Sunday, May 03, 2009

25th April 2009 Class at a Glance (Lanjutan-2)

Tadinya saya mau tunggu kiriman materi bab-6, yang meski sudah dipaparkan didepan klas, namun file presentasinya kececer belum sempat tersimpan. Tapi sampai informasi dari wakil tim-6 menyebutkan file yang seharusnya ada, ternyata juga hilang entah rimbanya. (Ini sebenarnya sekedar excuse untuk keterlambatan merelay beberapa paparan yang masih belum di expose di klasmaya).

Karena disepakati materi UAS tidak merefer ke bedah buku (lihat posting berikuntya), saya akan coba scan sekilas materi dari ebook yang sudah di paparkan.

Saya langsung loncat ke bab-7, materi dengan judul “Competitive Access Providers, the Costly Way to Local Competition” (dari judulnya yang panjang saja saya sudah a bit reluctant menjabarkannya) ditulis oleh Deny, Laura, Asary, dan Rinaldy. Seperti juga materi presentasi yang lain, pemirsa musti bijak membaca file yang diunduh dengan menyimak kembali tulisan origin di ebook. Topik yang dibahas antara lain :
.
Divestiture AT&T pada dasarnya menjadi trigger (pemicu) dimulainya kompetisi di US, meski sering disebut-sebut orang dimulai sejak terbitnya UU Telekomunikasi tahun 1996. Sebelum Divestiture, dasar regulasi tarif hanya pada aspek rate of return (red. dari investasi yang sudah dikeluarkan). FCC dengan menggunakan metode fully distributed cost menyetujui rate di angka 10%-15%. Awal tahun 70an FCC memutuskan kompetisi “open sky” satelit domestik dengan pionir SBS melalui VSAT. Di tahun 80’an pemerintah negara bagian lebih memberi dukungan ke RBOC “Baby Bells” dibanding FCC.

Kompetisi di bisnis penyedia akses (Competitive Access Provider / CAP) muncul pertama kali di New York, kota dengan pengguna bandwidth terpadat di dunia, yang dilakukan oleh Teleport dan menjadi alternatif NYNEX. MFS sebagai CAP berikutnya, dibentuk tahun 1988 yang tidak saja menggelar fiber ke sejumlah kota besar namun mulai masuk ke bisnis internet melalui layanan backbone ke ISP yang selanjutnya membentuk Metropolitan Area Ethernet East dan West. Beberapa CAP lain fokus di pasar sekunder (second-tier) seperti Hyperion di Adelphia dan Brooks Fiber Properties di wilayah luar kota Arkansas dan California. Setelah mengambil alih National Fiber Network di New York, Metromedia membentuk Metromedia Fiber Network (MFN) sebagai penyedia fiber yang bersaing dengan layanan DS3 dari telco. Seiring dengan pertumbuhan bisnis CAP, Bells mulai meminta fleksibilitas pricing yang disetujui FCC dan pemerintah negara bagian untuk mengurangi berpindahnya pelanggan RBOC ke kompetitor (CAP).

UU Telekomunikasi 1996 yang ditandatangan Presiden Clinton (sebelum bertemu Lewinsky?) pada dasarnya membuka kompetisi layanan lokal. UU ini dapat dipandang sebagai “big-bang” yang merubah industri telekomunikasi di AS dan mengarah pada area telekomunikasi global. Dampak dari UU ini, meski pemerintah negara bagian (States) sudah melegalkan kompetisi telephone lokal, namun UU ini mensyaratkan States untuk memberikan serifikasi ke semua CLEC (Competitive Local Exchange Carier) yang telah memenuhi kualifikasi, UU juga mengatur pedoman berkompetisi, UU menuntut Incumbent LEC (ILEC) menyediakan unbundled network elements (UNEs) dengan tarif yang berbasis pada biaya operasional. CAPs akhirnya menjadi CLECs pertama (selain reseller), dengan mendapat nomor telepon lokal, kode prefix lokal, dan interkoneksi dengan ILECs.

Meski CAP saat itu belum memberikan profit, namun investor tetap antusias terhadap CAP dibanding reseller, dari faktor asset. Beberapa perkembangan bisnis CAP dalam periode perubahan ke CLEC antara lain: MFS membeli ISP UUNET $2B di tahun ’96 yang selanjutnya dibeli WorldComm seharga $12B dari valuasi aset CAP/CLEC yang tinggi; Awal tahun ’98 WorldComm juga membeli Brooks Fiber $3B dan mengokohkan perusahannya menjadi leading CLEC; Di tahun yang sama AT&T mengambil alih TGC sebesar $11B yang sebelumnya membeli ISP CERFnet. Tahun ’99 Bell Atlantic membeli pesaingnya Metromedia Fiber Network, selanjutnya merubah nama menjadi Verizon.

Cerita di bab-7 ini sebenarnya masih panjang dan mungkin menarik, tapi tampaknya posting ini musti ditutup disini biar gak terlalu panjang. Jadi kita tunggu lagi ulasan berikutnya.

Wednesday, April 29, 2009

25th April 2009 Class at a Glance (Lanjutan)

Sebagai lanjutan dari posting sebelumnya, berikut ini kembali kita bahas paparan bedah buku yang lain.

Posting sebelumnya meski telah dibahas detil sebagian bab-1, namun materi paparan tim-1 dengan judul Ma Bell and Her “Natural Monopoly” baru bisa diunduh disini. Materi tim-1 sudah ditranslasikan ke bahasa meski terkesan mekanik, sehingga pembaca musti hati-hati dan harus sering-sering menengok ebook kembali untuk klarifikasi pengertian. Namun secara umum, paparan yang disajikan cukup lengkap.

Issue natural monopoli, pertarungan bisnis Western Electric dengan Bell, dan Kingsbury Commitment, sesuai ulasan posting sebelumnya, dibahas pada materi ini dengan lanjutannya mengenai topik : dibentuknya FCC untuk mempromosikan universal service, pembagian pendapatan layanan jarak jauh AT&T Long Lines, Final Judgment, kasus Hushaphone sebagai pendobrak awal monopoli perangkat, serta aturan baru yang mengurangi monopoli melalui perlengkapan terminal oleh Carterfone dan service jarak jauh oleh MCI.
.
.
Bagian 5 dipaparkan oleh tim yang beranggotakan Septian dan Yonathan dengan judul The Deuteronomy Networks. Pengertian Deuteronomy, meski bolak-balik dibaca, buat saya tetep saja gak jelas, mungkin kalian perlu baca sampai tuntas satu bab sampai selesai buat ngerti maksudnya dan dikomentarin disini. Tapi pendorongnya tidak lain akibat booming industri Internet yang menciptakan stimulus di industri telekomunikasi dari modal investor yang mencari peluang keuntungan. Hanya saja seperti modal ventura lainnya, mereka cenderung berperilaku “built to flip” artinya mencari keuntungan lewat membangun untuk kemudian menjualnya, bukan semata-mata memperoleh keuntungan dari profit operasional perusahaan. Ada yang masih ingat atau minimal pernah dengar kebalikannya dari “built to flip” ? clue nya Jim Collins. Jawaban bisa melalui komentar buat nambah credit point penilaian bagi jawaban benar dan paling awal.

Bahasan lainnya dari materi bab-5 terkait dengan issue meningkatnya demand bandwidth seiring dengan tumbuhnya bisnis ISP, bahkan kebutuhan dalam bentuk infrastruktur khususnya dark fiber yang bisa di self manage (swa kelola). Sebagai respon dari kebutuhan tersebut muncul beberapa perusahaan yang menggelar fiber seperti Sprint, Qwest melalui jalan rel kereta api nya, Level 3 Communications bentukan dari Metropolitan Fiber Systems, Wiltel sebagai “carrier’s carrier” melalui infrastruktur natural gas pipeline, Metromedia Fiber Network, XO Communications, dan beberapa perusahaan di bisnis kabel laut. Akibatnya kapasitas jaringan fiber-optic meningkat sangat pesat (fiber glut), dampaknya harga bandwidth perlahan mulai turun yang akirnya berpengaruh pada menurunnya ARPU dan pendapatan perusahaan.

Ulasan paparan bab berikutnya kita tunggu di posting depan, stay tune wae lah.

Tuesday, April 28, 2009

25th April 2009 Class at a Glance

Konten pada sessi klas menjelang akhir semester diisi dengan tugas paparan bedah buku yang belum tampil ke depan. Setelah minggu sebelumnya diselesaikan oleh 5 tim pertama, kali ini 5 tim berikutnya yang mendapat giliran.


Saya coba bahas mulai dari bab-1 (mungkin urutannya tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan ehm maksudnya di klas) yang telah dipaparkan oleh A.I. Syalaby dan I Halim.

Bahasan pada bab pertama eBook The Great Meltdown membahas issue natural monopoly yang terjadi di perusahaan Bell dan perusahaan telekomunikasi lainnya di dunia dengan alasan “has sufficient economy of scale and a high entry cost”. Industri ini mulai monopoli sejak era Western Union yang mengendalikan bisnis telegraph di US. Perdebatan tentang siapa penemu telephone (Alexander Graham Bell ataukah Elisha Gray) menjadi isu pertarungan bisnis melalui hak paten dan lawyer antara Western Electric Company (gabungan unit manufaktur Western Union dan Gray & Barton) dengan Bell yang akhirnya dimenangkan Bell dengan mengantongi hak paten monopoli selama 17 tahun. Monopoli yang berakhir tahun 1893 tersebut telah membawa Bell menjadi perusahaan American Bell Telephone Company yang tumbuh pesat dengan model bisnis vertically integrated sebagai pabrikan perangkat (termasuk mengakuisisi Western Electric di tahun 1881) dan juga penyedia layanan.

Meski demikian tidak semua area mendapat layanan telepon dari Bell, sehingga paska monopoli berakhir beberapa pemain baru mulai muncul baik di area yang belum terjamah layanan Bell maupun area yang harus head to head dengan Bell, dan hasilnya setelah 10 tahun berjalan terdapat 2 juta pelanggan baru diluar perusahaan Bell dan pangsa pasar Bell anjlok ke angka 40% (ada yang bisa nebak berapa pelanggan Bell saat itu? Kirimkan jawabannya melalui komentar untuk mendapatkan point reward untuk jawaban pertama yang benar). Sehingga praktis layanan lokal saat itu sudah kompetitif, meskipun layanan jarak jauh masih dikendalikan Bell.

Perkembangan Bell, yang selanjutnya menjadi AT&T hasil reorganisasi perusahaan di tahun 1899, semakin memperkuat monopoli dengan pembelian (mungkin lebih tepat mencaplok) perusahaan kompetitor dan penolakan melakukan interkoneksi dengan perusahaan telepon independen. Akibatnya pada tahun 1913 departemen kehakiman US melakukan gugatan yang diakhiri oleh kesepakatan oleh Nathan Kingsbury, Vice President AT&T saat itu, untuk bersedia menyediakan interkoneksi dan menghentikan pencaplokan perusahaan pesaing, kecuali yang memang bakalan angkrut. Kesepakatan ini lebih populer dikenal sebagai “Kingsbury Commitment”.

Oops pembahasan nya jadi terlalu detil ... sementara bab lain belum kebagian diulas...

Okay untuk posting kali ini kita sudahi disini dulu, bagian lain akan diulas di posting berikutnya...

Saturday, April 18, 2009

Layar Tancep April 2009 : Divestiture

Posting ini terkait dengan salah satu materi dari bedah buku The Great Meltdown khususnya mengenai Divestiture di US. Video diambil dari (lagi-lagi) Youtube mengenai diskusi panel Internet Society dan Open Infrastructure Alliance memperingati 25 tahun dipecahnya AT&T. Konten diskusi membahas berhasil tidak kah program Divestiture tersebut, tidak heran judul presentasinya “Has Divestiture Worked?”.
Event ini belum lama berselang (6 Maret 20090 yang berlangsung di NYU. Tujuan konferensi ini membahas tentang sejarah seperempat abad lalu yang mendiskusikan issue pasar, pandangan masa depan dari telekomunikasi & broadband di US yang mengarah pada jaringan dengan kecepatan tinggi yang ubiquitous (ada dimana-mana) dan berbasis pada infrastruktur yang terbuka pada semua operator (pemain) sehingga memberikan pilihan pada pelanggan, harga yang rendah dengan kualitas produk dan layanan inovatif.

Video clip dari diskusi panel tersebut dibagi 3 bagian. Bagian pertama berjudul Has Divestiture Worked? Panel 1 - Historical perspective yang bisa dilihat pada tayangan berikut.



Panel Historical perspective membahas tentang : overview dan indikator finansial yang terjadi seperempat abad lalu; dari aspek konsumer melihat biaya telepon dan issue broadband; perspektif dari FCC selama pemecahan; pengaruhnya terhadap industry ISP/CLEC; kegagalan fundamental pasar di sektor telekomunikasi; serta bagaimana deregulasi berhasil menjalankan operasi divestiture namun pasien menjadi sekarat.

Panel kedua membahas kondisi saat ini dengan paparan berjudul “Has Divestiture Worked? Panel 2 - The Present State”.

Sedangkan panel ketiga membahas kondisi kedepan dengan judul “Has Divestiture Worked? Panel 3 - The Future State and Alternative Approaches:”.

Keduanya bisa langsung diakses di situs Youtube.

18th April 2009 Class at a Glance

Alhamdulillah, setelah tertunda beberapa kali pertemuan, akhirnya program bedah buku dari ebook dengan judul “The Great Telecom Meltdown” oleh Goldstein, Fred R. terlaksana juga di pertemuan hari ini.


Program ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan minat baca di kalangan pemirsa klasmaya. Setelah ditengarai sulit untuk mencari dan mendapatkan buku acuan, kalaupun ada tidak mudah untuk menjadikan prioritas membeli buku tersebut. Sehingga diambil alternatif ebook yang bisa didownload gratis, meski bukan buku referensi formal dari institusi, namun kontennya cukup representatif.


Tapi minat baca tidak bisa sekedar dilihat dari berapa banyak hits mengunduh ebook. Tugas klasik meresume dan mempresentasikan dirasa masih cukup efektif untuk paling tidak membaca, meng”copy paste”, bahkan beberapa tim sudah mentranslasikannya. Apapun itu, yang penting ada usaha untuk membaca.


Mungkin ada beberapa anggota kelompok tidak melalui proses tersebut, boleh jadi beberapa pemirsa mendapat benefit dari anggota tim lain tanpa harus bersusah payah menjalankan proses baca, summary, translasi, dan penyiapan materi paparan, hanya sekedar expose materi di depan kelas bahkan ada juga yang tidak. Kenyataannya, benefit sesungguhnya diterima oleh si pelaku yang menjalankan proses keseluruhan.


Prosesnya memang susah, walau tidak semua merasa susah payah. Frankly speaking, saya sendiri belum baca semua bab, cuman beberapa bab yang bikin penasaran isinya. Tapi dari beberapa bab yang terbaca, sekilas tidak dipungkiri bahwa tidak mudah membaca bukunya om Goldstein, format tulisan berbentuk narasi yang hanya dimengerti oleh pembaca yang mengalami situasi disana. Namun bukan berarti pembaca seperti kita sama sekali tidak perlu tahu, ada beberapa bagian yang bisa diambil pelajaran dan menambah wawasan pengetahuan industri telekomunikasi dan telematika umumnya.


Kesempatan pertama paparan dibuka oleh tim-2 yang dibawakan oleh Grace, Yoel, dan “last but not least only late” Satrio dengan bahasan “The Rebirth of Competition”.


Paparan diawalii dengan case “hushaphone” (sebenarnya bisa jadi cerita menarik), bahasan perkembangan perangkat PBX (mulai dari teknologi step-by-step Strowger’s, crossbar, electromechanical relay switching matrices, Dimension, dan digital PBX), peluang PBX dengan OA (Office Automation) jargon yang sangat populer pada saat itu, sampai ke persaingan RBOC melalui Centrex dan AT&T dengan PBX nya. Perkembangan LAN yang salah satunya dimotori oleh lahirnya Ethernet dari Xerox mendorong IVD (integrated Voice Data?) dan ide integrasi LAN dengan PBX selain pengembangan oleh kompetitor Carterfone melalui Interconnect systems.


Munculnya MCI melalui jaringan microwave mengancam monopoli AT&T, bahkan dari aspek regulasi, hukum Antitrust mendorong pendatang baru seperti MCI bisa mengklaim monopoli layanan jarak jauh oleh AT&T.

Paparan selanjutnya diberikan oleh kelompok-3 dengan bahasan berjudul “Divestiture: Equal Access and Chinese Walls” yang dibawakan oleh Sangap, Ronny, Nicky, dan Edfri. Terminologi divestiture mungkin bukan istilah umum namun sudah menjadi istilah yang populer di industri telekomunikasi US. Divestiture pada ghalibnya adalah restrukturisasi AT&T yang memotong monopoli vertical integration dimana awalnya memisahkan bisnis pabrikan yang dikelola melalui Western Electric dan bisnis layanan akses telekomunikasi yang kemudian dikelola oleh 7 Regional Bell Operating Companies (RBOC), sementara bisnis jarak jauh masih dipegang AT&T.


Keputusan Final Judgment juga melarang AT&T berbisnis di industri komputer meski saat itu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Amerika (contoh kasus transistor dan OS UNIX). Melalui restrukturisasi, regulator juga berencana merevisi rate dan monopoli layanan jarak jauh termasuk layanan 0800.


Bahasan lain adalah perkembangan ISDN yang mendapat saingan berat dari internet akses melalui ADSL. ISDN kemudian dikembangkan melalui B-ISDN dan teknologi ATM. Pada akhirnya perkembangan ATM menjadi backbone ISP dan bagian yang mendasari teknologi layanan DSL dan menjadi tawaran RBOC ke segmen residensial.


Presentasi ketiga disajikan oleh kelompok-4 dengan bahasan berjudul “The Internet Boom and the Limits to Growth” oleh Samuel, Yenny, Ridwan dan Shannoto.


Paparan dimulai dengan sejarah internet dari eksperimen (the famous) ARPANet, jaringan milik Department Pertahanan US. Diulas juga standard layer OSI (Open Systems Interconnection) melalui OSIRM (reference model) yang disusun oleh ISO (International Organization for Standardization) namun secara de facto TCP/IP menjadi the real open protocol for interconnecting systems.


Perkembangan selanjutnya, akibat banyak perusahaan dan universitas memiliki akses di jaringan internet, di tahun 1987 National Science Foundation mengambil alih ARPANet menjadi NSFNet yang tidak bisa dipake secara komersil (sebenarnya cerita ini bisa dielaborasi lebih banyak oleh tim).


Privatisasi NSF dilakukan melalui Advanced Networks and Solution (ANS) di tahun 1990 yang dikelola oleh 3 pemilik yaitu University of Michigan karena telah memiliki ijin (?) jaringan regional, MCI yang berkontribusi membawa bandwidth (traffik) dan IBM yang menyediakan perlengkapan komputer. Tahun 1991, ANS meminta ijin ke NSF (bukan kebalikan nya seperti di slide) untuk menyediakan layanan komersil di internet.


Bahasan lain dari paparan menyebutkan pula meledaknya kesibukan jalur jaringan internet seiring bergabungnya banyak user. Kapasitas koneksi internet berkembang pesat akibatt banyaknya aplikasi baru serta maraknya komputer dengan teknologi baru.


Issue “Dotcom Bubble” dari meningkatnya saham perusahaan yg berhubungan dengan internet akibat persepsi investor yang menduga harganya akan terus meningkat. Bisnis kolokasi juga meraup untung dari carrier hotel dengan tingkat okupansi yang tinggi. Booming internet jelas berpengaruh pula pada bisnis pabrikan perangkat telekomunikasi dan internet.


Dua tim terakhir, mengulas bab-6 dan bab-9, belum sempat terekam file presentasinya sehingga akan disampaikan di posting berikutnya.


Tim lainnya, 1,5,7,8,dan 10 diharapkan sudah dapat mempersiapkan diri di pertemuan berikut. Applause bagi yang sudah tampil, meski ada beberapa satu dua miss-persepsi dan kebingungan, namun usaha tersebut tidak ada yang sia-sia. Selamat.

Friday, April 17, 2009

Tugas paparan bedah buku

Kalau tidak salah tugas bedah buku ini cukup lama tertunda-tunda. Saya berharap Sabtu besok sudah bisa terealisir, tim bisa hadir dengan lengkap, kalaupun masih ada yang belum berkoordinasi bisa disampaikan saja permasalahannya. Issue koordinasi juga menjadi aspek yang menjadi konsideran penilaian. Paparan masing-masing tim maksimal cukup 20 menit saja. Dari 10 tim yang akan tampil, boleh jadi diselesaikan dalam 1 atau dua sessi pertemuan.

Tugas lain, relatively kontribusi, dimana pemirsa Klasmaya bisa berpartisipasi dalam program ”Quiz Dari Kami Untuk Kami” atau ”4 Ourself Quiz”. Program mengacu pada seluruh artikel yang sudah di submit pemirsa di OBT, baik artikel sendiri maupun artikel dari rekan atau pemirsa lain. Partisipasi dalam bentuk penyusunan soal quiz (bisa multiple choice ataupun pertanyaan biasa) lengkap dengan jawabannya. Setiap soal dan jawaban juga sebaiknya dilegkapi sumber artikel. Pertanyaan bisa lebih dari satu. Setiap pertanyaan yang baik akan memberikan kredit pada penilaian.

Pertanyaan dan jawaban Quiz bisa disubmit melalui email saja, untuk “keseruan” program ini. Semakin banyak soal yang bermutu dan berbobot, semakin besar kemungkinan untuk ditampilkan dalam bentuk ”real” soal, sehingga semakin besar kemungkinannya untuk mengetahui jawabannya.

Ciao.

Tuesday, April 14, 2009

11th April 2009 Class at a Glance: Quiz and Regulation of BRTI, FWA, and Competition

Setelah hampir setengah bulan off (seingat saya klas terakhir tanggal 28 Maret 2009), akibat delay, lupa, dan kelewatan, akhirnya pertengahan April ini klas dimulai lagi. Unfortunately, mungkin karena periode pemilu, sehingga banyak yang pulang kampung untuk menyalurkan hak pilihnya (saya sendiri tidak mencoblos untuk beberapa alasan, hanya mencontreng), atau karena hari kejepit buat long week end, tanggal 11 April lalu hanya diikuti oleh paling tidak separuh dari pemirsa yang terdaftar.

Hal kedua yang disayangkan, program saya hari itu untuk memberikan kesempatan pemirsa memaparkan tugas bedah buku juga tidak memungkinkan, karena di awal klas, seperti biasa belum semua muncul memberikan penampakannya sehingga belum ada tim yang hadir dengan lengkap.

Hal ketiga yang masih mengecewakan, dari sekian pemirsaa yang present, hanya 1 orang saja yang mengumpulkan pekerjan rumah sisanya nihil.

Akhirnya, sesuai deal yang pernah disampaikan sebelumnya, klas di isi dengan quiz terkait dengan materi regulasi.

Sisa waktu klas diisi dengan bahasan singkat (masih) tentang aspek regulasi, antara lain :

Seperti biasa bagi yang belum mengumpulkan tugas-tugas atau pekerjaan rumah bisa langsung di submit melalui email atau posting di OBT. Untuk menghindari miss-receive, karena aktivitas email dan mail-list cukup merepotkan untuk seleksi, harap email yang berhubungan dengan tugas atau klas, diawali text [Klasmaya] pada subject email. Untuk lebih meyakinkan lagi, paska sending email bisa diremind ke nomor cellphone saya (nomor bisa dilihat di handout pertama).

Wednesday, April 08, 2009

Maaf

Hari senin pagi kemarin, sebenarnya saya masih ingat ada kuliah pengganti di jam 04:00. Tapi begitu nyampe kantor, ada tugas dadakan musti presentasi ke salah satu BoD di Jakarta. Sekira jam 10 lebih saya baru berangkat ke Jakarta untuk jadwal jam 14:00. Mungkin karena dadakan, konsentrasi terfokus disana, saya baru ingat jadwal jam 16:00 setelah nyampe di Bandung jam 21:30.

Hapunteun pisan buat pemirsa yang sudah terlanjur hadir. Tadinya saya mau ganti di minggu ini, tapi belum ada waktu yang pas. Jadinya mungkin kuliah pengganti dialokasikan di minggu berikutnya saja paska pemilu.

Sekali lagi maaf.

Saturday, April 04, 2009

Persiapan Tugas paparan bedah e-Book sembari bikin PR

Pagi ini sebenarnya saya sudah sampai di tanah pasundan, hanya saja karena kemarin belum bisa dipastikan pulang kapan, akhirnya ada keputusan penundaan kelas Sabtu ini. Mungkin lebih baik daripada dipaksain malah tertidur, ngantuk, atau gak konsen.

Ada satu hal yang saya baru sadar terlewatkan. Rencana pertemuan berikutnya adalah tugas paparan bedah e-Book yang sedianya minggu lalu. Namun minggu sebelumnya juga sempat disampaikan PR terkait aspek regulasi, tentang membandingkan KM No 20 tahun 2001 dengan KM Perubahannya No 29 dan 30 tahun 2004. Sembari mengingatkan, posting ini menyediakan dokumen terkait (moga-moga bukan jadi alasan terlambat bikin PR).

Thursday, April 02, 2009

Class Delay on 4th April 2009

Berhubung sampai hari ini saya masih di Semarang, maka jadwal kuliah hari Sabtu tanggal 4 April 2009 ditiadakan. Rencananya (saya akan konfirmasi ke BAAK) untuk kuliah pengganti dijadwalkan hari Senin tanggal 6 Maret 2009 jam 16:00. Tempat akan ditetapkan oleh BAAK melalui pengumuman di kampus.

Demikian disampaikan, mohon informasi ini dapat disebarluaskan pada yang berkepentingan. Terima kasih.

diacu dari situs resmi kota Semarang

Wednesday, April 01, 2009

Pengumpulan PR Opini dan Issue Telematika.

Sejak awal Februari lalu, disampaikan PR untuk opini tentang Telematika yang dilanjutkan dengan PR berikutnya tentang Hot Issue yang terjadi di media berkaitan dengan telematika. Beberapa sudah menyampaikannya melalui penyampaian phisik. Namun saya sampaikan kalau bisa file phisik diposting juga di OBT. Beberapa yang belum menyampaikan dalam bentuk phisik lembaran jawaban PR, langsung mempostingnya di blog interaktive OBT.

Minggu lalu saya sudah diingatkan untuk pengumpulan nilai sementara dari BAAK. Salah satu item yang diambil mengacu pada PR tersebut. Karena kita tidak bikin UTS, maka porsi PR jadi cukup besar. Ada beberapa yang terlambat posting (paska 20 Maret) sehingga belum masuk ke nilai sementara, tapi jika sudah nantinya akan masuk ke nilai akhir.

Untuk menghindari faktor kealpaan, atau miss-posting, berikut ini saya sampaikan daftar nama-nama yang sudah mengirim posting Opini dan Issue (1), Opini saja (2), Issue saja (3), belum keduanya (4).


(*) Note, jika ada kesalahan dalam pengumpulan daftar diatas, mohon komentar termasuk evidennya.

Tuesday, March 31, 2009

28th March 2009 Class at a Glance

Mungkin ada mis-komunikasi. Meski kita sudah sediakan moda alternative lewat Klasmaya, tapi masih ada saja salah tafsir. Sedianya tugas bedah buku dari eBook Meltdown direncanakan dalam bentuk paparan, namun tugas yang dikumpulkan berbentuk narasi. Format narasi inipun sebenarnya bisa diterima, masalahnya hampir semua tim belum mempersiapkan tugas ini untuk dipresentasikan, walhasil rencana paparan sessi kemarin gagal maning, kita tunggu minggu depan.

Untuk mengisi klas, akhirnya dibahas aspek regulasi telekomunikasi Indonesia. Dua UU yang cukup representatif, yaitu UU No 3 / 1989 dan UU No 36 / 1999 tentang Telekomunikasi dikupas cukup detil. Untuk mempermudah pemahaman, dipergunakan format komparasi. Sayang format ini sengaja tidak saya share agar pemirsa bisa lebih kreatif menganalisa sendiri dari material UU yang tersedia.

Sebagai pelengkap, disini disampaikan pula PP (Peraturan Pemerintah) No 8 / 1993 dan PP No 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi untuk menambah pemahaman kedua UU ini. Keempat materi ini sebenarnya ada di situs Dirjen Pos dan Telekomunikasi, yang menyediakan dengan lengkap segala undang-undang, peraturan dan kebijakan lain terkat dengan regulasi telekomunikasi (misalnya interkoneksi atau aspek lainnya). Tapi kalau pun belum sempat mampir ke situs tersebut, posting ini juga menyediakan UU dan PP tersebut.

Bahasan lebih menekankan perubahan dari UU No 3 / 1989 dan UU No 36 / 1999, sekira 10 tahun, terkait dengan deregulasi, perubahan dari monopoli menjadi pasar terbuka (kompetisi), meskipun untuk industri tertentu masih duopoli. Deregulasi dipengaruhi gelombang globalisasi, dan pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi yang mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan dan cara pandang terhadap telekomunikasi. Globalisasi semacam WTO, persayaratan IMF, maupun tekanan negara besar boleh jadi menjadi salah satu driver deregulasi. Aspek lain seharusnya terkait dengan tujuan untuk meningkatkan penetrasi dan densitas sarana telekomunikasi dalam rangka mempercepat pembangunan infrastruktur, peningkatan perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat.

Studi dari ITU menyebutkan bahwa peningkatan 1% densitas telekomunikasi suatu negara akan meningkatkan 3% pertumbuhan ekonomi. Apakah teorema tersebut berlaku di negara kita perlu dilihat lagi histori beberapa tahun lalu. Sementara, kajian beberapa analis tahun terakhir yang punya korelasi dengan studi ITU tersebut, menyebutkan bahwa pertumbuhan Developed Country bisa dipengaruhi oleh densitas broadband, meski mereka tidak menyebutkan angka matematis dari pertumbuhan tersebut.

Friday, March 27, 2009

21st of March 2009 Class at a Glance


Saya pikir Class at a Glance minggu lalu sudah di submit, eeh ternyata belum, padahal filenya sudah disiapkan dari minggu lalu, hanya gara-gara jarang nengokin Klasmaya. Mungkin kalau sudah pensiun dari kerjaan kantoran, Klasmaya bisa diupdate harian, ahh ngelamun. Kalau yang lain bisa update FaceBook per hari bahkan lima kali lebih, bak sholat lima waktu saja, mungkin kalau pengaturan waktunya bisa lebih dikelola lebih efektif, Klasmaya juga bisa diupdate lebih sering, dari pada sekedar “Class at a Glance”.

Okay … minggu lalu praktis kita sudah bahas sisa bagian dari A. Z. Dodd yaitu bab 6 sampai bab 10. Lagi-lagi materi diambil dari tugas tahun lalu, mungkin kedepan saya akan coba benahi daripada sekedar cuplikan. Bab 6 dibahas materi terkait “Layanan Jaringan Terspesialisasi”. Meski ada beberapa layanan yang termuat di buku, namun materi yang disampaikan lebih memfokuskan pada layanan ATM, SONET dan DSL termasuk salah satu keluarga DSL yang popular, ADSL. Ada yang tahu perbedaan A di ATM dengan A di ADSL?.

Bab selanjutnya dibahas materi dengan judul “MODEM dan Peralatan Akses” yang jelas-jelas sesuai judul membahas aspek terkait modulator demodulator dan beberapa DCE lainnya seperti NT1s; CSU / DSU; Modem PCMCIA, Modem kabel, dan Set-top boxes. Ada yang bisa kasih gambaran kalau buat IPTV pakai DCE kayak gimana?

Bab Internet dibahas dari mulai sejarah Internet, layanan Internet, WWW, HTML, Hosting, Privasi, sampai alamat internet. Cukup lugas, meski beberapa bagian hilang, seperti Intranet & Extranet, atau markup language lain, jadi sebaiknya pemirsa baca buku asli atau terjemahannya untuk lebih melengkapi cerita.

Bab-9 dibahas thema Konvergensi, kemampuan sebuah jaringan untuk memuat semua jenis lalu lintas seperti suara, data, dan video sebagai sebuah paket. Kemampuan jaringan ini didorong oleh : Advance Router, Digital Signal Processor, Optical & Programmed Switch, Compression & Protocol, DWDM.

Terakhir dari resume bedah buku A.Z.Dodd dibahas Layanan Wireless mulai dari teknologi analog AMPS sampai berbasis digital seperti D-AMPS, GSM, CDMA, PCS, SMR, dan CDPD (ada yang inget 3 akronim terakhir ?). Selain aspek teknologi, paparan ini juga menyebutkan aspek pasar seluler yang terkait dengan antara lain: Efforts to Improve Service; Health Concerns; Safety on the Road; Privacy and Advertising Instructions on Cellular E911; Called Party Pays; Limited Mobility Wireless for Local Telephone Service; Wireless Number Portability; dan Limitations of Circuit-Switched Cellular for Data. Konten lain terkait dengan wireless yang turut dipaparkan antara lain: spectrum allocation, 2G-3G Transition, Paging dan Satellite Service.

Jadi tuntas sudah seluruh bab dalam buku acuan resmi dipaparkan, namun bukan berarti materinya hanya yang ada di presentasi, tapi yang utama tetap di buku referensi.

Bagaimana dengan bedah buku tahun ini? Apakah lebih menarik dan berbobot? Kita tunggu saja ....

Sunday, March 22, 2009

Task of the next bi-week (EL-102 28th March 2009)

Lagi-lagi tugas. Seperti biasa saya musti sharing file materi tugas, jauh-jauh hari sebelumnya biar gak ada alasan bahan baru diterima “ngedadak”. Tugas buat minggu depan dan minggu berikutnya adalah bedah buku dari eBook dengan judul “The great telecom meltdown” yang ditulis Goldstein, Fred R. Sekilas buku ini mirip dengan buku acuannya A. Z. Dodd dengan setting cerita US nya, meski tidak terlalu menyinggung aspek teknis dengan istilah dan gambaran konsepnya tapi lebih banyak cerita dari sisi bisnis dan sejarah. Saya jadi kepikiran buat bikin buku sejenis yang lebih berbau lokal, maunya sih.

Mungkin begitu konten nya lebih ke cerita jadi lebih sulit buat di rekap dibandingkan konten teknis. Tapi untuk lebih memudahkan pemirsa, rekap cukup dibuat dalam cuplikan bahasa aslinya. Saya juga biasanya hanya meng ‘copy-paste’ bagian yang jadi intisari bahasan bab, jadi tidak perlu tulis ulang. Sehingga materi presentasi hanya bagian-bagian penting dari buku yang bisa dipaparkan dalam presentasi.

Untuk lebih mengakrabkan klas dari kubu EL dan SK, saya coba pengelompokkan tim di campur dengan komposisi, moga-moga sudah seimbang, dan jumlah anggota tim yang berbasis simply jumlah halaman. Kalau toh ada usulan untuk pindah, sepanjang tidak terlalu merusak tatanan sebelumnya bisa dilakukan, asalkan disepakati supply dan demandnya. Pindah masih diperbolehkan asal sepakat, namun jumlah anggota tidak bisa berubah.

Karena file eBook nya cukup besar, dokumen saya bagi dua, dimana bagian 1 berisi bab-1 s/d bab-5 sedangkan bagian 2 berisi bab-6 s/d bab-10. Pengelompokkan dapat dilihat pada daftar berikut.

  • Ch-1 : Ma Bell and Her “Natural Monopoly,” 1876–1969 (Andi Ilham Syalaby; Indra Halim)

  • Ch-2 : The Rebirth of Competition (Grace Natalia; Satrio Yudhianto; Yoel A Sadriant)

  • Ch-3 : Divestiture: Equal Access and Chinese Walls (Sangap Y; Christian Pontoh; Nicky; Roni Malik; M. Ilham; Edfri;)

  • Ch-4 : The Internet Boom and the Limits to Growth (Yenny Kartika; Shannoto Soetedjo; Samuel E; Ari Gunawan; Ridwan Sukma P; Fernandes)

  • Ch-5 : The Deuteronomy Networks (Yonathan Nurliawan; Septian)

  • Ch-6 : Losing by Winning: Wireless License Auctions (Bachman Sabar Menanti, Andrew Oroh)

  • Ch-7 : Competitive Access Providers, the Costly Way to Local Competition (Laura Elizabeth; Denny; Asary Larigy; Rinaldy)

  • Ch-8 : DLECs and ELECs: An Exercise in Oversupply (Immanuel Chandra; Fadjar Winastiono)

  • Ch-9 : CLECs’ Winning Strategies Are Met by Rule Changes (Irma Apriyadi; Yohannes Suryanto; Junior Moningka; Pantun Simanjuntak; Ferdian Dumara)

  • Ch-10 : Focusing on the Bottom Line (Andi Asdiar; Dani Ahmad Ramadhan)

Bla ...

intentionally White space

Saturday, March 14, 2009

Task of the week (EL-102 21st of March 2009)

Seperti yang sudah disampaikan di klas offline tanggal 14 Maret 2009, tugas minggu depan adalah membuat analisa industri telematika, yang dalam hal ini diwakili oleh segmen telekomunikasi, dari data di pasar bursa indonesia.

Ada tiga dokumen yang sudah saya unduh dari situs resmi BEJ yang sekarang berubah menjadi IDX (jadi bukan cuman kepompong saja yang berubah). Dokumen ini merupakan regular report dari IDX dengan judul IDX Monthly Statistic. Ketiga dokumen ini saya ambil untuk bulan Desember tahun 2006, 2007, dan 2008 yang mewakili periode tahun tersebut.

Tugas analisa mengacu pada indikator dan parameter yang tersedia di dokumen tersebut, khususnya pada bagian “Financial Data & Ratios”, dari beberapa perusahaan telekomunikasi yang “listed” di pasar bursa IDX. Parameter yang bisa dianalisa antara lain Asset, Liabilities, Equity, Sales, Operating Profit, Net Income, Earning per Share (EPS), Book Value (BV), Price Earning Ratio (PER), Price per Book Value ? (PBV), Debt Equity Ratio (DER), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Market Capital yang bisa diambil di “Table Trading by Industry”

Format analisa berupa tampilan grafik dari kombinasi indikator tersebut. Model grafik bebas, bisa grafik pertumbuhan, grafik matriks yang memperlihatkan positioning, atau grafik lainnya (bar, line, atau pie chart). Selanjutnya grafik dikaji dan diberi ulasan dalam bentuk tulisan. Jumlah grafik tidak dibatasi, lebih banyak lebih bagus sejauh indikator yang dibandingkan memiliki makna. Jika kesulitan dengan istilah, bisa dicari di internet.

Selamat menganalisa.

14th of March 2009 Class at a Glance


Pertemuan ketujuh lagi-lagi one sided love eh talk affair, seperti yang diulas posting sebelum ini. Bahasan kuliah (dalam pengertian klise bla-bla monolog) seperti yang sudah direncanakan semula mengambil materi dari buku Anabel Z, Dodd. Bab-1 Konsep Dasar diulas cukup detil dengan cakupan terminologi, protocol, arsitektur, sinyal analog dan digital dan beberapa solusi untuk mengurangi kongesti.

Bab 2, 3 dan 5 yang disampaikan di klas, pada dasarnya mengacu pada result tugas dari klas tahun lalu dalam acara bedah buku Z. Dodd. Klas tahun ini, agar tidak overlap saya akan coba cari buku yang bisa di bedah. So prepare for that.

Kembali ke ulasan bab selanjutnya, pada bab 2 diulas mengenai Sistem Telepon dan Pengkabelan. Sebenarnya aspek ini sudah dibahas minggu sebelumnya khususnya untuk standard yang banyak dipergunakan di lingkup domestik, sementara referensi Dodd mengacu pada kondisi di US. Materi meliputi system telepon (PBX, Centrex, dan Key System), Penjualan Telepon dan Media. Kelompok pembedah bab 2 relatif tidak terlalu mengulas detil dari bahasan materi. Ada baiknya pemirsa membandingkan dengan narasi Z. Dodd di bukunya.

Bab 3 dibahas topik Network Service Provider & Local Competition yang mengulas faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri telekomunikasi, antara lain Globalisasi Ekonomi, Peraturan Pemerintah (khususnya aturan divestitur 1984 dan regulasi 1996 di AS), dan Perkembangan Teknologi (khususnya CaTV, FO, dan Wireless). Pada kompetisi lokal disebutkan strategi memasuki pasar panggilan lokal antara lain melalui Resale, CableTV, dan Wireless. Dijelaskan 3 jenis reseller antara lain Resseller, Switchless Reseller, dan Agents lebih spesifik. Terminologi dan penjelasan CLEC dan IEX termasuk case AT&T juga menjadi materi yang menutup bab ini.

Topik Public Network mengacu ke bab-5 nya Z. Dodd, pada dasarnya membahas perbedaan antara layanan terhubung dan layanan dedicated (jalur privat). Atribut layanan terhubung antara lain : Pengalamatan; Bayar sejauh anda pergi; Tarif pos; Sesuai tuntutan; Segera; Layanan Terhubung untuk Data; dan Penghubung rangkaian-ketidak efisienan jaringan; dipaparkan dalam bahasan tersebut. Sementara untuk atribut layanan Dedicated : Biaya bulanan tetap; Rute tetap; Penggunaan eksklusif; Ketersediaan 24jam sehari; Suara,video dan data; serta Kapasitas tetap. Bahasan lain terkait dengan topologi jalur dedicated, meski konten pensinyalan (SS7) tidak diulas pada paparan ini.

Seperti yang disebutkan sebelumnya materi paparan ini dicuplik dari materi yang menjadi tugas bedah buku. Untuk menghindari blank spot atau cakupan yang tidak tercover, sebaiknya pemirsa membaca langsung pada buku referensi. Kalau tidak, maka levelnya cuman sekedar mengacu ringkasan orang, masih dibawah ”minjem buku di perpustakaan” (dengan asumsi dibaca).

Baca buku acuan buat persiapan kuliah

Lagi-lagi sesuai perkiraan, meski pra klas sudah disampaikan baik melalui sessi lalu maupun posting di klasmaya, bahwa persiapan sessi berikutnya akan dibahas materi dari Anabel Z, Dodd, namun tidak ada satu pemirsa pun yang menyempatkan untuk minimal membolak-balik buku acuan tersebut.

Seperti klas yang sudah-sudah sebelumnya, kecenderungan pemirsa saat ini mulai mengurangi budget buat book of reference. Mungkin yang masih dipertahankan adalah spending buat voucher seluler atau upgrade handsetnya, lagi-lagi for the sake of life style. Tapi jangankan beli buku acuan yang nampaknya sangat kecil kemungkinannya, fotocopy buku acuan pun tidak, fotocopy beberapa bab pilihan untuk mengurangi budget juga tidak, yang terakhir minjem buku yang jauh-jauh sebelumnya sudah disampaikan ada di perpustakaan masih juga enggan, so mau nyiapin apa buat sessi klas ?. Mungkin memang gak ada yang perlu disiapkan, toh as usual gak berpengaruh apa-apa.

Waktu issue ini dilontarkan di klas, beberapa pemirsa menyebutkan kata “belum” instead of “tidak”, moga-moga saya masih punya harapan untuk itu, artinya sekarang “belum”, ke depan bisa jadi “sudah” bukan “masih belum juga”.

Friday, March 13, 2009

7th of March 2009 Class at a Glance

Pertemuan keenam nampaknya rada membosankan, mungkin karena materi yang harus disampaikan cukup banyak. Ada dua file yang dipaparkan, namun pemirsa tidak punya bahan yang disiapkan untuk dibahas atau didiskusikan. Salah saya juga mustinya materi ini bisa disampaikan pra offline class. Cuman ternyata gak mudah juga buat konsisten seperti itu, moga-moga ada improvement ke depannya.

Untuk sessi depan, saya rencanakan membahas materi dari bukunya Annabel Z Dodd. Buku sudah ada di perpustakaan institute, sudah di terjemahkan pula, tinggal baca dan persiapkan untuk dibahas Sabtu besok.

Tapi kembali ke posting Class at a Glance minggu lalu, sessi 3 Maret 2009 dibahas materi dari salah satu korporasi di industri telekomunikasi Indonesia yang sebenarnya mengulas lanjutan dari minggu sebelumnya. Materi terkait dengan konten “Jaringan Lokal Akses Tembaga”. Materi ini tambahan dari materi perkuliahan tahun lalu, yang mencoba menggambarkan kondisi riil jaringan lokal berbasis kabel telepon di Indonesia. Struktur dari mulai sentral, MDF, RK, DP sampai ke CPE diuraikan satu persatu untuk paling tidak mengingatkan model wireline yang sepertinya sudah digantikan dengan basis radio atau wireless.

Materi kedua terkait dengan materi tahun lalu dari bukunya Khalil yang saya cuplik dari bab yang berkorelasi dengan industri telematika. Paparan cukup panjang dan bisa dielaborasi sendiri.

Saya masih belum memutuskan untuk penilaian tengah semester, melalui ujian atau tugas. Tapi sebaiknya siap-siap saja, kalau-kalau sessi besok ada kejutan untuk nilai UTS.

Wednesday, March 11, 2009

Kolaborasi analisa industri

Awalnya sebagai bagian dari belajar mengajar, ada PR terkait dengan analisa industri berbasis 5 Forces Porter. Lingkup bisnis yang disepakati adalah Broadband Wireless Access. PR yang semula dijadwalkan disubmit pada pertemuan kelima akhirnya menjadi salah satu tugas yang dikerjakan di kelas. Karena waktu yang tersedia tidak mencukupi, tugas analisa hanya dikerjakan sampai 5 forces dari 7 enhanced forces Porter, sisanya menjadi PR pertemuan berikutnnya. Sementara partisipan yang tidak hadir diharuskan menyelesaikan PR untuk keseluruhan.

Saya mencoba melakukan rekap sebagai result analisa dari klas sessi 2009. Namun untuk menghindari entry yang time consuming, saya mencoba kolaborasai melalui situs OBT . Jadi untuk seluruh partisipan, mohon mengupdate “angka” dari opini statement yang sudah dipilih, sekiranya pilihannya lupa tidak mengapa untuk dirubah. Jadi tidak ada halangan untuk dikosongkan.

Selamat berkolaborasi

Friday, March 06, 2009

3rd of March 2009 Class at a Glance

Pertemuan kelima yang diganti tanggal 3 Maret 2009 ini cukup mengecewakan. Assesment Analisa Industri dengan framework Porter yang seharusnya jadi pekerjaan rumah ternyata tidak ada satupun yang mengerjakan. Meski kuliah sudah di tunda 3 hari namun itupun tidak membantu menyelesaikan pekerjaan.

Bahasan kuliah mulai masuk sedikit ke aspek teknologi. Saya mengambil subjek “platform jaringan” sebagai materi pengenalan khususnya di bisnis telekomunikasi. Konten meliputi jaringan berbasis circuit switched dan packet switched, yang terkait dengan kebutuhan komunikasi informasi real time dan non real time.

Jaringan berbasis circuit switched diwakili oleh PSTN dan STBS. Issue yang dibahas antara lain struktur jaringan dan hirarki sentral, dan prinsip dasar mekanisme komunikasi, termasuk signalling. Sementara pada jaringan berbasis packet switched yang diwakili oleh jaringan IP melalui LAN, WAN, dan Global Internet, dibahas tahapan pengiriman informasi dan ulasan mengenai connection oriented berbasis jaringan IP. Seperti biasa, materi presentasi dapat diunduh di sini.

Kembali ke pekerjaan rumah yang ikut ter’delay, sisa waktu klas offline dipergunakan untuk menyelesaikan assessment analisa industri yang dipilih bisnis BWA (broadband wireless access). Analisa mengacu pada pertanyaan yang sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya dan sudah disediakan di klasmaya juga. Forces tambahan (regulatory dan Technology) menjadi pekerjaan rumah lanjutan di Sabtu besok. Bagi yang kemarin berhalangan hadir, PR nya yaa semua forces yang ada. Jadi saya berharap tidak ada lagi excuse besok pagi.

Thursday, March 05, 2009

Layar Tancep Maret 2009 : 5 Forces Porter

Seperti yang pernah dijanjikan, setelah ditayangkan di klas offline, video clip berdurasi sekira 13 menit ini berhasil juga ditayangkan di klasmaya. Meski sempat cari-cari di situs resmi Harvard Business dan nggak ketemu, ternyata seperti yang (akhirnya) diduga, video yang sama muncul juga di (lagi-lagi) YouTube.

Selain judul 5 Forces-nya Porter, beberapa video yang biasanya bisa diunduh dari HBS (Harvard Business School) melalui iTunes, muncul juga di subsidiary site nya Google ini. Yaa good for you lah, bisa menikmati lebih detil, berulang-ulang, bahkan didownload, siapa tahu jadi soal ujian (he he he).

So, check this out…The Layar Tancep Series

Wednesday, February 25, 2009

Class Delay on 28th February 2009

Berhubung saya harus ke luar kota hari Jum’at besok, maka jadwal kuliah hari Sabtu tanggal 28 Februari 2009 ditiadakan. Hasil konfirmasi dengan pihak BAAK disepakati kuliah pengganti dijadwalkan hari Selasa tanggal 3 Maret 2009 jam 17:00. Tempat akan ditetapkan oleh BAAK melalui pengumuman di kampus.

Tugas pekerjaan rumah yang sedianya akan dikumpulkan pada hari Sabtu besok, dapat di kirimkan melalui email (seperti yang tertera di Handout-1).

Demikian disampaikan, mohon informasi ini dapat disebarluaskan pada yang berkepentingan. Terima kasih.

Monday, February 23, 2009

21th of February 2009 Class at a Glance

Pertemuan keempat di session 2009 kali ini mulai masuk ke bagian detil dari materi Industry Analysis tools yang diwakili ”5 Forces” nya Porter. Materi ini sebenarnya sudah dibahas pada pertemuan pertama (atau kedua?) meski relatif masih pengenalan dan pendahuluan. Hal yang menarik, materi ini meski seharusnya menjadi tools analisa dari subjek Industri Telematika, namun institusi, unfortunately, telah mencoret text book yang menjadi rujukan tools ini. In other words, actually we don’t really need this material to be discussed. Though in my opinion, basically this tools or even this framework of analysis remain valid to be acknowledged at least to be recognized.

Pro kontra dari pendekatan pemahaman industri melalui framework 5 Forces Porter juga menjadi ajang perdebatan melalui tulisan di buku dan diskusi menarik di beberapa milist dan artikel. We’ll talk about that later.

Selain dibahas satu persatu dari masing-masing forces industri, pertemuan tempo hari berkesempatan juga untuk menayangkan video klip dari Harvard Business Video IdeaCast tentang 5-Forces langsung dari penulisnya, Michael E Porter, yang didownload dari iTunes. Video berdurasi 13:12 menit ini direlease awal Mei 2008, belum genap satu tahun, artinya belum terlalu ”out of date” untuk dibahas dalam kelas Offline. Meski tidak mudah untuk memahami maksud bahasan dan percakapan dari konten untuk sekali tayang, idealnya ditayang ulang sampai 2-3 kali (jadi saya bisa istirahat hampir setengah waktu kuliah), namun saya hanya bisa menayangkan sekali, moga-moga saya bisa dapat link ke video provider yang bisa diakses melalui Klasmaya untuk pemirsa yang mau lebih serius mengikuti video-cast tersebut. Kalaupun saya kesulitan, ada baiknya pemirsa langsung download dari iTunes nya.

Usai layar tancap pagi, bahasan dilanjut dengan practical stuff untuk menerapkan 5-Forces melalui assessment dan scoring. Pendekatan ini saya ambil dari deployment dari projek bersama Konsultan sewindu lampau. Sayangnya karena waktu terbatas, maka assessment akhirnya menjadi materi homework untuk minggu depan (kali ini tidak perlu disubmit ke OBT).

Formal pertanyaan PR adalah melakukan penilaian (assessment) dari determinant 5-Forces Porter untuk bisnis Broadband di Indonesia melalui opini seberapa tepat menurut anda pernyataan tersebut plus dengan tambahan komentar tentang alasan jawaban. Setelah menetapkan jawaban, dilanjutkan dengan scoring dan mengkalkulasi impact rating. Seperti yang disampaikan dalam handout, perhitungan rating menggunakan pendekatan formula jumlah total scoring dibagi dengan jumlah statement yang dijawab bukan N dikali max score (2).

Konsekuensi dari PR, seharusnya, bukan hanya menjawab seadanya, namun harus punya landasan dan dasar yang sebaiknya dicari melalui sumber yang tersedia (perpustakaan, buku, media/press, blog, atau observasi lapangan). Jadi meski course plan menyebutkan list of books as a reference, jangan terpaku dari sumber formal text book saja.
Selamat menganalisa....

Sunday, February 22, 2009

Peluang Telco dari IPTV


Artikel “How telcos can succeed with IPTV” menunjukkan bagaimana perusahaan telekomunikasi memiliki peluang meraih keunggulan kompetitif dibandingkan operator TV cable atau Satelit melalui layanan IPTV. Ibarat The Empire Strikes Back nya Star Wars, perusahaan telekomunikasi bisa memanfaatkan IPTV dengan fitur “iklan beralamat” (addressable advertising) sebagai bisnis yang bisa mengangkat pendapatan dari layanan Voice yang semakin menjadi komoditi dan cenderung menurun.

Riset dari Infonetics memperkirakan pelanggan IPTV di seluruh dunia akan tumbuh 53.7 juta di tahun 2009 dengan pendapatan sebesar US$38 milyar. Namun mengejar pertumbuhan ini dalam pasar yang kompetitif bukan hal yang mudah. Sebagai penyedia layanan video setelah operator satelit dan cableTV, penawaran IPTV oleh perusahaan telekomunikasi memerlukan pembeda (diferensiasi) dari layanan yang ada.

Salah satu fitur pembeda adalah melalui kemampuan pengalamatan (addressability). Jaringan IPTV mampu menyalurkan konten ke penerima individual, sehingga memungkinkan untuk beriklan secara spesifik (addressable advertising). Pada akhiirnya kemampuan ini bisa menjadi “enabler” bagi operator IPTV untuk menghasilkan pendapatan tambahan melalui iklan seiring dengan bertambahnya jumlah pelanggan.

Untuk dapat memperoleh pendapatan ini, perusahaan telekomunikasi sudah tentu harus mempersiapkan model bisnis yang tepat serta menyediakan infrastruktur untuk data trafik dan proses billing yang sesuai.

Dalam model iklan retail tradisional, penyedia konten menyediakan program yang membuka peluang beriklan sedangkan delivery operator menjual dan menyalurkan iklan. Penyedia konten mengutip pembayaran dari konten yang bisa diiklankan dan delivery operator mengumpulkan semua pendapatan iklan dari penjualan iklan melalui sales force.

Sedangkan dalam model bisnis iklan wholesale yang baru, penyedia konten menyediakan materi yang dapat disisipkan iklan pada operator penyedia IPTV, namun dapat menetapkan pilihan iklan untuk target pasar tertentu. Operator juga dapat memberi informasi ke penyedia konten terkait dengan jumlah pemirsa yang melihat iklan dan berapa banyak jumlah yang melewatkannya (memindahkan channel). Sehingga, alih-alih memasang iklan secara nasional atau lingkup regional, penyedia konten dapat menempatkan iklan individual dalam suatu kota tertentu, atau spesifik area, atau bahkan target pasar dari kelompok demografis tertentu.

Tuesday, February 17, 2009

14th of February 2009 Class at a Glance

Pertemuan ketiga ini sebenarnya masih membahas materi pendahuluan. Jadi mungkin pembahasannya rada panjang untuk awal introduksi yang mencakup banyak hal. Tapi tak mengapa lah, yang penting topic dan issue-issue yang terjadi dapat dibayangkan dari semula.

Materi masih terkait dengan issue, yang dalam sessi kali ini lebih difokuskan pada aspek regulasi dan market. Ditunjukkan bagaimana regulasi, khususnya di Indonesia, dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penetrasi. Pasar yang awalnya monopoli berubah menjadi terbuka dengan dampak yang akhirnya menguntungkan pelanggan dan pertumbuhan ekonomi. Sub issue dari Regulasi juga sedikit dibahas, misalnya number portability, unified license, atau frekuensi BWA yang masih digodok untuk memberikan andil dalam pertumbuhan industri yang atraktif dan menguntungkan.

Aspek lain yang dibahas dalam pertemuan ke tiga adalah aspek Market yang dalam hal ini mengacu pada pasar saham. Diperlihatkan bagaimana porsi industri telekomunikasi yang menjadi bagian dari segmen industri infrastruktur memberikan kontribusi hampir seperempat market kapitalisasi bursa Indonesia, sedikit dibawah industri perbankan. Meski pemain yang sudah terdaftar di bursa masih terbatas (6 dari 11 pemain besar), namun industri ini cukup memberikan geliat pertumbuhan pasar bursa IDX, khusunya melalui TLK yang masih dominant.

Selain aspek market capital, dari sisi pelanggan dibahas shares jumlah LIS untuk bisnis wireless (nirkabel), baik seluler maupun fixed wireless access. Terlihat bagaimana bisnis wireless, menjadi daya tarik industri telekomunikasi, dari pertumbuhan pelanggan dan jumlah pemain. Ramalan konsolidasi mungkin akan dibahas pada beberapa sessi di depan.

Issue lain antara lain bisnis proses telkom, kecenderungan pergeseran arah bisnis, serta konsep peningkatan nilai (value) menjadi bahasan akhir sessi hari ketiga yang menutup paparan introduksi yang dikupas selama 3 kali pertemuan.

Selain metode pengajaran, pertemuan tempo hari dibahas pula suara peserta mengenai tugas yang telah dikerjakannya. Tugas kompilasi topik yang menjadi berita di media terkait industri telematika disampaikan satu persatu sebagai bagian penilaian disamping sharing dengan audiens lainnya.

Seperti yang pernah saya sampaikan, tugas ini dan tugas sebelumnya (opini industri telematika di Indonesia) diwajibkan untuk disubmit pada weblog yang sudah saya persiapkan di “Obrolan Bisnis Telekomunikasi” (OBT) dengan menggunakan user KlasmayaPupil@gmail.com (password moga-moga masih ingat). Atau bisa juga langsung ke http://www.blogger.com/ dengan userid dan password tersebut. Selain dua tugas yang sudah dikerjakan, you may feel free to submit your own article related to that blog’s theme.

Jadi mulai dari diri sendiri, mulai dari yang bisa kita lakukan, dan dimulai sekarang juga. Kontribusi dan keaktifan di Klasmaya maupun di OBT menjadi bagian dari aspek penilaian.

Thursday, February 12, 2009

Kalau anda jadi CTO pemerintahan Obama

Posting kali ini mengulas artikel blog dari Tom Foremski dengan judul “Intel wants WiMAX to lead Obama’s tech initiatives” yang pernah sekilas dibahas di klas offline mengenai bagaimana Intel mengusulkan pemerintahan Obama untuk fokus pada wireless broadband dan WiMAX.

Setelah cukup besar berinvestasi di riset teknologi WiMAX yang berpotensi menyediakan akses internet murah ke pelanggan, Intel berencana untuk mengintegrasikannya dalam chip Intel sebagaimana teknologi WiFi yang menjadi bagian standard dari produk Notebook. Namun sudah tentu rencana ini perlu didukung pula oleh infrastruktur WiMAX.

Obama sendiri telah menunjuk CTO untuk menentukan teknologi yang akan dikembangkan, diinvestasikan serta menjadi teknologi inisiatif pemerintahannya. Paket stimulus ekonomi difokuskan pada infrastruktur yang perlu dibangun, termasuk infrastruktur digital, dimana Intel berharap WiMAX akan berperan besar dalam penggelaran akses pita lebar nirkabel masa depan.

CTO Intel CTO berencana memberikan pertanyaan (survey) ke US CTO terkait dengan teknologi broadband. Mungkin ada baiknya jika kita berandai-andai, seandainya kita menjadi CTO pemerintah, manakah yang menjadi prioritas (diurutkan) dari inisiatif berikut ini.

- Provide incentives to citizens to make fast, affordable, high-quality broadband deployment a reality for all Americans.

- Focus on federal initiatives that expedite the roll-out of wireless broadband technologies across entire cities.

- Advocate open spectrum policies that enable mobile carriers and manufacturers to make market-driven agreements to deploy next-generation wireless broadband technologies like WiMAX.

Jawaban bisa melalui komentar di posting ini juga....

Pertanyaan saya, setelah tahu jawaban prioritas diatas, kira-kira strategi apa yang akan dilakukan Intel dari tiga opsi diatas ?

Monday, February 09, 2009

31st of January and 7th of February 2009 Class at a Glance

Mustinya posting Class at a Glance ga’ boleh di gabung model begini, tapi kali ini mohon dimaafkan, punteun. Alasan pertama, masih klise di aspek skedul kerja yang ketat, alias sibuk, a.k.a. nggak sempet. Alasan kedua materi yang disampaikan di dua sessi lalu sebenarnya dipersiapkan untuk sessi pembuka di hari pertama, namun karena diskusi nya cukup panjang walhasil sampai minggu kedua juga belum kelar.

Bahasan dua sessi lalu menyangkut aspek introduksi, lingkup dan subjek mata kuliah EL-102. Pendahuluan mengulas perkenalan, dan media klasmaya yang diposisikan menjadi media alternative untuk klas. Sementara dari aspek linkup, dibahas dengan cukup panjang, karena lingkupnya pun cukup lebar. Issue di industri juga dibahas, selain dari aspek terminologi juga selintas cerita dalam issue tersebut. Pemain di industri telematika juga menjadi konsideran untuk lebih memahami lingkupnya.

Di sessi kedua mulai diulas sedikit pembukaan untuk analisis Porter. Meski framework ini cukup lama, namun untuk issue industri belum ada pengganti yang sepadan. Bahasan 5 Forces akan dielaborasi lebih panjang di sessi depan. Selain Portere, tools lain seperti Analisa Portfolio juga sedikit diulas sebagai bahasan dari lingkup strategi bisnis.

Bahasan di minggu kedua mulai masuk ke aspek issue terkait di industri telematika seperti populasi, ICT demand, pertumbuhan pasar, yang masih relevan meski beberapa data masih mengacu pada materi tahun lalu. Kita akan solusikan updating data melalui kolaborasi di blog projek kita tahun ini.

Media sebagai salah satu wahana untuk mengamati industri diulas dalam pertemuan minggu lalu. Dengan perbandingan issus media dari tahun lalu dengan kini. Topik ini juga menjadi materi untuk homework minggu depan, dengan membuat kajian dari issue yang dipilih dari media (kliping) plus analisa dan opini sendiri.


Seperti biasa, materi presentasi sudah bisa diunduh disini. Saya masih belum dapat alternatif portal pengganti yang tidak berbatas waktu untuk menghindari file di delete.

Tabik ...

Friday, February 06, 2009

Welcome to all EL-102 (2009) audiences

Selamat bergabung …

Posting Klasmaya terakhir ternyata setahun yang lalu, pertengahan Desember 2008 untuk mata kuliah Pengembangan Produk Telematika. Setelah lama ditinggal, kurang lebih hampir dua bulan. Beberapa link untuk materi bahasan rupanya sudah di hapus penyedia space gratisan. Setelah saya cek, memang persyaratannya tidak boleh ditelantarkan lebih dari 30 hari. Seingat saya, ini kali kedua klasmaya diperlakukan seperti ini, konsekuensi layanan gratis memang. Mungkin ada bagusnya kalau cari alternative buat hosting file gratis, ada usulan?

Buat pemirsa baru, sekali lagi selamat bergabung. Maaf saya baru posting malam ini, padahal besok musti temu muka (offline) lagi. Seperti yang pernah diulas di pertemuan pertama, media ini dipergunakan sebagai opsi bagi pemirsa untuk berkomunikasi, kolaborasi, atau sekedar nengok kalau-kalau ada info penting terkait EL-102. Kalau saya lihat lagi, usianya sudah lebih dari 3.5 tahun sejak tahun 2005 pertengahan. Mustinya sih ada perbaikan, tapi tidak mudah untuk menerapkan continuos improvement, apalagi kalau cuman sekedar suplemen di aktivitas non major. Jadi buat kalian, minimal buat semester ini, masukkan situs ini di favorit, boleh juga di tarok di situs/blog/facebook kalian.

Buat pemirsa lain yang tidak berhubungan dengan EL-102 atau yang dulu pernah bergabung, do not be hesitate to keep in touch on this blog.

Again welcome aboard....

Friday, December 19, 2008

Online video is not cannibalizing TV

Inspired by Nielson

A few weeks ago, IBM released a report showing 36% of people watched significantly less TV as a result of their online video viewing. Their study was based on 2,800 people polled across six countries.

A more recent report from Nielsen, however, reveals the opposite: TV viewership is not declining, but is in fact at peak levels. "The new report from the media analysts at Nielsen found that video viewing across all three screens - TV, Internet, and mobile - increased from last year. As of the third quarter 2008, the average person in the U.S. watched approximately 142 hours of TV in one month. In addition, people who used the Internet were online 27 hours a month, and people who used a mobile phone spent 3 hours a month watching mobile video," summarizes Sarah Perez of ReadWriteWeb.

It is important to note that the Nielsen study polls people across the US only.

Perez goes on to emphasize that TV-networks would make a mistake in not making their videos available online. "Viewing has increased on all three screens. That means that even though TV viewing is an all-time high, both mobile viewing and online videos are seeing a surge as well," write Perez. "If anything, that should be a huge encouragement to the industry as it proves that, not only does online and mobile video not detract from TV viewing, there's an opportunity to monetize all three screens for record amounts of income too."

Tuesday, December 16, 2008

Charlotte

  1. Seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, minggu kemarin ini saya musti ninggalin Indonesia ke negeri nya om Sam "Obama" tepatnya di kota Charlotte.

    Acaranya cuman seminDaftar Bernomorggu atau persisnya 5 hari di Hilton Center, meskipun dalam rangka pengiritan saya lebih milih nginep di Days Inn (Motel). Foto ini diambil di sekitar hotel yang ngelihatin landmark "Queen of the City" (ada yang tahu kenapa disebut itu?) kalo nggak salah namanya gedung Sears(?).

    Tadinya saya berencana ngirim posting ini waktu di hotel, soalnya meski hotel tersebut jauh lebih murah dari Hilton tapi mereka nyediain fasilitas WiFi gratis. Bagusnya lagi meski di kamar, dan saya juga gak ngelihat antene atau satellit seperti kalo di kita, tapi kualitasnya bagus. Sementara kalau saya denger dari rekan yang nginep di Hilton, mereka musti charge lagi untuk fasilitas itu.

    Tapi meski beberapa malam ada akses internet, lebih banyak fasilitasnya dipake buat email dan chatting ke kolega dikantor atau famili di rumah. Sayangnya laptop saya nggak ada mic buat saya pake Skype. Sementara posting Klasmaya yang meski diniatin dari awal gak kesempatan.

    Untungnya sekarang saya lagi transit di Taipei Airport, dapet free WiFi yang bisa saya pake buat nambah posting Klasmaya.

    Jadi Hallo dari Taipei....

    Kalau saya cek dari email, beberapa sudah ngirim usulan soal UAS. Tapi saya belum dapat kabar dari BAAK, tepatnya tanggal berapa UAS untuk mata kuliah kita. Jadi kita tunggu saja.

Saturday, December 06, 2008

5th December 2008 Class at a Glance : The Business Model

Seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya, berhubung sejak tanggal 6 sampai 16 Desember saya harus melakukan perjalanan ke luar negeri, kuliah dimajukan ke tanggal 5 Desember (sebelumnya direncakan tanggal 3 Desember namun dibatalkan karena saya harus menghadiri rapat di Jakarta). Sebenarnya keberangkatan saya juga pada akhirnya digeser menjadi hari Minggu tanggal 7 Desember, tapi toh jadwal pengganti sudah ditetapkan. Meski sudah direncanakan dan dijadwal ulang beberapa kali, toh kuliah pengganti yang semula dijadwalkan pada pukul 17:00 sempat terlambat lebih dari setengah jam gara-gara lupa dan terbenam pekerjaan untuk mengantisipasi selama 10 hari kedepan, untung salah seorang partisipan dari kalian mengingatkan saya.

Pembahasan klas sebagaimana di rencanakan semula mengulas materi tentang Model Bisnis, khususnya model yang berbasis web. Materi ini saya ambil dari situsnya Prof. Michael Rappa . Jadi sebenarnya tanpa handout materi, kalian bisa akses langsung di situs tersebut. Kalau toh di posting kali ini disediakan juga handout seri terakhir Klas 2008, kalian masih bisa menengok situsnya Rappa untuk lebih memperjelas dan meng’elaborasi bahasan model bisnis.

Pada dasarnya bahasan di klas kemarin lebih mengulas 9 kategori model bisnis yang berhasil diidentifikasi Rappa. Kategori tersebut antara lain Brokerage, Advertising, Infomediary, Merchant, Manufacturer (Direct), Affiliate, Community, Subscription, dan Utility masing-masing dengan penjelasan ringkas dan contoh web sitenya.

Business Model meski bisa dilihat di posisi “beyond product development”, namun seperti yang sering dibahas sebelumnya, pada saat produk baru yang menjadi “main revenue generator” suatu perusahaan khususnya di industri telematika, produk tersebut akan sangat terkait dengan model bisnis yang menjelaskan bagaimana suatu perusahaan memperoleh keuntungan dari aspek finansial.

Sessi terakhir yang seyogyanya saya menerima “a list of possible question for final examination” nampaknya belum terealisir, walhasil saya harus menunggu email dari kalian. So, I look forward to receive your email soon.

Sebagai persiapan untuk UAS, materi semua sudah disampaikan lengkap dengan handout nya di klasmaya. Biasanya open book, though not include laptop or even cellphone, jadi persiapannya hanya baca biar tahu posisi topik nya dihandout mana.
Sampai jumpa di UAS.

Thursday, December 04, 2008

Jadwal Kuliah pengganti Klas terakhir dan Soal UAS


Jadwal pengganti klas di hari Rabu, ternyata harus bergeser lagi ke hari Jum’at jam 17:00 – 19:00 di ruang 204 (sesuai konfirmasi dari BAAK). Hari Rabu kemarin mendadak saya harus berada di Jakarta.

Rencana pembahasan selain review, juga pembahasan materi yang belum disampaikan seperti Business Model. Disamping itu, kalau melihat klas 2006 masih ada materi issue Telco yang bisa dipaparkan, meski sebagian besar sudah ter’cover di bahasan NGN lalu.

Untuk persiapan UAS, saya minta kalian mempersiapkan draft usulan pertanyaan yang layak sebagai masukan penyusunan soal UAS.

Salam dari Anda untuk Anda.

Wednesday, December 03, 2008

Layar Tancep Bulan Desember: We Think

Setelah absen di bulan November, bulan Desember ini Layar Tancep series akan menampilkan video yang buat saya sangat menarik (untuk membiasakan lebih meng'apresiasikan sesuatu). Video berdurasi 4 menit ini mengulas (kalau tidak salah) buku dengan judul sama, yang memaparkan pandangan antara lain:
• Information is everywhere, which is pretty confusing;
• Ideas take life when they are shared;
• New ideas usually come trough conversations, and the Web is a mass of conversations;
• The motto: We Think Therefore We Are
• You are what you share

Selamat menikmati




29th November 2008 Class at a Glance : Montage of NGN Seminar

Judul montage mungkin lebih cocok dipakai disini, daripada pake judul aslinya “Future Lifestyle, Business & Organization--The Connected Life--Digital Community--Youth Culture For Tomorrow” yang terlalu panjang buat dipajang disini. Yang namanya montage (mosaic?) kalau gak salah nempel-nempel bagian atau potongan dari cuplikan kecil sehingga melukiskan gambaran utuh yang boleh jadi berbeda atau memberikan ide komprehensif baru.

Paparan kali ini membahas potongan-potongan dari materi seminar Insync2014 di Pacific Place Jakarta beberapa bulan lalu. Insync2014 pada galibnya merupakan program Telkom dalam mengimplementasikan NGN (ada yang masih ingat singkatannya?) bak dari sisi cost efisiensi infrastruktur maupun flexibilitas inovasi produk baru. Dari sekian makalah yang ditampilkan, hanya beberapa paparan saja yang dicuplik, dipotong dan ditempel jadi montase atau mosaic baru. Sebagai akademisi, kita wajib menampilkan tribute buat penulis aslinya, antara lain Dr. Frank Weyrich (Telco Effectiveness & PLC Detecon Intl.); Varid Airlangga (Alcatel-Lucent); Arthur T. Siahaan (SE Director, CISCO); Indra Utoyo (CIO, Telkom); Vishal Singh (Dir. Comm. Sector, Microsoft SE Asia).

Montase baru menampilkan antara lain isu terkait dengan Consumer Digital Lifestyle Phases, Future Lifestyle, Business & Organization, Web2.0 opportunity, Emerging Connected Life, Device Agnostic, Valuetainment, and the Indonesian Youth Trends. Lebih lengkapnya dapat disimak pada handout berikut ini.

Tuesday, December 02, 2008

Upload e-Book, bagian dari Bab-13 nya Dieter

Meski handout business case calculation sudah dipaparkan dan diupload, berikut ini ditambahkan materi tambahan dari bukunya Dieter yang khusus membahas Economic Decision Making. Materi ini sebenarnya pernah disubmit dua tahun lalu di sini.

Karena aspek copyright (hari gini...masih ada isu copyright) bagian dari bab-13nya Dieter tidak saya scan semua. Tapi karena bobot volumenya cukup besar saya bagi menjadi dua bagian.

Bagian-1
Bagian-2

Selamat bertafakur

25th November 2008 Class at a Glance : Business Case Financial Metrics

Materi pembahasan dengan topik berbau finansial ini menjadi bagian dari pengembangan produk, sebagai bagian pengambilan keputusan produk yang akan di launching.

Isu dari topik kali ini mencakup perhitungan, kalkulasi dan analisis business case yang meliputi Net CF; Cumulative CF, Payback, BEP, ROI, NPV, IRR (akronim ini seharusnya bukan hal yang asing lagi sekarang). Analisa biaya dan keuntungan mencakup aspek “time value of money” dari discount rate yang ditetapkan dengan mengacu pada rate yang umum dipakai.



Tadinya saya rencanakan submit pula file spreadsheet dari formula yang dibahas, tapi nampaknya tidak terlalu mendidik dan membuat kalian semakin manja, jadi mending bikin sendiri lah toh gak terlalu susah.

Meski pembahasan perhitungan business case menggunakan tool spreadsheet, mungkin dipelajari juga perhitungan manualnya, sekiranya muncul di UAS dan gak boleh pake laptop. Jadi selamat hitung-menghitung..

Tuesday, November 25, 2008

Quote of This Month (12/08)

Norman Augustine,
former CEO of Lockheed Martin


I’ve always wanted to be successful. My definition of being successful is contributing to the world... and being happy while doing it....

You have to enjoy what you are doing. You won’t be very good if you don’t. And secondly, you have to feel that you are contributing something worthwhile....

If either of these ingredients is absent, there’s probably some lack of meaning in your work.

22nd November 2008 Class at a Glance : Dispersed Process Discussion

Sebagai kompensasi minggu sebelumnya yang terlambat sehingga kuliah dibatalkan, pertemuan kali ini saya sudah hadir sedikit lebih awal dan hasilnya memang lebih dahulu datang dibandingkan pemirsa.

Seperti yang sudah di issue kan jauh hari sebelumnya, bahasan kali ini yang materinya sudah dishare sebelumnya, dimulai dengan quiz. Mirip quiz sebelum praktek di laboratorium. Bahasan diambil dari materi sebagian eBook Dahan&Hauser. Hasil quiz belum bisa disampaikan disini, tapi melihat kesiapan pemirsa dengan materi fotocopy yang dibawa, bisa diperkirakan sudah ada persiapan.

Topik yang dibahas meliputi Tradeoffs dalam pengembangan produk, End to End Product Development - framework yang diambil dari model Xerox, Kano Model, The Mind of the Market, dan Benefit Chains.

Untuk mengganti klas tanggal 15 yang dibatalkan, rencananya akan diadakan hari Rabu, tanggal 26 November jam 16:00-18:00, saya sudah kontak ke BAAK, namun karena belum ketemu dengan pengelola jadwal (Serri?), BAAK baru terima informasi dan belum bisa di dipastikan di ruangan mana yang akan dipakai. Kita tunggu perkembangan lebih lanjut.

Sunday, November 23, 2008

15th November 2008: Terribly sorry, I missed the class

.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf atas keterlambatan ups .. ketidak hadiran pada klas minggu lalu.
Traffic Jam pada hari itu kurang diantisipasi dan tidak bisa diatasi.
Sekali lagi mohon maaf.
.

Saturday, November 15, 2008

8th November 2008 Class at a Glance : The Marketing Day

Klas 8 Nov lalu telah dibahas materi dengan topik Marketing sesuai course plan yang telah disepakati. Meski materi tersebut biasanya disampaikan untuk dua kali klas, minggu lalu berhasil dikompress dan disampaikan dalam satu kali pertemuan.

Topik Marketing sebenarnya sangat luas, beberapa jurusan bahkan menjadikannya dalam satu, dua, atau tiga mata kuliah wajib. Tapi sebagai materi tambahan terkait dengan pengembangan produk, bahasan marketing hanya diulas beberapa hal mendasar. Konsep dan pemahaman dasar pemasaran diharapkan dapat menjadi awal keingintahuan (curiousity) untuk lebih memperluas wawasan topik tersebut yang terkait dengan NPD atau manajemen strategi.


Sessi pertama diulas pemasaran dari aspek perkembangan ekonomi baru dari pengaruh revolusi digital. Aspek ini dapat merubah atau paling tidak meng’adjust praktik pemasaran sehingga memberikan benefit baru bagi konsumer maupun perusahaan. Pendekatan dan jargon marketing seperti e-Business bisa menjadi salah satu contoh pemanfaatan digital. Issue Web 2.0 yang juga muncul dari praktisi pemasaran saat ini juga memicu pendekatan baru, hanya saja isu ini belum diulas mendalam di sessi ini.

Aspek lain seperti target market, segmentasi, demand, channel, relationship marketing, dan enhancing value juga diulas di sessi pertama. Aspek enhancing value bisa memiliki hubungan yang sangat erat dengan subjek pengembangan produk melalui alternatif raising benefit atau reduce cost atau variasi kombinasi keduanya.

Sessi kedua lebih mengarah pada sistem informasi marketing, dengan cakupan data internal, intelligence systems, marketing research, dan decision support. Selain itu variasi basis segmentasi dalam kaitan sistem informasi juga dibahas di sessi ini. Selengkapnya bisa dibaca di dua handout yang bisa diunduh disini.

Wednesday, November 12, 2008

Task of this week (for next 15th November 2008)

Kalau omongin Task / Tugas, klas minggu lalu sudah disampaikan tugas kelompok yang (setelah di negosiasi) musti di submit dua minggu kedepan, mengenai komparasi produk (lebih bagus produk telematika). Dari bahasan klas lalu juga disepakati produk yang layak untuk dianalisa antara lain produk LCD TV atau HDTV sebagai media layanan IPTV, Browser, dan Kamera Digital, usulan Search Engine mungkin rada minim untuk variasi pembandingannya . Kelompok ditentukan sendiri, dengan maksimal 4 orang, tapi bukan berarti boleh sendirian, biar belajar berkolaborasi-lah (iya lah masak iya dong).

Untuk minggu ini direncanakan akan dibahas materi dari eBook nya Dahan & Hauser. Jadi diharapkan sudah dibaca sebelumnya, kalau perlu mungkin akan dilakukan semacam quiz sebelum pembahasan materi. So prepare yourself and be there.

Turn Art into Profit nya BMW


Masih ingat statement dari BMW's chief of design: "We don't make 'automobiles'. We make moving works of art that express the driver's love of quality". Pernyataan tersebut muncul pada ulasan buku “Six Essential Aptitudes” nya Daniel Pink khususnya di aspek Design yang tertuang di handout seri-6.


Artikel berikut ini, dengan judul “The Ultimate Creativity Machine: How BMW Turn Art into Profit” mungkin bisa lebih menjelaskan statement diatas. Artikel diambil dari Harvard Business School periode Januari 2001, saya sendiri juga belum baca sampai habis, tapi tidak ada salahnya di share untuk dibahas kalau memang menarik. Have a nice reading.

Saturday, November 08, 2008

5th November 2008 Class at a Glance : Substitute Class discuss about Concept Generation and Evaluation

.
Pada klas pengganti lalu, yang seharusnya tanggal 1 November 2008, dibahas materi dari buku acuan Dieter dari bab-5. Materi Concept Generation and Evaluation merupakan bagian dari Proses Desain yang meliputi proses Define Problem, Gather
Information, Concept Generation, Evaluation of Concepts, Product Architecture, Configuration Design, Parametric Design, dan Detail Design. Empat proses pertama dikelompokkan dalam Conceptual Design, sedangkan sisanya menggambarkan Embodiment Design.

Isu-isu yang terkait dengan disain konsep antara lain aspek kreativitas dan penyelesaian masalah melalui metode antara lain seperti brainstorming, ataupun mind map. Sementara pada aspek evaluasi dibahas beberapa metode pemilihan konsep antara lain melalui Absolute Criteria, Pugh Selection, Measurement Scales, Weighted Decision Matrix, dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Beberapa contoh penerapan metode tersebut dipaparkan pula mengacu pada referensi Dieter.

Handout sudah disampaikan sejak posting beberapa hari lalu. Sayangnya, meski sudah diposting jauh sebelum pembahasan di klas, hanya beberapa saja yang mampir di Klasmaya, sebagian dari yang mampir, hanya sebagian kecil saja yang sudah mengunduh file, dari yang sudah mengunduh pun belum ada yang sempat membacanya. Nampaknya perlu ada semacam pendekatan berbeda untuk merubah kondisi seperti ini. Ada usulan?

Tuesday, November 04, 2008

Quote of this Month (11/08)

The best way to have a good idea is to have a lot of ideas.



Linus Pauling (1901-1994), scientist, the only person who has won two undivided Nobel Prizes

Friday, October 31, 2008

Klasmaya's 1st Podcast

Posting kali ini menampilkan Podcast yang diambil dari situsnya Wharton University . Podcast dengan judul asli Innovation Network mengulas tentang ide dan inovasi yang bisa digenerate, di tumbuhkan atau muncul dari jejaring eksternal perusahaan, mirip dengan kolaborasi Web2.0. Seberapa mungkin konsep ini bisa diterapkan, bisa disimak dalam podcadst berikut. Bagi yang kesulitan mengakses melalui panel audio bisa langsung diunduh disini.



Tidak ada kuliah minggu ini


.

Berhubung 4 (rather than 1) dan lain hal, maka kuliah tanggal 1 Nov 2008 ditiadakan. Setelah saya konfirmasi dengan pengelola institusi, jadwal minggu in digeser ke hari
Rabu, Tanggal 5 November 2008, jam 16:00 di Ruang 202.


Demikian pengumuman ini disampaikan, mohon disampaikan pada yang berkepentingan.

25th October 2008 Class at a Glance : QFD more detail and discuss some articles

.
Posting kali ini telat cukup lama juga. Semestinya ulasan klas minggu lalu disubmit a couples of day after the class tapi tampaknya baru a day before the next one. Sebenarnya rencana klas minggu lalu akan dibahas materi yang diambil dari beberapa artikel yang pernah disubmit di Klasmaya dan materi dari Dieter bab 5. Namun atas permintaan audiens, di awal klas dibahas lebih detil dari flash video nya QFD yang semestinya jadi rujukan buat PR hari itu. Bahasan QFD yang juga sudah saya email beberapa hari lalu untuk lebih memperjelas rujukan, spent almost half of class time, though I think its worthfull. Walhasil rencana buat bahas materi kedua mengalami penundaan even jadi tugas baca buat klas minggu depan. Tapi tampaknya jadi kurang optimal pula jika posting materi bacaan baru muncul menjelang klas berikutnya mulai.

But let us look at the bright side, mungkin gara2 telat ini jadi bikin pemirsa lebih fokus nyelesaiin PR QFD minggu ini. Moga-moga klas sabtu mendatang tidak ada alasan lagi penundaan PR QFD.

Materi bahas artikel mengacu pada artikel dan buku dari A Whole New Mind; How to Design the Perfect Product ; The Beauty of Simplicity dan Ten Google Golden Rules. Kecuali bukunya Daniel Pink dan 10 Rules, materi lengkap sudah disubmit di Klasmaya.






Aspek Story dari Six Senses (Design, Story, Symphony, Empathy, Play and Meaning) yang ditulis mas Pink mungkin bisa dikorelasikan dengan issue “word of mouth” nya marketing. Dengan cerita, “bikin hidup lebih hidup”, ada faktor emosional yang lebih menyentuh daripada sekedar informasi belaka. Cerita bisa diambil dari experience pelanggan yang disampaikan ke calon pelanggan sehingga bisa lebih memperkuat hasrat untuk mencoba. Industri jajanan / cafe di Bandung tidak terlepas dari word of mouth marketing, yang bahkan local residence pun belum tentu tahu.



Materi Dieter Ch. 5 sebagai pengganti text book yang belum dibeli atau di copy bisa dibaca sebelum klas besok.

Thursday, October 23, 2008

eBook dari Dahan & Hauser

.
Posting kali ini saya coba upload salah satu eBook dari Dahan & Hauser. Materi dari eBook yang ditulis oleh Ely Dahan dan John R. Hauser ini sempat diulas di awal kuliah dengan gambar slide seperti dibawah ini. Gambar ini sebenarnya hasil modifikasi dari proses yang digunakan perusahaan Xerox.



Kalau saya cek sessi kuliah dua tahun lalu, memang sempat juga dibahas meski handout yang mengulas materi itu nampaknya belum dishare. Materi nya cukup “product development”, ada banyak terminologi, istilah, pendekatan dan konsep yang dapat meningkatkan wawasan tentang pengembangan produk. Jadi cukup representatif untuk dijadikan bacaan wajib kuliah ini. eBook ini saya potong sebagian lebih untuk fokus bacaan selain mengurangi beban upload, toh diupload semuanya juga belum dipastikan dibaca semua.

Dari catatan saya, eBook ini hasil download dari situs cipd.mit.edu, namun nampaknya sudah berubah alamat. eBook bisa langsung diunduh disini.

So, have a nice reading... we’ll discuss it next time...