Sunday, February 22, 2009

Peluang Telco dari IPTV


Artikel “How telcos can succeed with IPTV” menunjukkan bagaimana perusahaan telekomunikasi memiliki peluang meraih keunggulan kompetitif dibandingkan operator TV cable atau Satelit melalui layanan IPTV. Ibarat The Empire Strikes Back nya Star Wars, perusahaan telekomunikasi bisa memanfaatkan IPTV dengan fitur “iklan beralamat” (addressable advertising) sebagai bisnis yang bisa mengangkat pendapatan dari layanan Voice yang semakin menjadi komoditi dan cenderung menurun.

Riset dari Infonetics memperkirakan pelanggan IPTV di seluruh dunia akan tumbuh 53.7 juta di tahun 2009 dengan pendapatan sebesar US$38 milyar. Namun mengejar pertumbuhan ini dalam pasar yang kompetitif bukan hal yang mudah. Sebagai penyedia layanan video setelah operator satelit dan cableTV, penawaran IPTV oleh perusahaan telekomunikasi memerlukan pembeda (diferensiasi) dari layanan yang ada.

Salah satu fitur pembeda adalah melalui kemampuan pengalamatan (addressability). Jaringan IPTV mampu menyalurkan konten ke penerima individual, sehingga memungkinkan untuk beriklan secara spesifik (addressable advertising). Pada akhiirnya kemampuan ini bisa menjadi “enabler” bagi operator IPTV untuk menghasilkan pendapatan tambahan melalui iklan seiring dengan bertambahnya jumlah pelanggan.

Untuk dapat memperoleh pendapatan ini, perusahaan telekomunikasi sudah tentu harus mempersiapkan model bisnis yang tepat serta menyediakan infrastruktur untuk data trafik dan proses billing yang sesuai.

Dalam model iklan retail tradisional, penyedia konten menyediakan program yang membuka peluang beriklan sedangkan delivery operator menjual dan menyalurkan iklan. Penyedia konten mengutip pembayaran dari konten yang bisa diiklankan dan delivery operator mengumpulkan semua pendapatan iklan dari penjualan iklan melalui sales force.

Sedangkan dalam model bisnis iklan wholesale yang baru, penyedia konten menyediakan materi yang dapat disisipkan iklan pada operator penyedia IPTV, namun dapat menetapkan pilihan iklan untuk target pasar tertentu. Operator juga dapat memberi informasi ke penyedia konten terkait dengan jumlah pemirsa yang melihat iklan dan berapa banyak jumlah yang melewatkannya (memindahkan channel). Sehingga, alih-alih memasang iklan secara nasional atau lingkup regional, penyedia konten dapat menempatkan iklan individual dalam suatu kota tertentu, atau spesifik area, atau bahkan target pasar dari kelompok demografis tertentu.

Tuesday, February 17, 2009

14th of February 2009 Class at a Glance

Pertemuan ketiga ini sebenarnya masih membahas materi pendahuluan. Jadi mungkin pembahasannya rada panjang untuk awal introduksi yang mencakup banyak hal. Tapi tak mengapa lah, yang penting topic dan issue-issue yang terjadi dapat dibayangkan dari semula.

Materi masih terkait dengan issue, yang dalam sessi kali ini lebih difokuskan pada aspek regulasi dan market. Ditunjukkan bagaimana regulasi, khususnya di Indonesia, dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penetrasi. Pasar yang awalnya monopoli berubah menjadi terbuka dengan dampak yang akhirnya menguntungkan pelanggan dan pertumbuhan ekonomi. Sub issue dari Regulasi juga sedikit dibahas, misalnya number portability, unified license, atau frekuensi BWA yang masih digodok untuk memberikan andil dalam pertumbuhan industri yang atraktif dan menguntungkan.

Aspek lain yang dibahas dalam pertemuan ke tiga adalah aspek Market yang dalam hal ini mengacu pada pasar saham. Diperlihatkan bagaimana porsi industri telekomunikasi yang menjadi bagian dari segmen industri infrastruktur memberikan kontribusi hampir seperempat market kapitalisasi bursa Indonesia, sedikit dibawah industri perbankan. Meski pemain yang sudah terdaftar di bursa masih terbatas (6 dari 11 pemain besar), namun industri ini cukup memberikan geliat pertumbuhan pasar bursa IDX, khusunya melalui TLK yang masih dominant.

Selain aspek market capital, dari sisi pelanggan dibahas shares jumlah LIS untuk bisnis wireless (nirkabel), baik seluler maupun fixed wireless access. Terlihat bagaimana bisnis wireless, menjadi daya tarik industri telekomunikasi, dari pertumbuhan pelanggan dan jumlah pemain. Ramalan konsolidasi mungkin akan dibahas pada beberapa sessi di depan.

Issue lain antara lain bisnis proses telkom, kecenderungan pergeseran arah bisnis, serta konsep peningkatan nilai (value) menjadi bahasan akhir sessi hari ketiga yang menutup paparan introduksi yang dikupas selama 3 kali pertemuan.

Selain metode pengajaran, pertemuan tempo hari dibahas pula suara peserta mengenai tugas yang telah dikerjakannya. Tugas kompilasi topik yang menjadi berita di media terkait industri telematika disampaikan satu persatu sebagai bagian penilaian disamping sharing dengan audiens lainnya.

Seperti yang pernah saya sampaikan, tugas ini dan tugas sebelumnya (opini industri telematika di Indonesia) diwajibkan untuk disubmit pada weblog yang sudah saya persiapkan di “Obrolan Bisnis Telekomunikasi” (OBT) dengan menggunakan user KlasmayaPupil@gmail.com (password moga-moga masih ingat). Atau bisa juga langsung ke http://www.blogger.com/ dengan userid dan password tersebut. Selain dua tugas yang sudah dikerjakan, you may feel free to submit your own article related to that blog’s theme.

Jadi mulai dari diri sendiri, mulai dari yang bisa kita lakukan, dan dimulai sekarang juga. Kontribusi dan keaktifan di Klasmaya maupun di OBT menjadi bagian dari aspek penilaian.

Thursday, February 12, 2009

Kalau anda jadi CTO pemerintahan Obama

Posting kali ini mengulas artikel blog dari Tom Foremski dengan judul “Intel wants WiMAX to lead Obama’s tech initiatives” yang pernah sekilas dibahas di klas offline mengenai bagaimana Intel mengusulkan pemerintahan Obama untuk fokus pada wireless broadband dan WiMAX.

Setelah cukup besar berinvestasi di riset teknologi WiMAX yang berpotensi menyediakan akses internet murah ke pelanggan, Intel berencana untuk mengintegrasikannya dalam chip Intel sebagaimana teknologi WiFi yang menjadi bagian standard dari produk Notebook. Namun sudah tentu rencana ini perlu didukung pula oleh infrastruktur WiMAX.

Obama sendiri telah menunjuk CTO untuk menentukan teknologi yang akan dikembangkan, diinvestasikan serta menjadi teknologi inisiatif pemerintahannya. Paket stimulus ekonomi difokuskan pada infrastruktur yang perlu dibangun, termasuk infrastruktur digital, dimana Intel berharap WiMAX akan berperan besar dalam penggelaran akses pita lebar nirkabel masa depan.

CTO Intel CTO berencana memberikan pertanyaan (survey) ke US CTO terkait dengan teknologi broadband. Mungkin ada baiknya jika kita berandai-andai, seandainya kita menjadi CTO pemerintah, manakah yang menjadi prioritas (diurutkan) dari inisiatif berikut ini.

- Provide incentives to citizens to make fast, affordable, high-quality broadband deployment a reality for all Americans.

- Focus on federal initiatives that expedite the roll-out of wireless broadband technologies across entire cities.

- Advocate open spectrum policies that enable mobile carriers and manufacturers to make market-driven agreements to deploy next-generation wireless broadband technologies like WiMAX.

Jawaban bisa melalui komentar di posting ini juga....

Pertanyaan saya, setelah tahu jawaban prioritas diatas, kira-kira strategi apa yang akan dilakukan Intel dari tiga opsi diatas ?

Monday, February 09, 2009

31st of January and 7th of February 2009 Class at a Glance

Mustinya posting Class at a Glance ga’ boleh di gabung model begini, tapi kali ini mohon dimaafkan, punteun. Alasan pertama, masih klise di aspek skedul kerja yang ketat, alias sibuk, a.k.a. nggak sempet. Alasan kedua materi yang disampaikan di dua sessi lalu sebenarnya dipersiapkan untuk sessi pembuka di hari pertama, namun karena diskusi nya cukup panjang walhasil sampai minggu kedua juga belum kelar.

Bahasan dua sessi lalu menyangkut aspek introduksi, lingkup dan subjek mata kuliah EL-102. Pendahuluan mengulas perkenalan, dan media klasmaya yang diposisikan menjadi media alternative untuk klas. Sementara dari aspek linkup, dibahas dengan cukup panjang, karena lingkupnya pun cukup lebar. Issue di industri juga dibahas, selain dari aspek terminologi juga selintas cerita dalam issue tersebut. Pemain di industri telematika juga menjadi konsideran untuk lebih memahami lingkupnya.

Di sessi kedua mulai diulas sedikit pembukaan untuk analisis Porter. Meski framework ini cukup lama, namun untuk issue industri belum ada pengganti yang sepadan. Bahasan 5 Forces akan dielaborasi lebih panjang di sessi depan. Selain Portere, tools lain seperti Analisa Portfolio juga sedikit diulas sebagai bahasan dari lingkup strategi bisnis.

Bahasan di minggu kedua mulai masuk ke aspek issue terkait di industri telematika seperti populasi, ICT demand, pertumbuhan pasar, yang masih relevan meski beberapa data masih mengacu pada materi tahun lalu. Kita akan solusikan updating data melalui kolaborasi di blog projek kita tahun ini.

Media sebagai salah satu wahana untuk mengamati industri diulas dalam pertemuan minggu lalu. Dengan perbandingan issus media dari tahun lalu dengan kini. Topik ini juga menjadi materi untuk homework minggu depan, dengan membuat kajian dari issue yang dipilih dari media (kliping) plus analisa dan opini sendiri.


Seperti biasa, materi presentasi sudah bisa diunduh disini. Saya masih belum dapat alternatif portal pengganti yang tidak berbatas waktu untuk menghindari file di delete.

Tabik ...

Friday, February 06, 2009

Welcome to all EL-102 (2009) audiences

Selamat bergabung …

Posting Klasmaya terakhir ternyata setahun yang lalu, pertengahan Desember 2008 untuk mata kuliah Pengembangan Produk Telematika. Setelah lama ditinggal, kurang lebih hampir dua bulan. Beberapa link untuk materi bahasan rupanya sudah di hapus penyedia space gratisan. Setelah saya cek, memang persyaratannya tidak boleh ditelantarkan lebih dari 30 hari. Seingat saya, ini kali kedua klasmaya diperlakukan seperti ini, konsekuensi layanan gratis memang. Mungkin ada bagusnya kalau cari alternative buat hosting file gratis, ada usulan?

Buat pemirsa baru, sekali lagi selamat bergabung. Maaf saya baru posting malam ini, padahal besok musti temu muka (offline) lagi. Seperti yang pernah diulas di pertemuan pertama, media ini dipergunakan sebagai opsi bagi pemirsa untuk berkomunikasi, kolaborasi, atau sekedar nengok kalau-kalau ada info penting terkait EL-102. Kalau saya lihat lagi, usianya sudah lebih dari 3.5 tahun sejak tahun 2005 pertengahan. Mustinya sih ada perbaikan, tapi tidak mudah untuk menerapkan continuos improvement, apalagi kalau cuman sekedar suplemen di aktivitas non major. Jadi buat kalian, minimal buat semester ini, masukkan situs ini di favorit, boleh juga di tarok di situs/blog/facebook kalian.

Buat pemirsa lain yang tidak berhubungan dengan EL-102 atau yang dulu pernah bergabung, do not be hesitate to keep in touch on this blog.

Again welcome aboard....

Friday, December 19, 2008

Online video is not cannibalizing TV

Inspired by Nielson

A few weeks ago, IBM released a report showing 36% of people watched significantly less TV as a result of their online video viewing. Their study was based on 2,800 people polled across six countries.

A more recent report from Nielsen, however, reveals the opposite: TV viewership is not declining, but is in fact at peak levels. "The new report from the media analysts at Nielsen found that video viewing across all three screens - TV, Internet, and mobile - increased from last year. As of the third quarter 2008, the average person in the U.S. watched approximately 142 hours of TV in one month. In addition, people who used the Internet were online 27 hours a month, and people who used a mobile phone spent 3 hours a month watching mobile video," summarizes Sarah Perez of ReadWriteWeb.

It is important to note that the Nielsen study polls people across the US only.

Perez goes on to emphasize that TV-networks would make a mistake in not making their videos available online. "Viewing has increased on all three screens. That means that even though TV viewing is an all-time high, both mobile viewing and online videos are seeing a surge as well," write Perez. "If anything, that should be a huge encouragement to the industry as it proves that, not only does online and mobile video not detract from TV viewing, there's an opportunity to monetize all three screens for record amounts of income too."

Tuesday, December 16, 2008

Charlotte

  1. Seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, minggu kemarin ini saya musti ninggalin Indonesia ke negeri nya om Sam "Obama" tepatnya di kota Charlotte.

    Acaranya cuman seminDaftar Bernomorggu atau persisnya 5 hari di Hilton Center, meskipun dalam rangka pengiritan saya lebih milih nginep di Days Inn (Motel). Foto ini diambil di sekitar hotel yang ngelihatin landmark "Queen of the City" (ada yang tahu kenapa disebut itu?) kalo nggak salah namanya gedung Sears(?).

    Tadinya saya berencana ngirim posting ini waktu di hotel, soalnya meski hotel tersebut jauh lebih murah dari Hilton tapi mereka nyediain fasilitas WiFi gratis. Bagusnya lagi meski di kamar, dan saya juga gak ngelihat antene atau satellit seperti kalo di kita, tapi kualitasnya bagus. Sementara kalau saya denger dari rekan yang nginep di Hilton, mereka musti charge lagi untuk fasilitas itu.

    Tapi meski beberapa malam ada akses internet, lebih banyak fasilitasnya dipake buat email dan chatting ke kolega dikantor atau famili di rumah. Sayangnya laptop saya nggak ada mic buat saya pake Skype. Sementara posting Klasmaya yang meski diniatin dari awal gak kesempatan.

    Untungnya sekarang saya lagi transit di Taipei Airport, dapet free WiFi yang bisa saya pake buat nambah posting Klasmaya.

    Jadi Hallo dari Taipei....

    Kalau saya cek dari email, beberapa sudah ngirim usulan soal UAS. Tapi saya belum dapat kabar dari BAAK, tepatnya tanggal berapa UAS untuk mata kuliah kita. Jadi kita tunggu saja.

Saturday, December 06, 2008

5th December 2008 Class at a Glance : The Business Model

Seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya, berhubung sejak tanggal 6 sampai 16 Desember saya harus melakukan perjalanan ke luar negeri, kuliah dimajukan ke tanggal 5 Desember (sebelumnya direncakan tanggal 3 Desember namun dibatalkan karena saya harus menghadiri rapat di Jakarta). Sebenarnya keberangkatan saya juga pada akhirnya digeser menjadi hari Minggu tanggal 7 Desember, tapi toh jadwal pengganti sudah ditetapkan. Meski sudah direncanakan dan dijadwal ulang beberapa kali, toh kuliah pengganti yang semula dijadwalkan pada pukul 17:00 sempat terlambat lebih dari setengah jam gara-gara lupa dan terbenam pekerjaan untuk mengantisipasi selama 10 hari kedepan, untung salah seorang partisipan dari kalian mengingatkan saya.

Pembahasan klas sebagaimana di rencanakan semula mengulas materi tentang Model Bisnis, khususnya model yang berbasis web. Materi ini saya ambil dari situsnya Prof. Michael Rappa . Jadi sebenarnya tanpa handout materi, kalian bisa akses langsung di situs tersebut. Kalau toh di posting kali ini disediakan juga handout seri terakhir Klas 2008, kalian masih bisa menengok situsnya Rappa untuk lebih memperjelas dan meng’elaborasi bahasan model bisnis.

Pada dasarnya bahasan di klas kemarin lebih mengulas 9 kategori model bisnis yang berhasil diidentifikasi Rappa. Kategori tersebut antara lain Brokerage, Advertising, Infomediary, Merchant, Manufacturer (Direct), Affiliate, Community, Subscription, dan Utility masing-masing dengan penjelasan ringkas dan contoh web sitenya.

Business Model meski bisa dilihat di posisi “beyond product development”, namun seperti yang sering dibahas sebelumnya, pada saat produk baru yang menjadi “main revenue generator” suatu perusahaan khususnya di industri telematika, produk tersebut akan sangat terkait dengan model bisnis yang menjelaskan bagaimana suatu perusahaan memperoleh keuntungan dari aspek finansial.

Sessi terakhir yang seyogyanya saya menerima “a list of possible question for final examination” nampaknya belum terealisir, walhasil saya harus menunggu email dari kalian. So, I look forward to receive your email soon.

Sebagai persiapan untuk UAS, materi semua sudah disampaikan lengkap dengan handout nya di klasmaya. Biasanya open book, though not include laptop or even cellphone, jadi persiapannya hanya baca biar tahu posisi topik nya dihandout mana.
Sampai jumpa di UAS.

Thursday, December 04, 2008

Jadwal Kuliah pengganti Klas terakhir dan Soal UAS


Jadwal pengganti klas di hari Rabu, ternyata harus bergeser lagi ke hari Jum’at jam 17:00 – 19:00 di ruang 204 (sesuai konfirmasi dari BAAK). Hari Rabu kemarin mendadak saya harus berada di Jakarta.

Rencana pembahasan selain review, juga pembahasan materi yang belum disampaikan seperti Business Model. Disamping itu, kalau melihat klas 2006 masih ada materi issue Telco yang bisa dipaparkan, meski sebagian besar sudah ter’cover di bahasan NGN lalu.

Untuk persiapan UAS, saya minta kalian mempersiapkan draft usulan pertanyaan yang layak sebagai masukan penyusunan soal UAS.

Salam dari Anda untuk Anda.

Wednesday, December 03, 2008

Layar Tancep Bulan Desember: We Think

Setelah absen di bulan November, bulan Desember ini Layar Tancep series akan menampilkan video yang buat saya sangat menarik (untuk membiasakan lebih meng'apresiasikan sesuatu). Video berdurasi 4 menit ini mengulas (kalau tidak salah) buku dengan judul sama, yang memaparkan pandangan antara lain:
• Information is everywhere, which is pretty confusing;
• Ideas take life when they are shared;
• New ideas usually come trough conversations, and the Web is a mass of conversations;
• The motto: We Think Therefore We Are
• You are what you share

Selamat menikmati




29th November 2008 Class at a Glance : Montage of NGN Seminar

Judul montage mungkin lebih cocok dipakai disini, daripada pake judul aslinya “Future Lifestyle, Business & Organization--The Connected Life--Digital Community--Youth Culture For Tomorrow” yang terlalu panjang buat dipajang disini. Yang namanya montage (mosaic?) kalau gak salah nempel-nempel bagian atau potongan dari cuplikan kecil sehingga melukiskan gambaran utuh yang boleh jadi berbeda atau memberikan ide komprehensif baru.

Paparan kali ini membahas potongan-potongan dari materi seminar Insync2014 di Pacific Place Jakarta beberapa bulan lalu. Insync2014 pada galibnya merupakan program Telkom dalam mengimplementasikan NGN (ada yang masih ingat singkatannya?) bak dari sisi cost efisiensi infrastruktur maupun flexibilitas inovasi produk baru. Dari sekian makalah yang ditampilkan, hanya beberapa paparan saja yang dicuplik, dipotong dan ditempel jadi montase atau mosaic baru. Sebagai akademisi, kita wajib menampilkan tribute buat penulis aslinya, antara lain Dr. Frank Weyrich (Telco Effectiveness & PLC Detecon Intl.); Varid Airlangga (Alcatel-Lucent); Arthur T. Siahaan (SE Director, CISCO); Indra Utoyo (CIO, Telkom); Vishal Singh (Dir. Comm. Sector, Microsoft SE Asia).

Montase baru menampilkan antara lain isu terkait dengan Consumer Digital Lifestyle Phases, Future Lifestyle, Business & Organization, Web2.0 opportunity, Emerging Connected Life, Device Agnostic, Valuetainment, and the Indonesian Youth Trends. Lebih lengkapnya dapat disimak pada handout berikut ini.

Tuesday, December 02, 2008

Upload e-Book, bagian dari Bab-13 nya Dieter

Meski handout business case calculation sudah dipaparkan dan diupload, berikut ini ditambahkan materi tambahan dari bukunya Dieter yang khusus membahas Economic Decision Making. Materi ini sebenarnya pernah disubmit dua tahun lalu di sini.

Karena aspek copyright (hari gini...masih ada isu copyright) bagian dari bab-13nya Dieter tidak saya scan semua. Tapi karena bobot volumenya cukup besar saya bagi menjadi dua bagian.

Bagian-1
Bagian-2

Selamat bertafakur

25th November 2008 Class at a Glance : Business Case Financial Metrics

Materi pembahasan dengan topik berbau finansial ini menjadi bagian dari pengembangan produk, sebagai bagian pengambilan keputusan produk yang akan di launching.

Isu dari topik kali ini mencakup perhitungan, kalkulasi dan analisis business case yang meliputi Net CF; Cumulative CF, Payback, BEP, ROI, NPV, IRR (akronim ini seharusnya bukan hal yang asing lagi sekarang). Analisa biaya dan keuntungan mencakup aspek “time value of money” dari discount rate yang ditetapkan dengan mengacu pada rate yang umum dipakai.



Tadinya saya rencanakan submit pula file spreadsheet dari formula yang dibahas, tapi nampaknya tidak terlalu mendidik dan membuat kalian semakin manja, jadi mending bikin sendiri lah toh gak terlalu susah.

Meski pembahasan perhitungan business case menggunakan tool spreadsheet, mungkin dipelajari juga perhitungan manualnya, sekiranya muncul di UAS dan gak boleh pake laptop. Jadi selamat hitung-menghitung..

Tuesday, November 25, 2008

Quote of This Month (12/08)

Norman Augustine,
former CEO of Lockheed Martin


I’ve always wanted to be successful. My definition of being successful is contributing to the world... and being happy while doing it....

You have to enjoy what you are doing. You won’t be very good if you don’t. And secondly, you have to feel that you are contributing something worthwhile....

If either of these ingredients is absent, there’s probably some lack of meaning in your work.

22nd November 2008 Class at a Glance : Dispersed Process Discussion

Sebagai kompensasi minggu sebelumnya yang terlambat sehingga kuliah dibatalkan, pertemuan kali ini saya sudah hadir sedikit lebih awal dan hasilnya memang lebih dahulu datang dibandingkan pemirsa.

Seperti yang sudah di issue kan jauh hari sebelumnya, bahasan kali ini yang materinya sudah dishare sebelumnya, dimulai dengan quiz. Mirip quiz sebelum praktek di laboratorium. Bahasan diambil dari materi sebagian eBook Dahan&Hauser. Hasil quiz belum bisa disampaikan disini, tapi melihat kesiapan pemirsa dengan materi fotocopy yang dibawa, bisa diperkirakan sudah ada persiapan.

Topik yang dibahas meliputi Tradeoffs dalam pengembangan produk, End to End Product Development - framework yang diambil dari model Xerox, Kano Model, The Mind of the Market, dan Benefit Chains.

Untuk mengganti klas tanggal 15 yang dibatalkan, rencananya akan diadakan hari Rabu, tanggal 26 November jam 16:00-18:00, saya sudah kontak ke BAAK, namun karena belum ketemu dengan pengelola jadwal (Serri?), BAAK baru terima informasi dan belum bisa di dipastikan di ruangan mana yang akan dipakai. Kita tunggu perkembangan lebih lanjut.

Sunday, November 23, 2008

15th November 2008: Terribly sorry, I missed the class

.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf atas keterlambatan ups .. ketidak hadiran pada klas minggu lalu.
Traffic Jam pada hari itu kurang diantisipasi dan tidak bisa diatasi.
Sekali lagi mohon maaf.
.

Saturday, November 15, 2008

8th November 2008 Class at a Glance : The Marketing Day

Klas 8 Nov lalu telah dibahas materi dengan topik Marketing sesuai course plan yang telah disepakati. Meski materi tersebut biasanya disampaikan untuk dua kali klas, minggu lalu berhasil dikompress dan disampaikan dalam satu kali pertemuan.

Topik Marketing sebenarnya sangat luas, beberapa jurusan bahkan menjadikannya dalam satu, dua, atau tiga mata kuliah wajib. Tapi sebagai materi tambahan terkait dengan pengembangan produk, bahasan marketing hanya diulas beberapa hal mendasar. Konsep dan pemahaman dasar pemasaran diharapkan dapat menjadi awal keingintahuan (curiousity) untuk lebih memperluas wawasan topik tersebut yang terkait dengan NPD atau manajemen strategi.


Sessi pertama diulas pemasaran dari aspek perkembangan ekonomi baru dari pengaruh revolusi digital. Aspek ini dapat merubah atau paling tidak meng’adjust praktik pemasaran sehingga memberikan benefit baru bagi konsumer maupun perusahaan. Pendekatan dan jargon marketing seperti e-Business bisa menjadi salah satu contoh pemanfaatan digital. Issue Web 2.0 yang juga muncul dari praktisi pemasaran saat ini juga memicu pendekatan baru, hanya saja isu ini belum diulas mendalam di sessi ini.

Aspek lain seperti target market, segmentasi, demand, channel, relationship marketing, dan enhancing value juga diulas di sessi pertama. Aspek enhancing value bisa memiliki hubungan yang sangat erat dengan subjek pengembangan produk melalui alternatif raising benefit atau reduce cost atau variasi kombinasi keduanya.

Sessi kedua lebih mengarah pada sistem informasi marketing, dengan cakupan data internal, intelligence systems, marketing research, dan decision support. Selain itu variasi basis segmentasi dalam kaitan sistem informasi juga dibahas di sessi ini. Selengkapnya bisa dibaca di dua handout yang bisa diunduh disini.

Wednesday, November 12, 2008

Task of this week (for next 15th November 2008)

Kalau omongin Task / Tugas, klas minggu lalu sudah disampaikan tugas kelompok yang (setelah di negosiasi) musti di submit dua minggu kedepan, mengenai komparasi produk (lebih bagus produk telematika). Dari bahasan klas lalu juga disepakati produk yang layak untuk dianalisa antara lain produk LCD TV atau HDTV sebagai media layanan IPTV, Browser, dan Kamera Digital, usulan Search Engine mungkin rada minim untuk variasi pembandingannya . Kelompok ditentukan sendiri, dengan maksimal 4 orang, tapi bukan berarti boleh sendirian, biar belajar berkolaborasi-lah (iya lah masak iya dong).

Untuk minggu ini direncanakan akan dibahas materi dari eBook nya Dahan & Hauser. Jadi diharapkan sudah dibaca sebelumnya, kalau perlu mungkin akan dilakukan semacam quiz sebelum pembahasan materi. So prepare yourself and be there.

Turn Art into Profit nya BMW


Masih ingat statement dari BMW's chief of design: "We don't make 'automobiles'. We make moving works of art that express the driver's love of quality". Pernyataan tersebut muncul pada ulasan buku “Six Essential Aptitudes” nya Daniel Pink khususnya di aspek Design yang tertuang di handout seri-6.


Artikel berikut ini, dengan judul “The Ultimate Creativity Machine: How BMW Turn Art into Profit” mungkin bisa lebih menjelaskan statement diatas. Artikel diambil dari Harvard Business School periode Januari 2001, saya sendiri juga belum baca sampai habis, tapi tidak ada salahnya di share untuk dibahas kalau memang menarik. Have a nice reading.

Saturday, November 08, 2008

5th November 2008 Class at a Glance : Substitute Class discuss about Concept Generation and Evaluation

.
Pada klas pengganti lalu, yang seharusnya tanggal 1 November 2008, dibahas materi dari buku acuan Dieter dari bab-5. Materi Concept Generation and Evaluation merupakan bagian dari Proses Desain yang meliputi proses Define Problem, Gather
Information, Concept Generation, Evaluation of Concepts, Product Architecture, Configuration Design, Parametric Design, dan Detail Design. Empat proses pertama dikelompokkan dalam Conceptual Design, sedangkan sisanya menggambarkan Embodiment Design.

Isu-isu yang terkait dengan disain konsep antara lain aspek kreativitas dan penyelesaian masalah melalui metode antara lain seperti brainstorming, ataupun mind map. Sementara pada aspek evaluasi dibahas beberapa metode pemilihan konsep antara lain melalui Absolute Criteria, Pugh Selection, Measurement Scales, Weighted Decision Matrix, dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Beberapa contoh penerapan metode tersebut dipaparkan pula mengacu pada referensi Dieter.

Handout sudah disampaikan sejak posting beberapa hari lalu. Sayangnya, meski sudah diposting jauh sebelum pembahasan di klas, hanya beberapa saja yang mampir di Klasmaya, sebagian dari yang mampir, hanya sebagian kecil saja yang sudah mengunduh file, dari yang sudah mengunduh pun belum ada yang sempat membacanya. Nampaknya perlu ada semacam pendekatan berbeda untuk merubah kondisi seperti ini. Ada usulan?

Tuesday, November 04, 2008

Quote of this Month (11/08)

The best way to have a good idea is to have a lot of ideas.



Linus Pauling (1901-1994), scientist, the only person who has won two undivided Nobel Prizes

Friday, October 31, 2008

Klasmaya's 1st Podcast

Posting kali ini menampilkan Podcast yang diambil dari situsnya Wharton University . Podcast dengan judul asli Innovation Network mengulas tentang ide dan inovasi yang bisa digenerate, di tumbuhkan atau muncul dari jejaring eksternal perusahaan, mirip dengan kolaborasi Web2.0. Seberapa mungkin konsep ini bisa diterapkan, bisa disimak dalam podcadst berikut. Bagi yang kesulitan mengakses melalui panel audio bisa langsung diunduh disini.



Tidak ada kuliah minggu ini


.

Berhubung 4 (rather than 1) dan lain hal, maka kuliah tanggal 1 Nov 2008 ditiadakan. Setelah saya konfirmasi dengan pengelola institusi, jadwal minggu in digeser ke hari
Rabu, Tanggal 5 November 2008, jam 16:00 di Ruang 202.


Demikian pengumuman ini disampaikan, mohon disampaikan pada yang berkepentingan.

25th October 2008 Class at a Glance : QFD more detail and discuss some articles

.
Posting kali ini telat cukup lama juga. Semestinya ulasan klas minggu lalu disubmit a couples of day after the class tapi tampaknya baru a day before the next one. Sebenarnya rencana klas minggu lalu akan dibahas materi yang diambil dari beberapa artikel yang pernah disubmit di Klasmaya dan materi dari Dieter bab 5. Namun atas permintaan audiens, di awal klas dibahas lebih detil dari flash video nya QFD yang semestinya jadi rujukan buat PR hari itu. Bahasan QFD yang juga sudah saya email beberapa hari lalu untuk lebih memperjelas rujukan, spent almost half of class time, though I think its worthfull. Walhasil rencana buat bahas materi kedua mengalami penundaan even jadi tugas baca buat klas minggu depan. Tapi tampaknya jadi kurang optimal pula jika posting materi bacaan baru muncul menjelang klas berikutnya mulai.

But let us look at the bright side, mungkin gara2 telat ini jadi bikin pemirsa lebih fokus nyelesaiin PR QFD minggu ini. Moga-moga klas sabtu mendatang tidak ada alasan lagi penundaan PR QFD.

Materi bahas artikel mengacu pada artikel dan buku dari A Whole New Mind; How to Design the Perfect Product ; The Beauty of Simplicity dan Ten Google Golden Rules. Kecuali bukunya Daniel Pink dan 10 Rules, materi lengkap sudah disubmit di Klasmaya.






Aspek Story dari Six Senses (Design, Story, Symphony, Empathy, Play and Meaning) yang ditulis mas Pink mungkin bisa dikorelasikan dengan issue “word of mouth” nya marketing. Dengan cerita, “bikin hidup lebih hidup”, ada faktor emosional yang lebih menyentuh daripada sekedar informasi belaka. Cerita bisa diambil dari experience pelanggan yang disampaikan ke calon pelanggan sehingga bisa lebih memperkuat hasrat untuk mencoba. Industri jajanan / cafe di Bandung tidak terlepas dari word of mouth marketing, yang bahkan local residence pun belum tentu tahu.



Materi Dieter Ch. 5 sebagai pengganti text book yang belum dibeli atau di copy bisa dibaca sebelum klas besok.

Thursday, October 23, 2008

eBook dari Dahan & Hauser

.
Posting kali ini saya coba upload salah satu eBook dari Dahan & Hauser. Materi dari eBook yang ditulis oleh Ely Dahan dan John R. Hauser ini sempat diulas di awal kuliah dengan gambar slide seperti dibawah ini. Gambar ini sebenarnya hasil modifikasi dari proses yang digunakan perusahaan Xerox.



Kalau saya cek sessi kuliah dua tahun lalu, memang sempat juga dibahas meski handout yang mengulas materi itu nampaknya belum dishare. Materi nya cukup “product development”, ada banyak terminologi, istilah, pendekatan dan konsep yang dapat meningkatkan wawasan tentang pengembangan produk. Jadi cukup representatif untuk dijadikan bacaan wajib kuliah ini. eBook ini saya potong sebagian lebih untuk fokus bacaan selain mengurangi beban upload, toh diupload semuanya juga belum dipastikan dibaca semua.

Dari catatan saya, eBook ini hasil download dari situs cipd.mit.edu, namun nampaknya sudah berubah alamat. eBook bisa langsung diunduh disini.

So, have a nice reading... we’ll discuss it next time...

Monday, October 20, 2008

18th October 2008 Class at a Glance : 15 CSF in Product Innovation and The Mid Test

.
Klas kali ini diisi dengan materi dari bukunya Coopers “Winning at New Product” di jam pertama. Bahasan ini sebenarnya untuk mengantisipasi dugaan ketidaksiapan partisipan membaca buku acuan yang sejak awal disampaikan, salah satu persoalan klasik yang sampai sekarang masih belum bisa disolusikan. Handout materi sudah bisa di download disini.



Sisa klas diisi dengan UTS selama 60 menit diselingi dengan paparan 3 inovator yang belum menyampaikan gagasannya di minggu lalu. Sebagaimana posting klas minggu sebelumnya, berikut disajikan ide inovator tersebut.

Ponsel dengan fasilitas Catokan. Mungkin diilhami salah satu ponsel dengan bentuk flip yang mirip alat catok, salah satu kontestan memberikan ide “heating hair” buat ngelurusin rambut lewat ponsel. Ide ini diakui penggagas, memerlukan riset untuk mendapatkan material yang tahan panas untuk melindungi piranti ponsel namun disisi lain diperlukan juga material metal yang dapat menahan panas untuk fungsi catokan tadi. Selain aspek material, kebutuhan baterai yang dapat menyediakan panas catokan juga menjadi prasyarat utama. Persoalan teknis material dan baterai ini menjadi issue yang paling hangat dibahas dalam sesi diskusi. Meski demikian ada pula usulan salah satu audiens untuk menyediakan fasilitas untuk pengeriting rambut. Usulannya bagus juga, agar jangan sampai ponsel dengan fasilitas catokan pelurus rambut hanya laku di saat tren rambut lurus saja.

RFID di ponsel. Secara sederhana ide ini menyediakan piranti RFID dalam ponsel. Salah satu fungsinya untuk pembayaran ticket alat transportasi seperti MRT, Trem, Bus(Way), atau jalan tol dengan deposit yang didebet melalui pembaca (RFID reader) yang dipasang diterminal. Sebenarnya yang perlu dibahas adalah bagaimana bisnis modelnya. Sekiranya sistem tersebut dipasang di moda transportasi tertentu, apakah harus dimonopoli satu pabrikan ponsel saja, ataukah dengan cukup terpasang piranti RFID di ponsel, sistem ini bisa dipergunakan oleh merk ponsel apapun, dengan konsekuensi sekurity aplikasi yang handal.

Ponsel Tenaga Surya. Dilihat dari namanya sudah sangat jelas, bahwa ponsel ini bisa mengisi tenaga batere dari tenaga matahari. Persoalan matahari menjadi isu menarik dari aspek ketahanan panas ponsel dan aspek teknis charging. Meski demikian karena forum ini hanya terbatas dari sisi ide, masalah teknis masih bisa diasumsikan untuk dimungkinkan. Yang lebih menarik sebenarnya adalah dari aspek kenyamanan, pada saat charging harus melalui cahaya matahari, mungkin lebih nyaman, karena asumsi teknis bisa diasumsikan, jika charging bisa melalui sebarang cahaya, even candle light, namanya juga inovasi.

Seperti posting sebelumnya, jika ada opini atau sanggahan dari tulisan diatas bisa diwadahi melalui media komentar.

Sunday, October 19, 2008

Intermezzo Video Clip: HSBC Commercial

.
Video klip ini mungkin tidak seserius The Long Tail yang jadi clip of the month bulan Oktober. Video klip ini pertama kali terlihat di iklan salah satu channel TV satelit (CNBC ?), sekira satu bulan yang lalu. Seingat saya sekarang sudah jarang muncul. Perkiraan saya video ini ada di YouTube ternyata tidak meleset.



Konten iklan ini sebenarnya promosi salah satu bank untuk perusahaan yang berbisnis di negara lain, internasional atau global. Tapi konten ini juga bisa dikaitkan dengan issue NPD, bahwa perusahaan musti menganalisa kenapa dan bagaimana suatu produk bisa laku di salah satu negara. Salah satu cara analisa untuk produk yang dipasarkan internasional dilakukan melalui kunjungan ke negara tersebut untuk mendapakan fakta dan kajian yang tepat. Faktanya, meski laku di pasar, boleh jadi produk kita tidak di utilise atau dipakai dengan tepat.

Saya jadi inget cerita penjualan kulkas di desa-desa yang belum teraliri listrik. Dengan tujuan bergaya, toh punya duit hasil panen, akhirnya lemari es itu dipakai untuk lemari pakaian. Tapi tidak hanya di desa, orang kota juga punya kebiasaan yang mirip, membeli barang-barang mahal hanya untuk dipajang bukan untuk dipakai. Contohnya beli vacuum cleaner yang hanya bisa dibeli di MLM, kompor gas mewah, microwave teranyar, tapi cuman dipajang di ruang “dapur bersih” lengkap dengan kitchen set yang memang gak pernah kotor karena gak pernah dipake.

Issu bergaya, memang jadi salah satu strategi untuk bikin produk yang tidak perlu memiliki fitur lengkap atau teknologi teranyar, tapi bisa mencerminkan citra mewah dan kesan terbatas untuk kalangan tertentu. Beberapa pabrikan ponsel juga menyediakan produk untuk segmen tersebut. Saya jadi inget bukunya “A Whole New Mind” nya Daniel Pink, moga-moga bisa sempet dibahas di sessi depan.

Saturday, October 18, 2008

11th October 2008 Class at a Glance : The Innovation Day

.
Sessi klas kali ini jadi hari inovasi. Sekira dua puluhan kontestan membawakan ide-ide brilian, segar, dan ada juga yang sedikit ngaco untuk inovasi ponsel. Nampaknya ponsel yang sudah menjadi bagian hidup dari kaum muda, lebih mudah dimengerti daripada opsi tugas situs Web 2.0.

Ponsel Idaman
Dari kontestan yang sudah memaparkan ide dan menjawab diskusi para audiens, beberapa akan diulas dalam posting kali ini.

Ponsel dengan fitur Handy Talkie. Ide yang diusulkan, meski proposal utamanya lebih ke sensor suhu, sebenarnya ide yang bagus. Penggabungan antara gadget handphone dengan perangkat HT bisa dimungkinkan dengan mencari teknologi dual sistem dari teknologi dan frekuensi yang berbeda. This is beyond the GSM + CDMA convergence. Ada segmen pengguna atau market yang memerlukan atau bisa memanfaatkan fitur ini. Ide ini juga pernah terlintas di pikiran terutama untuk memerlukan komunikasi yang intensif. Walau kontestan menyebutkan batasan jarak 100 m, menurut saya bisa lebih dari itu jika menggunakan frekuensi radio amatir.

Ponsel dengan fitur Projektor paling tidak diusulkan oleh lebih dari dua orang. Terlepas dari aspek teknologi yang bisa jadi belum memungkinkan, namun ide ini menjadi tawaran yang menarik setelah orang bisa menayangkan aplikasi, materi presentasi, bahkan televisi dalam layar HP yang terbatas. Sehingga pada saat pengelolaan konten multimedia sudah bukan hal yang membatasi, kebutuhan selanjutnya adalah bagaimana menayangkan layar lebar yang bisa dishare dengan pemirsa lain. Segmen pengajar, salesman, atau kalangan bisnis yang biasa presentasi diperkirakan menyukai fitur ini. Meski ide ini sudah pernah terungkap dalam klas yang sama di tahun 2006, nampaknya dari sisi pabrikan belum menemukan solusi yang jitu untuk menjawab kebutuhan ini. Kita lihat lima tahun ke depan.

Ide orisinil untuk fitus ponsel sebagai microphone sebenarnya cukup menarik. Dengan konektivitas yang bisa beragam mulai dari wireless, USB atau sekedar audio jack, ponsel ini bisa terhubung dengan audio system yang ada. Selanjutnya pengguna bisa langsung menggunakannnya untuk presentasi atau sekedar berkaraoke. Mungkin bukan mustahil juga jika amplifier dan speaker nya juga diembedded dalam ponsel.

Ide lain yang cukup favorit adalah fitur finger-print yang nampaknya meniru keberhasilan fasilitas di perangkat laptop. Hal yang sama juga untuk Pass-Face yang memanfaatkan piranti kamera di ponsel. Fitur pointer juga menjadi pilihan beberapa kontestan meski usulan mekanisme operasionalnya sedikit “ribeut”. Fitur hologram dan cek kesehatan dengan nafas menyiratkan aspek futuristik yang boleh jadi bisa terealisir. Fitur-fitur lain seperti scanner lipat seukuran pass photo, alat pengukur jarak dengan sonar, dan fasililtas gesek kartu untuk transaksi, cukup menarik bagi audiens untuk dibahas (alias didebat) dalam sessi tanya jawab.

Situs berbasis Web 2.0
Selain materi Web 2.0 belum komprehensif dipaparkan di klas, nampaknya visi kedepan dan kebutuhan suatu situs komunitas partisipatif lebih sulit dipahami dibandingkan sebuah ponsel yang mungkin sudah menjadi killer gadget personal. Terbukti dari ide yang hanya diusulkan oleh tiga kontestan saja (tidak termasuk yang belum presentasi).

Education Share. Ide yang ditampilkan lengkap dengan prototype untuk simulasi presentasi, mengacu pada sharing dokumen yang berthemakan materi yang berhubungan dengan pendidikan. Jika SlideShare menyediakan situs sharing bahan presentasi, usulan ini lebih fokus pada lingkup materi tertentu. Fokus ini bisa jadi lebih memberikan keyakinan pengguna untuk pengelolaan dokumen (pencarian atau sharing) yang lebih relevan.

Ide situs Myhobby yang diclaim belum ada di dunia internet, disepakati memenuhi kriteria informal Web 2.0 (4C: Connection, Content, Communication, Collaboration). Meski paparan lebih banyak menyorot ke aspek sign-up, sign-in serta perbedaan profile pengguna, dokumen proposal yang disubmit menyebutkan daya jual aplikasi akibat kelompok yang lebih besar dari thema my hobby dibandingkan situs lain. Issue general atau fokus sebenarnya pilihan untuk diambil, dalam diskusi terlintas juga ide MyWeirdHobby sebagai alternatif.

Kontestan yang memaparkan “Web pecinta music independent” meski belum ada materi yang disubmit, menyebutkan ide dan proposal situs tersebut. Situs ini boleh jadi akan menjadi bagian dari sisi kanan ekonomi Long Tail.

Ulasan diatas ini mungkin sepihak dari pengelola Klasmaya, jika ada opini, koreksi, atau bahkan sanggahan bisa didiskusikan di media komentar.

Tuesday, October 14, 2008

Design from Steve Jobs

.
"Design is not just
what it looks like
and feels like.....
Design is how it works."
.

Steve Jobs

Materi tambahan QFD

.
Sessi minggu lalu, awalnya saya akan bahas tambahan materi buat lebih memperjelas konsep dan simulasi QFD atau HOQ (moga-moga gak ada yan mengernyitkan dahi lagi baca akronim itu).

Tapi diskusi tentang tugas produk inovatif seluler dan situs berbasis web2.0 bener-bener "spent a whole class session", dan itu bukan hal yang sia-sia, karena inti SK-425 & EL-419 menurut hemat saya adalah bagaimana men'trigger partisipan untuk lebih inovatif, membangun ide segar dan kreatif.

Berikut ini simulasi QFD yang saya dapat dari situsnya Macquarie Graduate School of Management (MGSM), yang mungkin bisa menambah pengertian dari materi handout yang pernah dishare.


Friday, October 10, 2008

Layar Tancep Bulan Oktober: The Long Tail

.
Layar tancep terakhir di bulan September disajikan clip sejarah YouTube. Edisi layar tancep bulan ini disajikan dengan clip bertajuk The Long Tail yang dibawakan oleh pengarang bukunya sendiri, mas Chris Anderson. Issue Long Tail pernah sekilas dibahas di sessi terakhir sebelum long holiday, nah clip ini moga-moga bisa melengkapi pemahaman si Ekor Panjang.












Kali ini, clip diambil dari situs ForaTV : Chris Anderson with Will Hearst, yang menampilkan versi lengkap paparan dan diskusinya. Sebenarnya di YouTube ada juga cuplikan / bagian dari video ini yang fokus membahas Power Law, Pareto, dan akhirnya Long Tail. Karena saya posting di kantor yang notabene lagi memblokir YouTube, yaa akhirnya embedded clipnya saya ambil langsung dari situs Fora.tv.

Kalau rada lama aksesnya dan bertele-tele bisa coba cari alternatif di YouTube dengan keyword Long Tail Chris Anderson.

Selamat menikmati.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H

Kami mengucapkan:


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H,

Minal Aidzin wal Faidzin,

Mohon maaf lahir dan batin.


Taqabbalallau minna wa minkum

shiyamana wa shiyamakum

Tugas Web 2.0

.

Terkait dengan tugas minggu ini, yang salah satunya mengenai Web 2.0, posting kali ini diambil dari salah satu tugas mata kuliah IT Strategic Planning, Sessi Tahun 2006 tentang Technology Assessment, dengan judul Web 2.0, dibuat oleh Gregorius W (1302001) dari Sistem Komputer.

Setelah maraknya berbagai jasa web/dot-com di dunia, web kini menjadi teknologi yang harus ada di setiap perusahaan. Tetapi akhir-akhir ini jasa bisnis dot-com standar mulai rontok, hal ini menjadi titik balik dari teknologi web. Dan pada konferensi antara perusahaan O’Reilly dan MediaLive Internasional muncul konsep web 2.0, berdasarkan munculnya berbagai aplikasi baru dan situs yang selalu ramai. Jadi apa itu Web 2.0?

Beberapa prinsip dasar Web 2.0

1. The Web As Platform (Web sebagai platform)
2. Harnessing Collective intelligence (Memanfaatkan Kecerdasan Kolektif)
3. Data is the Next Intel Inside (Data adalah ‘Intel Inside’ generasi berikutnya)
4. End of the Software Release Cycle (Akhir dari siklus rilis software)
5. Lightweight Programming Models (Model pemrograman ringan)
6. Software Above the Level of a Single Device (Software dengan tingkatan diatas perangkat single)
7. Rich User Experience (Kaya akan pengalaman dari penggunanya)

Prinsip-prinsip ini akan dibahas satu per satu secara singkat.

1. The Web As Platform
Tidak seperti konsep lainya yang memiliki batas yang jelas, konsep web 2.0 berpusat pada satu set prinsip-prinsip dan penggunaan yang mengikat sebuah ‘solar system’ dari situs yang menggunakan prinsip tersebut.
Agar lebih jelas ada tiga kasus yang dibahas untuk mengeluarkan elemen-elemen esensial yang berbaeda dari konsep Web 2.0
Netscape VS Google
Netscape merupakan pengguna konsep standar Web 1.0, mereka memproduksi browser yang merupakan aplikasi desktop untuk menguasai market browser dan menggapai market untuk produk server yang mahal. Ini merupakan penggunaan prinsip ‘Web as platform’ dengan paradigma klasik.
Pada akhirnya, web browser dan web server menjadi komoditi, dan meningkatkan nilai servis melalui platform web.
Sebaliknya Google dimulai dengan aplikasi web tanpa penjualan maupun paket, tetapi murni servis, dengan keuntungan secara langsung dan tidak langsung dengan penggunaan layanannya.
Tidak ada jebakan dari industri dengan paradigma seperti Netscape. Tidak ada rilis software bersiklus hanya pengembangan terus-menerus.
Dan pada intinya Google memerlukan kompetensi yang tidak diperlukan Netscape: Database Management. Tanpa data, tools tidak berguna; tanpa software data tidak dapat dimanajemen. Maka nilai dari suatu softwre proporsional dengan besar scala dan kedinamisan data yang dimanajemennya.
Servis Google bukan server meskipun melalui sekumpulan internet server, bukan juga browser meskipun digunakan melalui browser. Google ada diantara browser, search engine dan server tujuan sebagai enabler atau penengah antara pengguna dan pengalaman berselancar di internet
DoubleClick VS AdSense & Overture
DoubleClick mempergunakan software buatanya untuk layanan dan merupakan salah satu pioneer web service. Tapi ia hanya terbatas pada publishing bukan partisipasi. Ukuran menjadi penting baginya dan membuat internet hanya dikuasai websita top saja.
Sebagai hasilnya DoubleClick hanya menyatakan “lebih dari 2000 implentasi sukses”. Sedangkan Google AdSense dan Yahoo! Search Marketing (sebelumnya adalah Overture) melayani ratusan ribu advertiser.
Hal ini disebut sebagai ‘The long tail’ yaitu konsep dimana sekumpulan situs-situs kecil yang berkumpul menjadi setumpuk web content, oleh Chris Anderson. Sementara DoubleClick hanya menawarkan jasa kontrak pada situs-situs raksasa dan membatasi market mereka, Google dan Overture mencetuskan cara untuk menempatkan iklan secara virtual ke berbagai situs.
Akamai VS BitTorrent
Seperti DoubleClick, Akamai juga berbisnis hanya dengan ‘the head’ pasar besar dan memperlancar akses ke situs dengan high-demand, dan mengambil keuntungan darinya.
BitTorrent, seperti layaknya aplikasi P2P lainya, merupakan pendekatan radikal dari desentralisasi internet. Setiap klien adalah server; file dipecah menjadi fragmen yang dapat dilayani dari berbagi lokasi, dan mempergunakan secara transparan jaringan dari para pendownload untuk menyediakan bandwidth dan data bagi pengguna lainya.
Hal ini adalah salah satu prinsip Web 2.0 dimana semakin banyak penggunanya semakin baik servisnya.

2. Harnessing Collective intelligence
Kekutan web sendiri ada dari jumlah penggunanya yang besar, yang memiliki potensi sebagai kecerdasan kolektif. Beberapa prinsip utama dibawah ini yang memungkinkan mereka memanfaatkan kecerdasan kolektif:

  • Hyperlinking sebagai fondasi web. Bertambahnya content dan situs baru akan dibatasi dari bagaimana orang menemukan dan ‘menghubungkan’ (linking to it). Maka semakin meningkat pula intensitas assosiasi antara web yang content-nya berhubungan secara organis sebagai output dari aktivitas kolektif dari pengguna web.
  • Yahoo!, terlahir sebagai katalog, direktori link, sebuah agregasi dari jutaan pengguna web. Meskipun Yahoo! berpindah ke bisnis yang menciptakan berbagi content, perannya sebagai portal pada informasi kolektif tetap menjadi core value Yahoo!.
  • Google melakukan suatu terobosan dalam melakukan search, yang tanpa diragukan lagi menjadikanya market leader di bidangnya, adalah PageRank. PageRank adalah sebuah metoda menggunakan struktur link dari suatu web bukan hanya dari content document itu sendiri untuk menyediakan hasil search yang lebih baik.
  • Produk eBay sendiri adalah aktivitas kolektif dari penggunanya; seperti web itu sendiri, eBay bertumbuh sesuai dengan response aktifitas user, dan peran perusahaan yang memungkinkan adanya sebuah konteks dimana aktifitas pengguna bisa terjadi. Apalagi kelebihan kompetitif dari eBay adalah dari jumlah penggunanya yang sangat besar.
  • Amazon menjual produk yang sama seperti Barnes & Noble, dan menerima deskripsi produk, gambar cover dan dan isi editorial yang sama dari vendor buku. Tapi Amazon lebih baik dalam berelasi dengan penggunanya: lebih banyak review pengguna, dan undangan untuk berpartisipasi dengan berbagai cara – di hampir semua web page, dan yang terpenting mereka menggunakan aktifitas user untuk menghasilkan pencarian yang lebih baik.

Sekarang ada beberapa perusahaan inovatif yang mempergunakan prinsip di atas dan mengembangkannya lebih lanjut:

  • Wikipedia
  • Del.icio.us dan Flickr : adalah pioneer dari ‘folksonomy’, sebuah cara pengkategorisasian kolaboratif dari situs dengan kata kunci bebas, atau biasa disebut tags. Tagging memungkinkan assosiasi secara secara berganda dan overlap seperti yang dilakukan otak kita. Contohnya sebuah foto ‘puppy’ (anak anjing) bisa dipasangi tag sebagi “puppy” dan “cute” – memungkinkan pengambilan data secara natural yang dihasilkan dari pengguna.
  • Produk filter spam kolaboratif seperti Cloudmark.
  • Adalah suatu kebenaran bahwa setiap kesuksesan di internet tidak mengiklankan produknya. Mereka berjalan diatas apa yang disebut “viral marketing” atau rekomendasi dari pengguna lain. Jadi jika sebuah situs bergantung dari iklan, mereka bukan termasuk Web 2.0.
  • Bahkan web-infrastructure (web-based application) bergantung dari metode peer-production open source, yang merupakan hal kolektif. Tercatat lebih dari 100,000 proyek software open source terdaftar di sourceforge.net.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah: Efek pada jaringan dari kontribusi pengguna adalah kunci dominansi pasar pada era Web 2.0.
Bloging dan Wisdom of Crowds
Salah satu fitur era Web 2.0 yang paling menarik adalah kebangkitan blogging, berkat teknologi RSS yang bisa membuat suatu web ”bertumbuh”. Tapi bukan hanya sebagai amplifier blogging juga menggunakan blog sebagai filter, hal ini seperti apa yang disebutkan James Suriowecki “the Wisdom of Crowds”, seperti PageRank akan akan menghasilkan pencarian yang lebih baik dari dokumen individual, perhatian kolektif dari dari dunia blog akan menentukan nilai content tersebut.
Blog juga dianggap pesaing oleh perusahaan media mainstream, kompetisi ini bukan hanya antar situs tapi antara model bisnis. Maka dunia Web 2.0 menjadikan kita sebagi penentu media bukan oleh sekumpulan orang tertentu yang menentukan apa yang akan menjadi berita.

3. Data is the Next Intel Inside
Setiap layanan internet dibackup oleh database dengan spesialiasi tertentu (ex. Database produk Amazon dll). Pertanyaanya adalah siapa yang memiliki data tersebut?
Untuk mendapatkanya setiap perusahaan bersaing untuk mendapatkan kelas-kelas tertentu dari sumber data: lokasi, identitas, penanggalan event publik, identifikasi produk dan nama.
Maka data dan cara amemperolehnya menjadi hal yang vital bagi perusahaan web 2.0 untuk menarik minat penggunanya.

4. End of the Software Release Cycle
Seperti pada kasus Google VS Netscape maka karakteristik software era internet adalah dhantarkan sebagi layana bukan produk. Fakta ini membuat perubahan fundamental pada model bisnis perusahaan:
• Pengoperasian menjadi core competency, bukan produk lepas. (layanan bukan produk)
• Pengguna dianggap sebagai co-developer

5. Lightweight Programming Models
Menggunakan model pemrograman yang ringan dan simpel seperti RSS. Seperti juga Amazon yang menggunakan SOAP (Simple Object Access Protocol) dan XML.

6. Software Above the Level of a Single Device
Software tidak hanya dirancang untuk satu platform saja seperti PC tapi juga perangkat lainya seperti mobile phone atau PDA.

7. Rich User Experience
Dengan teknologi lightweight programming kita dapat menghasilkan software yang lebih ringan dan menarik. Salah satu contoh revolusioner adalah G-mail yang berbasis web tapi tapi dengan interface yang mendekati PC.

Diambil dari What is Web 2.0 oleh Tim O'Reilly

Monday, September 29, 2008

27th September 2008 Class at a Glance : Product Definition & QFD

Sessi pra long holiday dibahas materi dari bukunya Sheila Mello tentang market driven product definition dan bahasan Quality Function Deployment (QFD) dari Dieter dan artikel InformIT.

Bab-1 dari Buku Customer Centric Product Definition nya Mello mengulas proses pendefinisian produk yang harus dimulai sejak awal untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Meski demikian produk juga harus membuat pelanggan delight (senang) dan kompetitif.

Bahasan juga mengulas case produk Ford yang cukup melegenda yaitu Edsel dan Mustang. Antara produk berbasis internal driven meski inovatif dibandingkan dengan kebutuhan pelanggan itu sendiri. Yang menarik pernyataan “The Company doesn’t always know best, and the Customer is not always right” mensiratkan perusahaan harus menyeimbangkan antara kebutuhan pelanggan dan inovasi perusahaan yang bisa bikin surprise pelanggan.

Serupa dengan Mello, Bab-2 Dieter membahas pula aspek problem definition dan identifikasinya melalui survey, wawancara, atau focuk group pelanggan. Mekanisme QFD diulas dengan contoh kasus pengembangan tempat CD. Step by step proses penyusunan QFD dibahas dalam sessi ini, meski dipastikan tulisan dalam gambar “rumah kualitas” nampaknya sulit untuk dibaca. Maksudnya mungkin agar partisipan mencari ari buku aslinya.


Penerapan QFD dengan sedikit improvisasi melalui Use Case dari artikel InformIT menambah wawasan terminologi QFD. Aspek ini mencoba menerjemahkan business driver ke kebutuhan teknis suatu produk. Business Driver melalui segmen pelanggan prioritas, mengarah pada penggunaan produk yang paling dominan, yang akhirnya menentukan spesifikasi suatu produk.

Untuk memperoleh materi presentasi, bisa langsung diunduh di link gambar sebelah ini.


Setengah jam sisa waktu klas, dibahas tugas untuk libur panjang dengan 2 alternatif tugas (perseorangan).
  1. Tugas ini terkait dengan konsep Web2.0 atau Social Network semacam Facebook, Hi5, Flickr, YouTube, Wikipedia dsb. Pilihan tugas ini membuat prototyping produk berbasis Web2.0 dalam bentuk simulasi, animasi atau situs itu sendiri. Akan lebih baik jika sebelum merancang ide dan usulan, melakukan riset, evaluasi, dan analisa tentang produk atau situs eksisting. Penilaian akan melihat seberapa menarik ide yang diusulkan dilihat dari perspektif pengguna internet. Meski bntuknya prototype atau simulasi, namun report dengan keterangan didalamnya harus juga disertakan sebagai bagian dari tugas.
  2. Alternatif kedua, melanjutkan atau menyempurkan, atau bisa juga merubah tugas sebelumnya tentang fitur baru yang bisa dipasang di handphone. Deliverable dalam bentuk fisik tapi dengan spesifikasi tertulis plus gambar dalam bentuk proposal.

Jadi buat yang kemarin mabal / bolos informasi ini sangat membantu untuk persiapan pertemuan berikutnya.

Selamat berkarya.

Saturday, September 27, 2008

20th September 2008 Class at a Glance : Discussion on Product for Home Broadband Environment.

.
Sessi minggu lalu kita lakukan 100% diskusi, gak ada text-book theory yang bertele-tele, gak ada PR yang harus di kumpulkan, atau daily quiz yang bisa ngabisin lembar notes buat catatan. Just Discussion, dan yang menyenangkan bahan sudah disubmit minggu sebelumnya sebagai quiz kelompok, jadi enteng banget ....Ups.. satu lagi, sessi kemaren cuman setengah jam pelajaran, what a ligth day...

Materi yang kita bahas adalah kira-kira produk inovatif apa yang bisa propose untuk dipergunakan di rumah dengan fasilitas akses broadband. Akses broadband ini bener-bener Broad, diperkirakan sampai 25 MBps sehingga streaming video sekelas DVD ga persoalan lagi, always on, flat price, sehingga tidak perlu harap-harap cemas lagi lihat kuota.

Grocery Online
Salah satu ide muncul dari kelompoknya Edbert, Pristia dan Naomi. Kelompok ini mengusulkan Grocery Online, keterangan dari Quiz yang disubmit sekedar menyebutkan belanja lewat internet yang dideliver langsung ke rumah, tapi begitu di bahas dalam diskusi keluar produknya berupa kulkas yang terhubung internet. Model bisnis, feature, case penggunaan dibahas dalam diskusi yang sepertinya menarik juga. Misalnya pengguna berlangganan dengan beberapa toko yang menyediakan database produk retail yang dijualnya, sampai pemanfaatan RFID untuk scanning barang kadaluarsa. Ada banyak scenario, kemungkinan, dan imajinasi untuk penggunaan produk ini. Satu hal yang saya lupa bahas adalah model bisnis yang bisa meniru iPod untuk konten, coba ingatkan saya di sessi offline besok.

Saya coba browse di internet apa ada produk yang serupa dengan yang diusulkan, seingat saya memang pernah ada gambaran seperti itu. Gambar dibawah ini produk dari Samsung, yang kalau dari gambarnya rada sesuai dengan gambaran yang didiskusikan, tapi coba lihat deskripsinya, lebih imajinatif mana dengan diskusi kita kemarin.


Hard to say whether this is more of a kitchen advance or a home entertainment innovation. The Multimedia Refrigerator lets you watch TV, listen to music or surf the internet with, yes, your fridge. Along with the built-in MP3 player, camera and microphone, it does a bang-up job of storing food with its fully electronic temperature control system and chilled water and ice dispenser. It also reports minor faults on-screen and has a contents page for entering and monitoring food content and expiration dates.

This is Samsung’s latest
hi-tech refrigerator model pimping the built-in ‘ICE Pad’ tablet PC for your computing pleasure. The detachable tablet, with 10.4-inch TFT touchscreen display, features food management software, a calendar, scheduler, and memo board making it easy for you to organize your kitchen life. The tablet runs Microsoft Windows CE.net 4.2 and also has Digital Wireless TV/Radio.

Transaksi internet dari kartu kredit
Kelompok kedua dari tim Sydney, Haryanto, Nurlela & Mahardiawan mengusulkan pemanfaatan kartu kredit untuk transaksi berbasis akses internet, mulai dari pembayaran billing utility seperti telepon, PDAM, Listrik, dll. Ide ini mungkin sedikit meleset dari pertanyaan dalam quiz, karena meski ini juga produk dalam hal service, namun konsep dan proses sudah exist, disamping itu issue “broad”band access jadi kurang bunyi.

Multifunction Video Conference
Kelompok ketiga dengan peserta Dikdik, Andi, Diah & David mengusulkan produk dengan judul video electronic for multifunction conference. Judulnya sepertinya keren tapi sebenernya apa maksudnya ? apa itu multifunction conference?. Tim penggagas menyebutkan fitur e-learning, medicine, meeting, shopping dan ... yang saya artikan dll. Dari diskusi dengan penggagas, ternyata boleh jadi produknya mirip produk IPTV.Bahasan diskusi menjelaskan perbedaan TV, CableTV, dan IPTV terkait dengan konten dan advertising.

Produk IPTV sebenarnya memang menjadi primadona untuk lingkungan dengan akses internet dengan pita sangat lebar. Dengan basis komputer, sebuah layar lebar bisa menjadi media interface untuk kepentingan apapun di rumah. Kalau kita berimajinasi, mungkin ada banyak pilihan dari produk ini, karena fisik produk yang disediakan sebenarnya kotak hitam sebagai prosesornya dan layar lebar plus camera sebagai media input/output. Namun aplikasi / program bisa beragam dan tergantung seberapa inovatif kita berkhayal dengan keperluan dari yang akan dikembangkan. Gambar dibawah ini contoh IPTV dari berita yang dicuplik pada pertengahan Oktober 2007, jadi ada kemungkinan sudah di deploy. Isunya perangkat tersebut terhubung dengan PS3, kayaknya kemaren luput dari materi diskusi kita.


Korea Telecom will next month connect its IPTV service that will feed shows to Sony’s PlayStation 3 games console. Tony Smith of Reg Hardware reports, “Mega TV launched in June - the same month the PS3 officially went on sale in Korea - this year as a HD-capable revamp of KT’s earlier, standard-definition only Megapass internet TV offering. Last month, KT rolled the service out to all of its broadband customers - 5.5m of them - having previously offered the service only to those in Seoul.
Not all of these subscribers also pay for Mega TV - last month, KT said it hopes to grow the IPTV service’s subscriber base to 300,000 users by the end of the year, and the deal with Sony should go some way to helping it achieve that target.
Neither Sony nor KT said how much PS3 owners will have to pay for Mega TV. However, it’s believed the player software will be made available through a download direct to the games console… er… set-top box.”




Online Shopping System
Online Shopping System diusulkan kelompok keempat (Afit, Edi, Yudha, Yudhi). Layanan ini sebenarnya secara konsep sudah dibahas di produk sebelumnya, mulai dari kulkas untuk shopping, dan juga kartu kredit meski jawaban quiz menyebutkan juga pembayaran digital yang belum ditanyakan dalam diskusi.


Home Controlling
Gagasan Home Controlling disampaikan oleh kelompok terakhir yang dibidani oleh Pace, Evi, Sabam dan Yusuf. Ide ini memang terkait dengan “always on” nya internet access, meski dalam aksesnya menggunakan handphone, tapi jelas terminal di rumah terhubung dengan akses rumah yang musti konek selalu. Ada banyak perpheral, peralatan rumah yang bisa disambungkan dengan prosesor rumah dan selanjutnya dikontrol remotely dari luar. Mulai dari perangkat di dapur coba cari aja future kitchen di google, di kamar mandi yang diskusi minggu lalu di sentil sci-fic filmnya Bruce Willis (ada yang bisa komentar judulnya?), jadi sambil buang air dapet informasi tentang kondisi kesehatan melalui check urine, datanya pun bisa disimpan harian ke database kesehatan untuk di monitor lembaga kesehatan yang mengelolanya, atau di alaman dengan web cam nya buat security, dan masih banyak lainnya. Saya coba imbuhkan gambar monitor rumah, tapi yang ini melalui TV/Internet, buat perbandingan.


Home automation though the TVHAI Home Control for Windows Media Center. "HAI OmniPro home control via Windows Media Center Edition: lighting control, security, temperature control, macros, event log, and more."







Catatan : Nama kelompok sudah dilakukan reset oleh redaksi

Ups panjang juga posting klasmaya yang ini, yaa itung-itung kompensasi setengah hari kuliah. Minggu depan, ada yang mau setengah hari lagi? Silakan komentar. Atau jangan-jangan ada ide untuk kuliah online saja ...

Wednesday, September 17, 2008

Artikel NPD nya Google



Minggu lalu, selain sedikit diulas case Samsung, sempat juga dibahas environment Google dalam Pengembangan Produk Baru. Meski ceritanya sudah 3 tahun silam namun cerita mbak Marissa menarik juga buat disimak semenarik orangnya.

Artikelnya (ringkasan dari artikel asli) pernah dimuat di Klasmaya sessi 2006, jadi bagi yang berminat bisa langsung akses ke posting dengan judul “The Beauty of Simplicity” sekitar Oktober 2006 lalu. So check it out

Monday, September 15, 2008

13th September 2008 Class at a Glance : New Product Development & Design Process

.
Klas minggu ketiga pada dasarnya melanjutkan materi bahasan minggu sebelumnya yang dominan mengacu ke bukunya Dieter bab-1. Aspek NPD yang lebih banyak terkait dengan proses dibahas disini. Seperti pada umumnya proses bisnis lainnya, proses ini juga meliputi tahapan-tahapan yang “secara umum” ada di pengelolaan NPD. Secara umum disini artinya, proses yang disampaikan relative praktikal di industri meski bukan berarti urutan proses tersebut mutlak persis seperti itu. Dalam pembahasan juga disampaikan bahwa beberapa perusahaan melakukan parallel proses, penggabungan atau penghilangan proses seandainya diperlukan.



Sessi kedua membahas aspek disain proses lebih detil. Mulai dari definisi, morphology, dan methode yang boleh dibilang cenderung lebih teoritis mengacu ke text book. Untuk menyeimbangkan wawasan NPD terkait dengan industry best practice, saya lampirkan artikel dari Business Week dengan judul “Camp Samsung” yang dibahas di klas minggu lalu melengkapi artikel sebelumnya.

Biar nggak jenuh dengan pendekatan teoritis, minggu lalu disimulasikan juga tahapan idea generation untuk usulan produk di terkait dengan fasilitas akses broadband di rumah. Beberapa usulan sudah disampaikan, mungkin lebih bagus kalau dibahas minggu depan. Sembari menunggu itu boleh lah baca-baca handout minggu lalu plus tambahan artikel dari Samsung. Kalaupun ada homework, saya akan sampaikan di klamasya minggu ini.

Thursday, September 11, 2008

Great Expectation

.
Saya coba meng’kompulir daftar harapan partisipan dari klas Pengembangan Produk Digital & Telematika (PPD&T ) yang dikolek di hari pertama. Ada beberapa poin yang boleh jadi berbeda antara harapan dengan deliverable klas ini, entah karena salah sasaran atau mencoba mengira-ngira atau sekedar menerjemahkan secara bebas dari judul mata kuliah ini.

Overall, dominant expectation sudah menuju ke arah yang benar. Dua kelompok besar memberikan pengertian yang cukup berbeda, antara memiliki pengetahuan tentang “pengembangan” produk dan “perkembangan” produk. Kira-kira mana yang lebih tepat?
  • (13) Mengetahui / mampu membuat / mendesain / merancang, mengembangkan, berperan aktif, mengolah, menjual, dan bersaing dalam memproduksi produk digital & telematika dari aspek proses / metode, dengan tujuan bisa lebih kreatif dalam berinovasi / mencipta dan sebagai pegangan sebelum kerja.
  • (11) Mengetahui bagaimana produk digital & telematika berkembang, seberapa jauh berkembang, apa saja yang sangat bermanfaat, dan dipakai di dunia kerja, untuk menganalisa jenis-jenis produk, mengembangkan wawasan.
  • (4) Memenuhi kewajiban kelulusan
  • (2) Mendapat nilai A
  • (2) Membantu tugas akhir, bahan penelitian industri telematika
  • (2) Mengetahaui seberapa besar kesempatan untuk kerja di bidang produk digital & telematika, mampu melihat peluang bisnis di telematika
  • (2) Mendapat sesuatu di luar dari yang diharapkan (?) bikin hidup lebih hidup
  • (1) Memaksimalkan kegunaan teknologi yang sudah ada sesusai keperluan dan memperbaharui sesuai perkembangan teknologi.

Monday, September 08, 2008

Layar Tancep Sejarah YouTube

Seperti yang sebelumnya pernah dijanjikan, berikut ini klasmaya menyajikan clip video yang pernah jadi konten layer tancap di klas hari pertama.



Kalau rada susah ngedenger ceritanya, boleh diputar berulang-ulang sampai “Ngngeuh (Sundanese) atau Dhong (Jogjanese)”. Tapi kalau pun masih gak jelas juga, karena mungkin sambungan langsung internasional ;-), berikut dicuplik beberapa key statement yang cukup menggambarkan ceritanya.

  • Feb 15 2005 : registered domain youtube.com, user can upload and shares video
  • April 23 2005 : the first upload video. 30.000 viewer/day promote by iPod Nano to get notice by venture capital
  • Program on television can be viewed from youtube, and people prefer to watch on youtube than on television.
  • YoutTube received 3.5 million US on funding from Sequoia Capital on November 2005. 200.000 register user and showing over 2 millions videos per day.
  • Dec 15 2005 : YouTube has staff 20, at that time it has serving more than 3 millions videos per day and adding 8 terra bytes of data since open to public May 2005.
  • Jan 2006 YouTube user watching 25 millions video per day. On March 2006 total clips available reach 25 millions, user uploading 20.000 new video per day.
  • April, bandwidth cost 1 million per month youtube gain additional 8 million funding from Sequoia Capital.
  • May Youtube surpass the CNN.com 42% market share video on internet.
  • July 13 Youtube announce that user currently viewing 100 million videos per day with over 30 member staff with over 50.000 uploaded new video per day.
  • Oct 2006 announce that YouTube being purchased by Google 1.6 billion US (16 Trilyun) , the biggest purchase Google have ever been made. The deal finalise at Nov 13.
  • Time magazine: Best Invention 2006 (invention of the year 2006).
  • 2007 YouTube has become more popular than ever, legal problem Viacom sue google 1 billion $ for copyright onYouTube.
  • YouTube 4th dotcom most visited in the world after Yahoo, MSN, and Google.YouTube is about people. Google was not investing 1.6 billion on technology of YouTube, but the user from around the world that shares video. Google wasn't buy a company it was buying a community, potentially milions of the new users.

6th September 2008 Class at a Glance : Telematics & Product Life Cycle

.
Sessi di awal September mulai dibahas materi inti dari kisi-kisi yang disampaikan pertemuan sebelumnya. Sessi ini dibahas pengertian dari terminologi telematika dan aspek utama dari Product Life Cycle (PLC). Sebagai bagian dari pengelolaan produk, Pengembangan Produk harus pula melihat secara luas tahapan siklus poduk tersebut. Ada dua kuis yang dilaksanakan pada sessi kali ini, yaitu yang terkait dengan contoh evolusi produk mengacu pada PLC, dan kuis kedua terkait dengan korelasi PLC dengan strategi pemasaran.



Seperti biasa, klasmaya sebagai satu-satunya media untuk sharing resources, telah menyediakan handout sessi lalu yang bisa langsung didownload.


Untuk sessi berikutnya saya submit artikel dengan judul “How to Design the Perfect Product” yang saya ambil dari situs majalah fastcompany . Artikel silakan dibaca (bukan cuman di download) untuk kita bahas bersama sessi depan. Selamat (gemar) membaca.

Thursday, September 04, 2008

30th August 2008 Class at a Glance : Introduction

Klas hari pertama. Seperti biasa gak jauh dari perkenalan, meskipun bukan berarti gak ada materi perkuliahan. Sessi hari itu lebih banyak melihat kelas secara besar (a big picture), sehingga partisipan yang salah ambil mata kuliah atau punya ekspektasi yang berbeda bisa buru-buru mengkoreksi sama BAAK. Tapi moga-moga even yang punya harapan sedikit meleset pun, setelah klas minggu lalu, gak rame-rame batalin kuliah.

Issue yang muncul di klas kemaren yang bakalan (moga-moga) dibahas detil, antara lain:
- Produk vs Service
- Terminologi
- Business Model
- Product Life Cycle
- Marketing Stuff
- Product Development Strategic Orientation & Process

Sekilas, sessi lalu lumayan lancar, dinamis, dengan diskusi yang cukup berisi. Sebelum klas berakhir, seperti yang dijanjikan diawal pertemuan, ada pemutaran film tentang sejarah YouTube. Saya mau taruh di sini tapi karena saat ini saya akses dari kantor, saya gak bisa nyaman akses karena di blok. Moga-moga kalau bisa akses, clip bisa muncul disini. Seperti biasa klasmaya menyediakan handsout minggu lalu yang bisa langsung diunduh disini.



Klas besok, kalian siapin saja materi sesuai jadwal.

Tuesday, September 02, 2008

Selamat Datang Partisipan Baru

Anggap saja posting ini sebagai pembuka dari perkuliahan di Semester Genap 2008 untuk Pengembangan Produk Digital dan Telematika. Cuman maaf sampai hari ini saya belum bisa submit handout sessi minggu lalu, moga-moga minggu ini bisa selesai di submit.

Selamat bergabung untuk partisipan baru, semoga session ini bisa lebih semarak, gayeng, dan bermakna melalui kontribusi interaktif antara pengelola klasmaya dan anda sebagai partisipan sudah tentu.

Ciao

Monday, June 09, 2008

The Six Hats method

.
Early in the 1980s Dr. de Bono invented the Six Thinking Hats method, a framework for thinking and incorporate lateral thinking. Valuable judgmental thinking has its place in the system but is not allowed to dominate as in normal thinking.

The six hats represent six modes of thinking and are directions to think rather than labels for thinking. That is, the hats are used proactively rather than reactively.
The six hats system encourages performance rather than ego defense. People can contribute under any hat even though they initially support the opposite view. The key point is that a hat is a direction to think rather than a label for thinking. The key theoretical reasons to use the Six Thinking Hats are to:
• encourage Parallel Thinking
• encourage full-spectrum thinking
• separate ego from performance

Argument versus Parallel Thinking in a Changing World
The basic idea behind Western thinking was designed by the Greek "Gang of Three" and is based on argument. Socrates put a high emphasis on dialectic and argument. He wanted to clarify the correct use of concepts like justice and love by pointing out incorrect usage. Plato believed that the "ultimate" truth was hidden below appearances. Aristotle systematized inclusion / exclusion logic.

As a result, Western thinking is concerned with "what is," which is determined by analysis, judgement and argument. That is a fine and useful system, but there is another whole aspect of thinking that is concerned with "what can be," which involves constructive thinking, creative thinking, and "designing a way forward."

From the past we create standard situations and we judge into which "standard situation box" a new situation falls. Once we have made this judgement, our course of action is clear. Such a system works very well in a stable world in which the standard situations of the past still apply. But in a changing world the standard situations may no longer apply. We need to be thinking about "what can be," not just about "what is."

Unlike traditional thinking in which each tries to prove the other party wrong, in parallel thinking, both views, no matter how contradictory, are put down in parallel. If, later on, it is essential to choose between the differing positions, then an attempt to choose is made at that point. If a choice cannot be made, then the design has to cover both possibilities. At all times the emphasis is on designing a way forward.

Directions (Not Descriptions) and Hats
The essence of parallel thinking is that at any moment everyone is looking in the same direction — but the direction can be changed..The hats used to indicates some direction labels for thinking and a role symbol. People are said to be wearing a certain hat, it can be put on or taken off with ease, it is also visible to everyone around. There are six colored hats corresponding to the six directions of thinking: white, red, black, yellow, green, blue.

The hats are directions and not descriptions of what has happened. It is not a matter of everyone saying what they like and then the hats being used to describe what has been said. It is a matter of setting out to think in that direction. A description is concerned with what has happened. A direction is concerned with what is about to happen.

White hat thinking means a deliberate focus on information that is available and needed, questions to be asked, other ways of getting information, and so on. This covers facts, figures, information needs and gaps.

Red hat is a specific request for feelings, intuition and emotions on a particular issue. The red hat allows the thinker to put forward an intuition without any need to justify it. Usually feelings and intuition can only be introduced into a discussion if they are supported by logic. The red hat gives full permission to a thinker to put forward his or her feelings on the subject at the moment.

Black hat describes thinking that seems to be cautious, danger and seems to point out possible difficulties. The black hat is used to point out why a suggestion does not fit the facts, the available experience, the system in use, or the policy that is being followed. The black hat must always be logical.

This is the logical positive. Why something will work and why it will offer possible benefits and values. It can be used in looking forward to the results of some proposed action, but can also be used to find something of value in what has already happened.

This is the hat of creativity; new ideas, alternatives, proposals, what is interesting, provocations and changes.

This is the overview or process control hat. It looks not at the subject itself but at the 'thinking' about the subject. "Putting on my blue hat, I feel we should do some more green hat thinking at this point." In technical terms, the blue hat is concerned with meta-cognition.

Not Categories of People
It is possible to create tests to determine whether a person is type A or type B, or any similar descriptive discriminations. The difficulty is that once people have been put into "boxes" they tend to stay there. Again, that is an example of "what is" instead of "what can be."

There is a huge temptation to use the hats to describe and categorize people. The hats are not descriptions of people but modes of behavior. People may prefer one mode to another and might be better at one mode than another. Nevertheless, the hats are not categories of people. Every person must be able and skilled, to look in all the directions. The whole point of parallel thinking is that the experience and intelligence of everyone should be used in each direction.

Playing the Game
Ever since Freud, the emphasis has been on analysis: find out the deep truths and motivations for action. Instead of focusing on personality he chose to focus directly on behavior, the Six Hats method follows the Confucian approach that urged you to use the right behavior with your colleagues, your subordinates, your superiors and your family. Getting people to "play the game" is a very powerful form of changing behavior.

Power and Time Saving
With the Six Hats method, the intelligence, experience and knowledge of all the members of the group are fully used. Everyone is looking and working in the same direction. The focusing of the mental ability of many people on a problem can more easily solve that problem.

With parallel thinking, every thinker at every moment is looking in the same direction. The thoughts are laid out in parallel. You do not respond to what the last person has said. You simply add another idea in parallel. In the end, the subject is fully explored quickly.

Removal of Ego
Confrontational and adversarial thinking exacerbate the ego problem. Six Hats thinking removes it, you exert your ego by performing well as a thinker under each of the hats.

One Thing at a Time
With the Six Hats method, we try to do only one thing at a time. Underneath all this is the absolute physiological need to separate out the types of thinking. You cannot be sensitized in different directions at the same time, so when we set out to do all aspects of thinking at the same moment, we are going to be suboptimal on all of them.