal I/2010 mencapai Rp11,28 miliar, sedangkan Esiatel Rp296,76 juta.

Final Test Result 2010


Dengan sangat menyesal, penilaian UAS 2010 baru dapat diselesaikan 1 hari lebih lambat dari deadline, walhasil pada saat akan di upload ke modul akademik online, ditolak oleh sistem. Mungkin seminggu sepulang dari Makati, ada banyak pekerjaan kantor menumpuk, juga dengan tenggat waktu yang bersamaan. Namun demikian, hasil penilaian total sudah di submit melalui email ke BAAK Institusi.

Secara umum, perolehan nilai UAS tidak jauh berbeda dengan pencapaian tahun sebelumnya, a.k.a “dissatisfied”. Dari 40 soal multi-choice pilihan tidak ada satupun yang menjawab lebih dari separuh pertanyaan dengan benar. Perolehan tertinggi hanya dicapai pada angka 16 soal benar (yang menarik, dicapai oleh 3 siswa). Rata-rata jumlah yang dijawab dengan benar adalah 13.1 sementara minimal di angka 7 jawaban benar (ga ada 1/5 nya). Jika nilai perolehan dilakukan clustering, hanya ada 2 kelompok besar yaitu kelompok >10 benar (70%) dan <10 benar (30%).
Boleh jadi soalnya terlalu sulit, banyak jebakan, atau membingungkan. Meskipun jumlah soal sudah banyak berkurang dari tahun sebelumnya (60 soal), namun ternyata tidak banyak terjadi peningkatan nilai.

Meski demikian pada penilaian akhir, angka real perhitungan UAS termasuk soal essay dilakukan adjustment untuk distribusi normal rating. Adjustment dari faktor koreksi metode pembelajaran yang mungkin belum efektif atau dari faktor kesulitan soal. Nilai akhir moga-moga sudah bisa disampaikan oleh institusi, kalaupun belum, saya coba buat review sekilas dari total partisipan.

Wednesday, May 26, 2010

Bisnis Konten Perusahaan Telco

Dicuplik dari artikel Koran Jakarta Desk (Senin, 24 Mei 2010) dengan judul "Telkom – SK Telecom Garap Bisnis Konten Digital"

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk menggandeng South Korea (SK) Telecom untuk menggarap bisnis konten digital. Melalui bisnis tersebut nantinya akan terjadi pusat pertukaran data untuk musik, permainan, dan klip video.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengungkapkan bidang usaha dari perusahaan patungan itu untuk tahap pertama adalah fulltrack music download. Alasannya, SK Telecom punya bentuk digital musik dengan bisnis model yang sudah terbukti di dunia. Selain itu, juga punya master license bank hampir dua juta lagu, sementara label lokal baru sekitar 10 – 15 ribu lagu.

Di perusahaan patungan tersebut, Telkom 51 % dan SK Telecom 49 %, diharapkan dapat menggarap jaringan dan layanan telekomunikasi yang canggih sehingga memperbaiki bisnis telekomunikasi yang saat ini pasarnya sudah mulai mengalami kejenuhan.

Perseroan mengubah fokus untuk layanan data dan mencari pertumbuhan konten. Strategi pertumbuhan pada pendapatan data, Internet, dan teknologi informasi itu mencerminkan strategi perusahaan dalam menumbuhkan bisnis baru (new wave) semakin menunjukkan hasil yang terus meningkat.

Analis Capital Price menilai walaupun Telkom masih mendominasi pasar dengan pangsa sekitar 50 %, kinerjanya akan berbahaya jika tidak melakukan inovasi.